"Innalillahiwainnailaihirojiun," ucap Papa dengam disambut teriakan histeris dari Mama. "Tidak, Mas Mirza tidak kalah. Dia hanya tidur, Reza! Dia hanya tidur!" Aku menghampiri Mas Mirza dan menggoyangkan tubuhnya. "Bangun, Mas. Bangun! Kamu tidak boleh tidur terus, Mas. Aku mohon bangun!" Reza melepaskan jarum infus yang menancap di punggung tangan Mas Mirza, dia juga menutup seluruh tubuh kakaknya dengan selimut. Aku menarik-narik baju Reza, ingin menghentikannya. "Jangan lakukan itu pada Mas Mirza, dia hanya tidur, Reza. Aku mohon hentikan!" racauku sembari terisak. Tidak berapa lama, dokter Wildan datang dengan dua perawat laki-laki. Mereka mendekati Mas Mirza dan berusaha membawa Mas Mirza. "Jangan, jangan, bawa dia!" Aku ingin menghalangi mereka agar tidak membawa Mas Mirza

