Bab 6; Mengajari Anita

837 Kata
Pintu terbuka dan seorang ajudan masuk sambil membawa beberapa tas sederhana. Haris melirik sekilas lalu mengangguk. “Taruh di sini,” perintahnya singkat. Pandangannya kemudian beralih ke Anita. “Barang-barang kamu sudah diambil dari rumah kamu. Mulai sekarang, kamu tinggal di sini.” Anita terdiam sejenak, matanya melebar kaget saat melihat koper dan tas berisi peralatan kuliahnya. “E—eh… baik, Tuan,” jawabnya gugup, suaranya sedikit tercekat. Haris langsung berkata datar, “Bereskan barang-barang kamu dulu di kamar. Nanti lanjutkan tugas.” Ia melirik ke arah ajudan. “Antarkan dan bantu bawakan.” Anita cepat mengangguk, lalu mengikuti ajudan itu. Saat Anita sudah melangkah ke ambang pintu, Haris kembali bersuara. “Setelah barang kamu beres, kembali ke ruang kerja saya,” katanya tegas tanpa menoleh. “Saya ada tugas untuk kamu.” Anita berhenti sejenak, lalu mengangguk patuh sebelum benar-benar pergi mengikuti ajudan itu. Anita berdiri sejenak di tengah kamar, menatap koper dan tasnya seolah masih memastikan semua itu benar-benar miliknya dan benar-benar sudah berada di tempat baru. Ia lalu membuka koper perlahan, mengeluarkan pakaian satu per satu dengan hati-hati, disusul tas berisi peralatan kuliahnya. Tak lama kemudian, sang ajudan pamit dan Anita hanya mengangguk pelan. Setelah pintu tertutup, barulah ia melanjutkan menata barang-barangnya dengan rapi. Setelah memastikan semua barangnya tertata rapi, Anita segera kembali ke ruang kerja Haris. Ia mengetuk pintu pelan sebelum masuk, lalu berdiri tegak di depan meja saat Haris mengangguk menyuruhnya mendekat. Haris menutup berkas yang sedang ia baca, menatap Anita dengan ekspresi serius yang membuat gadis itu otomatis menegakkan bahu. “Ada beberapa aturan yang harus kamu pahami,” ucap Haris datar. “Kamu pelayan pribadi saya. Artinya, kamu hanya bekerja untuk saya, bukan untuk anggota rumah lain, kecuali atas perintah saya langsung.” Anita mengangguk cepat. “Kamu tidak boleh masuk ke ruangan pribadi saya tanpa izin, tidak boleh membicarakan urusan saya ke siapa pun, dan tidak perlu menanggapi ucapan atau sikap orang lain di rumah ini. Fokus kamu itu saya— eh maksudnya cuma mendengar perintah saya. Itu saja.” Anita menjawab pelan, “Baik, Tuan. Saya mengerti.” Haris melanjutkan tanpa basa-basi, “Soal kuliah kamu, saya sudah atur. Kamu bisa tetap berangkat seperti biasa. Sopir akan menjemput dan mengantar sesuai jadwal kamu. Tidak perlu naik kendaraan umum lagi.” Ia menyebutkan nama sopir dan jam keberangkatan, jelas dan terperinci, seolah semuanya sudah dipikirkan matang-matang. Anita terdiam sesaat, lalu membungkuk sopan. “Terima kasih, Tuan. Saya akan patuh dan tidak akan melanggar aturan.” Haris mengangguk singkat. “Bagus. Selama kamu disiplin, tidak ada yang perlu kamu takutkan.” Anita masih berdiri dengan kepala sedikit tertunduk ketika Haris kembali berbicara. “Satu lagi,” katanya, suaranya tetap tenang namun berwibawa. “Tugas utama kamu setiap pagi adalah menyiapkan kopi saya sebelum saya berangkat ke kantor.” Anita mendongak pelan, lalu mengangguk. “Iya, Tuan.” Haris berdiri dari kursinya dan memberi isyarat agar Anita mengikutinya. “Ikut saya,” perintahnya singkat. Anita langsung mengikutinya hingga mereka tiba di pantry utama rumah ruangan luas dengan dapur bersih bernuansa gelap, dipenuhi mesin kopi profesional dan rak berisi berbagai jenis biji kopi impor. Haris berdiri di depan meja marmer, lalu membuka salah satu kotak kayu eksklusif. Di dalamnya tersimpan biji kopi pilihan, tersusun rapi. “Setiap pagi sebelum saya berangkat, kamu harus menyiapkan kopi,” katanya datar. “Dan kamu harus tahu kopi apa yang saya minum.” Anita mengangguk cepat. “Iya, Tuan.” Haris mengambil biji kopi tertentu. “Saya tidak minum kopi instan. Tidak juga kopi sembarangan,” ucapnya sambil menimbang biji kopi dengan timbangan digital. “Ini single origin kualitas tinggi. Rasanya pahit, bersih, tanpa rasa asam.” Ia lalu memperagakan cara menggiling biji kopi, mengatur mesin, dan memeriksa suhu air dengan teliti. Anita berdiri di sampingnya, memperhatikan setiap gerakan dengan serius, mencoba menghafal urutannya. “Takaran, suhu, dan waktu seduh harus tepat,” lanjut Haris. “Kalau satu saja meleset, rasanya berubah.” “Iya, Tuan. Saya mengerti,” jawab Anita pelan namun sungguh-sungguh. Setelah kopi selesai, Haris mencicipinya sebentar, lalu mengangguk tipis. Haris meletakkan cangkirnya, lalu menoleh ke arah Anita. “Sekarang kamu praktik,” katanya tanpa basa-basi. Anita sedikit terkejut, tapi segera mengangguk dan melangkah mendekat ke meja. Dengan tangan agak gemetar, ia meniru apa yang baru saja diajarkan, menimbang biji kopi dengan hati-hati, memastikan angkanya tepat sebelum menggilingnya perlahan. Baru beberapa langkah, kesalahan kecil terjadi. “Takaran kamu kurang,” tegur Haris dingin. Anita buru-buru memperbaiki. Belum lama, ia kembali salah mengatur suhu air. “Terlalu panas,” suara Haris terdengar lagi, singkat namun tegas. Kesalahan itu terus berulang, kadang waktu seduhnya meleset, kadang gilingan kopinya terlalu halus dan setiap kali itu pula Haris langsung menegurnya tanpa emosi, membuat Anita semakin gugup namun tak berhenti mencoba. Hingga saat Anita hendak menuang air, tangannya tersenggol dan sedikit air tumpah ke meja. Ia refleks mundur, dan secara bersamaan Haris meraih pergelangan tangannya untuk menahan tubuhnya yang hampir jatuh. Jarak mereka mendadak begitu dekat. Anita membeku, napasnya tertahan. Haris juga terdiam. Sejenak, pandangan mereka bertemu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN