Bab 10 Disangka Pelakor

1313 Kata
"Aletta!" "Apa yang kau lakukan di sini?" Aku menggelengkan kepala. Air mata yang sedari tadi berjatuhan, kini berhenti dengan tiba-tiba. Aku mengusap pipiku dengan kasar. "Mana Mas Mirza?" Kening Reza berkerut, dia menatapku dengan penuh tanda tanya. "Apa maksudmu, menanyakan Mirza di sini?" tanyanya lagi. "Kata suster tadi, kamu masuk ke ruang di mana Mas Mirza di rawat, tapi di mana dia? Kenapa di sini tidak ada. Dan dia siapa?" Dadaku naik turun, mataku menatap Reza dengan tajam. "Dia, Mirza, pasienku. Lalu siapa yang kau cari?" Ucapan Reza membuat otakku bekerja lebih keras. Aku melihat pada orang yang terbaring di atas ranjang. Dia bukan Mas Mirza. Aku mengingat kembali ucapan suster di luar tadi. Aku tidak mungkin salah dengar kalau Reza memiliki pasien yang bernama Mirza. Tapi kenapa dia bukan Mas Mirzaku. Laki-laki yang tengah terbaring lemah di atas ranjang dengan tangan yang terpasang jarum infus, hanya melihatku dengan bingung. Mana mungkin aku salah lihat, dia bukan Mas Mirza suamiku. Dia terlalu muda untuk ukuran pria berusia tiga puluh tahun. Aku melihat tulisan yang menggantung di ujung ranjang yang tengah ditiduri pria itu. "Mirza Mubarok, usia 19 tahun," gumamku. Tatapanku kembali pada Reza. Wajah dari iparku itu kini sudah berubah mengerikan. Rahangnya mengeras dan wajahnya berubah memerah. Reza mencengkram pergelangan tanganku, dia membawaku keluar dari kamar pasien itu. Reza bahkan menyeretku hingga sampai di parkiran rumah sakit. "Kau telah mengganggu pasienku. Apa sebenarnya maumu, hah?" Reza menghempaskan tanganku dengan kasar. "Aku hanya ingin mencari Mas Mirza. Kau menyembunyikannya!" Reza mengusap wajahnya kasar, sebelah tangannya dia tempelkan pada mobil yang terparkir. "Bukannya kau sudah tahu di mana Kakakku berada dan dengan siapa dia di sana. Foto yang aku kasih padamu, apa itu belum cukup bukti kalau Mirza tidak berada di sini?!" "Tapi ...." Aku tidak memiliki jawaban yang bisa meyakinkan Reza kalau aku mencurigai dia. "Tapi apa? Tapi kamu bucin, wanita manja yang tidak bisa menerima kenyataan kalau kamu sudah tidak diinginkan Kakakku lagi, iya?" Kini Reza berkata dengan lebih halus, kedua tangannya dia masukan ke dalam saku celana. "Aku menemukan bukti kalau Mas Mirza itu sakit, Reza!" Aku mulai emosi dengan semua pertanyaan dan pernyataan yang dia lontarkan padaku. "Bukti apa?" tanya Reza dengan tatapan yang menusuk. "Aku menemukan amplop rumah sakit di tumpukkan bajunya. Aku yakin kalau dia sakit." "Sakit apa? Apa isi dari amplop itu? Mana, bisa kau tunjukkan padaku? Biar aku yang membaca apa hasil medical check up yang dilakukan Kakakku." Reza mengadahkan sebelah tangan di depanku. "Tapi, amplopnya kosong. Pasti Mas Mirza sudah membuang isinya. Aku yakin itu," kataku menjelaskan. "Tahun berapa dan rumah sakit mana yang dia kunjungi?" Aku menggeleng membuat Reza tersenyum mengejekku. "Tapi, aku juga menemukan obat pereda nyeri yang selalu dia konsumsi. Ini obatnya." Aku mengeluarkan pil yang aku temukan di kantor waktu itu. Reza mengambil obat itu dan tertawa terbahak. Aku semakin kesal dibuatnya. "Kau mencurigai obat ini juga? Kau tidak tahu apa-apa dengan obat beginian. Jadi jangan langsung menyimpulkan seseorang sakit keras karena dia sering meminum obat ini." "Kata Aira, ini obat pereda nyeri yang sering--" "Nyeri apa? sakit apa? Sakit kepala kah? Sakit pinggang kah? Atau mungkin nyeri otot?" Reza memotong ucapanku dan memberondongku dengan berbagai pertanyaan yang memang aku tidak memiliki jawabannya. Aira juga tidak mengatakan kalau itu obat untuk penyakit yang serius. Aku diam seribu bahasa tidak punya jawaban lagi atas pertanyaan Reza. Reza mencengkram kedua pundakku, matanya lekat menatapku. "Berhenti mencari Mirza, dan berhenti mengikutiku. Aku tidak suka kau mencampuri pekerjaanku. Apalagi kau datang dengan tidak sopan saat aku sedang bekerja." Reza melepaskan pundakku dengan sedikit mendorongnya, hingga punggungku berbenturan dengan mobil di belakangku. Dia kembali masuk ke dalam rumah sakit meninggalkanku yang terlihat seperti orang bodoh. Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya dengam kasar. Ini sangat menyebalkan dan sangat memalukan. Kenapa aku harus terburu-buru masuk tanpa mencari tahu tentang pasien yang sedang bersama Reza. Kenapa aku tidak menanyakan nama belakang bahkan usia si pasien terlebih dahulu. Aku memukul-mukul kepalaku. Merutuki keb*dohanku yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ponsel dalam saku celanaku bergetar, aku mengambil dan mengangkat panggilan yang masuk. "Kamu di mana Aletta? Sekarang ada metting dan kamu belum sampai di kantor?" Aku melihat jam yang melingkar di tanganku, rupanya memang sudah siang, pantas saja Dion sampai menelponku. "Aku akan segera ke sana. Tunggu saja." Aku pun mencari mobilku dan langsung pergi meninggalkan area rumah sakit. * Rapat yang aku pimpin sudah selesai. Untung saja aku bisa datang tepat waktu dan tidak membuat klien harus menunggu. Kalau saja itu terjadi, akan membuat citra perusahaan sedikit menurun. "Kamu tadi dari mana? Kenapa bisa datang siang ke kantor?" tanya Dion. Saat ini aku dan Dion sedang makan siang bersama di restoran yang tidak jauh dari kantor. "Aku mencari Mas Mirza," jawabku tanpa menoleh pada Dion. "Bukannya kamu bilang, kalau Mirza berada di luar negeri bersama kekasih barunya? Lalu untuk apa kamu mencarinya di sini?" Aku menyimpan sendok dan mengambil gelas berisi jus mangga kesukaanku. Meminumnya sedikit, lalu menyimpannya kembali. "Aku menemukan beberapa bukti kejanggalan tentang perginya Mas Mirza. Entahlah, aku merasa kalau Mas Mirza tidak mengkhianatiku." "Kamu terlalu mencintainya, Al." Ya, benar yang dikatakan Dion. Aku sangat mencintai Mas Mirza. Dia tidak memiliki celah untuk aku membencinya. Selama hidup enam tahun dengannya, Mas Mirza tidak pernah meninggikan suara di depanku. Jangankan untuk membentak, menatapku dengan tatapan marah pun tidak pernah dia lakukan. Jangankan melayangkan tangan dan memukulku, jika aku dalam keadaan marah pun, dia mampu meredakannya. Mataku kembali memanas kalau akau terus mengingat kenangan kebersamaan kami. Sangat indah dan terlalu indah jika harus berakhir dengan pengkhianatan. Tahu jika aku tidak baik-baik saja, Dion mengusap pelan pundakku. Dia menenangkanku yang sedang terjebak dalam ingatan masa lalu. "Oh, seperti ini rupanya kerjaanmu di belakangku, ya?!" Seorang wanita dengan pakaian sedikit terbuka berjalan ke arahku dengan wajah yang merah padam. Byuuurr! Dia menumpahkan jus di kepalaku hingga membasahi pakaianku. "Hey, apa yang kau lakukan? Astaga Soraya!" pekik Dion yang melihatku disiram oleh wanita yang tidak aku kenal. "Siapa kau, kenapa kau menyiramku?" tanyaku geram. Aku langsung berdiri dari dudukku. Kini kami jadi tontonan orang-orang yang sedang berada dalam restoran ini. "Kau pantas menerimanya, dasar pelakor!" Apa, dia mengataiku pelakor? Big no! Aku menatap Dion dengan sangat tajam. Dion memeluk wanita itu dari belakang agar dia berhenti menyerangku. Kasak-kusuk orang-orang mulai terdengar. Mungkin mereka mengira aku pelakor yang dilabrak oleh istri sah. "Dia bukan pelakor, Soraya. Dia bosku di kantor. Dia sudah punya suami!" kata Dion yang masih menenagkan istrinya. "Aku tidak percaya! Kamu pasti ada main dengannya, 'kan?! Kau tega, kau membelanya di depanku, Dion!!" Aku benci dengan drama mereka. Aku mengeluarkan uang dan menyimpannya di meja. Aku menatap wanita yang masih dalam dekapan Dion itu dengan tajam. "Dengar, Nona. Jangan salahkan aku jika bulan depan kau tidak bisa pergi ke salon karena suamimu akan saya pecat!" Aku mengambil tas dan meninggalkan mereka berdua. Gara-gara cemburu butanya istri Dion, penampilanku jadi sangat menyedihkan. Seorang direktur dan pemilik perusahaan dikira pelakor dan dilabrak oleh istri sah di depan banyak orang. Cukup panjang untuk sebuah judul sinetron. "Astaga Ibu, apa yang terjadi?" Sandra yang melihat betapa menyedihkannya penampilanku, dia sangat terkejut. "Hanya kecelakaan kecil. Emh, apa jadwalku hari ini? Apa masih ada pertemuan dengan klien?" tanyaku pada Sandra. "Tidak ada, Bu. Ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani, tapi bisa dikerjakan esok hari jika sekarang Ibu tidak bisa," ujar sekertarisku ini. "Ok. Saya akan pulang saja sekarang. Lengket sekali badanku, Sandra!" kataku geram. "Iya, silahkan." Aku pun ke luar dan pulang. Karena untuk bekerja pun aku sudah tidak punya selera. Hari ini aku mendapatkan dua kesialan sekaligus. Yang pertama, aku salah orang. Yang aku sangka Mirza suamiku, nyatanya orang lain. Yang kedua, aku dikira pelakor oleh istri dari karyawanku sendiri. Mungkin ini akibatnya karena aku terlalu abai dalam urusan kantor. Aku bahkan enggan datang pada acara-acara yang berurusan dengan perusahaan. Pantas saja wanita tadi tidak mengenaliku, karena aku selalu bersembunyi di balik tubuh Mas Mirza. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN