Anita langsung tersadar, wajahnya memanas. Ia menarik diri, menunduk cepat dengan kikuk. “Maaf, Tuan… saya ceroboh,” ucapnya gugup.
Haris hanya menarik tangannya kembali tanpa ada perubahan pada ekspresi wajahnya. Tatapannya tetap tenang dan terkontrol. “Perhatikan gerakan kamu. Kesalahan kecil bisa berbahaya.” Ia lalu menggeser posisi gelas dan alat seduh ke tempat semula, seolah tak ada apa pun yang baru terjadi.
Anita mengangguk cepat, masih menunduk. “Iya, Tuan. Saya akan lebih hati-hati,” jawabnya pelan, lalu kembali fokus pada kopinya, berusaha menenangkan tangan yang masih sedikit gemetar.
Jantung Anita masih berdetak tak karuan, rasa malu membuat telinganya panas. Sentuhan singkat tadi terus terulang di kepalanya, membuat tangannya sulit tenang. Namun saat ia melirik Haris, wajah pria itu sudah kembali datar, seolah kejadian barusan tak pernah ada.
Haris menyadari gerakan Anita yang melambat dan pandangannya yang kosong. “Fokus,” tegurnya singkat. Nada suaranya datar namun tegas. Anita tersentak kecil, lalu cepat mengangguk dan kembali memusatkan perhatiannya pada kopi di hadapannya.
Setelah beberapa kali percobaan lagi, gerakan Anita mulai terlihat lebih tenang. Tangannya tak lagi gemetar, napasnya teratur, dan setiap langkah ia lakukan sesuai urutan yang diajarkan Haris. Saat kopi itu selesai diseduh, aromanya keluar dengan pas.
Anita menyerahkannya dengan hati-hati, lalu menunggu dengan jantung berdebar.
Haris mulai mencicipinya. Lalu ia terdiam lebih lama dari biasanya. Anita menahan napas, matanya tak lepas dari wajah Haris mengamati ekspresi wajahnya.
Beberapa detik kemudian, Haris meletakkan cangkirnya. “Ini sudah pas,” katanya singkat.
Anita spontan tersenyum lebar hampir jingkrak-jingkrak. “Syuk—”
Ia segera terhenti saat Haris menatapnya dengan wajah datar dan dingin.
Anita langsung menunduk, merapatkan tangannya di depan perut, menahan rasa malu yang merayap, sementara Haris hanya merapikan alat seduh tanpa komentar tambahan, seakan keberhasilan itu hanyalah standar yang memang seharusnya ia capai.
Haris melirik jam di pergelangan tangannya, “Cukup sampai di sini,” katanya datar. “Tugas kamu hari ini selesai.”
Anita mengangkat kepala sedikit, lalu mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”
Haris mengambil berkas dari meja dapur “Kamu bisa kembali ke kamar dan istirahat,” ucapnya singkat, “Besok mulai lebih pagi.” lalu berjalan menuju ruang kerja.
Anita berdiri beberapa detik setelah Haris menghilang dari pandangan. Rasa lelah baru terasa di lengannya, bercampur dengan sisa degup jantung yang belum sepenuhnya reda. Ia membereskan peralatan kopi dengan rapi, lalu berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah pelan. Di balik pintu yang tertutup, ia akhirnya menghembuskan napas panjang, hari pertamanya di rumah itu berakhir.
Ia melepas seragam pelayan dengan hati-hati, melipatnya rapi sebelum menggantungnya di lemari, seolah takut memperlakukannya sembarangan. Setelah berganti baju yang lebih sederhana, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit-langit sambil menghela napas panjang.
Ponselnya tiba-tiba bergetar di samping bantal. Nama Ibu muncul di layar. Anita segera bangkit setengah duduk dan mengangkatnya. “Halo, Bu,”
Di seberang sana, suara Marni terdengar lebih cepat dari biasanya, jelas menyimpan kegelisahan.
“Anita, kamu ke mana, Nak?” tanyanya langsung. “Tadi siang ada orang datang ke rumah. Katanya disuruh ngambil koper sama tas kuliah kamu. Ibu kaget. Kenapa kamu nggak bilang-bilang dulu ke ibu kalau mau nginep? Ibu pikir kamu pulang seperti biasa.”
Anita menggenggam ponselnya lebih erat. Dadanya menghangat oleh rasa bersalah. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab, “Maaf, Bu… Anita juga nggak tahu bakal begini. Awalnya cuma disuruh kerja, Bu. Tapi ternyata rumahnya jauh sekali dari rumah kita. Kalau bolak-balik, waktunya nggak cukup.”
Marni terdiam sesaat, lalu suaranya terdengar lebih lirih.
“Jauh bagaimana maksudnya? Kamu aman, Nak? Ibu takut. Kok tiba-tiba barang kamu dibawa semua.”
Anita cepat menggeleng meski tahu ibunya tak bisa melihat.
“Aman, Bu. Rumahnya besar, banyak orang. Ada pelayan lain juga. Anita nggak sendirian,” ujarnya pelan, mencoba meyakinkan. “Mereka baik-baik. Ibu jangan khawatir, ya.”
“Tapi kenapa kamu nggak telepon dulu?” suara Marni bergetar. “Ibu kepikiran terus. Takut kamu kenapa-kenapa.”
Anita menelan ludah.
“Maaf, Bu. Semuanya cepat sekali kejadiannya,” katanya jujur. “Anita juga kaget. Tapi ini kesempatan kerja yang bagus. Anita bisa tetap kuliah, Bu. Sudah diatur juga.”
“Kuliah kamu gimana?” tanya Marni cepat. “Jangan sampai keteteran. Ibu tahu kamu capek.”
Anita menggeser tubuhnya agar lebih nyaman di ranjang.
“Masih bisa, Bu. Aku tetap kuliah seperti biasa. Malah nanti ada yang antar jemput,” katanya, “Jadi Ibu nggak usah takut aku berhenti kuliah. Anita janji.”
Marni menghela napas panjang di seberang sana.
“ Ibu takut kamu terlalu memaksakan diri.”
Anita tersenyum kecil meski matanya mulai terasa panas.
“Anita baik-baik saja, Bu. Serius. Di sini kamarnya bagus, makanannya teratur. Anita nggak kekurangan apa-apa.”
“Apa majikanmu galak?” tanya Marni ragu.
Anita terdiam sepersekian detik, teringat wajah Haris yang dingin dan tegas.
"Engga kok, Bu,” jawabnya hati-hati. “Majikanku baik.”
Marni kembali terdiam. Lalu terdengar suaranya lebih lembut.
“Kalau kamu nggak betah, pulang saja. Jangan dipaksakan.”
“Iya, Bu,” jawab Anita cepat. “Anita janji jaga diri. Kalau ada apa-apa, Anita langsung telepon.”
“Kapan kamu pulang?” tanya Marni.
Anita menatap langit-langit kamar, membayangkan rumah kecil mereka.
“Nanti kalau ada waktu libur, Anita nengokin Ibu. Anita janji,” katanya lembut. “Ibu tunggu ya.”
“Ibu tunggu. Jangan lupa makan, jangan begadang.”
Anita tersenyum kecil.
“Iya, Bu. Ibu juga jaga kesehatan.”
Panggilan itu berakhir dengan salam pelan. Anita menurunkan ponselnya perlahan dan merebahkan tubuhnya kembali. Matanya menatap kosong ke langit-langit.
Baru saja Anita memejamkan mata, ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Ia langsung terjaga dan bangkit duduk.
Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan kepala pelayan.
“Anita."