"Akh aku bisa gila!" gerutu Nila. Ia benar-benar lapar dan kini semua persediaan rotinya habis. Hanya ada air yang sama sekali tidak cukup untuk mengganjal perut. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa berada di kondisi ini. Kelaparan dan tak berdaya. "Apa yang harus aku lakukan?" keluh Nila. Perutnya sangat menyiksa. Kepalanya bahkan pusing. Dalam penderitaan yang ia alami, aroma lezat makanan justru menari- nari di hidungnya. "Ah harum sekali," lirih Nila. Ia memejamkan matanya dan tahu jika aroma ini adalah steak. Ia juga mencium aroma segar jeruk dan pasta. Tak terasa air liurnya menetes kala membayangkan semua aroma yang mampir di hidungnya. "Tidak, aku tidak boleh terlena. Pria penyuka selakangan itu pasti akan meminta aneh - aneh padaku." Kruyuk. Sayangnya perutnya tidak bis

