Senin selalu menjadi hari keramat bagi semua pegawai Hello, Wedding. Di hari inilah jumlah klien yang datang ke kantor mereka lebih banyak dari hari biasa. Entah klien lama yang sudah memiliki janji temu, hingga para klien baru yang hendak memakai jasa mereka. Saat-saat seperti inilah kebanyakan pegawai Hello, Wedding! mengerjakan pekerjaan yang bukan jobdesc mereka pula. Saling bahu membahu mengambil alih pekerjaan pegawai lain ketika terbentur jadwal.
Seperti saat ini misalnya, ketidakhadiran Haidar membuat Kayla mengambil alih semua telpon masuk untuk pria itu. Beberapa telpon itu datang dari pihak studio yang memastikan jadwal penyewaan ataupun para klien yang mempertegas permintaan foto prewedding mereka. Untungnya, Haidar tipikal orang yang menyusun semua jadwalnya di kalender serta menempel beberapa detail penting pekerjaannya di dinding kubikel. Mempermudah pekerjaan Kayla, yang juga sedang mengurusi deretan rekomendasi makanan untuk beberapa pernikahan.
“Kay, lihat Mas Wira atau Bang Bayu nggak?”
Ketukan di meja kerjanya, mengalihkan atensi Kayla dari pekerjaannya sejenak. Ia menoleh, mendapati Dany yang menatapnya penasaran. Berbeda dengan Kayla yang masih terlihat ‘waras’ meski sudah hampir gila akan banyaknya telpon yang masuk, Dany berpenampilan berbeda. Kaus merah mudanya yang sudah pudar, keluar dari satu sisi celana training hijaunya. Rambutnya dicepol asal, serta sebuah pensil yang diletakkan di telinga. Jauh berbeda dari penampilannya saat datang ke kantor tadi pagi.
“Mas Wira sama Bang Bayu kan nggak datang ke kantor hari ini, coba tanya Mbak Ara deh,” usul Kayla lantas membubuhkan sticky notes terakhir sebelum beranjak pergi. Mungkin ke tim lain. Dari tempatnya Danny tau kalau Ara masih belum kembali dari rapat antar ketua tim dari sebelum jam makan siang tadi. Sementara ia dikejar waktu untuk memberi rancangan panggungnya ke tim dekorasi.
"Kamu nyari Wira sama Bayu, Dan?” Dari kubikelnya, Tio bertanya. Rambut pria itu masih tersisir rapi berkat gel rambutnya. Namun ekspresinya lesunya tak bisa membohongi, kalau ia sedang lelah akan deretan pekerjaan yang datang. Maklum mereka bahkan tak sempat untuk makan siang hingga saat ini. “Ke bandara mereka, jemput ibu masing-masing. Aku nggak tau mereka balik ke kantor atau nggak.”
Tepat setelah Tio menyelesaikan ucapannya, Ara masuk ke dalam ruangan mereka seraya menenteng sebuah kantung plastik berlogo salah satu restoran cepat saji. Di belakangnya ada seorang pria berwajah asing yang tak mereka kenali, mengikuti langkahnya sembari mengobrol dengan Ara. Melihat cara mereka berbicara satu sama lain, siapapun bisa menyimpulkan kalau mereka cukup dekat.
“Teman-teman kita makan dulu yuk, kebetulan temanku bawa makanan banyak.”
Ara memanggil, sukses membuat anggota timnya bersorak riang. Mulai mendorong kursi mereka, mendekat ke meja panjang yang mulai terisi berbagai macam makanan. Kecuali Dany yang membulatkan matanya melihat pria yang masuk bersama Ara tadi. Pria yang taksinya sempat ia ‘curi’ dan tetap tak mengatakan maaf di kali kedua mereka bertemu. Kebetulan macam apa ini?
Ia hanya bisa mengangguk canggung, ketika pria itu menyadari keberadaannya. Dany sudah menyiapkan diri, kalau-kalau ia dipanggil sebagai ‘Pencuri Taksi’. Namun, pria itu hanya diam lantas kembali mengeluarkan makanan dari kantung yang ia bawa.
“Dan, kenapa bengong? Ayo makan sini,” panggil Ara menyadari kalau Dany masih berdiri di dekat kubikelnya, sementara anggota timnya yang lain sudah mulai melahap makanan yang dibawanya.
