Sinta meninju d**a Dirga dengan keras, membuat pria itu sedikit terengah. Tanpa menunggu respon, dia berbalik dan masuk ke mobil, melompat ke kursi belakang. Jari-jemarinya yang gemetar membuka jaketnya. Dia tahu Dirga sudah lama menginginkannya—semua kode menyebalkan, semua tatapan diam-diam, semua kehadiran tak diundang yang tiba-tiba—kini masuk akal. Dirga tidak menyembunyikan keinginannya untuk menjamah tubuhnya. Pria itu bahkan mengakuinya sendiri. Dirga tersenyum, lalu memandang sekeliling dengan cepat. Jalanan tidak benar-benar sepi—beberapa mobil masih lewat, sesekali suara langkah kaki terdengar dari trotoar. Tapi semua itu seolah menghilang ketika dia membuka pintu mobil dan melihat Sinta yang sudah duduk di kursi belakang, matanya berapi-api dalam gelap. Sinta tidak memberiny

