1. Pertunjukan kehancuran.
Dentang!
Summer ingat, saat ia kecil neneknya pernah memberi nasihat; bahwa jika kamu berbuat baik kepada orang lain, maka suatu hari kamu menerima manfaat yang sama dari siapa pun.
Hanya saja, apa itu benar?
Summer pikir ia sudah melakukan setiap kebaikan untuk membantu orangtuanya, tapi mengapa pemandangan yang kini berkilat di depan mata justru sebuah kehancuran?
"Hentikan!!! Siapa pun tolong hentikan!!!"
Lengkingan itu diiringi keputusasaan, seperti lolongan anjing yang meminta bantuan ketika terjebak dalam bangunan tinggi yang terbakar, atau saat seseorang merasakan sakit terlalu parah akibat siksaan.
Summer hanya mematung seraya mencengkram bagian gaunnya, ia berdiri selayaknya patung yang dipahat begitu cantik, sehingga menarik perhatian bagi siapa pun ketika melewatinya, tapi ini merupakan sebuah penyiksaan mental.
Bagaimana orang-orang bersetelan jas hitam—yang siapa pun pasti berpikir mereka merupakan tamu pada hari pertunangannya malam ini, tapi justru menghancurkan setiap bagian tanpa menyisakan apa pun.
Melodi dari piano yang dimainkan telah sepenuhnya berhenti, benda seharga jutaan dollar tersebut hancur setelah dipukul tongkat bisbol berkali-kali. Seolah ini menjadi pesta kehancuran, dan bukan akhir yang indah dari sebuah pertunangan.
"Hubungi polisi! Tangkap para b******n-b******n di sini!"
Masih terdengar teriakan dari berbagai arah tanpa mereka tahu sejak awal CCTV sengaja diretas dan berakhir tak berfungsi, sehingga 'proses penghancuran' malam ini takkan terekam oleh apa pun.
Sang tuan telah memerintahkan agar pemeran utama wanita tidak disentuh, apalagi sampai terluka, ia ingin perempuan itu melihat 'pesta sesungguhnya' yang sudah dia siapkan.
"J-Josh, b-bagaimana mungkin." Tubuh Summer menggigil, entah karena gaun cantiknya yang memperlihatkan punggung terbuka, atau sebab rasa takut yang merayap dari telapak kaki hingga puncak kepalanya seakan dililit ular.
Meski masih terdengar teriakan dan suara-suara lain dari benda yang hancur di sekitarnya, fokus Summer hanya berpusat pada pria itu, dia duduk sendirian seraya menyilang kaki dengan begitu santai.
Tangan pria itu mengelus puncak kepala seekor anjing doberman yang berdiam di samping kakinya, seolah mengajaknya menonton pertunjukan yang membuat senyumnya merekah sempurna.
"LARI SUMMER!!! LARI!!!"
Entah berasal dari suara siapa, tapi teriakan tersebut berhasil mengalihkan perhatian Summer dari seseorang. Ia baru menyadari bahwa calon tunangan serta keluarganya tak ada di sekitarnya, situasi di dalam gedung megah itu benar-benar kacau, tsunami yang disebut kebejatan orang-orang jahat berhasil menghancurkan pestanya.
Summer mengangkat gaunnya, ia berlari mencari jalan keluar meninggalkan tempat ini, dan pria bertato ular yang menyembul di sekitar lehernya ikut beranjak setelah cukup menikmati.
"Tangkapanku yang cantik ingin melarikan diri." Ia berjalan berlawanan arah dengan Summer, yang jelas setiap pintu keluar telah diblokir oleh anak buahnya.
Summer mulai kesulitan berlari akibat gaunnya terlalu panjang serta sepasang heels di kakinya, ia sempat berhenti untuk melepas alas kakinya, merasakan lantai marmer yang dingin.
Sementara pria bertato ular berhasil menemukannya setelah melewati jalan pintas.
"Ini aneh, mengapa pria-pria gangster itu sama sekali tak mengejarku? Sejak awal mereka tampak mengabaikan keberadaanku."
Sialnya, ketika Summer menoleh ke belakang, pria itu—tanpa ekspresi meski begitu dingin—berjalan ke arahnya.
"Hah!" Napas Summer memburu, ia berlari semampunya seperti seekor mangsa yang lemah, dan setiap kepala itu menoleh—pemandangannya tidak berubah.
"Summer Murphy, bukankah ini melelahkan, sayangku?"
Hanya dengan sedikit berlari, tangan pria itu berhasil meraih lengannya, mencengkram kuat dan menariknya sehingga Summer kehilangan keseimbangan dan jatuh kepadanya.
"Ugh!" Wajahnya membentur d**a bidangnya.
"Kita sudahi permainan ini, lantainya dingin."
Summer mendongak, wajah familier itu semakin jelas, ia memutar memori di kepalanya seratus kali lebih cepat, dan hanya satu nama yang cocok untuk pria di depannya.
"Josh—"
"Hallo, Summer." Ia tersenyum, sebuah kelembutan yang mengerikan.
Perempuan itu tersadar lebih cepat. "Tidak! Apa yang kamu lakukan, tolong lepaskan aku, Josh!"
Ia berusaha meloloskan cengkraman Josh meski cukup mustahil.
"Hei, tenanglah. Aku bukannya berbuat jahat kepadamu, aku tak mungkin melukaimu, kan?"
Summer menggeleng, ia dapat menggali ingatan tentang mereka dengan mudah. Josh merupakan pria yang lembut, tapi apa ini?
Perkataan Josh sangat bertolak belakang, ia sedang mencengkram Summer sehingga dapat meninggalkan bekas di lengannya, sementara bibir pria itu berkata bahwa tak mungkin menyakitinya?
"Tidak, Josh! Tolong lepaskan aku, apa yang kamu lakukan!"
"Maka tenanglah, aku pasti melepaskanmu."
Summer tak memedulikannya, ia sibuk memberontak sekuat tenaga. Meskipun berteriak, tak seorang pun muncul untuk menolongnya.
"Jangan sampai pita suaramu rusak karena bertingkah konyol, mari selesaikan semuanya dengan tenang."
"Omong kosong! Kamu—"
Sebuah sapu tangan berhasil menyumbat mulut serta ruang pernapasannya. Aroma dari chloroform yang menusuk mulai bereaksi pada tubuh Summer.
Pelan dan pasti, perempuan itu menjadi cukup lemas sekaligus kehilangan kesadarannya dalam pelukan Josh.
"Yah, itu tidak sia-sia sama sekali. Drama murahan tentang menculik mantan pacar berhasil tanpa hambatan."
Josh tersenyum bengkok, ia membuang heels sebelum mengangkat tubuh Summer, meletakan lengannya di bawah punggung serta lututnya.
"b******k! Mengapa kamu seringan ini? Apa mereka tak memberimu makanan yang layak, huh?"
Wanita itu bahkan tak mampu menjawabnya, tapi ia terus mengoceh dan mengumpat seraya berjalan keluar dari gedung, membiarkan anak buahnya menyelesaikan pekerjaan mereka.
Josh mendudukan Summer dengan lembut di kursi penumpang, sejenak ia tersenyum seraya mengusap lembut wajahnya.
"Tuan putri, kamu akan hidup selamanya denganku, kan?"
***