10 menit berlalu, aku berdiri di hadapan Zulfan yang akan bergegas pulang, aku meringis saat kaki kananku terasa berdenyut nyeri karena jatuh dari motor saat turun.
“Serius gak mau aku anter ke dalem?” tanya Zulfan yang khawatir.
“Gak usah, kamu nanti malem nyampe rumah. Deket juga ke rumah mah,” jawabku meyakinkan.
“Kamar kamu di lantai atas loh Ca,” ingat Zulfa yang membuat aku meringis.
“Ada bunda sama Luthfi yang nanti bantuin aku, udah sana pulang Kal.”
“Gak, aku anterin sampe kamar.”
Zulfan mengambil lenganku agar bisa mepapah aku, bunda yang berada di ruang tamu mengernyit bingung melihat kaki kananku yang sedikit membengkak.
“Ica kenapa Zulfan?” tanya bunda khawatir tepat di hadapan aku.
“Tadi jatoh waktu turun dari motor, kayaknya keseleo deh bun.”
“Kebiasaan banget kamu, tolong dudukin aja di sofa ya, Zulfan.”
Zulfan mengangguk dan membantu aku untuk duduk di sofa, memberikan satu bantal untuk kaki aku yang sekarang sudah memerah dan membengkak. Aku meringis selama Zulfan mengoleskan salep, dia menatap aku dengan khawatir dan mengusap rambut aku dengan pelan, mencoba agar fokusku teralihkan.
“Serius kamu gak apa-apa?”
“Iya Ikal, kamu pulang gih udah malem, lama-lama aku enek liat kamu,” usirku dengan wajah yang berpura-pura ingin muntah.
“Hush kamu ini, kasian Zulfan udah bantuin kamu juga, mending sekarang ikut makan malem bareng, nanti Luthfi bakal bawain makanan Ica ke sini.”
“Makasi bun buat tawarannya, tapi kayaknya Zulfan mau pulang aja deh, mamah nanti marah kalau Zulfan telat pulang.”
“Eh jangan anggep serius dong ucapan aku Kal, ayo makan malem bareng nanti bunda yang bilangin ke mamah kalau kamu telat.”
“Nah bener banget, ayo ikut makan, ayah Ica juga bakal ikut, udah lama loh kamu gak ngobrol sama ayah,” sahut bunda yang menarik lengan Zulfan untuk ikut gabung makan malam bersama.
“Ica juga ikut makan ke meja makan bun, udah lama Ica gak makan bareng sama ayah, ayah suka banget keluar kota,” aduku yang berusaha untuk bisa berdiri dengan kaki aku sendiri, tapi baru beberapa saat aku berdiri, aku sudah meringis kesakitan.
“Jangan maksain kata aku juga,” ucap Zulfan yang dengan sigap memegang lenganku untuk memapah sampai ke ruang makan.
“Dih nempel terus sama kak Zulfan, dasar lebay,” ucap Luthfi yang duduk di sebrang meja, aku mendelik tak suka ke arahnya.
“Hush kamu ini, sama kakak sendiri malah gitu, panggil ayah di ruang kerjanya, suruh makan bareng.”
Luthfi haya mengangguk ogah-ogahan, berjalan menuju ruang kerja ayah yang berada dekat dengan taman belakang. Zulfan mengambil piring untuk aku dan dia, tidak lupa menyendokan nasi dan lauk pauknya.
“Tumben baik.”
“Baik salah, cuek salah, maunya apa Ris?”
“Maunya kamu peka,” gumam aku dengan pelan.
“Ada Zulfan ternyata? Udah lama ayah gak ketemu sama kamu, gimana kabarnya?”
“Eh ayah, baik kabar Zulfan.” Zulfan langsung bangkit, menyalami ayah dan duduk kembali.
“Ayo makan semuanya.”
Kami semua langsung memakan makanan kami, beberapa kali kami berbincang santai, tapi lebih tepatnya Zulfan berbicara santai dengan ayah dan Luthfi, sedangkan aku hanya beberapa kali ikut menanggapi.
“Bun, kak Nadya sama kak Bagas kapan ke sini?”
“Katanya sih agak malaman, Bagas harus jemput dulu Nadya di rumah sakit.”
Aku mengangguk paham, memakan kembali makananku dengan tenang, mendengarkan diskusi dari pria-pria di hadapannya. Bunda membawakan makanan penutup dan membagikan makanan itu kepada aku dan yang lainnya.
“Gimana sekolahnya? Zulfan sama Ica satu kelas kan?”
“Iya yah, Ica satu kelas sama Zulfan.”
“Satu kelas yah, sekolah baik.”
“Bang gak bosen gitu satu kelas sama kak Ica terus? Dari tk sampai SMA satu kelas terus, semoga aja kelas 12 gak satu kelas lagi.”
“Dih sewot banget sih Luthfi, Zulfan aja gak sewot.”
“Nanya sama bang Zulfan, kenapa malah dijawab sama kakak sih,” sewot Luthfi gak mau kalah.
Zulfan hanya tertawa melihat perdebatan bodoh antara aku dan Luthfi, dia mengusap rambutku pelan dan menggenggam lenganku yang berada di bawah meja. Aku menatap dia sekilas yang malah berbincang serius dengan ayah dan bunda.
“Bun, Zulfan langsung pulang aja deh, udah malem banget,” ucap Zulfan dengan pelan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Gak nginep aja Zul? Nanti tidur di kamar tamu kalau gak sama Luthfi,” tawar bunda.
“Gak deh bun, Zulfan masih ada harus persiapan buat lomba olimpiade,” tolak Zulfan dengan halus, aku langsung mengerutkan dahi bingung, lombanya kan masih 1 bulan lebih.
“Nanti aku telfon,” bisik Zulfan tepat di samping telingaku.
Aku mengangguk pelan, “Hm.. hati-hati di jalan.”
“Bun, Ica ke kamar ya, kalau ada kak Nadya sama kak Bagas bilang ya,” ucapku yang ikut bangkit dari kursi.
“Masih sakit kaki kamu loh Ca,” ucap Zulfan yang menahan lenganku.
“Udah agak mendingan, mau ngerjain tugas dari anak jurnalis dulu.”
“Zulfan bisa bantuin Ica ke atas dulu? Bunda sama Ayah mau bahas buat SMAnya Luthfi,” pinta Bunda yang diangguki oleh Zulfan
“Bun, Zulfan izin gendong Ica ya, biar cepet, dia lelet kalau jalan.”
Aku langsung mencubit lengan Zulfan, tidak terima dengan ucapannya, wajar kalau jalan aku jadi lelet sekarang. Bunda mengangguk menyetujui, Zulfan langsung menggendong aku tanpa aba-aba. Reflek aku mengeratkan pegangan di bahunya, menumpukan kepala di pundak Zulfan, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang menguar.
“Aku balik dulu ya,” ucap Zulfan setelah menidurkan aku di kasur.
“Nyebelin banget sih, di ajak nginep juga sama bunda.”
“Next time pendek, aku mau siap-siap buat olimpiade.”
“Masih lama Zul, sok iye nyiapin dari sekarang,” gerutuku yang melipat kedua lengan di depan d**a, ceritanya aku merajuk sama dia.
“Kan aku ada lomba olimpiade tingkat nasional Ca, mana aku lagi yang ditunjuk jadi ketua tim, makanya mau persiapan dari sekarang, biar dapet hasil yang memuaskan.”
“Hm.. istirahat dulu kek,” kesalku
“Liburan nanti, janji luangin waktu buat nginep ke sini,” bujuk Zulfan yang mengacak rambut aku dengan gemas.
“Ih kamu! Ya udah sana pulang! Siap-siap olimpiade sana.”
“Nanti udah nyampe aku langsung telfon kamu.”
Aku mengangguk mengerti, Zulfan mencubit pipi aku sebelum melangkah keluar dari kamar aku. Aku mengembuskan napas panjang sebelum mengambil tas dan netbook di meja belajar, aku meringis saat kembali duduk di pinggir kasur.
“Ah iya surat Farel!” seruku yang mengambil surat biru di dalam tas.
Surat warna biru laut yang dia kasih ke aku sudah tertangkap jelas oleh mataku, manis suratnya saat aku memperhatikan dengan seksama surat yang farel kasih. Ada gambar ikan dan trumbu karang di suratnya. Buru-buru aku mengeluarkan kertas di dalam surat tersebut, tulisannya rapih dan apa-apaan ini.
“Perempuan itu cantik dengan apa yang dia miliki, dan kamu cantik Clarisa dengan tingkah humble kamu, makasih mau berteman dengan laki-laki yang hampir dijauhi sama orang karena sikap akuJ. Boleh jika aku punya perasaan lebih dari sekedar teman?”
Aku mendengus setelah membaca tulisan Farel, perasaan lebih dari sekedar teman? Emang dia siap buat terluka kayak aku gini? Berharap tapi cuman bertepuk sebelah tangan. Dasar Farel, aku menghela nafas, mencoba mengingat awal mula aku bisa bertemu dengan dia.
***
Jam 10.00 bel istirahat berbunyi dengan nyaring, aku yang masih menyalin tulisan dari papan tulis langsung menghentikan kegiatan, menengok teman sebelah aku, Zulfan yang sibuk dengan kegiatannya sendiri.
“Kantin gak?” tanyaku yang menyita perhatian Zulfan.
“Gak kayaknya, mau ke perpus dulu ngambil buku olimpiade dari pak Rahmat.”
Aku mengangguk, “Nanti aku nyusul, kayak biasa kan? Roti isi coklat sama air mineral?”
“Paling ngerti.”
Aku mendengus saat dia mengacak rambut aku dengan gemas, berjalan sendiri keluar dari kelas menuju kantin.
Grup MANTAN RSJ
Aira minus akhlak : Kantin kuy!! Kelas gue udah kelar dari tadi.
Ruby julid : Pesenin dulu ih, gue rada telat, gurunya ngaret aih!
Fhafia gak peka : Gue juga.
Aira minus akhlak : Lu kan sekelas dodol! @Fhafia gak peka
Raken tomboy : Gue bareng Hana sama Aira kalau gitu.
Me : Pesenin dong, tapi gue gak ikut ngumpul, mau nemenin Zulfan belajar.
Kayak biasa, roti isi coklat, air mineral, bungkusin siomay sama es teh.
Hana sok polos :Bucin aja terus Ris, gak peka juga si Zulfan.
@Raken tomboy, kita kan sekelas ih! Suka ikutan dodol gitu!
“Minus akhlak emang!” gerutuku yang memasukan kembali handphone, malas menyelam ke media sosia yang sudah ratusan notif.
“Woi!” teriak Raken yang melambaikan tangan ke arahku.
Aku mengusap wajah pelan, malu karena kelakuan Raken yang bodo amat, satu kantin langsung melirik ke arah aku dan kumpulan orang gila.
“Malu! Gila suara lu kaya toa!” aku menoyor kepala Raken saat sudah berada tepat di hadapannya, dia meringis tapi malah ketawa terbahak.
“Sinting lu,” sahut Hana yang mengutarakan apa yang aku pikirkan.
“Udah dipesenin?”
“Bentar lagi juga nyampe pesenanya,” jawab Aira yang ikut duduk di sampingku.
“Si Zulfan belajar apa lagi sih? Bosen gue denger dari lu, gue mau nemenin Zulfan belajar, otaknya dari apa?”
“Orang pinter beda Ken, hobinya belajar, gak kayak elu yang demennya baca komik doang,” sahut Hana dengan tatapan yang tetap terfokus ke handphone.
“Udah gak usah ribut lu pada,” leraiku yang dibalas delikan oleh mereka.
‘Oke aku salah lagi!’
“Nih neng pesenannya,” pak Darman, salah satu penjual di kantin mengntarkan pesanan aku dan yang lain.
“Gue bayar ke siapa?”
“Bayar ke gue,” ucap Aira, aku memberikan uang 50 ribu ke arahnya.
“Gak ada kembalianya gue.”
“Gampanglah itu, gue ke Zulfan dulu, nanti sore harus jadi ke rumah gue, dadah!”
Aku langsung meninggalkan kantin, berjalan ke arah lorong perpustakaan yang sepi, ya iyalah sepi, semuanya pada nyerbu kantin dan lapang futsal. Langkah kaki aku terhenti di depan pintu laboratorium kimia, menatap kasihan dengan laki-laki berkacamata yang kewalahan dalam memegang bukunya.
“Sini aku bantu.”
Aku mengambi beberapa buku yang berserakan di lantai, menatap orang yang sama dengan Fadel, tapi penampilannya berbeda.
“Farel ya? Kembarannya Fadel kelas 10 IPA 3?”
“Eh iya, saya Farel kelas 10 IPA 2,” jawabnya dengan kikuk.
“Gak usah formal kali, mau dibawa kemana?”
“Itu.. anu mau ke perpustakaan.”
“Satu arah berarti, ayo bareng aja.”
Aku berjalan beriringan dengan Farel yang terlihat tegang dan kaku, berusaha menahan tawa karena sikap dia yang terkesan kaku banget, beda sama kembarannya yang humble sama semua orang.
“Lu kaku banget, beda sama kembaran lu yang gampang akrab, santai aja kali, gue gak bakalan ngigit lu kok, jadi santai aja.”
“Eh iya, gue gak biasa ketemu sama orang baru, suka parno sendiri.”
“Nah gini kan enak, gue taro di sini ya, gue duluan kalau gitu.”
“Em.. makasih ya, bentar!” Farel menahan lenganku, “nama lu siapa?”
“Gue Clarisa, kelas 10 IPA 1. Duluan ya Rel.”
Aku langsung berjalan ke pojok perpustakaan untuk mencari Zulfan, menggelengkan kepala saat melihat sikap ambisiusnya Zulfan. Aku mengambil tempat duduk tepat di samping dia, Zulfan menatap aku sekilas dan tersenyum sebelum kembali mengutak-ngatik soal.
“Makan dulu Kal, nanti lanjut lagi ngerjain soal.”
“Iya bentar, ini soal terakhir. Tumben kamu tadi lama ke sini.”
“Tadi bantuin temen, ada yang kewalahan bawa buku.”
Lagu Just a friend to you mengalun merdu dari handphoneku, membuyarkan lamunanku, panggilan dari telfon langsung ternyata.
“Kebiasaan banget deh, data seluler gak di nyalain,” gumamku yang memeriksa handphone yang off data selulernya.
“Halo Clarisa?” sapa Farel di ujung telfon.
“Ya Rel?”
“Lu udah baca surat dari gue?” tanya farel yang langsung aku angguki, aku menepuk jidat, lupa jika Farel gak akan liat kelakuan aku.
“Eh itu udah kok, gue udah baca.”
“Dan lu udah ngerti?” Aku mengernyitkan dahi bingung.
“Hah maksud lu?”
“Ya, itu.. lu ngerti dengan surat yang gue kasih?” Tanyanya dengan sedikit menekan.
“Gue tanya, emang lu siap untuk berharap tanpa gue balas? Siap untuk terluka?” bukannya menjawab aku malah memberikannya pertanyaan.
“Apa gak bisa lu kasih gue ke sempatan?”
“Lu pasti tau jawaban gue, lu ngerti kan?!” tekanku dengan nada tegas.
“Gue ngerti, gimana lu bisa ngasih gue kesempatan kalau lu cuman mau sama dia doang tanpa mau buka perasaan lu ke orang lain, gue benerkan?”
“Lu rese ya!” geramku.
“...”
“Gue gak minta lu buat naro perasaan lebih ke gue, emang pernah kita interaksi lebih dari seorang teman? Gak pernah kan?!”
“Lu gak cape buat bertahan sama dia? Dia gak pernah ngerespon perasaan lu.”
“Ya itu terserah gue dong, perasaan-perasaan gue juga, kalau cape juga itu gue!”
“Berarti kalau gue suka sama lu juga itu terserah gue, mau gue cape atau engga itu hak gue juga,” sahut dia yang membuat aku menggeram kesal
“Ya udah itu terserah lu, ngapain juga lu izin? Kalau minta gue bales perasaan lu, lu pasti tau jawabannya kan? Dahlah gue matiin ini telfon.” Pamitku yang langsung mematikan sabungan telfon tanpa mendengar jawaban dari dia.
Aku mengembuskan nafas perlahan, perkataan Farel sedikit mengganggu aku sekarang, apa aku gak cape berharap terus sama Zulfan? Dia aja gak pernah mau punya perasaan lebih dari seorang sahabat.