Dirga tampak tengah menikmati makan siangnya bersama Panca Mahesa dan Diwangga di salah satu restoran mewah langganan sang ayah. Udara di restoran mewah itu terasa berat, meskipun chandelier kristal memancarkan cahaya hangat dan aroma hidangan lezat memenuhi ruangan. Dirga duduk kaku di antara Diwangga dan Panca Mahesa, sendoknya secara tak sadar memutar-mutar sup yang mulai dingin. "Yudistira benar-benar keterlaluan," gumam Diwangga tiba-tiba, memecah kesunyian yang canggung. Suaranya rendah namun penuh beban. Dirga hanya menunduk, fokus pada piringnya. Dia masih bisa mendengar gema pertengkaran ayah dan kakak angkatnya tadi saat di kantor yang penuh ketegangan. "Dia berani membuat keputusan yang menentang tradisi keluarga kita," desis Diwangga lagi, meski tidak ada yang menanggapi. T

