Bab 8

1205 Kata
Sejak sore itu, posisi Anita benar-benar berubah. Ia tidak lagi hanya dipanggil sesekali, melainkan diminta selalu berada dalam jangkauan Haris. Bukan dengan cara mengekang, tapi dengan ritme yang membuatnya tanpa sadar semakin sering bersama pria itu. Hari berikutnya dimulai lebih teratur. Pagi-pagi sekali, Anita sudah bangun. Ia memastikan seragamnya rapi, rambut diikat sederhana, wajah bersih tanpa riasan. Ia turun ke dapur membantu menyiapkan sarapan, meski tugas itu sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Kepala pelayan sempat menegur, tapi Anita memilih tetap membantu sebentar, sekadar memastikan tidak ada kesalahan. Saat jam sarapan tiba, Haris sudah duduk di meja makan. Kali ini Lidya tidak ada. Anita berdiri di samping, menunggu perintah. “Kamu belum makan?” tanya Haris tanpa menoleh. “Belum, Tuan.” “Duduk,” perintahnya singkat. Anita ragu, tapi tetap duduk di kursi yang sama seperti kemarin. Ia makan perlahan, menjaga sikap. Haris memperhatikannya dari sudut mata—cara Anita memegang sendok, cara ia menunduk setiap kali berbicara, semuanya terasa terlalu berhati-hati. “Kamu tidak perlu setegang itu,” ujar Haris akhirnya. “Saya tidak akan memarahi kamu hanya karena makan.” Anita tersenyum kecil. “Maaf, Tuan. Saya terbiasa seperti ini.” Haris berhenti makan sejenak. “Terbiasa diperlakukan keras?” Anita terdiam. Ia tidak menjawab, tapi ekspresinya cukup menjelaskan. Haris tidak memaksa. Ia melanjutkan makan, tapi dalam hatinya ada rasa tidak nyaman. Setelah sarapan, Haris bersiap ke kantor pusat. Biasanya ia pergi sendiri atau ditemani ajudan. Hari itu berbeda. “Kamu ikut,” katanya pada Anita. Anita terkejut. “Ke kantor, Tuan?” “Iya. Kamu duduk saja di ruang saya. Sekalian lihat bagaimana ritme kerja saya.” Anita mengangguk, meski gugup. Perjalanan di mobil terasa sunyi. Haris sibuk membaca berkas, sementara Anita duduk tenang di samping, menatap keluar jendela. Sesekali mobil berhenti di lampu merah, dan Haris melirik ke arahnya. “Kamu sering naik mobil seperti ini?” tanyanya. “Tidak, Tuan. Biasanya naik angkot.” Haris mengangguk. “Kalau mabuk mobil, bilang.” Anita tersenyum tipis. “Tidak mabuk, Tuan.” Di kantor, Haris memperkenalkan Anita sekadarnya sebagai asisten pribadi sementara. Tidak ada yang berani bertanya lebih jauh. Anita duduk di sudut ruang kerja, mengerjakan tugas kuliahnya sambil sesekali membantu Haris—mengambil dokumen, mencatat jadwal, menyiapkan berkas rapat. Semakin lama, Anita semakin terbiasa. Ia cepat menangkap instruksi, teliti, dan tidak banyak bicara. Hal itu membuat Haris nyaman. Saat jam makan siang, Haris menutup laptopnya. “Kamu sudah makan?” “Belum, Tuan.” “Kalau begitu, ikut.” Mereka makan di ruang makan kantor. Tidak mewah, tapi tenang. Anita makan dengan porsi kecil. Haris memperhatikannya. “Kamu selalu makan sedikit?” “Saya sudah terbiasa,” jawab Anita jujur. “Biar cukup sampai malam.” Haris berhenti mengunyah. “Di sini, kamu tidak perlu menghemat makanan.” Anita tersenyum kecil. “Baik, Tuan.” Kalimat itu sederhana, tapi ada sesuatu di d**a Haris yang menghangat. Anita tidak menuntut, tidak memanfaatkan. Ia hanya menerima. Sore hari, saat mereka kembali ke mansion, hujan turun deras. Anita berdiri di depan pintu, ragu melangkah karena lantai licin. Haris melihat itu, lalu melepas jasnya dan menaruhnya di bahu Anita. “Pakai,” katanya. Anita terkejut. “Tuan, nanti Anda—” “Saya tidak apa-apa.” Anita menurut. Jas itu kebesaran, hangat, dan beraroma khas Haris. Untuk pertama kalinya, ia merasa diperhatikan bukan sebagai pelayan, tapi sebagai perempuan. Malam itu, Anita dipanggil ke ruang kerja lagi. Haris sedang membaca laporan, wajahnya lelah. “Kamu bisa duduk,” katanya. Anita duduk di sofa, menjaga jarak. “Kamu tidak pernah bertanya,” lanjut Haris tiba-tiba. “Bertanya apa, Tuan?” “Kenapa saya memilih kamu.” Anita terdiam. “Saya pikir… karena kejadian waktu itu.” Haris tersenyum tipis. “Itu alasan awal.” “Lalu sekarang?” tanya Anita pelan, tanpa sadar. Haris menutup map di tangannya. Ia menatap Anita lama, lalu berkata, “Karena kamu tenang. Dan saya butuh itu.” Anita tidak menjawab. Tapi hatinya berdebar. Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Anita semakin sering mendampingi Haris, semakin memahami kebiasaannya—kopi tanpa gula sore hari, kebiasaan membaca laporan sebelum tidur, cara Haris diam saat sedang banyak pikiran. Sebaliknya, Haris mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Anita—cara ia mengernyit saat membaca materi sulit, kebiasaan menulis catatan kecil, cara ia selalu memastikan barang-barangnya rapi. Suatu malam, Anita tertidur di sofa ruang kerja saat menunggu Haris menyelesaikan panggilan. Haris keluar dari ruang rapat kecil dan melihat itu. Ia mendekat, mengambil selimut tipis, dan menyelimuti Anita perlahan. Anita terbangun setengah sadar. “Maaf, Tuan. Saya ketiduran.” “Tidak apa-apa,” jawab Haris pelan. “Kamu capek.” Anita duduk tegak. “Saya tidak boleh seperti ini.” Haris menggeleng. “Kamu manusia, bukan mesin.” Kalimat itu sederhana, tapi membuat mata Anita terasa panas. Malam itu, untuk pertama kalinya, Anita tersenyum tulus pada Haris. Dan Haris tahu—perasaan yang ia tekan semakin sulit dikendalikan. Ia tidak lagi sekadar ingin Anita berada di dekatnya karena ego atau rasa bersalah. Ia ingin Anita tinggal. Bukan sebagai pelayan. ****** Pagi hari, Anita selalu memastikan semuanya siap sebelum Haris bangun. Bukan karena diperintah, tapi karena ia merasa bertanggung jawab. Ia menyiapkan pakaian kerja Haris, memeriksa agenda hari itu, dan memastikan tidak ada jadwal yang saling bertabrakan. Suatu pagi, saat Haris keluar dari kamar, ia mendapati Anita berdiri di depan meja kecil dengan tablet di tangan. “Agenda hari ini sudah saya susun, Tuan,” ucap Anita pelan. “Ada rapat jam sepuluh, makan siang dengan klien jam satu, lalu kunjungan ke cabang sore.” Haris berhenti sejenak. “Saya tidak minta kamu melakukan itu.” Anita langsung gugup. “Maaf, Tuan. Kalau saya melampaui—” “Bukan begitu,” potong Haris. “Saya cuma… heran.” “Heran?” Anita mengangkat wajahnya. “Kamu cepat sekali menyesuaikan diri.” Anita tersenyum kecil. “Saya terbiasa harus cepat belajar, Tuan. Kalau lambat, saya bisa tertinggal.” Jawaban itu membuat Haris terdiam. Ia mengangguk singkat, lalu mengambil tablet itu. “Baik. Ikut saya ke kantor.” Di mobil, suasana lebih cair dibanding hari-hari sebelumnya. Haris tidak lagi tenggelam sepenuhnya dalam berkas. Sesekali ia bertanya soal kuliah Anita, tugas-tugasnya, bahkan dosen yang paling galak menurut Anita. “Kamu sering begadang?” tanya Haris. “Kalau tugas menumpuk, iya.” “Kurangi.” Anita tersenyum kaku. “Saya usahakan.” Haris meliriknya. “Itu bukan saran.” Anita tertawa kecil tanpa sadar. Suara itu membuat Haris menoleh lebih lama dari seharusnya. Di kantor, Anita tidak lagi hanya duduk diam. Haris mulai mempercayakan hal-hal kecil—mencatat hasil rapat, mengatur ulang jadwal, bahkan menyaring panggilan masuk. Sore itu, Haris keluar dari ruang rapat dengan wajah tegang. Anita yang melihatnya langsung berdiri. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya. Haris menghembuskan napas berat. “Buatkan kopi. Yang agak pahit.” Anita mengangguk cepat. Saat kembali membawa kopi, Haris sudah duduk dengan tangan menyanggah kening. “Kamu boleh duduk,” katanya tanpa menoleh. Anita duduk di seberang meja. Haris menyesap kopi itu perlahan. “Pas.” Anita tersenyum tipis. Pujian sederhana itu terasa lebih berarti dibanding kata-kata panjang. “Kamu tidak pernah bertanya kenapa saya selalu kelihatan sibuk,” lanjut Haris. “Saya pikir itu bukan urusan saya,” jawab Anita jujur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN