Bab 5

1008 Kata
Setibanya di ruang kerja Haris, Anita menunduk sopan. “Tuan memanggil saya?” “Ya,” jawab Haris singkat, matanya masih menatap layar komputer. “Lihat, ada beberapa dokumen yang harus saya tandatangani. Ambilkan pena dan siapkan meja ini.” Anita mengangguk cepat, merasa sedikit lega karena ini berbeda dari tugas-tugas sebelumnya. Ia berjalan ke lemari alat tulis, memilih pena yang sesuai, dan menata dokumen di atas meja sesuai arahan Haris. Haris mengamati gerakannya sebentar. “Pastikan semuanya rapi. Kalau ada yang kurang, langsung perbaiki.” Anita menelan napas, hati berdebar, tapi mencoba tetap tenang. Setiap langkahnya diatur hati-hati, memastikan dokumen tidak bergeser. Ia merasa ada tekanan berbeda—bukan hanya sebagai pelayan, tapi sebagai seseorang yang ditugaskan untuk membantu pekerjaan Haris secara langsung. Setelah semua siap, Haris menoleh sebentar, matanya menatap Anita dengan tajam. “Kalau sudah selesai, tetap di sini. Saya mungkin akan memerlukan bantuan lagi. Jangan pergi kemana-mana tanpa izin.” Anita mengangguk, menahan gugupnya. Ia mulai menyadari bahwa tugasnya sekarang tidak sekadar menjalankan perintah sederhana—melainkan bagian dari pekerjaan yang lebih profesional, menuntut ketelitian dan kesiapsiagaan setiap saat. Anita melangkah cepat tapi hati-hati menuju dapur. Meski tugasnya sederhana, hatinya tetap berdebar. Ia tidak ingin mengecewakan Haris, apalagi setelah semua teguran dan tatapan tajam sebelumnya. Sesampainya di dapur, ia membuka lemari dan mengambil cangkir yang paling bersih, menyiapkan kopi seperti yang biasa ia lihat para pelayan lain lakukan. Tangan Anita sedikit gemetar saat menuangkan bubuk kopi ke dalam cangkir, kemudian menambahkan air panas. Aroma kopi yang harum memenuhi ruangan, membuatnya sedikit lebih tenang. Selesai menyiapkan kopi, Anita menatap cangkir itu sebentar, memastikan semuanya rapi sebelum membawanya kembali ke ruang kerja Haris. Setiap langkahnya terasa lebih berat karena rasa canggung dan takut salah. Sesampainya di depan meja, ia menunduk sopan, menyodorkan cangkir kopi. “Ini, Tuan. Kopinya sudah siap,” ucapnya pelan. Haris menerima cangkir itu tanpa banyak komentar, tapi matanya tetap menatap Anita sebentar, menilai gerak-geriknya. “Bagus. Letakkan di meja sini. Jangan sampai tumpah atau salah tempat.” Anita menaruh cangkir dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang bergeser. Setelah itu, ia menunduk lagi, menunggu instruksi selanjutnya. "Kenapa kamu jadi tegang begitu?" tanya Haris, menatap Anita dengan mata tajam tapi tenang. Anita mengusap tengkuknya, berusaha menenangkan diri. "Saya sudah berusaha santai, Tuan. Tapi… saya masih khawatir, karena ini pertama kalinya saya bekerja di sini." Haris mengangkat cangkir kopi, menyesapnya perlahan sambil matanya tetap menatap lurus ke arah Anita. "Santai saja. Saya tidak akan menyuruh-suruh kamu melakukan pekerjaan berat yang membebani." Mendengar itu, Anita hanya bisa menunduk sebentar, tidak tahu harus menjawab apa. Hatinya sedikit lega, tapi rasa cemas masih tersisa. Melihat Anita tetap diam, Haris mengganti topik dengan suara yang lebih ringan. "Oh ya… bagaimana dengan kuliah kamu?" Anita menelan ludah, kemudian mengangkat kepala sedikit. "Alhamdulillah, Tuan. Kuliah saya lancar… walaupun kadang jadwalnya padat. Tapi saya usahakan tetap bisa membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan di sini." Haris menatapnya sebentar, seolah menilai kesungguhan gadis itu. "Kamu tahu, di sini saya mengutamakan disiplin. Jadi kalau kamu bisa atur waktu dengan baik, pekerjaan dan kuliah tidak akan saling mengganggu." Anita mengangguk pelan. "Iya, Tuan. Saya akan berusaha sebaik mungkin." Haris menegakkan tubuhnya di kursi, meletakkan cangkir kopi di meja. "Maksud saya… kamu bisa tetap fokus pada tugas-tugas dan kuliahmu. Saya tidak akan membebani kamu dengan pekerjaan berat atau memanggilmu setiap saat. Saya hanya akan menyuruhmu kalau memang lagi santai." Anita tersenyum tipis, merasa sedikit lega sekaligus tegang. "Siap, Tuan." Haris menatapnya lagi dengan nada lebih ringan. "Oh ya… kalau ada pertanyaan soal kuliah, jangan sungkan bertanya ke saya. Siapa tahu saya bisa bantu." Anita berkedip halus. "Ya, Tuan. Terima kasih." Haris menghela napas ringan. "Sebentar lagi ajudan yang membawa barang-barangmu akan tiba. Setelah itu, kamu bisa istirahat sejenak. Kalau ada kelas, bilang saja ke ajudan saya. Dia akan mengantarmu. Saya sudah menginstruksikannya sebelumnya." Anita mengangguk cepat. "Ya, Tuan. Terima kasih banyak." Haris mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatapnya. "Oh ya… kamu ambil jurusan apa?" Anita menunduk sebentar, lalu mengangkat pandangan ke Haris. "Saya ambil jurusan Administrasi Bisnis, Tuan." Haris mengangguk pelan, menatapnya serius tapi tidak menakutkan. "Bagus. Jurusan yang cukup menantang. Tapi saya yakin kamu bisa mengimbanginya dengan pekerjaan di sini." Anita tersenyum tipis, merasa sedikit lega mendengar kata-kata itu. "Terima kasih, Tuan. Saya akan berusaha sebaik mungkin." Haris menegakkan tubuhnya di kursi, meletakkan tangan di atas meja. "Ingat, Anita. Di sini kamu tetap pelayan pribadi saya, tapi saya tidak akan memanfaatkan kamu untuk hal-hal yang memberatkan. Tugasmu jelas, dan saya harap kamu fokus. Kalau ada hal yang membingungkan, jangan ragu bertanya." Anita mengangguk, matanya menatap Haris penuh perhatian. "Iya, Tuan. Saya mengerti." Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah di lorong menuju ruang kerja. Anita menoleh, dan ajudan Haris masuk membawa beberapa koper dan tas besar. Wajahnya tegas, namun gerakannya teratur dan sopan. "Selamat siang, Nona Anita. Saya dikirim Tuan Haris untuk membawa barang-barang Anda," ucap ajudan itu sambil menaruh tas-tasnya di dekat meja. Anita menunduk sopan. "Terima kasih banyak, Pak." Ia merasa sedikit canggung karena tak terbiasa ada pelayan pribadi yang menyiapkan semua kebutuhan seperti ini. Ajudan itu tersenyum tipis, lalu mulai menata koper-koper itu. "Ada pakaian, sepatu, dan keperluan kuliah Nona. Semua sudah saya susun sesuai kategori supaya mudah diambil." Anita memperhatikan dengan seksama. Ia merasa lega, sekaligus sedikit kagum. Selama ini ia terbiasa mengurus segalanya sendiri, tapi di sini semuanya sudah siap dan rapi. Ia mengambil satu tas kecil berisi buku-bukunya. "Oh, ini buku kuliah saya. Terima kasih sudah menatanya, Pak." Ajudan itu mengangguk singkat. "Kalau Nona butuh sesuatu lagi, langsung bilang ke saya saja. Semua sudah diperintahkan oleh Tuan Haris." Anita mengangguk, tersenyum tipis. "Baik, Pak. Terima kasih banyak." Haris menatap dari kursi kerjanya, matanya tidak terlalu menekan, hanya sekadar memastikan Anita merasa nyaman. "Oke, Anita. Ambil waktumu sebentar, jangan terburu-buru. Nanti setelah semuanya beres, kita lanjutkan hal-hal lain," ucapnya santai. Anita menghela napas ringan. Ia merasa lega karena kedatangan ajudan membuat semua lebih mudah. Ia mulai membuka koper-kopernya, menata pakaian dan buku-buku kuliah di lemari yang telah disediakan untuknya, sambil berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang terasa mewah tapi menuntut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN