Marah Besar

1623 Kata

Suasana yang semula hampir mereda, kembali memanas seketika. Rida menutup mulutnya dengan kedua tangan. Perempuan itu terlalu syok, lantaran kehadiran mertuanya yang terlalu tiba-tiba, bak jailangkung yang tidak diundang kehadirannya. Keringat dingin mulai mengucur di dahinya. Ia meremas ujung gamisnya hingga lecek. Sudah tidak ada alasan lagi yang dapat dijadikan pertolongan. Bak maling yang tertangkap basah, hati Rida ketar-ketir. "M--Mama? Sejak kapan Mama di sini? Yang jaga Aidan siapa?" Rida tampak kikuk, ucapannya pun terdengar terbata. Bingung harus berkata apa pada sang mertua. Matanya memandang nanar, jujur saja ia tak mampu menyembunyikan kerapuhannya lagi. Ia ingin sekali memeluk mertuanya untuk melepas beban sejenak yang bertumpu di pundaknya. Rika memandang menantu dan an

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN