Perkara kerja di lapangan.

1006 Kata
Aqila setelah masuk kamar dia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Di tatapnya langit-langit kamar yang berwana putih, air mata menetes di pipinya. Dia merasa ada yang mengganjal dengan semua ini namun entah apa. Karena tidak mau banyak pikiran akhirnya dia putuskan untuk tidur. Pagi-pagi Aqila sudah bangun dan sudah siap untuk berangkat bekerja. Setelah siap dia langsung keluar kamar dan berjalan menuju dapur. "Ma, Aqila bantu" Ucapnya pada sang mama. "Boleh sayang" Jawab sangat mama dan berbalik melihat ke arah Aqila. Saat Aqila hendak membawa nasi goreng dia di tahan oleh sang mama. "Tunggu teh, kamu habis nangis? " Tanya mama. "Engga mah, semalam aku nonton drama jadi kebawa sedih" Jawab Aqila berbohong. "Kalau ada apa-apa bicara sama mama jangan kamu pendam sendiri" Ujar mama memperingati. Aqila hanya tersenyum lalu melanjutkan langkahnya membawa nasi goreng. Semua orang sudah bangun dan langsung sarapan. Setelah sarapan Aqila hendak pergi namun di tahan oleh ayah. "La, minggu depan Marwan dan keluarga nya kesini, jadi ayah harap Dimas bisa datang, coba kamu bicara sama dia ya! " Suruh ayah. "Iya ayah" Jawab ku lalu melangkah pergi. Sesampainya di kantor aku langsung bekerja tanpa melakukan apa-apa lagi dan itu membuat Dewi bingung. "Ada apa? " Tanya nya tiba-tiba. Aqila cuman menggelengkan kepala. "La, aku tau kamu lagi ada masalah, tapi kenapa. Kamu gak cerita sama aku, walau kita baru kenal berapa bulan, setidaknya kamu bisa percaya sama aku" Ucap Dewi dengan tulus. Akhirnya Aqila ceritakan pada Dewi kalau di jodohkan dengan pria yang belum pernah dia temui, di juga cerita kalau dia mau di jodohkan karena adiknya mau di lamar. Dewi cuman bisa mendengarkan gak bisa bantu. "Kamu kenapa santai? " Tanya Aqila pada Dewi. "Pak Dimas gak ada jadi aku bisa santai" Jawab nya. "Gak ada, dia kemana? " Tanya Aqila yang tidak tahu. "Dia lagi ke kantor pusat, ada rapat kata pak Diwan" Jawa Dewi membuat Aqila sedikit kesal. "Ni anak kenapa gak ngasih tau gue" Pikir Aqila. Aqila pun pamit ke kamar mandi karena dia ingin menghubungi Dimas. Namun saat di hubungi tidak bisa, Tiba-tiba Aqila sadar dia bukan siapa-siapanya jadi wajar kalau Dimas tidak memberitahunya. Aqila pun kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaan nya. Namun saat jam makan siang Aqila mendapat pesan dari Dimas yang menanyakan kenapa dia menghubunginya. Namun tidak Aqila balas karena Aqila bingung harus jawab apa, namun tidak sampai di sana Dimas malah menghubunginya menanyakan ada keperluan apa Aqila menghubunginya. Akhirnya Aqila mengatakan pesan ayahnya yang minta Dimas datang saat lamaran Nindi. "Siapa? " Tanya Dewi saat Aqila kembali ke meja mereka. "Cowok yang di jodohkan dengan ku" Jawab Aqila dengan tidak menyebutkan namanya. "Ngapain? " Tanya Dewi lagi. "Ngajak jalan" Jawab nya asal. Dewi pun tidak bertanya lagi karena dia melihat Aqila sepertinya sedang banyak pikiran. Saat malam hari Aqila langsung memberitahu Ayahnya kalau Dimas gak janji untuk datang karena dia lagi ke kantor pusat. Setelah bicara dengan ayah dia menghampiri mamanya yang sedang mempersiapkan acara untuk lamaran Nindi. Aqila duduk di sampingnya sambil menyenderkan kepalanya di bahu sang mama. "Ada apa teh? " Tanya sang mama. "Entah lah ma, Aqila cuman merasa tak enak saja berapa hari ini" Jawab Aqila. "Kamu grogi mungkin karena sebentar lagi akan menikah" Ucap sang mama menggodanya. "Bukan ma, aku gak ada groginya karena bukan sama cowok yang Aqila suka" Balasnya. "Ya terus kamu kenapa? " Tanya sang mama lagi. "Tau ah Aqila juga bingung" Jawabnya. Akhirnya Aqila masuk kamar dan dia berniat untuk tidur namun ponselnya malah berdering tanda ada pesan masuk. Aqila langsung mengambilnya dan ternyata itu Dimas, dia mengirim foto dirinya yang sedang bersama teman-temannya. Aqila cuma melihatnya sekilas lalu mematikannya. Dia pun langsung tidur karena lumayan mengantuk juga. Besoknya Aqila bekerja seperti biasa dan Dimas dia masih belum pulang. Namun hari ini Aqila di buat terkejut dengan kedatangan sang nenek yang ingin melihat keadaan kantor. Aqila bingung harus ngapain karena dia gak mau kalau semua karyawan tau kalau dia adalah calon istri dari cucu pemilik kantor ini. "La, lo kenapa pengen ikut gue keluar? " Tanya Dewi. "Jenuh gue di kantor" Jawab nya berbohong padahal di menghindari sang nenek. Aqila ikut dengan Dewi ke lapangan padahal biasanya Aqila tidak mau dengan alasan panas. "Giman seru gak? " Tanya Dewi saat mereka makan siang. "Seru dari mana yang ada gue kepanasan" Jawab nya dengan kesal. "Ya siapa suruh ikut" Ucap Dewi. Namun tiba-tiba ponsel Aqila berdering menandakan ada panggilan masuk. Aqila langsung melihatnya dan itu Dari Dimas, Aqila pun langsung menjauh. Ternyata Dimas menanyakan keberadaannya karena sang nenek marah dia tidak melihat Aqila di kantor. Ternyata sang nenek marah karena Aqila di tugaskan di luar ruangan dan sang nenek tidak mau kalau Aqila sakit hanya karena tugas di luar. Aqila mendengarkan omelan Dimas di sebrang sana setelah Dimas berhenti barulah Aqila bicara, dia menjelaskan alasannya dan Dimas mengerti karena itu juga pilihannya. "Kenapa lagi, kaya nya lo marah? " Tanya Dewi saat Aqila kembali ke meja mereka. "Dia marahin gue gara-gara gue keliling sama lo" Jawab Aqila. "Kenapa marah kan ini kerjaan kita? " Tanya Dewi yang membuat Aqila hampir saja lupa. "Ya dia gak mau kalau gue sampai hitam pada saat acara nanti" Alasannya. "Dih rese banget cowok gitu, kaya orang kaya saja" Omel Dewi dan Aqila hanya tersenyum. Setelah makan mereka langsung kembali ke kantor dan sang nenek sudah pulang jadi Aqila bisa bebas masuk kantor lagi. Namun tiba-tiba pak Diwan menghampirinya. "Kamu kenapa ke lapangan? " Tanya nya. Aqila hanya tersenyum tanpa menjawab. "Jangan salahkan saya jika pak Dimas marah" Ujarnya lalu pergi. Aqila hanya menghela nafas mendengar itu semua. Dia pun lanjut kerja dan tak menghiraukan itu semua. Saat jam pulang Aqila langsung bersiap pulang namun saat di lobi dia bertemu Niko cowok yang selama ini nyoba deketin Aqila. Dia mengajak Aqila untuk pulang bareng namun Aqila langsung menolaknya karena dia gak mau memberi harapan palsu pada dia. Namun Niko malah menarik tangan Aqila dan membuat Aqila kesakitan karena Niko dengan erat menarik tangannya. "lepasin aku gak, atau aku teriak" ancam Aqila dan itu berhasil karena Niko melepaskan tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN