Baju pengantin.

1003 Kata
Setelah acara semalam baik Aqila mau pun Dimas, mereka tak saling memberi kabar lagi karena mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Aqila jika libur dia akan membantu orang tuanya berjualan, ya, ibunya Aqila setiap hari berjualan kue basah di pasar. "Bu, sudah beres semuanya? " tanya Aqila saat menghampiri ibunya di dapur. "Sudah teh, tinggal di bawa saja" jawab sang ibu sambil menyerahkan dus yang sudah berisi kue. Aqila pun menerimanya dan langsung membawanya ke luar dan di simpan di depan motor metiknya. Sang ibu menyusulnya dan setelah itu mereka berdua naik ke atas motor dan Aqila langsung menjalan kan motornya. Langit masih gelap karena mereka berangkat setelah adzan subuh jadi wajar langit masih gelap dan keadaan jalanan masih lenggang, apa lagi sekarang hari minggu semua orang libur dari aktivitasnya. Sesampainya di pasar Aqila dan ibu langsung membawa kue yang mereka ke tempat mereka jualan baru di beres kue-kue yang tadi di simpan di dus. Pembeli pun mulai berdatangan dan tak butuh waktu lama kue-kue sudah habis dalam waktu dua jam. "Alhamdulillah ya bu, kuenya habis"ucap Aqila pada sang ibu. Sang ibu hanya mengangguk dan tersenyum. Karena sudah habis jadi mereka langsung pulang. Namun berbeda di tempat lain yaitu di rumahnya Dimas. Niat ingin tidur sampai siang namun Sang nenek malah membangunkannya. "Ada sih nek, Dimas ngantuk dan masih leleh" dengan mata masih terpejam. "Nenek minta kamu, jemput Aqila, nenek ingin bertemu" titah Sang nenek yang tidka bisa di bantah. "Nanti siang saja nek, bisa kan? " tolaknya. Namun Sang nenek malah memukulnya karena Sang cucu malah menarik selimutnya. "Bangun gak kamu" bentaknya. Akhirnya Dimas bangun dengan wajah masih ngantuk dia langsung masuk kamar mandi hanya untuk cuci muka dan sikat gigi. Sang nenek masih di dalam kamar karena ingin memastikan kalau Sang cucu tidak tidur lagi. Mereka pun turun beriringan dan Dimas berjalan menuju meja makan hanya sekedar minum kopi baru dia langsung berangkat setelah pamit bapa Sang mama dan neneknya. Sang mama hanya tersenyum melihat wajahnya anaknya yang kesal. Dimas pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi karena dia ingin segera sampai agar setelah tugasnya selesai dia bisa kembali merebahkan tubuhnya. Namun sesampainya di rumah Aqila, Aqila nya tidak ada karena pergi ke pasar bersama Sang Ibu. "Abang, tunggu saja, paling bentar lagi juga pulang" ucap Nindi. "Ya udah gue tunggu di mobil saja" ucap Dimas lalu masuk ke dalam mobil dan dia langsung menutup matanya mencoba untuk tidur. Aqila dan Sang ibu baru sampai depan rumah dan melihat mobil Dimas terparkir di halaman rumahnya. "Ngapain dia pagi-pagi sudah kesini" pikirnya. "itu bukannya mobil nak Dimas ya? " tanya sang ibu. "Iya kayanya bu" jawab Aqila sambil turun dari motor. Aqila pun hendak masuk rumah namun di cegat oleh Nindi. "Bang Dimas nungguin teteh tuh di mobil" beritahu Nindi. "Di mobil, kenapa gak di rumah? " tanya Aqila bingung. Nindi hanya mengangkat bahunya tidak tahu. "Ya sudah bawa ini kedalam" titah Aqila pada Nindi menyerahkan tempat kue. Nindi langsung mengambilnya dan membawanya masuk, sedangkan Aqila melangkah ke arah mobil Dimas. Aqila mengintip dari kaca dan terlihat Dimas yang tertidur dengan posisi tangannya menutupi mata. Aqila pun mengetuk kaca mobil dan membuat yang punya bangun dan langsung membuka pintu. "Abang udah lama sampai? " tanyanya. "Lo kenapa baru balik? "bukannya menjawab Dimas malah balik nanya. Aqila cuman bisa mengusap d**a melihat Dimas malah mengomel. Mereka pun masuk dan Dimas pamit untuk ke kamar mandi. Aqila pergi ke dapur membuatkan Dimas kopi dan Aqila sudah tahu kopi apa yang di sukai Dimas. " Abang ada apa pagi-pagi ke sini? "tanya Aqila saat menyuguhkan Kopi dan Dimas mendudukkan pantatnya di kursi. " Nenek ingin ke temu sama lo, jadi lo siap-siap sana biar cepat ke rumah, gue mau lanjut tidur"ucapnya dengan santai. Aqila hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perintah Dimas dan langsung masuk kamar untuk bersiap karena gak mau mendengar Dimas mengomel lagi. Dimas langsung menyantap kopi dan kue yang di suguhkan Aqila sambil menunggu Aqila selesai bersiap karena perutnya lumayan lapar juga. Tak lama Aqila sudah keluar kamar dengan menggunakan Rok yang di Paduka kaos dan kardigan dan tak lupa jilbab yang senada dengan Roknya. "Udah siap?, ayo berangkat" ucap Dimas. Aqila pun pergi ke dapur untuk pamit sama ibunya. Setelah pamit baru lah Aqila dan Dimas masuk kedalam mobil dan Dimas menjalan kan mobilnya dengan kecepatan rendah karena jalanan mulai macet. Aqila hanya diam dengan pikirannya begitu pun Dimas. Hanya butuh satu jam mereka sudah sampai di rumah Dimas. Dimas keluar lebih dulu baru di susul Aqila. Saat masuk rumah Dimas langsung berhadapan dengan sang nenek. "Aqila nya mana? " tanya nya. "Di luar" jawab nya asal. Sang nenek langsung berjalan keluar dan Dimas langsung naik ke kamar nya untuk melanjutkan tidur. "Nenek, Assalamu'alaikum" ucap Aqila lalu mencium tangannya. "Wa'alaikumsalam" jawab sang nenek. Aqila pun masuk bersama dengan sang nenek dan tak lama mamanya Dimas datang dengan membawa minum dan cemilan untuk calon menantunya. "Cantik banget calon menantu" puji mamanya Dimas. "Tante bisa saja" sambil tersenyum. Mereka pun mengobrol sampai tak terasa waktunya makan siang dan makanan sudah siap di meja makan. "Ayo kita makan dulu" ajak mamanya Dimas. Aqila pun berjalan ke meja makan bersama sang nenek. "BI tolong panggil Dimas, suruh makan! " titah mamanya Dimas pada pembantu di rumah ini. Aqila duduk di samping sang nenek dan membantu sang nenek mengambil makan. Dimas turun dan langsung duduk di hadapan Aqila dan mengambil makan tanpa mengatakan sesuatu. Aqila pun makan dalam diam namun mereka berdua di buat terkejut dengan ucapan sang nenek yang meminta mereka untuk mencoba baju pengantin di butik yang sudah menyiapkan baju pengantin mereka. "Nek, kita nikah itu masih lama jadi gak usah buru-buru" tolak Dimas. "Siapa bilang masih lama?, tiga minggu lagi tuh bukan waktu yang sebentar" ucap sang nenek. "Iya loh Dim, kami sudah menyiapkan semuanya , kalian tinggal ikuti perintah kami saja tau beres" timpal sang mama. Dimas pun tidak berkutik lagi karena niat hati ingin menghabiskan waktu liburannya untuk istirahat tapi malah di sibukkan dengan permintaan sang nenek yang tidak bisa di bantahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN