Your Voice

2987 Kata
"Anak-anak, tenang. Kalian kedatangan teman baru hari ini." Ucapan Bu Anne kontan membuat kami menoleh ke arahnya. Dia berdiri bersama dengan seorang lelaki yang menatap kami dengan tampang datar. "Silahkan perkenalkan diri." ujar Bu Anne sambil mundur teratur ke belakang. Aku sama sekali tidak mendengar nama anak baru itu. Yang kudengar adalah bisikan Vivian di telingaku. "Kay, ganteng abis sumpah!" dia menyenggolku terus menerus. Aku masih asik dengan buku kesayanganku. Aku menyebutnya "The Day of Makayla" Well, seperti judulnya. Buku itu menceritakan tentang keseharianku. Bukan buku diary loh ya. Aku mendongak, penasaran juga sama wajah anak baru itu. Matanya. Mata dia tepat menatap di manik mata gue. Dan saat itu gue membeku. Oh, sial. Aku segera menunduk dan mengalihkan pandanganku darinya. Apa-apaan itu? "Silahkan duduk disana, Jayden. Gapapa kan?" Oh namanya Jayden... Aku melirik ke asal suara langkah kaki Jayden. Dia duduk di kursi paling belakang, dekat jendela. Kulihat dia memandang keluar jendela, bertopang dagu. Sepertinya dia bosan. "Kay, liat apaan lo?" senggol Vivian. Aku tersentak kaget dan langsung menoleh ke depan. "Gapapa kok, Vi." ★ Istirahat siang, gue habiskan di atap sekolah. Gue ga terlalu suka kantin, jadi bawa bekel sendiri. Lagi asik meikmati makan, tiba-tiba ada suara berisik. Gue langsung celingukan. Ada tiga orang cowok lagi ngebully si anak baru. "Hei! Kalo lo berani nyentuh dia lebih dari itu, nama kalian bakalan ada di daftar black list Bu Penny!" Bu Penny, dewan keamanan sekolah yang paling menyeramkan. Sekali lo ada di black list-nya, maka lo ga akan hidup tenang selama di SMA. Teriakanku membuat mereka menoleh ke asal suara. Posisi gue yang lebih tinggi dari mereka membuat mereka tidak bisa melihat wajah gue. "Siapa lo?" tanya salah satu dari mereka. "Pergi atau gue laporin guru?" ancamku. "Cih." Akhirnya para berandal itu pergi. Gue segera turun dan mendekati cowok yang babak belur itu. Ck, dasar lelaki. "Kenapa lo ga nyerang balik sih?" Gue bantu dia berdiri, berniat ke ruang kesehatan. Bukannya jawab dia hanya tersenyum. Aneh. Tapi sukses bikin gue jantungan. Gue bantu dia nurunin tangga, sampai ruang kesehatan. Pertama kalinya gue mapah seorang cowok. "Bu Alice?" panggilku pelan ketika sampai di ruang kesehatan. Tak ada jawaban, dan itu artinya gue yang harus ngobatin luka dia. "Lo duduk situ. Jangan gerak." Kutunjuk salah satu kursi, dan dia segera duduk. Setelah peralatan siap, aku berdiri di depannya. "Lo tuh anak baru, udah bikin masalah aja..." ujarku sambil mengelap darah di wajahnya. "Tahan." kataku ketika melihat dia meringis. Aku kembali membersihkan wajahnya dan dia hanya diam, menatapku. Uhh, jadi salting kan gue. "Lo ada masalah apa sih sama mereka?" tanyaku, lagi. Tapi dia hanya diam menatapku. Ni anak ga bisu kan?? "Heh, jawab dong. Diem aja daritadi." Sengaja kutekankan kapas yang berisi alkohol, agar dia tau kalau aku kesal. Hahaha. "Mau gue jawab apa emangnya?" Oh, suaranya. Entah kenapa sangat nyaman di telinga gue. "Ya apa kek. Jangan diem aja. Gue berasa alarm, dicuekin gitu." kataku kesal. Dia hanya tersenyum. Uhh, apaan sih ni anak. Diem aja. Ngeselin tau ga. Dengan secepat kilat aku memberi betadine dan segera menutup lukanya dengan plester. Aku berdiri, mengembalikan peralatan yang tadi kupakai. Aku melirik dia sekilas. "Makasi." ujarku ketus. Aku hendak keluar dari ruang kesehatan, namun dia menahan pintu. Hey, sejak kapan dia berdiri disana? Aku menatapnya lama, bersidekap. "Apa?" kataku kesal. Dia tersenyum. Oh, jangan tersenyum lagi. Ga baik buat kesehatan jantung gue. "Gue cuma mau bilang makasih." "Oh yau--" Tanpa aba-aba, dia manarikku dan menciumku tepat di pipi. Aku terpaku. Mematung. Kulihat dia tersenyum. "Bye bye." Dan diapun ngeloyor pergi dari ruang kesehatan. Sialaaaaaan!! ★ Sesampainya di kelas, gue langsung duduk dan membuka buku. Menulis di sana. No, lebih tepatnya menggambar. "Siapa tuh? Kenapa mukanya bonyok gitu?" Eyy, Vivian kepo. Gue paling males kalo dia udah kepo. "Mau tau aja wey." "Pelit lo. Ga gue kasihtau gosip baru loh." Wah ada gosip baru nih? "Eh eh apaan Vi? Kasihtau dong..." "Nih liat nih liat." Vivian menyodorkan handphone miliknya, dan aku benar-benar terkejut. "Itu si anak baru bukan?" Vivian mengangguk semangat. "Gila keren banget ya suara dia?" ujar Vivian. Gue hanya bisa bengong liat video yang menampilkan Jayden, bersama dengan beberapa cowok lainnya sedang tampil di atas panggung. "Dimana nih dia tampil?" tanyaku penasaran. Vivian terlihat mengerutkan keningnya. "Kalo ga salah di cafe Palm Tree di seberang warung kecil deket supermarket." Aku hanya begumam tak jelas. Tapi serius, suaranya keren banget. Suaranya tuh bener-bener kaya musik. Mengalun indah dalam kepala gue. Dan sekarang gue tau kenyataannya. Dia vokalis. Ckck. "Tuh, Jayden dateng." senggol Vivian. "Hmm." gue hanya bertopang dagu sambil menulis-nulis ga jelas. "Kok muka dia bonyok sih?" ujar Vivian. Aku mengerang kesal. "Tanya sendiri lah sama dia." ujarku ketus. ★ Sudah dua minggu berlalu sejak hari kepindahan Jayden, dan dia sangat sulit bergaul. Itu sih yang kuperhatikan. Sebenarnya banyak yang mau berteman dengannya, tapi dia terlihat menghindar. Entahlah aku juga bingung. Seperti sekarang, dia diajak main bola oleh anak lelaki yang lain. Tapi dia hanya tersenyum dan ngeloyor pergi. "Hey, Jayden." sapaku sambil membawa beberapa tumpuk gorden di tangan. Dia berbalik, dan menaikkan sebelah alisnya. Seakan berkata "Apa?" "Kelas kita kebagian piket ruang kesehatan. Lo cuci gorden ini ya." ujarku sambil memberikan setumpuk gorden. Dia menatap tumpukan gorden itu kemudian melirikku. "Makasih, Jayden." kataku sambil nyengir dan ngeloyor pergi. Yah, aku coba untuk berkomunikasi dengannya. Aku berharap dia mendapatkan teman. "Lo ngapain sih Kay kayanya perhatian banget sama si anak baru itu?" Gue hanya tertawa sambil menyedot s**u stoberi kesukaanku. "Dia selalu sendiri, Vi. Kasian gue." ujarku sambil tersenyum. "Lagian dia sendiri toh yang sombong. Gamau diajak ngomong. Mungkin karena kita orang desa jadi dia gamau temenan sama kita." Vivian bercerita dengan berapi-api. Gue hanya bisa tertawa mendengarnya. "Jangan-jangan lo bales dendam karena dia sering garingin lo? Secara lo anak teladan disini. Gada yang pernah garingin lo." tebak Vivian. Dan gue kembali tertawa keras. ★ "Mana gorden ruang kesehatan yang tempo hari gue minga cuci?" tagihku ke Jayden. Jayden yang tengah asik duduk sambil mendengarkan lagu langsung menoleh. "Mana?" tanyaku sambil menengadahkan tanganku di depannya. Kulihat dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu. Kemudian meletakkannya di tanganku. Sebuah kotak. "Apaan nih? Ini bukan gorden ruang kesehatan." ujarku kesal. Dia hanya tersenyum miring. "Buat lo." Hah? Buat gue? Kubuka isinya, dan terdapat gantungan handphone yang cantik. Gue tersenyum ngeliatnya. Manis banget, sumpah. Kay, kembali ke alam sadar! Gue menggeleng dan menyodorkan kotak itu padanya. "Gue minta gorden, bukan ini." kataku sambil bersidekap. "Gue lupa." Eugh, segala lupa. Ntar kalo ditanyain sama bu Alice gimana? Untuk menjaga kebersihan ruang kesehatan, setiap kelas akan mendapatkan giliran. "Fine. Besok jangan lupa bawa. Oh ha sekalian ambil kapur di ruang penyimpanan. Kapur kelas kita abis." kataku sambil memandangnya. "Kenapa harus gue?" Kenapa ya? Gue berdehem. "Karna memang lo yang lagi nganggur." Dia menatapku dalam. Oh tidak, jantung gue. "Oh, yauda. Makasih." ujarku ketus. Bilang aja kek kalo gamau. Jangan garingin gue kaya gitu. Gue berbalik dan hendak keluar kelas. "Makayla!" Gue menoleh, dan mendapati Jayden memanggilku. Gue berbalik dan menatapnya dalak posisi diam. Anak-anak sekelas tak ada yang berbicara, mungkin ingin tau apa yang akan anak baru ini lakukan. Dia melayangkan tangannya. Apa? Apa dia mau nampar gue? Kututup mataku keras, namun yang terjadi adalah tangannya sudah bertengger di pundakku. "Lo mau jadi pacar gue?" Eh? Apa dia bilang? Pacar? Gue diem, sekelas apalagi. Gada yang gerak kali. Gue telusurin matanya, dan gue ga liat adanya keraguan. Gue menelan ludah. "Ya." Seketika kelas langsung bersorak rame dan aku berjalan keluar kelas, menuju ruang penyimpanan. Apa yang baru terjadi? ★ Sekembalinya dari ruang penyimpanan, gue mendapati.sevarik kertas di meja gue. "Dari siapa?" tanyaku pada Vivian. "Dari pacar, whohoooooo~" ujarnya sambil menaik turunkan kedua alisnya. Aku memutar mata kesal. _________________________ Nanti pulang bareng ya. Jayden. _________________________ Aku memutar kepala, dan mendapati Jayden yang tengah tertidur di atas tumpuan kedua lengannya. Ngapain sih dia? Bentar lagi kan kelas dimulai. Akhirnya aku berdiri, dan berjalan mendekatinya. "Cieee pasangan baru cieee!" sorak Andien yang duduk di belakangku. "Cie mau nyamperin ya!" itu suara Ario. Dan berbagai macam suara ejekan lainnya. Akupun duduk di bangku sebelah Jayden yang kosong. Gue guncang bahunya. "Eh bangun. Bentar lagi kelas di mulai." Dia tidak bangun, namun wajahnya dimiringkan sehingg aku bisa melihat matanya. "Apa?" kataku saat dia menengadahkan telapak tangannya. "Handphone." Aku menyerit bingung. "Buat apa?" tanyaku lagi. "Mana?" Ck. Dengan kesal aku merogoh saku dan memberikan apa yang diinginkannya. "Kayla! Mendingan tu hape buat gue aja!" celetuk Aldo. Aku ganya tersenyum menanggapinya. Kulihat Jayden membelakangiku. Ngapain nih anak? Saat berbalik, dia meletakkan handphone milikku di atas mejanya. Dan ternyata disitu sudah ada gantungan handphone yang sempat dia mau berikan padaku. Oh, ternyata... Aku berdehem. "Makasi ya." Dia hanga mengangguk tanpa mamandangku. "Cieeeee dapet hadiah dari pacaaar!" teriak anak-anak. Gue hanya diam. "Oh ya, nanti lo pulang duluan aja." Dia menoleh padaku. Seakan bilang "Kenapa?" "Nanti gue ke ruang guru, lo ga usah tunggu." Tanpa mendengar jawabannya, gue langsung kembali ke bangkuku. ★ "Kan gue bilang lo ga usah tunggu gue, Jayden." ujarku ketika menemukan Jayden sedang berdiri di depan ruang guru. Sambil menenteng tasku. Dia hanya tersenyum dan memberikan tasku. Kami berjalan berdua, tak beriringan. Aku berjalan di depannya. Dia hanya diam berjalan di belakangku. Sudah setengah perjalanan menuju rumah, dan sekarang aku sedang melompat di pijakan batu sungai. Jembatan yang berdiri kokoh itu runtuh tadi malam saat ada hujan besar. Jadi kita harus melewati pijakan batu di sungai untuk melewati sungai. Jayden berjalan di depanku. "Jayden, lo diem aja." ujarku iseng sambil melompat. Dia terdiam, kemudian menoleh. Dan tersenyum. Kemudian dia kembali berbalik. Aneh. "Aw." Aku kurang keseimbangan, dan hampir saja terjatuh. Jayden terlihat kaget dan mengulurkan tangannya. "Pegang. Biar ga jatoh." Jayden itu kalo ngomong ngirit banget. Vokalis padahal. Ckck. Aku menyambut uluran tangannya, dan kami melompat dengan perlahan. Sampai di depan rumahku, kami tetap bergandengan. Namun dia melepasnya ketika kami tepat berada di depan gerbang rumahku. "Hati-hati." ujarku ketika dia akan pergi. Dia berbalik sebentar dan menepuk kepalaku. "Makan ya banyk biar cepet tinggi." Aku hanya bengong ketika dia mengatakan itu. Ih! Reseeee!! ★ Ujian sebentar lagi akan dimulai. Aku sangat super sibuk. Ibuku selalu memintaku untuk belajar dan jangan kebanyakan main. Dan itu artinya, pulang sekolah harus pulang ke rumah. Dan ujungnya, aku jarang menghabiskan waktu bersama Jayden. Sebenarnya hubungan kita ini agak aneh. Kita pacaran, tapi diantara kita tak pernah ada kata suka, cinta, atau sayang. Jayden juga begitu. "Lo sadar ga sih kenapa Jayden nembak lo?" pertanyaan Vivian membuatku menoleh. "Kenapa Vi?" "Dari gosip yang gue denger, dia nembak lo karena pengen eksis. Lo kan anak teladan, siapa sih yang ga kenal sama lo?" Mmh, emang bener sih kata Vivian. Siapa yang ga kenal sama gue? Entah kenapa pembicaraan tadi siang gue sama Vivian teringang di kepala gue. Apa bener Jayden nembak gue cuma pengen manfaatin gue? "Hey, waktu itu apa yang jadi alasan lo biat nembak gue?" tanyaku ketika kami sedang berjalan berdua. Hari ini hujan, dan aku harus berbagi payung dengan Jayden. "Lo juga waktu itu kenapa nerima gue?" "Kan gue yang nanya duluan." ujarku kesal. "Tapi jawaban dari pertanyaan gue itu pneting." ujarnya dengan sebelah alis yang dinaikkan. Gue berdecak kesal. Gue geser payung yang kami pegang hingga pundak dia terkena ttesan air hujan. "Tapi pertanyaan gue lebih penting." ucapku. "Mau banget gue kasihtau?" ujarnya sambil tersenyum miring. Dia menarik kembali payungnya. Menyebabkan gue basah. Dan dengan kesal gue mepet ke arahnya. "Jayden gue basaaah!!" teriakku kesal. Lo mah ngeselin banget Jayden!! Dia hanya terkekeh. "Mau tau banget?" tanyanya, lagi. Bodo, gue ga peduli. Dan yang gue sadar adalah payung yang menutupi kami berdua semakin rendah, dan dia membisikkan sesuatu. "Rahasia." Kemudian ada sesuatu yang lembut menempel pada bibirku. Jayden, menciumku. Di bawah pohon pinus dan gemerisik air hujan. ★ Semenjak kejadian itu, gue mulai menjauhi Jayden. Ugh, aku merasa gimana gitu kalo inget tentang itu. "Kay, ini buku yang lo pengen waktu itu." ujar Raihan. Gue mendongak dan tersenyum. "Makasi, Han." Dia mengangguk dan tersenyum sekilas. "Oh ya, beneran gosip yang beredar kall Jayden punya pacar cantik dan pinter?" tanya Raihan. Gue tertawa. Tau dari mana dia? "Tau dari mana lo?" tanyaku. "Siapa sih yang gatau tentang gosip di desa kecil kaya gini?" Gue hanya tertawa, lagi. Sebenernya ga lucu. Tapi, entah kenapa gue ngerasa canggug. Ternyata dari jauh gue bisa liat Jayden menatap gue dan Raihan dengan intens. Gue jadi kikuk sendiri. "Kay, gue ke kelas dulu ya." Gue mengangguk. Dan ketika Raihan pergi, Jayden duduk di bangku Vivian. Gue diem. Dia juga diem. Entah kenapa ada rasa aneh. "Siapa?" tanyanya singkat. Aku tergagap sendiri. Kikuk banget sumpah. "Raihan. Kelas sebelah." Setelah itu gada pembicaraan apa-apa. Jayden hanya menatapku dan aku hanya duduk diam sambil membaca buku. Tidak membaca sebenarnya, hanya menunduk dan membalikkan halaman demi halaman. Tiba-tiba gue keinget kejadian Jayden memeluk seorang cewek yang gak gue kenal. Anak sekolah sini. Entah kenapa kepala gue mendidih saat mengingatnya. Akhirnya gue berdiri, dan berlari keluar kelas. Menuju toliet. Di dalam bilik toilet aku berteriak sepuasnga "Sialaaaaan! Sebenernya perasaan dia ke gue gimanaaa? Dia cuma mainin perasaan gue kan?!" ★ Aku bolos pelajaran untuk pertama kalinya. Dan itu karena kepikiran Jayden. Apa aku gila? Kuacak rambutku kesal. Aku hanya ingin tau apa alasan Jayden menembakku. Apa alasan dia menciumku. Lalu apa maksudnya pelukan itu? Aku super kesal. Hingga aku beberapa hari ini menghiraukannya. Biarlah. Nanti juga dia sadar sendiri kenapa aku begini. Ketika sampai di kelas, ternyata sudah tidak ada orang. Aku menghela napas, Jayden juga ga nunggu aku. Yaudahlah ya. "Test test, satu dia tiga." Eh? Siaran radio di jam segini? Udah sepi kali. Gada orang. Aku berjalan ke bangkuku. "Ehm. Gue cuma mau minta maaf ke elo, Makayla." Eh? Jayden? "Gue sebenernya ga ngerti kenapa lo nyuekin gue akhir-akhir ini." Akhirnya lo sadar juga kalo akhir-akhir jni gue garingin elo. "Tapi gue ngerasa kehilangan lo." Deg. Beneran? "Gue tau gue utang penjelasan. Dari semua kejadian kita. Tapi gue harap lo mau denger lagu yang gue bawain sekarang." Sebenernya gue masih kesel, dan beranjak pergi. "Gue harap lo ga pergi, Makayla." Oke, gue diem di tempat. Kemudian gue mendengr alunan gitar. "Your hand fits in mine Like it's made just for me But bear this in mind  It was meant to be  And I'm joining up the dots with the freckles on your cheeks  And it all makes sense to me" Saat itu entah kenapa gue inget saat dia gandeng tangan gue pertama kalinya. Benar, tangan gue terasa pas di genggamannya. "I know you've never loved  The crinkles by your eyes  When you smile  You've never loved  Your stomach or your thighs,  The dimples in your back at the bottom of your spine  But I'll love them endlessly" Gue ingat saat kami saling bersitatap di hari pertamanya masuk. Ada gelenyar aneh dalam diri gue. Saat dia tersenyum, gue gabisa napas. "I won't let these little things slip out of my mouth  But if I do It's you  Oh, it's you they add up to  I'm in love with you  And all these little things" Deg. Apa bener dia cinta sama gue? "You can't go to bed without a cup of tea  And maybe that's the reason that you talk in your sleep  And all those conversations are the secrets that I keep  Though it makes no sense to me" Pembicaraan gue dengannya selalu menjadi harta karun berharga bagi gue. Suaranya, selalu terngiang di kepala gue. Dia yang pendiem dan selalu nemenin gue kemanapun. "I know you've never loved  The sound of your voice on tape  You never want  To know how much you weigh  You still have to squeeze into your jeans  But you're perfect to me" Sekarang gue mengambil tas dan bergegas keluar kelas. Berjalan menuju ruang siaran radio. "I won't let these little things slip out of my mouth  But if it's true It's you,  It's you they add up to  I'm in love with you  And all these little things" Oh, ya. Gue berlari,menuju ujung lorong. "You'll never love yourself half as much as I love you  And you'll never treat yourself right,darling, but I want you to.  If Ilet you know I'm here for you  Maybe you'll love yourself like  I love you,oh." Iya Jayden. Lo selalu berada di sisi gue. Gue inget saat anak-anak ngolok gue dibelakang gue karena sikap gue yang semena-mena. Gue benci menjadi diri gue. Gue ingin menjadi kalian, menjadi orang biasa. Tidak menjadi pusat perhatian. "And I've just let these little things slip out of my mouth  'Cause it's you,  Oh, it's you,  It's you they add up to  And I'm in love with you  And all these little things" Gue berhenti tepat di depan ruang radio. Mengatur napas yang terengah. Apa Jayden di dalem? "I won't let these little things slip out of my mouth  But if it's true  It's you, It's you they add up to  I'm in love with you  And all your little things" *Little Things by One Direction Alunan lagu berhenti. Gerakan gue membuka pintu terhenti karena perkataannya. "Makayla? Lo denger? Gue cinta sama lo." Dan gue nangis. Air mata gue turun gitu aja. Pertanyaan gue terjawab. Dengan cepat gue membuka pintu ruang siaran dan mendapati Jayden tengah duduk di lantai. Dia teraenyum lebar ke arah gue. "Hai." sapanya. Gue mendekat. "Lo kok belom pulang?" tanyaku setelah menghapus air mataku. "Gue nungguin elo." ujarnya. "Lo cinta sama gue?" tanyaku frontal. Sekarang aku sudah duduk tepat di depannya. Dia hanya tersenyum dan menggaruk tenguknya. "Yah, gue pikir gue harus jelasin ke elo. Selama ini gue cuma diem aja, sesukanya ke elo." Dia mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan foto cewek. Cewek yang dia peluk waktu itu. "Ini adek gue." ujarnya terkekeh. Eeeh jadi selama ini gue cemburu sama adeknya? Bego bangeeeet! hahahaha. "Jadi? Gimana? Masih marah?" tanyanya sambil tersenyum. Gue menggeleng dan tersenyum. Kemudian memeluknya erat. "Gue ga pernah bisa bener-bener marah sama lo. Gue cinta lo, Jayden. Rese lo ah." bisikku tepat di telinganya. Dia membalas pelukanku dan tertawa geli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN