Bab 4; Tugas Anita

890 Kata
“Hah? Ah I-iya, baik Tuan,” jawab Anita gugup. Ia menunggu Haris mengambil makanan lebih dulu sebelum akhirnya ia ikut menyendok. Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, matanya sedikit melebar. Hidangan itu benar-benar lezat. Sangat jauh di atas bayangannya. Untuk sesaat, Anita lupa rasa canggungnya. Dalam hati, ia berpikir, mungkin… bekerja di sini tidak akan seburuk yang ia takutkan. Setelah makan selesai, piring-piring segera disingkirkan. Seorang pelayan lain masuk membawa sesuatu di tangannya. Sebuah setelan seragam yang masih terlipat rapi. Saat itu, ekspresi Haris berubah lebih serius dari sebelumnya. “Mulai sekarang, kamu resmi jadi pelayan pribadi saya,” ucapnya datar namun tegas. “Tugas kamu menyiapkan semua kebutuhan saya. Apa pun yang saya minta, kamu harus menuruti.” “Baik, Tuan,” jawab Anita cepat “Karena kamu sudah selesai makan, ganti baju sekarang,” lanjut Haris sambil memberi isyarat pada pelayan itu agar menyerahkan seragam pada Anita. Anita menerima seragam tersebut dan segera diarahkan ke sebuah kamar yang disiapkan khusus untuknya. Begitu masuk, ia tertegun. Kamar itu sederhana, namun tetap terasa terlalu mewah dibanding rumah sempit yang biasa ia tinggali. Anita tak tahu, kamar itu bahkan lebih layak dibanding kamar para pelayan lain, sebuah fakta yang bisa memancing iri jika diketahui. Setelah berganti pakaian, Anita kembali menemui Haris sesuai perintah. Kali ini, Haris berada di kamarnya sendiri. Pelayan yang mengantar Anita tadi segera disuruh pergi, meninggalkan mereka berdua saja. Haris yang tengah berbaring di atas ranjang memberi isyarat agar Anita mendekat. Setelah pintu tertutup, Anita melangkah perlahan. “Saya harus melakukan apa, Tuan?” tanyanya ragu. Haris menutup buku yang sedang dibacanya, lalu membalikkan tubuhnya hingga telungkup. “Pijat punggung saya.” Anita terdiam sesaat. Ada rasa canggung dan malu yang bercampur, meski tangannya sudah terbiasa memijat ibunya di rumah. Dengan langkah ragu, ia mendekat dan duduk di tepi ranjang. “Permisi, Tuan,” ucapnya sopan sebelum menyentuh punggung Haris. Awalnya gerakannya kaku dan hati-hati. Namun setelah Haris memintanya lebih rileks, Anita perlahan menyesuaikan tekanan pijatannya. “Ingat,” kata Haris kemudian, “kamu bekerja di sini selama dua puluh hari tanpa gaji. Tapi saya tetap memberi uang jajan harian. Soal makan dan tempat tinggal, kamu tidak perlu khawatir. Semua ditanggung.” Anita tersentak. “Tempat tinggal?” “Tentu saja,” jawab Haris heran. “Memangnya kamu mau tinggal di mana?” Anita terdiam. Jemarinya sempat berhenti sebelum kembali memijat pelan. “Saya pikir… saya masih bisa pulang-pergi dari rumah, Tuan.” Haris menghela napas tipis. “Sopir saya tidak punya waktu mengantar kamu setiap hari,” katanya datar. “Kecuali kamu punya kendaraan sendiri dan bisa datang tepat waktu setiap kali saya panggil.” Anita menelan ludah. “Saya tidak punya kendaraan. Tapi saya juga tidak membawa baju ganti.” “Itu bukan masalah,” ujar Haris singkat. Ia meraih ponselnya dan menghubungi salah satu ajudannya. “Bawa semua pakaian Anita dari rumahnya ke sini. Sekarang.” “Baik, Tuan Muda.” Anita refleks menghentikan pijatannya. “Tuan,” ucapnya cemas, “saya belum bilang ke ibu saya kalau harus menginap dua puluh hari.” Tanpa menoleh, Haris kembali menekan layar ponselnya, masih menghubungi ajudan yang sama. “Sekalian sampaikan pada ibunya bahwa Anita akan tinggal di sini selama dua puluh hari. Bilang ini perintah saya.” “Baik, Tuan.” Sambungan terputus. Anita kembali melanjutkan pijatannya, meski dadanya terasa semakin sesak. “Tapi, Tuan—” “Apa lagi?” Haris melirik sekilas. “Kalau kamu terus bicara, kapan pijatan saya selesai?” Anita langsung menunduk. “Maaf, Tuan,” katanya cepat. Setelah ragu sejenak, ia memberanikan diri, “Sebenarnya saya masih kuliah. Jadi saya masih harus bolak balik ke kampus” “Itu juga bukan sebuah masalah, kamu bisa pulang pergi ke kampus dari sini.” jawab Haris. Ia kembali menghubungi ajudannya. “Ambil juga semua keperluan kuliahnya. Buku, laptop, dan perlengkapan lain.” “Siap, Tuan.” Haris meletakkan ponselnya dan menoleh ke arah Anita. “Masih ada yang mau kamu tanyakan?” Anita menarik napas pelan. “Kalau saya berangkat kuliah dari sini, apakah disini ada bus?” “Gak perlu naik bus. Sopir saya banyak,” jawab Haris tenang. “Tapi ingat, kamu harus pulang tepat waktu. Tidak keluyuran, tidak pergi ke tempat yang tidak perlu.” “I-iya, Tuan,” jawab Anita, meski ia kaget. “Kenapa berhenti?” tanya Haris tiba-tiba. Anita tersentak. “Maaf, Tuan.” Tangannya kembali bergerak, memijat bahu Haris dengan lebih hati-hati. “Kamu sering memijat?” tanya Haris tanpa menoleh. “Sering, Tuan,” jawab Anita jujur. “Ibu saya suka pegal. Jadi saya udah biasa. " Haris terdiam sejenak. Bahunya sedikit mengendur. “Pantas.” Kalimat singkat itu membuat Anita terdiam. Ia tak tahu harus menanggapinya sebagai pujian atau sekadar komentar biasa. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki cepat bergerak ke arah kamar. Lalu pintu terbuka dari luar. “Hei, sayang— KALIAN NGAPAIN?!” Suara itu menggema di kamar Haris. Anita menoleh kaget. Dilihatnya berdiri seorang gadis cantik, tubuh semampai dan rambut panjang tergerai, tengah menatapnya dengan mata terbuka lebar. “Siapa kamu?” tanya wanita itu, dengan nada suaranya penuh keterkejutan. Anita menelan ludah, tapi segera menenangkan diri. Ia hanya disuruh memijat, bukan datang untuk hal lain. “Ma-maaf… saya cuma menjalankan tugas dari Tuan,” jawabnya pelan. "Tugas?" Wanita itu menoleh pada Haris. Begitu juga Haris yang balas menatapnya. "Lidya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN