"Sini, Al. Duduk di deket, Mas." Mas Mirza melambaikan tangan menyuruhku mendekat. Aku menghampirinya dan duduk di kursi yang berada di dekat ranjang. "Mas ingin menyampaikan sesuatu padamu, Al." "Aku akan mendengarkannya," ucapku. "Kamu tahu, Al. Aku sangat menyayangimu?" "Hmm." Aku mengangguk. "Aku tidak pernah minta apa pun darimu selama pernikahan kita. Tapi, untuk kali ini aku harap kau mau mengabulkan permintaanku." "Apa, Mas?" tanyaku. Perasaanku jadi tidak karuan. "Nanti, jika aku sudah tidak ada, berjanjilah kamu akan bahagi--" "Jangan katakan itu, Mas. Aku mohon, kamu akan sembuh dan kita akan kembali seperti dulu." Dengan cepat aku memotong ucapan Mas Mirza. Aku tidak ingin dia meninggalkanku. Aku sangat menyayanginya. Aku genggam tangannya dengan erat. Matanya ak

