Bab 2; Penjemputan Anita

771 Kata
“Ibu, aku pulang,” ucap Anita dengan suara lemas yang berusaha ia tahan. “Sudah pulang, Nak?” sahut ibunya, Marni, dari dapur. “Ibu sudah siapin makan malam buat kita.” Anita tersenyum kecil ketika melihat ibunya keluar dari dapur sambil membawa semangkuk makanan hangat. Aroma masakan itu seharusnya membuatnya lapar, tapi pikirannya masih terlalu penuh untuk merasakannya. “Iya, Bu. Bentar, aku cuci tangan dulu,” katanya pelan. “Ya sudah, sana,” jawab Marni lembut. Anita melangkah menuju kamarnya dan langsung menutup pintu. Ia meletakkan tas di atas kursi, lalu berdiri terpaku beberapa detik. Ingatannya kembali pada kejadian sore tadi. Dengan napas tertahan, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar kertas. Anita menatap lama tulisan tersebut. Ia yakin, rumah yang tertera di sana bukan rumah biasa, bahkan pasti sangat jauh berbeda dari rumah kecil yang ia tempati bersama ibunya sekarang. Rumah peninggalan kakeknya, satu-satunya tempat berlindung sejak ayahnya meninggal ketika Anita masih berusia sepuluh tahun. Sejak saat itu, hidup mereka hanya bertopang pada satu sama lain. Dua perempuan yang saling menguatkan dalam keterbatasan. Anita mengepalkan jari-jarinya. Ia tak tahu bagaimana harus menjelaskan semua ini pada ibunya. Terlebih tentang keharusan bekerja sebagai pelayan pribadi seorang pria seperti Haris Alvarendra. Tok tok tok. “Anita,” panggil ibunya dari balik pintu. Anita tersentak. Ia buru-buru melipat kertas itu dan memasukkannya kembali ke saku celana. “Iya, Bu,” sahutnya cepat. Ia segera melangkah menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, berharap bisa menenangkan pikirannya sebelum kembali menghadapi ibunya. Anita keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur yang jaraknya hanya beberapa langkah. Aroma masakan ibunya masih hangat di udara. “Ayo, sini makan dulu,” sambut Marni lembut. Anita menarik kursi dan duduk di meja makan. Tangannya bergerak pelan, merapikan sendok dan piring di depannya, tapi matanya tak benar-benar fokus pada makanan. “Ibu,” ucap Anita akhirnya, suaranya terdengar hati-hati. “Sebenarnya… ada yang mau aku bilang.” Marni menoleh, ekspresinya tenang. “Bilang apa, Nak?” Anita menunduk, jemarinya saling bertaut di bawah meja. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengucapkannya. “Aku di pecat." "Apa? Di pecat?" Tanya Marni kaget. "Tapi kenapa, nak? Kamu ada ngelakuin apa?" "Aku gak ngelakuin apa-apa. Tapi Ibu tenang saja,” potong Anita cepat, seolah takut ibunya terlanjur khawatir. “Aku sudah dapat pekerjaan baru.” Marni menatapnya penuh perhatian. “Pekerjaan apa?" “Aku direkrut jadi pelayan, Bu. Mulai besok aku diminta langsung masuk kerja,” jelas Anita pelan. Ia terpaksa berbohong karena tidak mau ibunya sedih dan kepikiran jika ia mengatakan yang sebenarnya. “Syukurlah…” Marni tersenyum lega. “Kerja di mana? Di restoran yang kemarin?” Anita menggeleng pelan. “Bukan di restoran. Di rumah.” “Di rumah?” Marni tampak bingung. “Ibu tahu keluarga Alvarendra?” tanya Anita hati-hati. Marni langsung terdiam sejenak. “Alvarendra?” ulangnya pelan, jelas terkejut. Anita mengangguk. “Iya, Bu. Aku direkrut jadi pelayan di rumah mereka.” “Kok bisa?” Marni menatap Anita lekat. “Kamu punya kenalan di sana? Kamu yakin mau bekerja di rumah orang sebesar itu?” Anita mengangguk mantap, meski dadanya terasa sesak karena harus menyembunyikan kebenaran. “Iya, Bu. Aku sudah yakin. Besok pagi aku harus berangkat ke sana.” Marni terdiam beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Kalau begitu, Ibu dukung apa pun pekerjaan kamu,” katanya lembut. “Tapi ingat pesan Ibu, ya. Jadi orang yang jujur, jaga sikap, dan jaga kepercayaan orang yang sudah memberi kamu kesempatan.” Anita mengangguk pelan. “Iya, Bu.” "Maaf ya ibu gak bisa bantu kamu." Ucap Marni dengan perasaan bersalah dan mata yang berkaca-kaca. "Ibu jangan bilang begitu." Ucap Anita buru-buru. "Ibu udah banyak berjuang untuk aku. Sekolahin aku sampai aku lulus. Sekarang udah waktunya ibu istirahat. Kalau sampai terjadi apa-apa sama ibu, aku gak bisa maafin diri aku sendiri." **** Keesokan paginya. Tok. Tok. Tok. Suara ketukan pintu terdengar dari luar, cukup keras hingga membuat Anita yang sedang membantu ibunya menyiapkan sarapan menoleh refleks. “Permisi.” Anita menghentikan gerak tangannya, lalu berjalan menuju pintu depan. “Sebentar,” sahutnya. Ceklek. Pintu terbuka. Sekejap, Anita terpaku. Seorang pria bertubuh tinggi besar berdiri tegap di depan rumah mereka. Pakaian serba hitam, kacamata gelap, dan raut wajah yang nyaris tanpa ekspresi membuat sosok itu tampak asing dan menekan. Anita mengerutkan kening. “Maaf, Tuan. Cari siapa, ya?” Pria itu menatap Anita singkat, lalu berkata datar, “Nona Anita Carolina?” Anita mengangguk, masih heran. “Iya, saya.” “Saya diminta Tuan Muda Haris untuk menjemput Nona. Mohon ikut saya sekarang.” “Apa?” Anita membelalak. “Sekarang? Sekarang ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN