Ruangan kerja Diwangga terasa hangat oleh keheningan yang diselingi detak jam dinding antik di sudut ruangan. Diwangga duduk di balik meja kerjanya yang besar dan berukiran, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu yang halus. "Papa dapat aduan kalau Yudistira berulah lagi," ujarnya dengan suara rendah, namun penuh dengan tekanan. Mata tuanya yang tajam menatap Dirga yang duduk di seberangnya. "Dia baru saja memecat pegawai berpengalaman hanya karena persoalan gosip. Apa itu benar, Dirga?" Dirga menghela napas panjang, bahunya turun sedikit. Tangannya meremas lengkan kursi. "Iya, Pa, itu benar," akunya jujur. Suaranya terdengar letih. "Bahkan ... dia melakukannya tepat di depan saya." "Dan kamu diam saja?" desak Diwangga, alisnya berkerut. "Hanya melihat tanpa melakukan intervensi?"

