Menikah atau Gugurkan Kandunganmu!

1132 Kata
Setelah dirawat selama sembilan hari, akhirnya Darmawan mengizinkan dokter untuk memulangkan putrinya. Darmawan serta keluarga menjemput Ririn dari rumah sakit. Sikap Darmawan dan Elvina sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Mereka tak ingin lagi terlalu keras menanggapi persoalan yang dihadapi Ririn karena khawatir kondisi putri mereka itu akan kembali menurun. Setelah tubuhnya benar-benar sehat dan kandungannya dinyatakan kuat, Ririn memberanikan diri untuk melakukan aktivitasnya seperti semula. Ia kembali mengikuti kuliah di pagi hari dan mengikuti kelas belajar memasak secara online di sore hari. Perutnya yang masih rata membuat teman-temannya sama sekali tak menyadari kehamilannya. Dengan setia, Bram mengantar jemput Ririn ke kampus. Pemuda itu masih memperlakukan Ririn seperti biasa. Ia berusaha untuk mengawasi Ririn dan menjaganya dengan lebih ketat lagi. Kedua orang tua Ririn dan kedua orang tua Bram berencana akan bertemu untuk membicarakan perihal pernikahan anak-anak mereka. Orang tua Bram setuju kalau anak mereka menikahi Ririn walaupun mereka tahu mengenai status kehamilan gadis itu. Mereka tahu bahwa Ririn bukanlah gadis nakal dan mereka sangat berempati ketika tahu bahwa Ririn telah dinodai pada saat dirinya tak sadarkan diri. Mengetahui bahwa pertemuan kedua keluarga akan segera dilaksanakan, Ririn ingin segera memulai rencananya. Ia memberanikan diri untuk berbicara dengan mamanya. “Ma, apakah Ririn boleh bicara serius dengan Mama?” tanya Ririn. Gadis itu baru saja kembali dari kampus. Ia meletakkan tas kecil dan beberapa buku di atas meja kaca. “Ya, ada apa, Rin?” tanya Elvina. Ia duduk tepat di sebelah Ririn. “Ma, tolong jangan nikahkan Ririn dengan Bram, Ma,” bujuk Ririn sambil menggenggam kedua tangan mamanya. “Ririn, kamu jangan bicara seperti itu. Apa yang Mama dan Papa lakukan ini adalah hal yang terbaik,” sahut Elvina lembut. “Ma, mungkin itu adalah yang terbaik untuk Mama dan Papa, tetapi bukan yang terbaik untuk kami,” elak Ririn. “Ini yang terbaik untukmu dan janin yang ada di dalam kandunganmu, Rin. Sudah, jangan melawan.” Elvina tampak menanggapi perkataan Ririn dengan malas. “Ma, sekali ini tolong dengarkan permintaan Ririn. Ririn tidak mau kalau gara-gara Ririn masa depan Kak Bram jadi tak sesuai dengan harapannya.” Ririn berkeras pada keinginannya. Elvina mengamati Ririn dari dekat. “Ririn, katakan kalau kamu tidak menyukai Bram,” ucap Elvina sambil menatap langsung kedua mata Ririn yang berpupil hitam pekat. Ririn terkejut mendengar perkataan mamanya. Ia spontan menundukkan kepala menghindari tatapan mamanya. “Ririn, Mama tahu kalau kamu diam-diam suka sama Bram. Mungkin ini sudah jadi takdir kalian,” lanjut Elvina. Ia mengangkat wajah putrinya perlahan. “Maaf, Ririn tidak bisa, Ma. Ririn tidak bisa menyakiti Kak Bram dan Cindy.” Ririn kembali menolak permintaan mamanya. “Baik, kalau kamu berkeras. Mama akan bicara sama papamu. Semoga akan ada jalan keluar yang lain.” Elvina menyerah. Ia masih ingat bagaimana putrinya itu jatuh pingsan tepat di hadapannya dan ia tak mau hal tersebut terulang kembali. “Terima kasih, Ma.” Ririn memeluk mamanya erat. Ia merasa nyaman saat punggungnya dibelai dengan penuh kasih sayang dari sang mama. *** Acara pertemuan antara keluarga Ririn akan segera dilaksanakan. Ririn semakin merasa khawatir karena mamanya sama sekali tidak menyampaikan keinginannya kepada Darmawan, papanya. Elvina sengaja tak mengatakan apa-apa kepada suaminya mengenai permohonan Ririn untuk membatalkan rencana pernikahan. Ia tak ingin kemarahan Darmawan kembali meledak. Ririn kian resah. Ia tahu bahwa mamanya tidak akan menolongnya. Karena terpaksa, Ririn akhirnya menemui papanya untuk bicara secara langsung. “Wah, ada angin apa Ririn ke kantor Papa?” tanya Darmawan menyambut putri bungsunya. “Ayo, duduk. Kita makan siang sama-sama, kamu pasti sudah lapar,” ajak Darmawan sambil merangkul pundak Ririn. “Pa, Ririn mau bicara tentang rencana pernikahan Ririn,” ucap Ririn. Ia duduk berdampingan dengan papanya di sofa yang tersedia di dalam kantor. Di atas meja sudah ada kotak nasi dengan beberapa jenis menu makan siang. Ririn memang lapar, tetapi ia tak berselera makan. “Kita bicara nanti, sekarang makan dulu. Papa nanti ada meeting, jadi sekarang Papa harus makan siang,” sahut Darmawan sambil menyodorkan sebuah kotak berisi makanan kepada Ririn. Ririn terpaksa menurut. Ia menerima kotak makanan yang diberikan papanya dan menikmatinya secara perlahan, berbeda dengan Darmawan yang makan dengan lahap. “Kok nggak habis makanannya?” tanya Darmawan saat Ririn meletakkan kotak nasi yang baru habis separuhnya saja. “Ririn sudah kenyang, Pa,” sahut Ririn. Selesai makan siang, seorang petugas cleaning service masuk. Ia merapikan meja dan membawa sampah kotak makan keluar dari kantor. “Apa yang ingin kamu bicarakan, Rin?” tanya Darmawan setelah pintu kantornya tertutup rapat. Ririn menelan ludah. Rasa nekat yang kian membuncah membuatnya berani berkata, “Ririn tidak mau menikah dengan Kak Bram, Pa. Biarkan Ririn membesarkan anak Ririn nanti sendiri.” Darmawan terkejut, tak menyangka kalau putrinya berani melayangkan protes padanya. “Ririn, Papa rasa semua sudah jelas. Kamu akan segera menikah dengan Bram dan tidak ada lagi penolakan,” jawab Darmawan dengan nada yang berat. Ia berusaha menjaga agar emosinya tidak meledak. “Ririn minta maaf, Pa, tapi Ririn ngga bisa. Ririn ngga masalah kalau harus menjadi ibu tunggal. Ririn akan berusaha, Pa.” Ririn mencoba meyakinkan papanya. “Ririn, kamu masih terlalu muda. Lalu bagaimana dengan kuliahmu? Kamu mau ke kampus dengan perut besar? Apa kata teman-teman dan dosenmu kalau tahu kamu hamil tanpa sebuah acara pernikahan? Ririn, salah satu tugas seorang anak adalah menjaga nama baik orang tua. Apa kata rekanan Papa nanti kalau mereka tahu seorang Darmawan Wicaksono mempunyai cucu sementara anaknya belum menikah?” cecar Darmawan. Wajahnya mulai memerah karena tegang. Dengan frustrasi ia mengendurkan ikatan dasi di lehernya. Ririn menunduk, tak berani lagi melawan papanya. Ia merasa bersalah karena sudah merusak mood pria setengah abad itu. Tak lama kemudian, terdengar suara Darmawan pelan tetapi berat, “Jika kamu tak mau menikah dengan Bram, maka ada satu syarat yang harus kamu penuhi. Gugurkan kandunganmu dan jalani hidupmu seperti sebelum ini semua terjadi. Papa akan sewa ahli psikolog kalau kamu butuh.” “Tapi, Pa,” sahut Ririn cepat. “Ririn tidak bisa menggugurkan kandungan ini.” “Kamu hanya punya dua pilihan itu, Rin. Menikah atau menggugurkan kandunganmu.” Keputusan Darmawan sudah tidak bisa lagi diganggu gugat. Ririn menangis tanpa suara. Darmawan beranjak meninggalkan sofa menuju meja kerjanya. Ia menelepon sekretarisnya dan mengatakan bahwa ia sudah siap untuk memimpin rapat. Ririn menyeka air matanya lalu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia berjalan mendekati papanya dan berpamitan. Darmawan tak lagi menyahut, ia tenggelam dalam berkas yang sedang dibacanya. Ririn tahu bahwa papanya sangat marah. Ia kemudian tak berkata apa-apa lagi dan meninggalkan ruangan itu. Pupus sudah harapannya untuk meminta pembatalan acara pernikahan. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju lift tanpa membalas sapaan para karyawan yang menyapanya dengan hormat. Lift yang ditumpangi Ririn kosong, hanya ada ia sendiri di dalam. Ririn pun menumpahkan tangisannya di sana sambil kembali mengingat syarat yang diajukan papanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN