Acara lamaran Nindi.

1008 Kata
Saat Aqila bangun dan keluar kamar ternyata sudah banyak orang karena nanti malam keluarga dari Marwan pacar sang adik akan datang untuk melamar sang adik. Aqila pun berjalan ke dapur untuk mencari sang mama. "Eh neng Aqila sudah keluar" sindir salah satu ibu yang sedang membantu ibunya. Aqila hanya tersenyum dan tidak menghiraukan ucap Ibu itu. Setelah melihat sang mama Aqila oun menghampirinya dan memanggilnya. "Ada teh? " tanya nya. "Lapar" jawabnya "Kalau lapar ya makan, kok malah cari mama" omel sang mama. "Aqila bingung dimana mama simpan makanannya" balasnya. Sang mama pun bangkit dan langsung pergi, Aqila mengekor dari belakang. Sang mama langsung memberikan makanan kepada Aqila dan dia pun menerimanya. "Nindi mana ma? " tanya nya. "Adik mu di depan sedang melihat orang yang sedang pasang tenda" jawab mama. Acara lamaran ini lumayan meriah karena Nindi ingin acara lamarannya sedikit berbeda. Selesai makan Aqila bermaksud untuk melihat Nindi ke dapan namun saat di ruang tamu dia bertemu Kinanti sepupunya. "Acara lamaran Nindi meriah ya, tapi lamaran kamu kok biasa saja ya" ucapnya menyindir. "Apa urusannya sama kamu, terus kenapa bicara seperti itu ? " balasnya sedikit kesal. "Jangan marah dong, aku kan cuman nanya" Aqila yang gak mau ribut Akhirnya pergi ninggalin Kinanti begitu saja. Saat di luar ternyata Nindi sedang mengawasi orang yang sedang pasang tenda. "Nindi" panggil Aqila. "Eh teteh, ada apa teh? " tanya nya. "Ada yang mau teteh bicarakan" ucap Aqila. "Apa? " tanya nya. "Kamu kenapa pasang tenda segala? " tanya ku. "Marwan yang mau teh, dia bilang semua keluarga besarnya pengen ikut" jawab Nindi. "Ini kan baru lamaran belum acara nikahan" ujar Aqila. "Gak tau aku juga teh" jawabnya. Namun tak lama ayah datang dan langsung memanggil Aqila. "Ada apa ayah? " tanya Aqila. "Dimas jadi kesini? " tanya Ayahnya Aqila terdiam karena dari tadi dia hubungi Dimas tapi gak ada jawaban sama sekali. "Aqila udah memberitahunya tapi Aqila gak janji kalau dia gak datang" ucap Aqila. "Orang tuanya Marwan mereka pengen lihat langsung kalau kamu udah punya calon agar mereka gak merasa bersalah karena minta Nindi untuk segera menikah" penjelasan ayah. "Nanti Aqila coba hubungi lagi yah" ucap Aqila. Sang ayah pun masuk ke rumah. Hari sudah siang dan seorang pemuda masih berada di bawah selimut karena dia baru tidur dini hari. Semalam dia minum dan pulang dalam keadaan mabuk. Saat sadar dia langsung melihat ponselnya dan ternyata banyak panggilan masuk dari tunangannya yaitu Aqila. "Ngapain dia hubungi gue" gumamnya sambil bangun. Ya pemuda ini adalah Dimas yang tertidur di apartemennya di Jakarta. Setelah membuka pesan dari Aqila di langsung menepuk jidatnya dan bergumam. "Lupa gue" langsung lari ke kamar mandi. Selesai mandi dia langsung turun dan menuju parkiran dan tanjab gas balik ke Bandung. Namun tiba-tiba jalanan macet karena ada kecelakaan mobil dan itu membuat dia terjebak dalam kemacetan. Langit mulai gelap dan Dimas masih setengah perjalanan. Dia pun segera menghubungi Aqila namun tidak ada jawaban sama sekali karena sang punya ponsel sedang sibuk menyiapkan makanan. Sang tamu datang dan ternyata benar keluarga Marwan yang datang banyak sampai tenga rumah pun penuh jadi tenda di luar pun ke pakai. "Banyak banget yang ngantar" ucap bibi Aqila. Aqila hanya tersenyum dan acara pun di mulai namun Dimas belum kunjung datang. "Kamu udah hubungi Dimas lagi? " tanya sang Ayah. "Ponsel Aqila di kamar ayah, sedang di cas" jawab Aqila. "Kamu ambil tanyakan dia masih dimana? " perintah ayah dan membuat Aqila beranjak menuju kamarnya dan mengecek ponselnya. Ternyata ada panggilan masuk dan pesan dari Dimas. Aqila keluar dan memberitahu sang ayah kalau Dimas masih di jalan mungkin setengah jam lagi sampai. "Pak Salah mana calon suaminya Aqila kok gak kelihatan? " tanya ayah Marwan. "Masih di jalan karena baru pulang dari Jakarta." Jawab ayah Aqila. "Masih di jalan atau memang Aqila belum punya pasangan" ucap ibu-ibu yang ikut kumpul. Aqila yang mendengar itu hanya diam saja karena dia tidak membalas ucapnya. "Aqila sudah tunangan, minggu depan mereka menikah" balas bapak. "Memang harusnya seperti itu sangat kakak tidak baik jika harus dilangkahi karena akan sulit mendapatkan jodoh" ujar ayahnya Marwan. Aqila ya g mendengar itu semua hanya bisa tersenyum miring. Semua orang mulai bisik-bisik membicarakan Aqila. Aqila yang mendengar itu semua merasakan panas dan hendak pergi dari ruang tamu namun tiba-tiba seseorang masuk dan berkata "Maaf saya terlambat" membuat Aqila langsung melihat ke arah suara itu. "Nak Dimas, Ayo masuk" ucap mama yang senang. Dimas pun berjalan masuk dan duduk di samping Ayah. Aqila langsung duduk kembali dan sang Ayah langsung mengenalkan Dimas pada orang tua Marwan dan semua orang yang hadir malam ini. Aqila hanya bisa diam karena bingung juga mau bicara apa. Tiba-tiba ponselnya menyala dan menunjukan pesan masuk saat di buka ternyata Dimas. Aqila langsung melihat ke arah Dimas dan Dimas memegang perutnya karena lapar seharian ini dia belum makan apa-apa. Aqila pun beranjak pergi ke dapur dan Dimas mengikutinya setelah dia pamit pada semua orang. "Abang duduk di sana" titah Aqila. Dimas duduk di meja yang ada di belakang rumah. Aqila langsung memberikan piring yang sudah berisi nasi dan lauk. "Kenapa belum makan? " Tanya Aqila. "Gak sempat" jawab Dimas singkat dan langsung makan. Aqila hanya memperhatikan Dimas makan yang lahap seperti orang gak makan seminggu. Namun tiba-tiba Kinanti datang dan langsung mengagetkan Aqila dan Dimas. "Hayo kalian lagi ngapain berduaan di sini? " tanya nya. "Masa allah Kinanti, kamu bikin kaget saja" kesal Aqila. "Lagian kalian kenapa berduaan" ujarnya. "Kamu gak lihat aku lagi temani bang Dimas makan. balasnya. Dimas hanya diam saja sambil memperhatikan Kinanti. Karena mendengar keributan mama datang dan bertanya " ada apa teh? ". " Tau tuh keponakan mama buat ribut saja, Aqila lagi temani bang Dimas makan tapi dia malah nuduh yang enggak-enggak"jawab Aqila kesal. "Kinanti kamu bisa gak jangan buat keributan lagi banyak tamu gini" omel mama Aqila. Kinanti langsung masuk dengan kesal. "Ya sudah lanjut makan saja nak Dimas, ibu masuk lagi" pamit mamanya Aqila. Dimas hanya tersenyum dan melanjutkan makannya. Aqila duduk dengan wajah kesal gara-gara Kinanti datang. Dimas sambil makan dia mengingat dimana dia ketemu Kinanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN