Malam Penyergapan
Hembusan angin, di malam yang sangat tenang. Pada malam itu, kabar gembira untuk sang suami akan mendapatkan anak.
“Aaargh!”
Teriakan, wanita yang sedang berusaha untuk melahirkan anaknya. Awan mulai bergeser, cahaya rembulan dan hamparan bintang kecil di langit tertutup. Hujan mulai turun, disertai angin kencang dan suara petir. Seakan sedang bersorak, untuk kelahiran anak itu.
“Owaa…!”
Setelah, berusaha cukup keras akhirnya anak tersebut berhasil dilahirkan.
Kehadiran kehidupan baru itu, memberikan sebuah firasat buruk untuk beberapa orang yang dikatakan sebagai penguasa.
“Uh!” Pria yang sedang duduk melamun di atas kursinya menjadi sangat terkejut. “Apa ini? Apakah kekuatan baru telah muncul?” Tangan pria itu terasa bergetar, perasaan itu hanya bisa muncul ketika menemui lawan yang sangat kuat.
Tidak hanya pria tersebut, yang merasakan kekuatan besar. Melainkan, dia juga yang berada di atas awan juga merasakan hal yang sama.
“Ugh! Apalagi ini? Apakah ini merupakan tanda malapetaka baru?” Pria memakai armor putih, melotot kaget, dirinya merasakan aura kuat yang terpancar dari kejauhan. Meski tidak melihatnya, dirinya masih tetap merasakan energi besar itu.
***
Di saat dunia sedang heboh, atas kelahirannya. Anak itu, juga menjadi sebuah anugerah yang diberikan Tuhan sangat besar kepada kedua orang tuanya.
Bayi laki-laki yang memiliki mata merah, dengan simbol aneh di lengan kanannya.
Ibu dan ayahnya, mengelus pipi mereka ke wajah bayi mungil itu. Bagaikan tepung putih yang halus, kulit bayi itu.
Ketika anak itu, tumbuh semuanya terlihat pada seperti umumnya. Namun saat berumur 4 tahun, sebuah perubahan aneh terjadi.
Anak tersebut, memiliki tangan yang cukup berbeda daripada anak pada umumnya. Tangannya, terlihat seperti monster.
Orang-orang di desa, menjadi sangat ketakutan saat melihat anak tersebut. Para penduduk mulai menyebutnya, sebagai anak kutukan. Ibu dan ayahnya merasa sangat malu, namun mereka tidak mungkin menyalahkan semua itu kepada anak mereka.
Mereka memutuskan untuk, mengurung anaknya. Supaya semua orang tidak ketakutan saat melihat dirinya.
Beberapa tahun, sudah berlalu anak itu tidak pernah keluar rumah. Tangan kanannya, seperti tangan monster yang sangat mengerikan. Dia dikucilkan, hanya dikurung di dalam kamar khusus atau bisa disebut sebagai, gudang barang penyimpanan yang terletak di bawah rumah. Tidak ada hal yang menyenangkan di dalam kamarnya, hanya ada barang-barang tua yang sudah tidak terpakai. Sarang laba-laba, menghiasi ruangan, debu ada di mana-mana. Dia diperlakukan seperti seorang tahanan.
Tatapan mata kedua orang tuanya, mulai berubah. Mereka seperti, tidak menyukai kehadiran anaknya. Sejak kabar tentang, anaknya yang memiliki tangan seperti monster membuat ayah anak tersebut, menjadi kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Dulu, dia merupakan seorang pedagang, karena rumor yang beredar sekarang dirinya hanya petani biasa, yang mengurus kebun kecil di belakang halaman rumah, dan mengurus peternakan kecil miliknya.
Ekonomi mereka menjadi sangat sempit, untuk membiayai kehidupan mereka. Mereka juga sering bertengkar, hingga kedengaran oleh telinga anak itu.
Dia hanya, bisa terdiam. “Kenapa? Kenapa aku menjadi seperti ini?” Anak itu, baru berumur 12 tahun, namun perlakuan dan sikap orang yang ada di sekelilingnya, mengembangkan cara berpikirnya. Yang seharusnya masih berpikir untuk bermain, kini sudah menjadi lebih peka seperti orang dewasa.
Dari celah ruangan, cahaya matahari masuk. Dia melirik ke arah celah tersebut. Awan yang bergerak begitu bebas.
“Huh… seandainya aku bisa menjadi burung pasti aku akan bisa terbang bebas tanpa harus berada di sini!”
Di tengah, pemikirannya itu. Pintu ruangan, terbuka dan muncul seorang pria. Pria yang menatap dirinya dengan sangat sinis.
“Ini makanlah!” Pria itu meletakkan, semangkuk sup yang berisi empat potong sayuran. “Cih… kalau kau hanya, bisa menyusahkan. Lebih baik kau itu seharusnya tidak perlu lahir di dunia ini!”
Wajah yang dulunya, dipenuhi senyuman kini hanya terdapat tatapan kebencian dengan cacian yang selalu keluar dari mulutnya.
Anak itu menundukkan kepalanya, dia tidak ingin melawan orang tuanya. Memang yang membuat ayahnya, menjadi pria kasar, atas kehadirannya.
Pria itu, lalu pergi keluar. Dia membanting pintu dengan sangat kuat, hingga mengagetkan anaknya.
Sunyi senyap ruangan, yang sangat menusuk hati. Air mata anak itu mulai turun satu persatu. “Kenapa! Kenapa aku menjadi seperti ini? Apakah aku tidak boleh hidup selayaknya, manusia! Apakah karena tangan ini?” Dia menatap marah tangan kanannya. Tangan berwarna merah, seperti bagian dari monster.
Dia menarik, tangan itu demi berusaha melepaskannya. Bahkan, tangan kirinya harus mendapatkan beberapa luka, akibat kuku tajam yang berasal dari jari-jari tangan kanan.
“Brack!”
Tiba-tiba, dari arah salah satu barang terdengar suara gaduh. Suara itu, berasal dari sebuah benda yang ada di atas, rak lalu jatuh.
Anak tersebut, menjadi penasaran. Dia mulai menghampiri, sumber suara itu. Satu kotak berukuran kecil. Dia kemudian mengambil benda itu, dan mulai membuka kotak tersebut.
“Uh!” Dia menjadi bingung, karena yang dilihatnya adalah sebuah buku. Buku yang sudah berdebu, dengan sampul berwarna hitam.
“Buku apa ini?” Memiliki ketebalan yang lumayan besar. Anak itu mulai membukanya. Sederet tulisan aneh yang berbeda daripada tulisan yang dia lihat pada umumnya. Anak ini, tidak bisa membaca, karena saat umur 7 tahun, dirinya langsung dikurung di dalam gudang jadi tidak ada yang pernah mengajarinya membaca, hanya saja dirinya sebelum itu sering melihat orang tua dan beberapa orang membaca huruf.
“Ehh…!” Anak itu sangat terkejut. “Apa ini? Kenapa aku bisa membaca isi dari buku ini?” Tulisan yang baru saja dilihat oleh matanya, tapi bisa langsung dipahami olehnya. Memang dia masih belum bisa, merangkai kata-kata. Akan tetapi, ingatan dari orang-orang yang pernah didengarnya, menjadi senjata untuknya supaya bisa memahami isi dari buku itu.
Setelah dia baca, beberapa huruf yang keluar dari mulutnya terdengar sangat aneh. Entah dirinya bagaimana, mengartikan bacaan itu.
Memahami buku itu, tidak bisa hanya satu hari. Setelah hari itu, dia menghabiskan waktu untuk mempelajarinya. Beberapa buku lain, juga ada di sana. Sehingga dirinya, menjadi lebih banyak mendapatkan pengetahuan, hanya saja cuma satu buku yang memiliki bahasa aneh. Bahasa itu masih tidak bisa dipahami oleh anak tersebut, namun dirinya merasakan sebuah makna penting terkandung di dalam buku itu.
2 tahun kemudian…
Sudah dua tahun, anak tersebut menjadi lebih dewasa. Sikap kedua orang tuanya, masih tetap seperti biasanya. Sangat dingin, dia juga tidak pernah melihat ibunya, selama ini hanya sang ayah yang mengantarkan makanan kepada dirinya.
Dia tidak memiliki waktu untuk, terus memikirkan tindakan ayahnya itu. Satu buku, yang memberikan informasi kejadian di masa lalu, telah memberikan dirinya harapan. Buku itu mengajarkan tentang kehidupan untuk menggapai masa depan.
Berkat buku itu, dia memiliki tujuan.
__To Be Continued__