Love, huh?

2477 Kata
Andy: Perasaan kamu ke aku sekarang gimana sayang? Masih cinta ga? Cinta ya? Hmm. Arti cinta itu sendiri, apa? Chrissy: Cinta, ya... Mangnya arti cinta itu apa? Jujur, gue udah pacaran lama sama dia. Tapi saat sekarang ditanya itu. Dan sekarang gue bingung harus jawab apa. Apa gue salah? Andy: Cinta itu seperti care aku ke kamu, trus kalo kamu bete aku selalu bisa bikin kamu ga bete, dan kamu ga bakalan balik bete kalo aku lagi bete. Hmm, apa gitu? Chrissy: Jadi selama ini aku bisa bikin bete kamu ilang ga? Semenit... Dua menit... Lima menit... Dua puluh menit... Ga dibales. Dan guepun tidur. ★ Gue melirik cowok yang duduk di sebelah gue. Dia tidur. Lagi pelajaran kimia. Fyi, kelas gue kursinya tunggal. Ga berpasangan kaya sekolah biasanya. Kuketukkan pulpen di atas buku kimia yang terbuka lebar. Pikiranku masih melayang jauh ke Andy. Dia bilang gue ga cinta dia. Jadi, kita putus. Aku menghela napas pelan. Entah mengapa ini menyebalkan. "Kenapa sih lo? Galau amat." Aku menoleh. Cowok itu, Shane. Cowok yang setau gue lagi tidur. Mata coklatnya mengintip dari balik lekukan lengannya. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi perkataannya. Dan dia kembali menyembunyikan wajahnya. Cowok aneh. Itulah kesan pertamaku tentang dia. ★ "Shane itu aneh ya Rose." ujarku sambil makan chiken burger di kantin. Rose meletakkan kentang gorengnya di meja. "Ga aneh juga sih nenurut gue mah, dia cuma pendiem." "Bukan pendiem lagi, tapi penyendiri." ujarku, sambil menggigit roti isi itu. "Dia itu mandiri, bukan penyendiri." ujar Rose. Dia menyeruput cola-nya. Aku menyerit bingung. "Jadi bedanya apa? Bukannya sama ya?" "Ya beda-lah toil. Dari katanya aja beda. Maknanya beda lah. Buka KBBI sono." usir Rose. "Yah elah, ngapain gue nanya KBBI sedangkan temen gue adalah kamus berjalan?" ujarku sambil menaik turunkan alis. Rose ini termasuk jenius kali ya. Sekali dia baca, langsung inget. Hebat ga tuh? "Gue boleh duduk sini ga?" Aku dan Rose menoleh, mendengar suara yang asing di telinga kami. Disana, Shane berdiri sambil memegang sekotak jus jeruk. Hening. "Boleh?" tanyanya lagi. "Eh eh, iya boleh. Silahkan aja." kata gue sambil menggeser tempat gue duduk. Kami duduk dalam diam. Sungguh, canggung banget. Rose seru makan kentangnya, aku sibuk menghabiskan burgerku. Dan saat aku melirik Shane, dia sedang menatapku. Dengan wajah datar. "A...Apa Shane?" ujarku gugup. Sungguh, walaupun sudah beberapa bulan duduk di sebelah Shane, aku tidak pernah ngobrol sama dia. Dia tersenyum. "Lo manis juga ya." Deg. ★ "Gilaaa!! Beneran kan Shane itu aneh, Rose?" ujarku di kelas. Rose duduk di sebelah kananku, sedangkan Shane di sebelah kiriku. Setelah Shane mengatakan aku manis, dia pergi. Jam istirahat sebentar lagi akan berakhir, tapi belum ada tanda-tanda dari Shane. "Ah elonya aja kesenengan dibilang manis." cibir Rose. "Gue emang manis kali aslinya mah..." "Najis pede amet." Aku hanya tertawa mendengar perkataan Rose. Dibelakang guru fisika, Shane berjalan dengan santainya. Ck. Anak itu sebenernya niat sekolah ga sih? "Baiklah anak-anak, sekarang kerjakan soal latihan dari bab satu sampai tiga ya. Bapak tidak bisa menjelaskan, kondisi tenggorokan bapak sedang tidak enak." Bapak berkacamata itu berkata dengan suara serak yang menyedihkan. "Iya pak! Bapak istirahat aja!" teriak Lito. Beliau pun hanya tersenyum dan mengangguk. Aku sedang mencari halaman yang akan dikerjakan, ketika Shane merapatkan meja kami. Eh? Aku menoleh, dan mendapatinya tengah duduk memperhatikanku. "Ada apa?" "Gue ga bawa buku paket." Dan dengan enaknya dia menggeser buku milikku hingga berada di tengah meja kami. Ehm. Membuatku canggung. Aku mulai mengerjakan soal nomer satu, dua, tiga, masih lancar. Ketika sampai di nomer delapan, aku menyerit. Stuck. I don't know. Dan ketika kulihat Shane, dia tidur. Aku melotot. Eh asem. Tadi dia bilang mau ngerjain? Kok malahan tidur? Kupukul kepalanya menggunakan pulpen. Dia tidur mulu sih. Diam, tak bergeming. Kupukul lagi kepalanya. Dia menggeliat, dan menoleh padaku dengan mata sayu. "Katanya lo mau ngerjain?" ujarku ketus. Dengan malas dia bangun dari posisi nyamannya dan duduk dengan tegap. Aku melirik bukunya. Dan wow! Udah beres men. 30 soal udah beres!! Dia ini saingan Rose kali ya? "Lo udah beres?" tanyaku tak percaya. Dia mengangguk sambil mengucek matanya. "Bangunin gue kalo lo udah beres ngerjain bab ini ya." ujarnya sambil bersiap untuk posisi tidurnya. "Oh ya, lo bisa liat punya gue." tambahnya. Dia menyodorkan buku latihannya dan kembali tidur. Waw banget dia. Pinter men! ★ Sepulang sekolah, aku memutuskan untuk ke toko buku. Sekedar baca komik yang udah dibuka segelnya sih. Hahaha. "Lo suka komik?" Aku menoleh. Shane. Duduk di sebelahku, di lantai. Ini kebiasaanku, baca komik di lantai toko buku. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Shane. Ngapain dia disini? "Lo ngapain disini Shane?" Dia hanya tersenyum dan menatap handphone miliknya. Aku hanya mengangkat bahu dan kembali melanjutkan bacaku. Kalau udah baca komik, aku bisa sampai lupa pada sekitar. Dan saat kusadar ternyata aku sudah bersandar di pundak Shane sambil sesekali tertawa karena bacaanku. "Mendingan lo beli aja deh tu komik." ujar Shane sambil memainkan poniku. Dih, sejak kapan gue sama dia jadi sedeket ini? "Ga ah. Nanti dibuang sama emak gue. Mending gue baca disini." ujarku. Gue sama sekali ga beranjak dari posisi. Beneran enak nyender di bahunya Shane. Ah dianya juga ga keberatan kok. "Lo bisa naro komik lo di rumah gue. Gue banyak komik di kamar." Gatau kenapa ini Shane masih betah aja maenin poni gue. Eugh. Gapapa. Terserah. "Serius lo punya banyak komik?" tanyaku antusias. Dia mengangguk. "Adek cewek gue demen komik." "Wah asik dong. Jadi pengen ketemu sama dia." Asik banget kali kalo ketemu sesama pecinta komik. "Mau ketemu sekarang?" tanyanya. "Eh?" ★ "Kuburan?" tanyaku kaget ketika motor Shane berenti di pemakaman umum. Dia mengangguk dan melepas helmnya. Tanpa berkata apapun dia langsung turun, dan aku hanya bisa mengikutinya. Ke sebuah pusara yang masih merah dan bertaburan bunga baru. Shane berjongkok dan mengelus batu nisan yang kemungkinan besar adalah adeknya. Tadi dia bilang mau ketemuin gue dengan adeknya kan? "Kirana, kakak bawa temen yang sama-sama suka komik kaya kamu..."ujar Shane lembut. Wow. Gue baru liat sisi Shane yang kaya gini. "Hai Kirana. Aku Chrissy. Kamu bisa panggil aku Sisy. Salam kenal ya." ujarku canggung. Shane hanya menoleh dan tersenyum. Deg. Eh? Apaan nih? Ya ampun! Kemudian yang gue denger adalah Shane yang bercerita tentang bagaimana sekolah, rumah, dan pengalaman yang di dapatkannya hari ini. "Dek, kakak pulang dulu ya. Besok kakak dateng lagi ya." Shane itu... Menurut gue bener-bener kakak yang baik. Gue jadi pengen bener-bener ketemu sama sosok Kirana saat hidup. ★ "Lo sayang banget ya sama adek lo?" tanyaku sambil memainkan ilalang. ashane ngajak gue ke padang rumput yang cukup luas. Gue baru tau ternyata ada tempat setenang ini. Shane berjalan di belakang gue. Gue membalikkan badan. Shane tersenyum. Sumpah dia ganteng men! Kalo dia ga sedingin itu di sekolah, dia pasti banyak yang nembak. Sikap pendiemnya itu loh. "Yaiyalah, dia kan adek gue." Aku hanya tertawa mendengarnya. Bener sih. Hahaha. Aku berjalan mundur agar dapat melihat wajahnya. Terkadang ilalang yng digoyangkan angin membuat tanganku geli. "Adek gue sakit-sakitan sejak kecil. Dia tinggal di rumah sakit. Buat ngilangin rasa bosennya, dia minta beliin komik." jelasnya. Aku manggut-manggut aja mendengarnya. "Dia---" BRUKK Oh no, gue terjengkang. Ga keren banget. Tapi Shane ga ketawa sih. Gue terduduk dan tertawa. "Duh ceroboh gue." ujarku. "Makanya ati-ati dong." kata Shane sambil membantuku berdiri. Ketika sudah berdiri, dia berjalan di sampingku. Dia melingkarkan tangannya di belakang pinggangku. "Biar ga jatoh." ucapnya. Deg. Shane itu. Perlakuannya yang ajaib sukses selalu buat gue terkejut. ★ "Sy, ke toko buku lagi?" tanya Shane setelah bel pulang berbunyi. Gue mengangguk. "Lo mau ikut?" Dia hanya tersenyum dan mengangguk. "Gue tunggu di parkiran ya." Setelah dia menghilang dari balik pintu, aku pun segera bergegas untuk menyusulnya. "Sejak kapan lo deket sama Shane?" Aku terpekik kaget. Tidak sadar sama sekali kalo masih ada Rose. "Rose! Lo ngagetin gue!" Dia hanya terkekeh. "Jawab pertanyaan gue yang tadi." ujarnya sambil bersidekap. "Ga deket amat sih, biasa aja." Rose menaikkan sebelah alisnya. "Tapi yang gue liat ga gitu. Lo sering bareng sama dia sekarang, sering ngobrol juga." Aku hanya terkekeh. "Deket sama tetangga bangku gapapa dong?" "Bokis lo. Bilang aja demen." "Enggak! Gue ga suka sama dia!" sanggahku. "Gapapa kali demen juga. Gada yang larang." Rose tertawa cekikikan. Aku memukul lengannya. "Dibilang gue gada rasa lebih. Cuma sebagai temen aja ish!" "Hahahaha. Terserah deh. Gue duluan ya. Anggie udah nunggu gue di gerbang." Huh, mentang-mentang punya pacar baru. Sombong! Aku hanya melet ke Rose. Kemudian Rose pergi meninggalkanku sendirian. ★ "Lo mau beli buku Shane?" tanyaku ketika melihat-lihat koleksi komik. Dia menggeleng. "Cuma mau nemenin lo doang." "Oh." Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Shane menunduk, dan mengambil suatu buku. "Nih. Tentang apa arti cinta." Di menunjukkanku satu buku. "Kenapa kita menutup mata ketika tertidur? Karena hal terindah tidak terlihat oleh mata. Ketika kita menemukan seseorang yang memiliki keunikan yang sama, kemudian kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa, dinamakan cinta. Cinta, timbul dari rasa nyaman, diantara rasa kasih dan sayang. Perasaan saling menguatkan dalam diri masing-masing. Mencintai... Bukanlah bagaimana kita melupakan, melainkan bagaimana kita memaafkan. Bukanlah bagaimana kita mendengarkan melainkan bagaimana kita mengerti. Bukanlah Bagaimana kita melepaskan, melainkan bagaimana kita bertahan. Bukanlah apa yang kita lihat melainkan apa yang kita rasa. Cinta selalu tak akan pernah bisa diungkapkan dengan apapun yang sesuai dengan kehendak kita, karena bahasa cinta adalah bahasa yang abstrak, bahasa yang hanya akan dimengerti oleh mereka yang peka dan mengenali apa itu cinta..." Aku menatap Shane. "Lo pernah jatuh cinta, Shane?" tanyaku. Dia mengangguk. Entah kenapa hati gue berdetak lebih cepat. "Apa dia bales cinta lo?" Dia terlihat berpikir sebentar. Kemudian tersenyum lembut. Deg. Deg. "Engga. Dia selalu nganggep gue sebagai orang aneh, penyendiri, dan gabisa bedain penyendiri dan mandiri." Aku tertawa mendengarnya. "Masa sih ada yang bilang gitu?" Aku meletakkan buku yang diberikan olehnya di atas rak. "Ada dong." Aku berjalan melewatinya dan dia mengikutiku. Shane itu selalu sabar menemaniku. Dia ga banyak omong. Ga berisik. Tapi peduli. "Siapa tuh yang bilang lo kaya gitu?" tanyaku iseng. "Elo." Aku hanya manggut-manggut mendengarnya. Sepertinya ada suatu hal yang aku lewatkan dari kata-katanya. ★ "Lo nunggu siapa Sy?' tanya Rose sambil membuka payungnya. "Shane. Dia lama banget sih." aku memainkan tetesan air hujan di tanganku. "Mangnya dia kemana deh?" Aku mengangkat kedua bahuku. Rose tersenyum kecil. "Yauda lo yang sabar ya. Gue pulang duluan oke." Aku mengangguk kemudian berjalan kembali ke kelas. Tapi duduk di meja Shane. Mejanya kosong. Dia bilang dia mau ke ruang guru bentar. Tapi dia bawa tas, dan aku disurug tunggu disini. Hmm. Aku menyilangkan kedua tanganku dan meletakkan kepalaku di atas lipatan tanganku. Aku kembali mengingat arti cinta yang kemarin aku baca bareng sama Shane. Apa yang gue rasain ke Andy tu bukan cinta? Hmm. Tau ah bingung! Aku menenggelamkan wajahku di lipatan tanganku. Namun tiba-tiba terdengar suatu kepakan sayap. Aku mendongak, dan mendapati ada burung merpati di depanku. Aku memperhatikannya. Di kaki merpati itu qda gulungan kertas? Aku berjalan sepelan mungkin dan langsung menangkap merpati itu. Kubuka gulungan kecil itu. "Please, keluar kelas. Dari pintu maju lima langkah." Hah? Apaan sih? Karena rasa penasaranku yang tinggi, aku mengikuti petunjuk itu. Saat sampai di tempat berdiri, ternyata ada memo kecil. Kuambil memo tersebut. "Belok kanan! Gue nunggu lo!" Haha. Shane lucu banget dah. Kenapa ga sms aja coba? Aku kenal banget tulisan ini. Tulisan tangan dia. Akhirnya kulangkahkan kakiku, hingga ke tangga, dan mendaoati memo kecil lagi. "Dooh. Naek tangga yah? Okey!" Ish, Shane. Apaan sih. Dengan tertawa kecil gue naek tangga satu persatu. Di setiap tangga ada anak-anak junior yang ga gue kenal. "Kak, buat lo nih." ujar seorang cowok tinggi sambil tersenyum. Dia ngasih gue mawar merah satu tangkai. Gue menerima dengan kikuk. "Whoa, thanks ya." Dan disusul oleh beberapa anak lainnya hingga mawar gue berjumlah sembilan. Ada apaan sih sebenernya? "Kak, dibaca ya." Dan yang terakhir, ada seorang cewek ngasih gue selembar memo. "Udah dapet mawarnya? Ke ruang musik dong! Jangan lama-lama ya!" Sambil tertawa gue melanjutkan perjalanan unik gue. Di depan pintu ruang musik, gue ketemu dengan satu orang cewek junior. "Kak, dipake dong..." Dia menyodorkan tiara padaku. "Hah? Buat apaan?" Dia hanya tersenyum dan membantuku memakaikan tiara tersebut. Setelah aku memakainya, dia pergi. Aku melangkah mendekati pintu ruang musik. Langkahku terhenti ketika sampai di depan pintu. Shane di dalem ya kan? Akhirnya gue masuk ke dalam. Ruangan gelap. Karena yang gue tau ruang musik ini punya gorden dan bisa ditutup. Ga kaya ruangan lainnya. "Shane?" Pas gue melangkah masuk, kaget pake banget. Ruang musik ini udah berubah jadi ruangan yang sangat indah. Lilin-lilin kecil bertebaran di lantai, dan ada beberapa foto kecil yang membuat gue terperangah. Foto gue masih kecil... Bersama dengan cowok... Lagi main putri-putrian... Cowok itu, gue punya fotonya di saku. "Shane?" Gue panggil lagi namanya ketika sudah sampai di tengah ruangan. Disekitar gue bertebaran kelopak mawar. Tiba-tiba Shane keluar dari pojokan, membuat gue terpekik. "Shane! Lo ngagetin gue tau ga?" Dia hanya terkekeh dan melangkah mendekatiku. "Lo inget ga cowok ini siapa?" tanya Shane sambil menunjuk foto-foto yang bergantungan itu. "Gue ga inget namanya, gue cuma inget kalo dia temen yang kebetulan ketemu sama gue di taman. Trus maen bareng." Gue masih memandang bingung. "Lo kenal cowok itu? Apa jangan-jangan......?" Gue memicingkan mata, memperhatikan wajah Shane. "Lo anak kecil itu kan?!" Astaga! Gue buru-buru membuka dompet gue, dan memperlihatkannya pada Shane. "Lo masih nyimpen foto ini?" tanyanya sambil tersenyum. Gue mengangguk. "Sorry, gue ga ngenalin lo. Tapi gimana lo bisa ngenalin gue?" Shane kemudian mengeluarkan selembar foto, seorang gadis kecil. Itu gue. Dan dia membalikkan foto itu. Dibelakangnya ada nama lengkap gue, dan alamat rumah gue. Gue hanya tertawa kecil. Kebiasaan mamaku. Selalu menamai semua fotoku. "Jadi, sebenernya ada apa? Lo sampe repot-repot gini..." ujarku sambil memandang sekeliling. "Gue mau jemput elo..." Ga mungkin dia inget sama janjinya dulu. "Gue inget saat kecil gue berjanji bakalan jadi pangeran lo saat umur kita 16 tahun." ujarnya tersenyum. Gue bener-bener ga nyangka dia inget sama janji dia dulu. Apa ini? Cinta pertama gue dateng ke hadapan gue? Dan gue baru sadar ketika gue baca definisi cinta... Mencintai... Bukanlah bagaimana kita melupakan, melainkan bagaimana kita memaafkan. Semenjak pertemuan itu gue ga pernah lupa akan sosoknya. Gue selalu maafin dia yang ga akan bisa nemuin gue. Bukanlah bagaimana kita mendengarkan melainkan bagaimana kita mengerti. Gue gabisa denger segala perkataan maafnya karena pergi gitu aja, tapi gue nerti dia harus pergi. Bukanlah Bagaimana kita melepaskan, melainkan bagaimana kita bertahan. Selama ini gue ga pernah lepas dari bayangan dia, gue selalu mempertahankan kenangannya. Bukanlah apa yang kita lihat melainkan apa yang kita rasa. Dan selama gue ga pernah liat dia, gue selalu merasakan kehadirannya. Dan sekarang, cinta masa kecil gue ada disini. Berubah menjadi pangeran tampan. Yang selalu menemani dan jagain gue. Gue liat Shane berjongkok dan terdapat sebuah kotak di tangannya. "Jadi, apa lo mau jadi ratu di hati gue?" Aku hanya tersenyum kemudian mengangguk. Dan mengambil kotak dari tangannya. Cincin. Bermata biru, sangat cantik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN