Pagi itu, baru saja Kirana selesai mandi dan bersiap untuk ke kantor, ketika dering ponselnya memecah kesunyian. Dari layar terpancar nama "Amira". Kirana menghela napas sebelum akhirnya mengangkatnya. "Weekend ini pulang, Ran. Kamu pergi tanpa pamit bikin ayah ibu khawatir aja." Suara Amira terdengar tanpa basa-basi, tajam dan penuh tuntutan. "Malah belum baikan juga sama ayah, kapan kamu minta maaf ke ayah, Ran?" Jari Kirana mengencang memegang ponsel. "Sabtu ini ada acara di kantor, Mir. Aku paling pulang Minggu dan itu pun gak nginap juga." "Acara apa lagi?" sergah Amira, nada suaranya meninggi. "Jangan bilang kamu lebih milih pergi liburan sama Yudis dibandingkan perhatian sama Ayah yang baru sembuh." Napas Kirana menjadi berat. "Kalau saja kalian dukung hubungan aku sama Yudis, a

