Perempuan Asing

1872 Kata

Sepeninggal Ferdhy, ruangan tersebut kembali diselimuti hening. Hanya detik jarum jam yang terdengar konstan, serta langkah kaki lalu lalang orang di luar ruang. Tak cukup hanya itu, suara-suara samar dari beberapa pasien di kamar rawat lainnya turut membaur menjadi satu. Meski terdengar samar. Belum lagi, angin yang berembus tenang. Seakan memberi kesan melodi paling hangat. Dalam hati kecilnya, rasa bersalah tiba-tiba membuncah di hati Rida. Melihat bagaimana suaminya meninggalkan ia tanpa pamitan, bahkan sepatah kata pun tidak laki-laki itu utarakan. Mendadak rasa takut juga turut hadir. Khawatir, jika rumah tangganya yang nantinya akan menjadi taruhan. Meski begitu, tak menampik jika di lubuk terdalam, tetap kukuh ingin mempertahankan janin yang ada di perutnya. Pada akhirnya, Rida

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN