Seandainya aku bisa memutar waktu, 'tak akan aku ijinkan dia pergi. Seandainya aku tahu yang akan terjadi, 'ku akan terus berada di sampingnya hingga matahari tidak bersinar lagi.
Kupandangi satu persatu gambar dia dalam album foto pernikahan kami. Semuanya sangat nyata tanpa rekayasa. Senyumnya, sorot matanya yang selalu berbinar bahagia.
Aku sudah menghilangkan sebagian kenangannya dari kamar ini. Namun, aku tetap tidak bisa melupakan Mas Mirza. Bucin, itu yang selalu mereka katakan jika kita terlalu mencintai pasangan kita. Dan aku, adalah salah satunya.
"Bu, maaf ... di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan, Ibu." Niar mengetuk pintu lalu bicara memanggilku.
"Siapa, Ni?" tanyaku dari dalam.
"Temannya, Bapak. Teman kerjanya," ujar Niar.
Aku menutup Album foto dan menyimpannya kembali ke tempat semula. Aku ke luar dari kamar, menemui si tamu yang datang.
"Dion? Ada apa kamu datang ke sini malam-malam?" Rupanya Dion yang datang bertamu malam ini.
"Maaf, Al mungkin aku tidak sopan berkunjung pada malam hari. Jujur, aku merasa tidak enak atas kejadian tadi siang di resto. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak menyangka kalau Soraya berada di sana dan malah menuduhmu yang tidak-tidak," ujar Dion.
Aku tahu dia sangat malu dengan kelakuan istrinya. Terlebih, aku adalah pimpinan di tempatnya bekerja.
"Sudahlah, aku sudah melupakannya juga. Jangan dibahas lagi," kataku malas.
Sebenarnya, bukan hanya Dion yang merasa malu atas kelakuan Soraya. Tapi aku juga. Bagaimana bisa dia langsung melabrak tanpa mempunyai bukti kalau aku selingkuhan suaminya. Cemburu memang membutakan mata.
"Tapi, aku tidak enak sama kamu, Al. Kamu pasti sakit hati dan malu banget atas perlakuan Soraya tadi. Dan ... atas ucapanmu tadi, kamu tidak serius 'kan?" Dion menatapku penuh harap. Sorot matanya begitu cemas.
Aku terkekeh melihat wajah memelasnya. Dia seperti anak kecil yang minta uang jajan pada ibunya.
"Kok malah ketawa, Al. Aku serius ini. Jadi, aku beneran dipecat? Jangan dong, Al. Cicilan rumah masih banyak banget ini," ujarnya makin panik.
"Enggaklah, Yon. Aku hanya becanda tadi. Habisnya aku sebel banget sama Soraya tadi."
"Alhamdulillah," ucap Dion mengelus d**a.
"Makanya jangan suka jelalatan tuh mata. Mana mungkin istrimu cemburuan sampai nekad seperti tadi, kalau kamu tidak macam-macam di belakang dia. Soraya pasti punya alasan ngikutin kamu sampai ngelabrak gitu." Dion menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sebenarnya, aku memang sedang menyukai wanita lain, Al." Aku terperanjat dan membulatkan mata, saat Dion berkata demikian.
"Astaga! Beneran gak beres kamu, Yon. Hati-hati, nanti malah jadi malapetaka buat rumah tanggamu," kataku mengingatkan.
"Gimana lagi, urusan hati memang susah untuk dikendalikan, Al," ujarnya cengengesan.
Bi Wati, pembantu baruku datang dengan dua minuman yang dia bawa di atas nampan. Menyimpan kedua minuman di atas meja, lalu kembali ke belakang.
Tidak lama setelahnya, Thalita putriku datang dan duduk di sebelahku.
"Ma, Om ini siapa?" tanya putriku.
"Ini, Om Dion, Sayang. Om Dion, teman kerjanya Mama di kantor." Thalita mengangguk-nganggukan kepala tanda mengerti.
"Hai, anak cantik. Anak cantik, kok belum tidur?" ujar Dion. Dia menyapa sekaligus bertanya.
"Om, kalau Om itu temannya, Mama ... berarti Om juga temannya Papa, 'kan? Om tau tidak sekarang Papa ada di mana? Atau ... mungkin Om tahu, tempat kerjanya Papa di luar kota itu di mana?"
Aku dan Dion saling pandang. Bingung, mungkin itu yang ada dalam pikiran Dion. Bingung jawaban apa yang akan dia berikan pada Thalita.
Jangankan pada Dion, Thalita juga menanyakan Papanya pada Pak Ari--supir kantor yang sekarang jadi supir pribadi Thalita.
"Sayang, tidak semua teman Papa, tahu di mana Papanya Thalita bekerja. Termasuk Om Dion ini."
Thalita diam dengan bibir yang mengerucut. Aku tahu dia kecewa dengan jawaban yang aku berikan. Aku pun menghembuskan nafas perlahan. Menetralkan perasaanku.
Setelah beberapa saat, Dion pamit pulang. Aku dan Thalita pun masuk ke dalam kamar untuk tidur.
Belum juga mataku terpejam, suara ponsel membuatku kembali bangun dari pembaringan dan melihat pesan yang masuk ke aplikasi hijauku.
[Mama merindukan Thalita. Bisakah besok bawa Thalita ke sini untuk bermain dengan Mama?]
Setelah apa yang dia lakukan tadi pagi padaku, kini dengan tanpa basa-basi dia memintaku membawa Thalita ke rumahnya? Tidak bisakah dia minta maaf terlebih dulu padaku atas perlakuan kasarnya tadi? Dasar lelaki aneh.
[Kenapa tidak Mama saja yang main atau menginap di sini?] Aku membalas pesannya dengan pertanyaan.
[Mama meminta Thalita yang datang, bukan dirimu. Kalau kamu tidak mau mengantarnya ke sini, biar aku yang akan jemput Thalita besok.]
Huft. Keras kepala dan songong.
[Sepulang sekolah, Thalita akan ke rumah Mama,] pungkasku. Aku malas jika harus lama-lama berdebat dengan Reza. Hanya buang-buang waktu dan tenaga saja.
Aku menyimpan ponselku, kemudian merebahkan tubuh di samping Thalita yang sudah tertidur terlebih dulu.
"Selamat tidur, Sayang." Aku mengecup lembut pipi serta dahinya.
*
"Niar, sepulang sekolah, nanti bawa Thalita ke rumah Mama, ya. Kamu masih ingat, 'kan rumahnya di mana?"
Setelah ada pembantu baru yang mengurus rumah, aku fokuskan Niar mengurus semua keperluan Thalita termasuk mengantanya ke sekolah.
"Iya, Bu. Saya masih ingat," ujar Niar.
Setelah berpesan pada Niar, dan menemani putriku sarapan, aku pun berangkat ke kantor. Seperti biasa aku akan membawa mobil sendiri dan Pak Ari, akan mengantar jemput Thalita dan Niar ke sekolah.
Pemandangan yang sudah biasa aku lihat saat pertama masuk ke ruanganku, ialah tumpukkan berkas yang harus dipelajari dan aku tanda tangani. Juga agendaku yang harus bertemu dengan klien sedang menanti.
Seandainya Mas Mirza tidak pergi, biasanya pada jam segini aku sedang maskeran. Mempercantik diri menyuguhkan wajah yang fresh pada suamiku.
Aku jadi teringat kembali pada Mas Mirza. Saat dia sedang banyak kerjaan dan membawanya ke rumah. Dia selalu mengajakku untuk ikut duduk bersamanya. Bukan untuk menemaninya, tapi dia memintaku untuk belajar mengelola perusahaan.
***
"Mas, kerja terus, gak capek apa?" Aku memeluk lehernya dari belakang. Dia mengecup singkat lenganku dengan mata dan kedua tangan masih fokus pada laptop.
"Enggak. Kalau ditemani gini, capeknya jadi ilang," katanya tersenyum manis. Aku semakin mengeratkan pelukanku, menempelkan pipiku di tengkuk lehernya.
"Mau dibikinin kopi?" tawarku, tapi dia menggeleng.
"Sayang, duduk di sini, sebentar." Mas Mirza menepuk sofa di sampingnya. Aku pun menurut, duduk di tempat yang dia inginkan.
"Lihat, ya, ini yang harus kamu perhatikan jika jadi seorang pemimpin. Bukan hanya corat-coret tanda tangan doang," ujarnya. Dia menggeser laptopnya agar lebih dekat denganku.
"Ih, Mas. Aku males, ah kalau liat yang gituan. Sudah aku bilang, aku tuh pusing kalau harus liat angka-angka yang banyak kayak gitu. Udah ah, aku mau tidur aja." Aku langsung berdiri dan menjatuhkan tubuhku di atas ranjang.
"Hey, kok malah tidur, sih. Kamu harus belajar, jangan terus mengandalkanku. Kalau nanti aku tidak ada bagaimana?"
"Emangnya kamu mau ke mana? Mau ninggalin aku begitu? Jahat kamu."
"Bukan, Sayang. Kan seandainya, makanya belajar, yuk? Aku ajarin sampai kamu ngerti," ajaknya dengan menarik tanganku.
"Enggak mau." Aku menarik kasar tanganku yang dipegangnya.
"Hey, kok jadi marah?" Mas Mirza ikut berbaring di sebelahku. Dia menyelipkan rambut ke belakang telingaku.
"Habisnya kamu ngomongnya gitu. Kamu kayak yang mau ninggalin aku, aku gak suka Mas bilang gitu. Pokonya, aku gak mau belajar apapun tentang perusahaan. Biarkan saja semuanya, Mas yang urus. Biar, Mas gak bisa pergi dari aku."
"Emmh, begitu? Ok, tapi tidak gratis, harus ada imbalannya. Dan Imbalannya ... ini!" Mas Mirza menggelitik perutku hingga aku tertawa terpingkal-pingkal.
"Ih, Mas. Geli! Jangan digelitik terus akunya, Mas! Awas, ih. Hahaha, Mas geli!"
"Biarin, he ... siapa suruh tidak mau belajar, kamu yah? Ini hukumannya."
"Ampun, Mas, ampun! Hahaha ...!"
Aku dan dia tertawa sampai kami merasa lemas sendiri.
***
Memori tentangnya kembali berputar dengan jelas. Ternyata Mas Mirza menyuruhku belajar bukan tanpa alasan. Sepertinya sudah sejak lama dia merencanakan kepergiannya.
Ting!
Suara notifikasi dari ponselku berbunyi saat aku tengah menikmati kesibukanku. Sibuk dengan pekerjaan, juga sibuk dengan memikirkan tentangnya.
[Bu, tadi Thalita bercerita kalau dia seperti melihat Papanya di rumah Oma Marta.]
Aku mendekatkan ponsel ke depan mataku. Takutnya aku salah membaca pesan yang Niar kirim. Aku menelan saliva yang tiba-tiba mengering.
Mungkinkah, Mas Mirza berada di rumah Mama?
[Ni, apa Mas Mirza ada menemui Thalita?] Aku mengirim pesan balasan pada Niar.
Beberapa saat aku menunggu, tapi Niar tidak membalas pesanku. Aku semakin penasaran dibuatnya.
[Tidak, Bu. Thalita bilang, hanya melihat sekilas di salah satu kamar. Sudah ya, Bu. Saya tidak bisa lagi membalas pesan Ibu. Karena ada Omanya Thalita,] pungkas Niar dalam pesannya.
Apakah aku harus pergi ke rumah Mama untuk membuktikan ucapan Thalita? Mungkinkah Thalita hanya mengkhayal karena saking rindunya pada Mas Mirza?
Aku jadi tidak kembali fokus bekerja setelah berkirim pesan dengan Niar.
Bersambung.