Topan.

1002 Kata
Setelah semuanya selesai kini Dimas harus mengantarkan Aqila kembali ke rumahnya. Selama di jalan mereka tidak bicara apa-apa, entah Dimas yang males atau Aqila yang canggung. Mobil pun berhenti di depan pekarangan rumah Aqila. Aqila yang merasa sudah sampai dia melirik ke arah Dimas. "Gue gak turun, salam saja buat orang tua lo" ucap Dimas yang mengerti akan lirikan Aqila. Aqila yang mengerti akhirnya membuka pintu mobil dan langsung turun, begitu pun Dimas dia langsung tancap gas meninggalkan rumah Aqila. Aqila melangkah masuk ke rumah, namun di luar dia berpapasan dengan Nindi sang adik dengan mata sembab dan berjalan dengan buru-buru. "Ada apa? " tanya Aqila pada Nindi dengan menghalangi jalannya. "Marwan teh" Aqila menatap Nindi minta penjelasan. "Dia kecelakaan" lanjut Nindi. "Astagfirullah" kaget Aqila. "Nindi pergi dulu teh" pamit Nindi namun Aqila menahan Aqila. "Teteh ikut" ucap Aqila karena dia khawatir sang adik kenapa-napa. Nindi oun mengangguk dan mereka langsung pergi dengan naik motor, Aqila yang mengendarai motornya. Tak butuh waktu lama mereka berdua sampai di rumah sakit yang di beritahu kakaknya Marwan. "Teh gimana keadaan Marwan? " tanya Nindi pada kakaknya Marwan. "Dia di dalam" jawabnya namun raut wajahnya sedikit gugup. Nindi dan Aqila masuk, namun saat di dalam Nindi maupun Aqila melihat Marwan dalam keadaan tidak cukup parah, namun dia sedang memegang tangan seorang wanita yang terbaring lemah di tempat tidur. Aqila yang melihat pemandangan itu langsung merangkul Nindi karena dia takut Nindi akan ambruk. "Dia siapa bang? " tanya Nindi langsung. Semua orang yang ada di sana langsung berbalik melihat mereka berdua. "Nindi" Marwan kaget dan langsung melepaskan tangan wanita itu, namun si wanita malah menarik bajunya. "Biar abang jelaskan" ucap Marwan tanpa bergeser sedikit pun dari wanita itu. Aqila melihat sang adik sudah meneteskan air mata dia hendak menarik Nindi keluar namun Nindi bertahan. Melihat itu semua Aqila langsung berkata "jangan ribut disini, ayo Marwan jelaskan di luar". Nindi langsung keluar begitu pun Marwan dia mengikuti Nindi dan Aqila. Namun saat di luar kejadian tak terduga tak bisa di tahan, kakaknya Marwan langsung memukul Marwan begitu saja dan membuat Marwan ambruk. " Gue kecewa sama lo"ucapnya lalu pergi. Aqila yang melihat itu semua hanya bisa diam karena kaget begitu pun Nindi dia membiarkan Marwan bangun sendiri tanpa membantunya. Marwan bangun lalu dia hendak memegang tangan Nindi namun Nindi menolak. "Maafin aku" lirihnya. "Maaf bang, kita ini udah tunangan bang, bahkan bentar lagi menikah" balas Nindi. "Aku tau, tapi aku gak bisa lepas dari tanggung jawab ku terhadap Melati" ucapnya. "Tanggung jawab Apa bang? " tanya Nindi. "Dia hamil" dengan suara lema dan itu membuat Nindi terkejut dan bahkan mau ambruk kalau tidak Aqila menahannya. Nindi langsung membuka cincin yang dia pakai dan melemparnya ke wajah Marwan lalu pergi. Aqila yang melihat itu semua langsung mengejar Nindi. Nindi berhenti di taman rumah sakit lalu dia duduk dan menangis. Aqila yang melihat itu semua langsung menghampirinya dan ikut duduk disebelahnya. Nindi menangis dan menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak. Aqila diam membiarkan sang adik menangis dengan puas. "Teh, aku harus ngomong apa sama mama dan ayah"tanya Nindi dengan suara serak. " Biar nanti teteh yang bicara"jawab Aqila sambil mengusap air mata di wajah Nindi. Setelah merasa Nindi tenang mereka pulang. Namun saat di jalan dia malah menabrak mobil orang yang mengerem mendadak di depannya. "Yah kena teh" ucap Nindi. Aqila langsung turun dan melihat seberapa parah mobil yang dia tabrak. Tak lama seorang pemuda menghampiri mereka. "Yah, mobil gue lecet" ucapnya. Aqila yang mendengar itu langsung mengangkat wajahnya untuk melihat pria itu. Namun saat melihat wajah Aqila si pria terkejut begitu juga Aqila. "Topan" gumam Aqila. "Ila" Aqila yang gak mau berlama-lama melihat pria itu langsung pergi dan hendak naik. motor. Namun si pria mengejarnya. "Tunggu urusan kita belum selesai" ucap si pria sambil menarik tangan Aqila. Aqila yang kaget langsung menarik tangannya. "Maaf" ucap si pria. "Ayo naik" titahnya pada Nindi. "Tapi teh, kita belum tanggung jawab" ucap Nindi. "Mau naik atau aku tinggal ni" ancam Aqila pada Nindi. Namun belum sempat Nindi naik tiba-tiba suara seseorang yang Aqila kenal membuat dia batal pergi. "Topan, mobilnya gak parah kan? " tanya Dimas. Ya, suara pria yang membuat Aqila tidka jadi pergi adalah Dimas. Dimas pun kaget saat melihat siapa yang menabrak mobil Topan. "Lo senang banget nabrak mobil orang" omelnya. Aqila hanya menatapnya karena dia kaget kenapa Dimas bisa kenal dengan Topan, pria yang lima tahun lalu menjebaknya. "Maaf bang, tadi kami gak fokus" ucap Nindi karena Aqila masih belum balik kesadarannya. "Ya udah, kita naik biar nanti gue yang ganti" ajaknya pada Topan. Topan pun menurut saja dan langsung naik dan pergi dari tempat itu, begitu pun Aqila dan Nindi yang melanjutkan perjalanan mereka. Sesampainya di rumah Aqila langsung masuk kamar dan Nindi dia harus menceritakan semuanya pada orang tuanya karena Aqila malah jadi lepas tangan begitu saja. Aqila bersandar di balik pintu dan dia duduk di bawah dengan kedua kaki di tekuk dan dia menangis dalam dia. Aqila mengingat kejadian lima tahun lalu yang mengakibatkan dia harus kehilangan kegadisannya. Yang Aqila takutkan adalah dia takut kalau Topan akan menceritakan semuanya pada Dimas dan akan membuat pernikahannya batal dan semuanya akan terbongkar rahasia yang selama ini dia simpan rapat dari orang tuanya. Namun berbeda di sebuah apartemen, Dimas dan Topan mereka baru sampai dan Dimas langsung menjatuhkan tubuhnya di sopa. Topan duduk dia memikirkan kejadian tadi saat bertemu dengan Aqila. "Woy, mikirin apa lo? " tanya Dimas sambil melempar bantal pada wajah Topan, dia kesal karena Topan tidak mendengar dia bicara. "Apaan sih" balas Topan. "Lo kenapa sih? sejak ketemu Aqila lo melamun terus" tanya Dimas sambil bangun dari rebahan nya. "Lo kenal cewek tadi? " Topan malah balik tanya. "Cewek yang pakai kerudung, dia cewek yang di jodohkan sama gue" jawab Dimas santai. Namun membuat Topan kaget "serius? ". Dimas mengangguk dengan santai dan beranjak pergi ke dapur untuk mengambil minum. Topan mengacak rambutnya frustasi. Dimas kembali dengan dua buah kaleng minuman bersoda dan menyerahkannya pada Topan. " Minggu depan kami nikah"beritahu Dimas membuat Topan tersedak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN