Nila kembali dihadapkan pada masalah makanan. Perutnya kembali lapar. Dan itu artinya ia harus kembali bertransaksi dengan Anggara. "Kamu cantik. " Tiba tiba kalimat itu terngiang di telinga Nila. Ada rasa aneh ketika ia mengingatnya. Seperti kupu- kupu yang menggelitik perutnya. "Tidak- tidak, kenapa aku malah teringat si mesom itu sich, " gerutu Nila. " Sekarang yang terpenting adalah makan. Aku tidak mau kelaparan dan tersiksa lagi." Nila harus membuang harga dirinya demi makanan dan itu sangat menyedihkan. Andai saja ia bisa keluar dari sini, mungkin ia bisa lepas dari Anggara dan segala permainan itu. Hanya saja kenyataan jauh lebih menyebalkan dari harapannya. Ia bahkan tidak tahu cara untuk lolos dari sini. Nila mendesah ketika melihat pantulan bayangannya di cermin. Dia tah

