[Monica dipecat!] Matanya membesar, jantungnya berdegup lebih cepat. Jemarinya refleks menggenggam ponsel erat, seolah pesan itu bisa hilang begitu saja jika dia tidak menahannya. Maya—perempuan yang telah membencinya—tiba-tiba mengirimi kabar yang membuat tengkuknya terasa dingin. Bibir Kirana terkatup rapat. Haruskah dia membalas? Atau justru pura-pura tidak membaca? Dia menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama, tetapi tidak ada kata yang sanggup dia susun. Dengan gelisah, dia memilih membuka ruang obrolan lain—nama Yudistira terpampang di layar. Terlihat terakhir kali pria itu online dua jam lalu. Keraguannya begitu nyata, tetapi pada akhirnya dia menyerah pada dorongan hatinya. Jari-jarinya menari pelan di atas keyboard. [Sayang, kita pulang bersama, ya.] Balasan muncul h

