Aku tersenyum kecil, berjalan dengan perasaan berbunga saat memasuki perkarangan rumah, argh.. rasanya aku mimpi hari ini, sifat Zulfan itu loh! Aku mencubit kecil lengan, berharap ini bukan mimpi.
“Aw sakit,” ringisku sembari mengusap bekas cubitan, ini bukan mimpi!
Aku berjalan dengan tergesa di lorong kelas, meringis dan mendumel dalam hati saat melihat arloji di pergelangan tangan. Langkah kakiku terlalu tergesa sampai tidak sadar ada batu di jalan, tubuh aku yang memang gampang untuk tidak seimbang langsung terhuyung ke arah depan, sampai ada satu lengan yang menahan tubuhku.
“Jalannya pelan-pelan aja Ris.”
Aku mendongkakan kepala, menatap laki-laki yang menolong aku dengan pandangan yang aku jamin terlihat bodoh di mata laki-laki itu. Dia membantu aku berdiri, mengusap rambut aku dengan lembut dan tersenyum kecil.
“Makasih banyak Devan, untung ada lu, kalau gak, mungkin gue udah jatoh tadi,” ucapku yang meringis malu.
“Ya, sama-sama, santai aja kalau jalan, jatoh lagi aja, tau rasa lu. Eh mau balik lu?” aku mengangguk cepat.
“Gak bareng sama Zulfan? Tumben banget, berantem?” tanya Devan yang seperti seorang wartawan.
“Gak Dev, gue mau buru-buru balik, nanti nyokap gue ngedumel lagi kalau gue pulangnya telat terus seminggu ini.”
“Ya udah, sini gue anterin aja, rumah kita kan searah, jadi sekalian aja.”
“Asli? Gak apa-apa?”
“Iya bawel, buruan, nanti keburu makin sore.”
Aku mengangguk dan mengikuti langkah Devan menuju parkiran motor, dalam hati aku berharap gak ketemu Zulfan untuk sekarang ini, kalau Devan sekarang di sini berarti latihan futsalnya antara udah beres atau emang Devan gak ikut latihan untuk hari ini, tapi masa iya si Devan yang termasuk tim inti gak masuk latihan futsal, jadi kemungkinan Zulfan juga udah beres dan itu berarti--
'Stop buat mikir yang aneh-aneh sekarang Ris!! Berharap aja dia gak balik dalam waktu deket ini! Semoga aja!!'
“Nih pake.” Devan menjulurkan salah satu helm ke arahku.
“Bentar,” ucapku ke arah Devan yang sudah siap menaiki motornya.
Devan mengangkat satu alisnya, sedangkan aku mengambil tisu di dalam tas dan mengelapkan bekas saus di tas Devan. Aku tersenyum dan mengambil helm yang tadi disodorkan oleh Devan.
“Kotor tas lu, pasti abis dikerjain ya sama temen-temen futsal kan?”
“Hahaha biasalah anak futsal, kalau udah jail kan emang jailnya gak ada tandingannya dari dulu juga. Lu sendiri juga udah berapa kali liat anak futsal kalau udah jail sama orang.”
Aku mengangguk mengerti sembari meringis ketika bayangan anak-anak futsal yang jail terlintas, “Iya sih udah beberapa kali litat, kadang serem sih ngeliat anak futsal kalau udah jail, gak ada tandingannya banget. Kalau gitu, mendingan langsung berangkat aja yu, makin sore soalnya..”
“Loh Zul lu mau balik juga sekarang?” tanya Devan yang baru menaiki motornya, aku meringis dalam hati saat Devan menyapa laki-laki yang berada di belakangku.
‘Mampus lu Ris! Ketauan kan mau balik sama cowok lain! Mampus!!’
“Clarisa bareng sama lu?” bukannya menjawab, Zulfan malah balik bertanya.
“Keknya sih engga, udah ada lu juga. Lu mau sama siapa Ris?” Aku mengerjapkan mata saat Devan tiba-tiba bertanya.
“Eh.. anu, gue sih bebas mau balik sama siapa juga.”
“Mending lu baliknya sama si Zulfan aja deh,” Devan sedikit mencondongkan badannya ke arahku, “dia lagi emosi Ris pas kumpul futsal tadi, tolong ya.”
Aku mengangguk, melambaikan lengan ke arah Devan yang udah pergi terlebih dahulu, membalikan badan menatap laki-laki yang sekarang menatap ke arahku dengan datar. Ini kayaknya ada masalah di tim futsal deh, keruh bener mukanya.
“Kal, ayo balik.”
Aku menarik lengan Zulfan untuk mencari motornya, tapi Zulfan malah gak mau gerak sama sekali, aku mendengus sebal, berjinjit utuk bisa sejajar dengan Zulfan, meskipun itu hanya sia-sia karena aku hanya bisa sejajar dengan hidung Zulfan.
“Balik Zulfan Haikal, nanti aku temenin kamu ngegambar deh, janji.”
“Dasar pendek.”
Zulfan langsung melenggang pergi dari hadapanku, membuat aku reflek memutar bola mataku sebal. Sikap dia yang emang suka dingin-dingin terus bikin aku greget minta nabok dia, gak kuat aku kalau dia udah dingin kayak gitu, bawaannya pengen mutilasi dia yang gak pernah peka sama perasaan aku selama ini, dih malah curhat kan!
“Ehm Clarisa Aldelina!” panggilan bunda membuyarkan semua lamunanku.
“Eh bundanya Ica udah stay di depan pintu aja, kangen ya sama anak gadis bunda?”
“Sekarang udah jam berapa Clarisa? Kenapa sekarang kamu pulangnya telat terus!”
Aku menatap bunda yang sudah bersedekap lengannya di depan d**a, aku meneguk salivaku dengan susah payah, berharap ada keajaiban yang bisa menolongku untuk saat ini, ini bisa tutup riwayat ceritanya.
"Sekarang udah jam 5 bun, kan sekarang udah beres ujiannya juga bun, lagi ada class meeting juga jadi acaranya sampai sore, tadi di anter sama temen kok biar cepet pulangnya.”
“Terus karena sekarang udah gak belajar di sekolah kamu bisa telat terus pulangnya?” tanya bunda yang memegang lenganku.
“Ica, bunda bukan gak suka kamu ikut acara sekolah sampai larut kayak gini, tapi kan kamu ada jadwal les yang udah kamu bolosin di dua Minggu ini. Tes buat ke sekolah luar negeri juga gak gampang kan?”
Aku menundukan kepala, malu dengan ucapan bunda yang bener banget. Aku udah 2 Minggu lebih bolos les dengan alasan, aku sebentar lagi ada class meeting dan kemarin ada ujian yang bikin aku milih cuman belajar dari rumah. Aku lupa tes ke luar negeri yang aku mau itu jauh lebih sulit dadi bayangan aku selama ini, oke Clarissa semangat biar bisa nyusul kak Bagas.
“Maafin Ica ya Bun, Ica janji gak ngulangin lagi kesalahan yang sama!”
Aku langsung berhambur ke pelukan bunda, membuat bunda sedikit terhuyung kebelakang karena pelukan mendadak.
“Udah gede masih aja manja, malu kalau di liatin sama ade kamu, abis loh kamu deledek sama dia,” ucap bunda yang membalas pelukan aku.
“Biarin, kan Ica juga mau dimanja sama bunda.”
“Ya udah, sekarang sana ke kamar, ganti baju terus makan dulu, nanti kak Nadya mau ke sini sama kak Bagas,” ucap Bunda yang membuat aku berbinar senang.
“Aslian bun? Aku siap-siap dulu ya.”
Aku langsung berlari ke arah kamar tidur yang berada di lantai dua, membuka pintu yang terdapat tulisan “warning! Room Girl!”. Kamar yang berwarna biru langit menyapa indra penglihatanku, warna putih, biru dan soft pink menjadi warna yang mendominasi kamar aku.
Aku meletakan tas yang aku gendong di samping meja belajar, mengganti baju dengan pakaian santai untuk menyambut kak Nadya dan Kak Bagas nanti, menguncir rambut yang tadi aku sengaja gerai. Memilih untuk membaca buku materi kuliah yang diberikan kak Bagas 1 bulan yang lalu, duduk di kursi santai yang menghadap langsung ke arah taman rumah.
Tok..tok..
“Mbak, ada kak Zulfan di bawah.”
Adik aku, Luthfi, membuka pintu kamarku dan berdiri dengan malas di depan pintu, sebelum aku menutup buku yang sedang aku baca dan berjalan ke arahnya.
“Ngapain dia ke sini Fi?”
“Lah mana gue tau kak, udah sono samperin pangeran yang lu impiin.”
Aku langsung menjitak kepala Luthfi, kebiasaan banget ngomong gue elu di rumah, kalau kedengeran sama bunda bisa bahaya.
“Ngomong gue elu aja terus sampe bunda denger, nanti kakak ngomong mampus paling kenceng kalau sampai ketauan!” ucapku yang menggeser tubuhnya yang menutupi pintu.
'blam'
Bunyi pintu tertutup dengan sempurna! Aku langsung buru-buru membenarkan tatanan rambut yang sebenernya gak berubah sama sekali, sedikit memoles bibirku dengan lipglos agar terlihat lebih segar dan menyemprotkan beberapa kali parfum ke arah baju dan tengkukku.
“Perfect!” Pekikku yang tertahan saat melihat pantulan bayangan tubuh di cermin, pikiran diajak Zulfan ke luar untuk jalan sore membuat amunisi bahagiaku langsung bergerak cepat.
"Jangan bikin dia nunggu!"
***
“Hey Kal..” Sapaku saat berjalan ke arah ruang tamu dengan senyum kecil, dia menatap ke arahku beberapa detik sebelum tersenyum canggung.
Loh kenapa?
“Kenapa? Ada yang ketinggalan waktu tadi nganter aku?” tanyaku basa-basi, mencoba mencari melihat ada peluang untuk aku diajak keluar bareng sama dia.
Zulfan menggelengkan kepalanya pelan, “Gak ada yang ketinggalan kok, cuman tadi tiba-tiba pengen keluar ke taman di komplek, sekalian cari angin juga kan, udah lama gak ke sana kita."
'Yes! Firasat aku gak salah sama sekali! Emang udah jodoh, sehari terus!'
“Izin dulu ke bunda, baru nanti langsung jalan.”
“Yuk kita jalan, udah dapet izin sama bunda, tapi katanya ada sepupu kamu yang bakalan ke sini, gak apa-apa njh?”
aku menepuk jidat langsung, lupa kalau kak Bagas sama kak Nadya bakal datang nanti, paling malem sih mereka bakal datang ke sini, apalagi kak Nadya yang udah sibuk jadi dokter, jadi jalan bareng sama doi gak ada salahnya juga.
“Gak apa-apa sih, tapi kita jalannya jangan ke maleman aja, biar bisa ketemu sama mereka juga, yu buruan.”
Kami berjalan beriringan keluar dari rumah, aku mendecih saat melihat kendaraan apa yang dia bawa, kalau di liat sama pakaian yang aku kenakan gak bakal cocok kalau naik motor sekarang.
“Mau ngeledek kamu?”
“Siapa yang mau ngeledek, ayo buruan.”
Zulfan menyerahkan satu helmnya ke arahku, aku menerimanya dengan ogah-ogahan, dia tertawa kecil sebelum melepas jaketnya, mengikatkan ke arahku, aku hanya mendengus tapi dalam hati bersorak dengan bahagia.
“Ayo buruan.”
Aku berusaha untuk naik ke motor ninjanya, udah tau aku pendek tapi malah pake motor ninja. Dia mengulurkan lengannya, berusaha untuk membantu aku untuk naik ke jok motornya.
“Siap pendek?”
“Yosh! Siap!”
Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya, menikmati udara sore menjelang malam di komplek rumah, taman yang Zulfan maksud itu ada di komplek rumah, jadi gak terlalu jauh dan lagi itu tempatnya selalu rame sama orang-orang dari anak kecil sampai orang tua. Motornya berhenti setelah 10 menit berjalan.
“Gak pernah sepi ini tempat,” ucapku yang melepaskan helm.
Dia tertawa dan turun dari motor, mengandeng lenganku untuk berjalan keliling taman, kami tertawa membicarakan hal abstrak, sesekali aku menyapa beberapa anak kecil dan teman sebaya yang aku kenal sedangkan Zulfan jangan ditanya, dia hanya tersenyum kecil saat mereka menyapa.
“Ih ada yang jualan permen kapas, beliin Kal.”
Dia mengangguk, mengusap kepalaku dengan pelan, berjalan menuju penjual permen kapas yang ramai pengunjung. Tiba-tiba satu orang anak kecil datang menghampiri aku dengan membawa satu tangkai bunga mawar dan satu permen lolipop, dia menyerahkan bunga dan lolipop ke arahku.
“Ini buat kakak?” tanyaku yang mensejajarkan tinggiku dengan dia, dia mengangguk dan melenggang pergi begitu saja tanpa memberikan satu patah kata pun, meninggalkan aku dengan ribuan tanya.
“Sweet people
Kamu cantik Clarisa dengan pakaian berwarna pink itu, manis seperti permen lolipop ini. Apa kamu akan terus bersama Zulfan? Aku menunggu kalian berpisah secepatnya, semakin cepat akan semakin baik
Your secret admirer”
Aku langsung menatap sekeliling taman dengan waspada, degup jantungku langsung bergemuruh, penasaran sekaligus takut dengan siapa yang mengirim surat ini. Aku memasukan surat itu ke dalam saku celana pendek dengan hati-hati, bergegas menyusul Zulfan yang masih mengantri.
“Masih lama gak?” tanyaku tepat berada di samping tubuh Zulfan.
“Ngapain ke sini? Nanti pegel ngantri loh.”
“Bosen di sana sendirian,” alibiku yang menggenggam lengannya.
“Dasar, ini lagi dibikinin dulu bentuk pokemon.”
“Itu sih kesukaan kamu Kal,” decihku yang dibalas tawa kecil dari dia.
Penjual permen kapas memberikan permen kapas bentuk pokemon kepada Zulfan, kami mengucapkan terimakasih sebelum bergegas menuju bangku taman.
“Kamu kenapa sih Ca? Daritadi bengong terus, aku udah ngomong daritadi loh Ca,” ucap Zulfan yang menggoyangkan lenganku.
“Gak apa-apa Kal, potekin permen kapasnya dong.”
“Dasar manja si pendek.”
Aku tertawa pelan sambil mengambil potekan permen kapas yang diberikan oleh Zulfan, mencoba untuk menghilangkan perasaan resah dari surat yang tadi diberikan oleh orang misterius.
“Udah mau malem, langsung pulang aja yu.”