Jangan, tidak, tidak, Mas Mirza tidak boleh pergi. Aku tidak sanggup melihat Mas Mirza kesakitan seperti itu. Aku menjauh dari ranajang Mas Mirza, menyandarkan punggung pada tembok. Kubekap mulut agar tidak terdengar suara tangisku. Semua orang panik, terlebih diriku yang baru pertama kali melihat Mas Mirza menahan sakit. Reza menyuntikkan obat yang berbeda pada labu infus juga pada punggung tangan Mas Mirza. Perlahan tubuh Mas Mirza melemah, dia tidak berteriak lagi. Mas Mirza terkulai lemas di ranjangnya. Aku yang sesegukkan menangis di belakang Papa, kini menghampirinya. Aku naik ke atas ranjang Mas Mirza kupeluk tubuh ringkih yang tidak berdaya itu. Tidak peduli dengan dua orang yang melihatku dengan iba atau tidak suka. Aku menangis dengan sebelah tangan kusimpan di atas perutny