“Nanti deh Mbak, sebenarnya aku mau hubungin Mas Wira sama Bang Bayu soal rancangan panggung. Tapi aku nggak lihat ada mereka di ruangan, ditelpon juga nggak bisa,” ucap Dany mendekat ke arah Ara seraya membawa kertas berisi gambar rancangan panggungnya. “Mbak tau nggak gimana cara hubungin mereka?”
“Memangnya Wira sama Bayu kemana?” tanya Fandi, ikut penasaran kenapa kedua temannya itu tak bisa dihubungi karyawannya sendiri.
“Mereka jemput Mami sama Mama,” jawab Ara langsung membuat Fandi beroh panjang, langsung mengingat wajah ibunda kedua temannya itu. Sementara itu, Ara mengambil ponsel di dalam saku blazernya dan mulai mencari nomor pribadi kedua sahabatnya itu. “Kamu butuh hubungin siapa?
Memang keduanya memakai dua nomor yang berbeda untuk memisahkan urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Keduanya juga tergolong pelit untuk memberikan nomor pribadi mereka, bahkan ke pegawai yang sudah bekerja lama bersama mereka. Seperti Dany contohnya, meski perempuan itu sudah bergabung di Hello,Wedding sejak tahun pertama, Ia masih belum mempunyai nomor pribadi Wira ataupun Bayu.
“Mas Wira aja kayaknya Mbak, soalnya kalau soal rancangan panggung lebih khataman dia,” jawab Dany, menerima ponsel Ara setelah mengucapkan terima kasih. Ia lantas berjalan menjauh, mungkin ke area pantri di lantai mereka. Menghindari keramaian untuk sementara waktu.
Ketika Dany membuka pintu kaca ruangan mereka, ia bertemu dengan Kayla yang baru kembali dari ruangan tim lain. “Mbak Ara bawa makanan banyak tuh, sana makan siang dulu,” ucapnya menepuk pundak Kayla yang terlihat lesu sebelum berjalan cepat menuju pantri dengan ponsel di telinga.
Dany tak menyadari kalau Fandi menatapnya penasaran. Lebih tepatnya penasaran dengan penampilan unik Dany. Fandi tak menyangka akan ada seseorang yang berpenampilan sesantai itu di lingkungan kantor, apalagi seorang perempuan. Berbanding terbalik dengan wanita kantoran kebanyakan, yang dominan mengenakan blazer ataupun blus yang dipadu dengan rok. Bukan memakai kaos dan celana training seperti Dany tadi.
“Jangan heran, dia dandanannya memang gitu kok kalau nggak ketemu klien,” jelas Ara ketika menyadari arah pandangan temannya itu. “Lo nggak lupa kan, kalau Wira sama Bayu bodo amat sama penampilan selama kerjaannya bagus.”
“Ya, gue tau kok.” Fandi mengangguk paham, tersenyum kecil ke arah Kayla yang terkejut melihat kehadirannya. Samar-samar ia bisa melihat gerakan sahabat adiknya itu, memberi kode agar tidak memberi tau kalau mereka saling mengenal.
“Mas, maaf ya kalau kesannya gak sopan.” Atensi Fandi teralih ke seorang perempuan berambut pendek yang duduk di depannya. Matanya menatap Fandi penasaran, seraya menguliti ayam goreng di depannya. “Mas sama Mbak Ara beneran temenan? Jangan-jangan Mas ini mantan suaminya Mbak Ara?”
Pertanyaan dari Gian berhasil membuat Ara menatap anggota timnya tak percaya. Ia lantas tertawa pelan, lantas saling bertukar tatap dengan Fandi yang kini menahan tawa. “Kalian tuh ya, kenapa sih penasaran banget?”
“Soalnya ini tuh rahasia terbesar di perusahaan kita, Ra. Gue aja penasaran.” Kini giliran Rio yang menyahut, biasanya ia tak begitu peduli akan gosip kantor. Namun, jika sudah berkaitan dengan mantan suami Ara yang setiap tahun merayakan perceraian mereka, ia maju paling pertama untuk menyimak.
“Bukan, gue temannya Ara dari SMA. Teman dari Wira sama Bayu juga,” sanggah Fandi seraya meneguk sedikit, minuman bersodanya. Ia lantas tersenyum miring ke arah Ara. “Keren juga lo sama dia belum ketahuan, padahal sama-sama teman sekantor.”
“Teman sekantor? Wah berarti beneran nih, mantan suaminya Mbak Ara kerjanya disini juga.” Kayla berseru semangat, bahkan memukul-mukul pundak Rio saking antusiasnya. “Kita dapat pencerahan.”
“Kasih tau dong Ra, ke tim lo aja deh,” bujuk Tio yang didukung anggukan setuju oleh rekan satu timnya. Namun, hanya dibalas gelengan oleh ketua timnya itu.
“Nggak seru kalau langsung ketahuan.” Ara tertawa pelan, ketika dirinya disambut seruan protes dari anggota timnya. Ia kemudian menepuk pundak Fandi yang sedang mengunyah makanannya. “Ini namanya Fandi, dia akuntan yang bakal bantuin ngurus keuangan Hello, Wedding! selama pengganti Bu Nata belum ketemu. Dia temenku, baru pulang dari Australia dan buka kantor jasa akuntansi di daerah SCBD, jadi bakal jarang di kantor tapi karyawannya beberapa stay di sini.”
“Gue Fandi, mungkin nanti kalian bakal sering liat gue dan tim keliaran di lantai ini. Kebetulan dikasih ruangannya, di samping ruangan kalian,” ujar Fandi akhirnya memperkenalkan diri.
“Selamat datang di Hello, Wedding! Mas Fandi. Jangan heran liat kegilaan di tiap ruangan. Soalnya bahagianya klien, adalah hasil lelah dan frustasi kami.”
***
Haidar mengusap tengkuknya, merasa tidak nyaman akan atmosfir di ruang tengah rumahnya. Ia tak pernah suka aura penuh intimidasi, ketika semua anggota keluarganya berkumpul. Salah satu alasan yang membuatnya memutuskan keluar dari rumah besar nan megah ini, dan hidup mandiri sesuai keinginannya.
Bagi rekan kerjanya, Haidar hanyalah sosok pemuda yang begitu tergila-gila dengan dunia fotografi. Tergila-gila hingga di tahap,
ia berhasil mengabadikan sebuah momen yang biasa saja menjadi terlihat penuh makna. Mungkin hal ini jugalah, yang membuat beberapa kliennya bersikeras memastikan ia sebagai fotografer mereka untuk foto prewedding. Kesabaran Haidar menghadapi protes klien pula lah, yang membuatnya menjadi fotografer favorit di Hello,Wedding!
Pada kenyataanya Haidar adalah anak ketiga dari sepasang pengusaha kaya raya di tanah air. Keluarganya satu dari beberapa pemilik perusahaan besar dengan kekayaan dan kekuasaan yang tak main-main. Ia adalah perwujudan nyata crazy rich surabaya, namun memilih meninggalkan semua gelimang harta itu dan hidup biasa saja. Bersama dengan sepupunya Kayla, yang kini ikut bekerja di tempat yang sama dengannya.
Kakak pertamanya, sudah mengambil alih perusahaan mereka di bidang properti dan menikah dengan putri duta besar Jepang untuk negara mereka. Kakak keduanya, menikah dengan seorang pengusaha di bidang yang sama dengannya yaitu pariwisata dan perhotelan. Sementara adiknya, meneruskan usaha di bidang fashion. Satu-satunya saudara yang dekat dengannya. Kalau ditanya apa kontribusi Haidar bagi usaha keluarganya, mungkin takkan sebanyak dan sehebat saudaranya yang lain. Mungkin ia hanya bisa membanggakan sistem penyimpanan data dan komputer yang dipakai oleh semua perusahaan keluarganya hingga saat ini, adalah buatannya.
Kepulangannya ke Surabaya kali ini, didasari permintaan dari adiknya secara khusus. Ia diminta untuk membantunya membujuk kedua orang tua mereka, agar adiknya bisa menikah dengan pacarnya. Tidak, bukan karena latar belakang calon suami adiknya yang tidak mumpuni hingga Haidar harus ikut membujuk. Namun, keluarganya masih memegang teguh tradisi kalau seorang adik tidak bisa melangkahi sang kakak untuk menikah. Sayangnya hingga saat inipun, Haidar belum punya keinginan untuk membangun rumah tangga.
“Pekerjaan kamu bagaimana Haidar?” tanya sang ayah, berbasa-basi membuka pembicaraan.
Haidar yakin sekali kalau sang ayah, sudah tau ada alasan khusus ia dan saudaranya berkumpul di hari kerja seperti ini. Apalagi, Haidar sampai rela pulang ketika ia biasa pulang di hari-hari penting saja.
“Baik Yah, lumayan sibuk. Tapi kayaknya nggak sesibuk yang lain,” jelas Haidar melirik ke saudaranya yang duduk tenang di sebelahnya.
“WO tempat kamu kerja, kayaknya berkembang pesat banget ya.” Maya, kakak keduanya meraih sepotong kue lapis di atas meja. Sudah menjadi tradisi sendiri, kalau setiap keluarganya berkumpul harus ada minuman hangat dan kudapan ringan. “Kemarin, salah satu kolega Mas Galih pakai jasa di tempat kamu. Lumayan bagus.”
Sebagai balasan, Haidar hanya tersenyum kecil. Ia bingung hendak mengatakan apa lagi, canggung juga jika bertanya kesibukan kakak pertamanya. Tak seperti Maya yang sedikit ramah dan bawel, kakak pertamanya, Mas Pandu amat sangat pendiam. Haidar sedikit tersentak, ketika lengannya diremas cukup kuat. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan adiknya, Arini. Perempuan yang berbeda 2 tahun darinya itu, sudah memberi kode untuknya mulai berbicara.
“Ayah, Ibu sebenarnya ada yang mau Haidar sampaikan juga ke kalian.”
Nada bicara Haidar yang mulai serius, mengalihkan atensi kedua orangtuanya dari teh hangat yang sedang mereka nikmati. “Ada apa Haidar?” tanya sang Ibu dengan nada lembut namun tetap tegas.
Mata Haidar bergerak melirik sang adik, yang kini memainkan ujung roknya gelisah. “Haidar dengar, Arini sudah diajak ke
jenjang lebih serius bersama pacarnya. Apa itu benar?”
“Ya, 2 minggu lalu nak Radit datang kesini menyampaikan niat baiknya buat melamar adikmu.” Anehnya, kedua kakaknya mengerutkan dahi. Tanda bahwa mereka tak tau apapun soal acara lamaran sang adik bungsu. “Kalian pasti sadar tradisi keluarga kita, jadi ayah tolak.”
Haidar bisa merasakan, kedua kakaknya kini mengarahkan tatapan sepenuhnya kepadanya. Ia meringis, sadar bahwa hanya ia diantara saudaranya yang lain tak pernah mengenalkan siapapun. Kasarnya, Haidar tidak pernah punya kekasih hingga saat ini.
“Yah, aku nggak keberatan kalau Arini nikah lebih dulu dari aku. Sudah ada laki-laki yang berniat baik untuk meminang dia, bukan hal yang baik kalau ditolak kan? Apalagi mereka sudah berpacaran cukup lama.” Haidar kini menatap kedua orang tuanya serius. “Kalau menunggu aku yang menikah duluan, sepertinya masih lama sekali. Aku masih belum mau menikah, dan tidak dekat dengan siapapun.”
“Tidak bisa Haidar, Ibu tidak mengizinkan hal itu.” Ibunya menggeleng, benar-benar tidak setuju akan ucapan anak ketiganya. “Arini harus menikah setelah kamu menikah.”
“Tapi Bu-“
“Arini.” Spontan Arini berhenti berbicara, ketika Pandu memanggilnya penuh peringatan. Tak memberi izin padanya untuk berargumen dengan sang ibu.
“Mungkin Ayah bisa pertimbangkan.”
Ucapan dari sang ayah, sukses membuat Haidar dan ketiga saudaranya tersentak. Begitupun sang Ibu yang kini menatap suaminya kebingungan. Jika bicara soal tradisi keluarga, suaminya lah yang paling ketat dengan hal itu. Sekarang ia hendak memberi pengecualian?
Cangkir di tangan sang Ayah kembali diletakkan ke atas meja. Pria paruh baya itu berdiri, lantas menatap anak ketiganya penuh keseriusan. “Ayah akan pertimbangkan, kalau kamu mau mengambil alih perusahaan yang masih dipegang oleh Ayah.”
Setelah berucap seperti itu, sang Ayah bergegas kembali ke dalam kamar diikuti sang Ibu. Meninggalkan keempat saudara itu terdiam, sudah menduga syarat yang akan diajukan sang ayah. Mau sampai kapanpun, sang Ayah tak pernah mau melepaskan Haidar sepenuhnya. Ada harga yang harus ia bayar dari kebebasannya selama ini. Kebahagiaan sang adik.
TBC