“Saya hanya menjalankan perintah,” jawab pria itu kaku.
“Ada apa, Nak?” suara Marni terdengar dari belakang. Ia menghampiri pintu, lalu terkesiap saat melihat pria asing itu. “Siapa ini, Anita?”
Anita gelagapan sejenak, lalu memaksakan senyum kecil.
“Itu… Bu, sepertinya aku harus berangkat kerja sekarang. Aku sudah dijemput.”
“Dijemput?” Marni menatap pria itu bingung. “Orang ini yang menjemput kamu?”
Anita mengangguk pelan. “Iya, Bu. Aku siap-siap sebentar, ya.”
Ia buru-buru menuju kamar sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh, pertanyaan yang tak sanggup ia jawab.
“Kamu nggak sarapan dulu?” panggil Marni.
Anita keluar dari kamar sambil menggeleng. “Katanya… di sana sudah disiapkan sarapan,” ujarnya, menahan rasa bersalah karena kembali berbohong.
“Syukurlah kalau begitu,” kata Marni lega.
Anita mendekat dan mencium tangan ibunya. “Anita pamit dulu, Bu.”
“Hati-hati di jalan,” balas Marni sambil mengusap punggung tangan putrinya, lalu mengantarnya sampai ke depan pintu.
Anita melangkah keluar rumah kecil itu dengan jantung berdebar.
Hari yang dijanjikan dua puluh hari itu… ternyata dimulai jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan.
****
Mobil berhenti tepat di depan sebuah gerbang besar. Anita turun perlahan, langkahnya sempat tertahan begitu pandangannya tertuju pada bangunan megah di hadapannya.
Sebuah mansion berdiri menjulang, tampak seperti istana dengan pilar-pilar tinggi dan lampu kristal yang menyala terang. Anita menelan ludah. Ia hampir tak percaya tempat ini nyata dan ia benar-benar akan masuk ke dalamnya.
“Silakan ikut saya,” ujar pria yang menjemputnya, suaranya tegas tanpa ekspresi.
Anita mengangguk dan menurut. Namun sepanjang langkahnya, pandangannya tak lepas dari kemegahan bangunan itu. Di sisi pintu masuk, beberapa pria dengan penampilan seragam, berpakaian rapi dan berwajah dingin, berdiri berjajar, seolah penjaga pribadi.
Begitu melangkah masuk, lantai di bawah kakinya terasa berbeda. Marmer dingin dan mengilap memantulkan cahaya lampu, sementara aroma ruangan langsung menyergap indra penciumannya.
Anita terdiam sejenak, terpesona.
Interior mansion itu begitu mewah dan tertata sempurna. Di kejauhan, beberapa wanita berseragam pelayan berjalan mondar-mandir dengan langkah anggun. Wajah mereka cantik, kulitnya cerah, penampilannya rapi lebih mirip pramuniaga mall mewah daripada pelayan rumah.
Anita dibawa masuk ke sebuah ruangan yang tampak dijaga ketat. Beberapa pria berdiri di sepanjang lorong, tatapan mereka tajam dan waspada. Setiap langkah yang Anita ambil membuat dadanya semakin terasa sesak.
Tanpa sadar, sebuah pertanyaan melintas di kepalanya.
Ini calon peearis, kan? Bukan bos mafia?
“Bukan,” jawab pria yang menjemputnya singkat, seolah bisa membaca pikirannya. Atau ia yang tak sengaja mengucapkannya di mulut? Anita langsung menepuk mulutnya yang keceplosan dengan perasaan malu.
“Tuan Muda sudah menunggu di dalam.” ucap pria itu.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar, lalu membukanya perlahan.
Anita menatap ke dalam dan menelan ludah sebelum melangkah masuk. Ruangan itu luas dan sunyi. Di balik meja kerja besar, Haris Alvarendra duduk rapi dengan setelan formal. Tatapannya lurus ke depan. Tak ada siapa pun selain mereka berdua.
“Kenapa diam?” ujar Haris datar.
“Masuk.”
Anita tersentak dan buru-buru melangkah lebih jauh, berdiri canggung beberapa langkah dari meja itu.
Haris menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap lurus pada Anita. “Sebagai tugas pertama kamu.. tolong kamu ambilkan saya makan.”
“Hah?” Anita mengernyit bingung.
“Kamu nggak dengar?” lanjut Haris tanpa ekspresi. “Saya minta ambilin makan. Saya lapar.”
“Ta—tapi saya—” Anita tergagap, tak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Dan kalau perlu, kamu suapi saya juga."
"Apa?"
Haris menatap Anita dengan alis terangkat. "Kenapa ekspresi kamu seolah habis diminta untuk minum racun?"
Anita menunduk dengan wajah shock. "Bukan begitu, Tuan. Saya cuma kaget."
"Kamu gak perlu kaget. Saya cuma bercanda." Ucap Haris enteng.
Seketika Anita kembali mengangkat wajahnya menatap Haris. Lagi-lagi dibuat terkejut. Tampaknya ia harus mulai terbiasa olah raga jantung mulai sekarang.
"Itu latihan untuk kamu biar gak terlalu tegang. Kamu jadi pelayan pribadi, bukan suruh jadi bodyguard saya." Jelas Haris.
Anita menghela napas. "Iya, Tuan. Saya mengerti."
Tak lama kemudian, beberapa pelayan masuk beriringan. Mereka membawa aneka hidangan dan menatanya satu per satu di atas meja besar yang dikelilingi sofa. Aroma makanan hangat segera memenuhi ruangan, membuat perut Anita yang sejak pagi kosong terasa semakin perih.
Setelah para pelayan itu pergi, Haris memberi isyarat singkat agar Anita mendekat dan duduk. Entah mengapa, tanpa banyak berpikir, gadis itu langsung menurut. Ia mengambil tempat di sofa seberang, duduk dengan punggung tegang dan tangan saling bertaut di pangkuan.
“Saya tahu kamu belum sarapan,” ucap Haris santai sambil. “Saya menjemputmu terlalu pagi.”
Anita hanya mengangguk kecil.
“Jadi tugas pertama kamu adalah,” lanjut Haris, menatapnya sekilas, “menemani saya makan.”