Perfect Couple

3165 Kata
Nama gue Aileen. Dibaca Ailin, bukan Alien. Gue senior, dan gue adalah salah satu cewek most wanted di sekolah. Nilai gue rata-rata sembilan. Wajah gue? Sempurna. Kata anak-anak, tatapan mata gue bikin orang stuck ngeliat gue, ditambah dengan bulu mata yang lentik. Bibir gue kecil, merah tanpa harus pake lipstick. Rambut gue ikal, lebat, hitam lembut. Pokoknya gue bener-bener sempurna, di LUAR. Tapi orang lain gatau gimana DALEM gue. Gue muak dengan segala kepopuleran ini. "Hai, Aileen." sapa Rosalie. Dia cantik, pake banget. "Hai, Rose. Ada apa?" tanya gue to the point. "Gue denger lo pacaran sama Nevan? Apa bener?" Gue hanya tersenyum dan mengangguk. Rosalie memainkan ujung rambut ikalnya. "Dia hot banget tau ga. Gila, gue pengen banget jadi pacar dia." Gue mengalihkan pandangan ke arah lapangan basket. Tempat Nevan menghabiskan waktu istirahatnya. Tapi gue ga menemukan dia. Jujur aja, gue paling males dengerin omongannya Rose. "Hai dear." Itu suara Nevan. Dia udah merangkul gue dan mengecup kening gue sekilas. Kemudian tersenyum ke Rosalie. "Hai, Rose." Rosalie tersenyum sumringah dan melambaikan tangannya. "Hai Nevan!" Tapi pandangan Nevan kembali padaku. Dia merangkulku dengan mesra, dan anak-anak di sekitar kami langsung memperhatikan kami. "Kamu nungguin aku ya? Ayo kita makan. Aku juga laper tau." ujarnya sambil mengambil kotak bekal milikku. Aku tersenyum dan menggeleng. "Gak kok, asalkan aku bisa bareng kamu aku rela nunggu berapa lama juga." "So sweeeet!" "Romantis abis!" Yeah, we're a 'Perfect Couple'. Itu yang mereka katakan saat melihat kami. Nevan, cowok cakep dengan tubuh atletis dan wajah imut. Namun tegas. Suaranya, berwibawa. Kalo lo liat dia senyum, lo bakalan melted. Tapi gue lebih suka dia ketawa lepas daripada senyum. Dan dia juga salah satu most wanted di SMA Pelita Harapan. "Gue ngantuk!" ujar Nevan sambil bersandar pada dinding. Gue sama Nevan lebih sering menghabiskan waktu di atap saat makan bekal kami. Lebih tepatnya bekal gue. Karena dia ga pernah bawa bekel. Dan ujungnya pasti kita makan berdua. "Tidur lah. Dasar lo kebo." ujarku sambil menyeruput jus pisangku. "Pinjem dong. Pengen tidur nih." ujarnya lagi sambil menarikku mendekat. "Ih apaan sih! Ga usah cari kesempatan deh! Gue kan bukan pacar lo!" Ehm, ada yang perlu gue kasihtau ke kalian. Kita cuma pura-pura pacaran. Karena gue dan dia sama-sama udah capek ditembak terus tiap hari. Lumayan, semenjak gue pacaran sama dia yang nembak ga terlalu banyak. Diapun begitu. "Yaelah. Bentar doang. Pelit banget sih." ujarnya, seraya berbaring dipangkuanku. Ahh, whatever deh. Nevan menutup matanya, dan gue memandang langit biru. Cuaca cerah, enak banget kayanya kalo jalan-jalan. "Gue kesel banget sama Nico. Maen body banget dia di lapangan." Kualihkan pandanganku mengarah ke Nevan. "Nico?" tanyaku. Dia mengangguk dan menunjukku. "Mantan lo." Gue nampol tangannya. "Asal jiplak aja lo. Gosip itu." Dia membuka matanya, dan menaikkan sebelah alisnya. Gue memutar mata. "Oke. Waktu itu gue salah. Otak gue lagi di mars, jadi ga sengaja gue nerima dia." "Intinya lo mantannya dia." "Jijik gue." "Mantan sendiri kok jijik." Ni anak kok ngeselin sih? Ah, emang udah dari orok dia mah nyebelin. Gue menggeser posisi duduk, sehingga kepala Nevan terjatuh ke lantai. Sehinhga terdengar bunyi gedebug yang menyakitkan. "Mampus." ujarku sadis. Dia meringis kesakitan. "Kalo fans lo tau kelakuan lo kaya gini, mereka pasti ilfeel sama lo." ujarnya sambil mengusap kepalanya. "Lo juga kali. SOK KEREN PADAHAL ABAL." Hahaha. "Ah, udah deh. Sesama pembohong ga usah menghina." gue mendengus kesal saat dia bilang gitu. In fact, gue ga seanggun yang orang-orang liat. Dan Nevan ga sedingin yang lo pikirin. Jadi, kita bisa jadi diri kita sendiri saat kita hanya berdua. Seperti saat di atap seperti ini. ★ Saat bel masuk berbunyi, gue dan Nevan langsung cabut ke kelas. Kebetulan kelas kita sebelahan, jadi gampang kalo mau ketemu. "Bye, sayang." ujat Nevan sambil mengacak rambutku gemas. "Bye sayang. Belajar yang serius ya. Jangan kepikiran aku." ujarku sambil tersenyum. Nevan mengangguk dan sejali lagi mengacak rambutku gemas. Akj hanya terkekeh, dan diapun berjalan menuju kelasnya. Gue baru melangkah masuk ke dalam kelas ketika punggung Nevan ga keliatan. "Ciee yang abis pacaran." goda Audy. Aku hanya tertawa kecil. "Apaan sih. Biasa aja kali." Setelah gue duduk manis di kursi, Audy mengintrogasiku. "Kenapa sih lo nerima dia?" tanyanya. Gue sama Nevan baru jadian sekitar dua minggu. "Dia baik, jago basket, orangnya tegas. Gue suka." ujarku sambil mengangguk. "Doooh!! Itu mah umum banget! Yang lain dong!" Memang, dia dikenal dengan seperti itu. Baik, jago basket, dan tegas. Tapi ga banyak omong. "Dia… Romantis?" ujarku ragu. Gue liat mata Audy berbinar. Pasti dia bakalan nanya lagi. Sialan, gue salah omong. Gue menghela napas. "Gimana gimana romantisnya?" tanyanya antusias. "Dia suka ngasih gue bunga pas pulang sekolah…" itu bunga sebenernya dari cewek yang nembak dia. Karna dia males buang, gue deh jadi tong sampah. "Trus trus?" tanya Audy lagi. "Kita suka makan es krim semangkuk berdua…" sebenernya mah, dia sering ninggalin dompetnya. Jadi dia minta es krim gue. "Wuaaaa! Kalian romantis ya!" teriak Audy. "Iya! Romantis ya!" Ini kenapa jadi pada ngumpul gini? Malesin kan -,- "Eh udah dateng tuh gurunya!" tunjukku. Dengan rusuh mereka langsung kembali ke habitatnya masing-masing. "Tapi boong!" ujarku sambil terkekeh. "Ih! Iseng ya lo!" teriak Audy. Gue berdiri, dan berjalan keluar. Menuju toilet. Koridor tampak sepi, pasti karena bel sudah berbunyi. Saat melewati kelas Nevan, aku melirik dan mendapatinya tengah melamun. Dasar males! Di kelas aja bengong mulu! Nevan duduk di bangku dekat jendela, jadi aku mudah menemukannya. Kugeser layarku dan membuka line. Aileen: Lo ke sekolah mau belajar apa bengong?! Nevan tampak kaget dan melirik guru. Kemudian merogoh sakunya. Ketika dia menemukan benda kecil elektronik itu, dia langsug membuka pesan dari Aileen, dan tertawa kecil. ★ Gue lagi asik ngaca, tiba-tiba ada air yang jatuh dari langit. LANGIT-LANGIT KAMAR MANDI. Ini bukan ujan. Sialan. Ada yang mau main-main sama gue?! Dengan cepat gue keluar kamar mandi dan mencari pelaku dari kekejaman itu, tapi tak ada siapapun. Gue menghentakkan kaki ke lantai. "Sial!!" desis gue. Gue bakalan bales siapapun itu, lebih kejam. Siapa sih otak dari semua ini? Kampret banget. "Aileen?" Gue terpaku di tempat. Itu suara Nevan. Gue berbalik badan, dan mendapati Nevan memandangku dengan tatapan aneh. "Hai, Van." ujarku sambil nyengir. Dia memperhatikanku dari atas sampai bawah, kemudian naik lagi ke atas. "Lo… Ngapain?" tanyanya. Gue mendengus kesal dan meremas rambutku, untuk mengurangi air. "Abis berenang." ujarku ngasal. Tiba-tiba tangannya mendekatiku,kemudian menjitak kepalaku. Aku meringis sakit. "Apaan sih lo ah." Dia hanya diam dan tiba-tiba aja melepas kemejanya. Jadi dia cuma pake kaos oblong. "Eh lo ngapain?!" pekikku. "Berisik banget deh ah." katanya. Kemudian dia menyampirkan kemejanya di pundakku dan merapatkannya. "Pake. Nanti lo masuk angin." ujarnya. Gue hanya mengangguk dan menatap lantai, dengan rambut yang masih ada tetesan air. "Kok lo ga belajar sih?" tanyaku ketika dia menggandengku menjauh dari toilet. "Males." ujarnya singkat. "Dasar lo." disusul dengan tawaan kecil karena mendengar ucapannya. Sesampainya di kelasku, Nevan langsung mengetuk pintu dengan sopan. Dan keluarlah Ibu Nana. "Eh Nevan, seragam kamu mana?" tanyanya sambil membetulkan letak kacamata. Ih, si Nevana ngapain ke kelas gue? Anak-anak sekelas memperhatikan kami sambil berbisik-bisik. "Maaf bu, saya mau izin buat nganter Aileen pulang." ujarnya sopan. "Loh mangnya Aileen kenapa?" tanya si Ibu lagi. Nevan bergeser, memberikan ruang agar bu Nana melihatku. Mata Bu Nana membulat besar dan mulutnya menganga. Lebay banget Bu Nana. "Kamu kenapa Aileen?!" pekikinya. Kelas tambah rame. Ketika aku akan menjawab, Nevan yang menjawab duluan. "Ada orang yang tak bertanggung jawab melakukannya bu." Bu Nana tampak terkejut dengan penuturan Nevan. "Bagaimana Bu? Kami boleh ngambil tas Aileen?" Akhirnya bu Nana mengangguk dan memberi jalan padaku dan Nevan. Sesampainya di bangkuku, aku langsung membereskan peralatan sekolahku. Dibantu Nevan. "Lo kenapa Lin?" tanya Audy sambil memperhatikanku dengan bingung. Gue hanya mengangkat bahu, kemudian pamit pada bu Nana. Kami berjalan menuju kelas sebelah, kelas Nevan. Dia juga minta izin pulang ternyata. Ya ampun Nevan. Elo mah emang dasarya males belajar. ★ Keesokan harinya saat aku membuka loker, terdapat selembaran surat yang terjatuh. Biasanya gue dapet surat warna pink atau baby blue. Tapi in kok warna item? Dengan wajah penasaran gue membuka surat tersebut. Betapa kagetnya gue karna ada tulisan segede gaban warna merah, kaya ditulis pake cat warna gitu. MATI KAU! Anjrot. Siapa nih yang nulis surat iseng kaya gini? Ga lucu banget tau ga. Horor. Ada apaan sih sama sekolah ini? "Hei!" Seseorang menepuk pundakku, mendadak aku teriak kaget dan langsung memukul orang itu dengan tempat pensil di genggamanku. "Pergi lo setan! Pergi!!" teriakku sambil memukul siapapun itu. "Sayang! Sayang! Ini aku!!" "Jangan ngaku-ngaku deh lo! Lo yang ngirim surat itu kan?!" teriakku frustasi. "SAYANG! INI AKU PACAR KAMU! NEVAN!" Eh? Nevan? Setelah mendengar dengan jelas, ternyata benar itu suara Nevan. Dia terlihat meringis kesakitan memegang kepalanya. Doooh, gue ngapain sih?! "Van! Ya ampun aku minta maaf. Beneran ga sengaja." ujarku sambil memegang wajahnya, kemudian berganti memegang kepalanya. Nevan menangkap tanganku. "Doooh. Iya aku gapapa sayang. Kamu ngapain sih dipanggilin ga nengok-nengok? Di deketin malahan nabok." cerocosnya. Aku hanya terkekeh. "Kamu abis dapet surat?" tanyanya sambil merampas surat hitam di tanganku. Pandangan Nevan yang biasanya jenaka dan lembut saat di hadapanku berubah menjadi gelap. Dia meremas surat itu dan membuangnya sembarang tempat. "Van? Kok dibuang sih?" tanyaku sambil menyentuh lengannya. Dia melirikku. "Ngapain kamu nyimpen surat kaya gitu?" Iya sih, tapi kan… "Itu kan bisa jadi bukti. Aku bisa laporin ke kepala sekolah." Nevan yang sedang menggandeng tanganku menoleh dengan cepat. Dia mengelus pipiku lembut. "Sayang, pihak sekolah mana mungkin ngurusin hal kaya beginian." ujarnya. "Biar aku yang ngurus ini semua." Eugh. Cara Nevan ngomong serem banget. Baru kali ini gue denger. Apa Nevan marah? "Kamu kenapa Van? Ga biasanya kamu gini." tanyaku pelan. Bukannya ngejawab, dia malahan mengelus pipiku pelan dan mengecupnya cepat. "Kamu kan pacar aku. Masa aku diem aja pacarku diginiin?" ujarnya sambil tertawa kecil. Tawa yang sangat aku suka. Doooh Nevan. Akting lo bagus bener dah. Pantesan anak-anak pada ngiri liat kita pacaran. Gue tertawa kecil. Wajah gue terasa panas. Astaga kenapa ini? "Aduh sayang sama aku masih aja malu gitu. Bikin aku pengen nyium lagi deh." ujarnya usil. Aku memukul lengannya dengan keras. "Aw." dia meringis sakit, membuatku tertawa. "Udah ah, ayo ke kelas." ujarku sambil memeluk lengannya. ★ Hari ini aku pulang telat, karna kedapatan piket kelas. Nevan sudah kusuruh pulang daritadi, tapi gatau deh tu bocah masih ada di sekolah apa engga. "Aileen. Lo bawa ini ke belakang ya." ujar Merlin. Gue menagangguk dan menghampiri dia yang membawa tong sampah kecil milik kelas yang penuh oleh sampah makanan. Di koridor udah sepi, tinggal gue dan beberapa cewek yang lagi ngobrol. Pas gue mendekat, tatapan mereka tuh ga banget. Kaya orang kelaperan yang nemu daging rendang tau ga. Iya, kaya gitu. Napsu abis. Salah satu diantara mereka menyengkat kaki gue. Untung gue punya keseimbangan yang bagus. Jadi gue ga gampang jatoh. Hahaha. "Maksud lo apa?" tanya gue sambil tersenyum. "Heh Alien. Ga usah sok kecantikan deh lo karna jadi pacar Nevan." Gue mengangkat sebelah alis. Oh ini fans Nevan ya? Gue yakin beribu-ribu persen kalo mereka ikut anggota "HateAlien" Ehm, namanya emang aneh. Itu maksudnya Aileen. Alien itu Aileen. Banyak orang yang kagum sama gue, tapi ga sedikit juga yang benci sama gue. Apalagi setelah gue jadian sama Nevan. Beuh, klub "HateAlien" itu makin rame aja penduduknya. "Sorry. Gue udah cantik, jauh sebelum gue kenal sama Nevan." Gue liat ketiga cewek ini mendengus kesal dan kemudian menjambak rambutku. "Sakit woy!" teriakku. "Gila lo. Laga lo senga' banget. Lo pikir lo siapa di sekolah ini?" tanyanya sengit. Gue tau dia. Anak jurusan bahasa. Centil, sok cantik, sok berkuasa karna bapaknya donatur terbesar di sekolah ini. Tapi sayangnya otak dia di bawah rata-rata. Gue menangkis tangannya, hingga dia meringis kesakitan. "Lo gatau gue? KASIAN. Nih ya, gue kasihtau." ujarku sambil menyisir rambutku pake jari tanganku. "Gue itu cewek yang mendapatkan kemenangan berturut-turut dalam tiga tahun terakhir kompetisi sains nasional." Dia diam, gue lanjutin omongan gue. "Gue juga berasal dari keluarga terpandang dan tau kesopanan. Ga kaya lo, punya banyak duit tapi kelakuan kaya anak ga berpendidikan." Dia menggeram, wajahnya memerah menahan marah. "Lo jangan seenaknya ya ngatain Anne!" ujar si kacamata dengan pipi mulus. "Gue ga ngatain. Itu kenyataan." kataku sambil tersenyum manis. Kemudian gue ngambil tong sampah yang sempat terjatuh, dan bersiap melangkah. "Gimana rasanya air cucian kantin?" Eh? Gue berbalik, dan menatap dengan alis sebelah terangkat. Cewek yang namanya Anne itu tersenyum licik. "Katanya anak pinter. Kejadian kemarin aja udah lupa! HA-HA!!" OH. JADI DIA PELAKUNYA. OKE. Gue berjalan mendekat ke arahnya, dengan tong sampah yang gue geret sedaritadi. Dengan santai gue mengangkat tong sampah itu tepat di depan wajahnya dan membuka tutupnya. "Makan yang banyak ya biar otak lo pinter." ujarku ketika sampah makanan basah dan kering sudah menempel di wajah dan seragamnya. Dia pikir gue takut karna dia anak donatur terbesar? Dia salah besar. Karna gue ga akan pernah takut pada siapapun kecuali Tuhan. ★ Tapi gue salah. Saat ini gue lagi ketakutan setengah mati. Gue lagi disekap sama siapa gue gatau, dan sekarang di depan gue ada tiga orang preman yang badannya segede gaban. Gue takut banget bakalan diapa-apain sama mereka ini. Jadi gini ceritanya, setelah gue buang sampah ada beberapa orang ga dikenal menghampiri gue dan langsung bius gue. Sumpah horor abis. Apa ini ada hubungannya sama surat yang gue temuin tadi pagi? Tapi siapa yang kejam ngelakuin ini? Tangan gue diiket sama tali rapia, sakit banget. Perih. Sedangkan mulut gue disumpel sama saputangan bau asem. Gue curiga ini saputangan abis dipake buat ngelap ketek mereka. Huaaa emaaaak!! "Enaknya diapan nih Ton!" ujar salah satu yang megang pisau. "Body-nya bagus men, kita pake aja rame-rame." ujar si botak. Astaga… Tuhan tolong… Gue meronta, berusaha agar tali rapia yang mengikat tanganku bisa longgar. "Hei cantik. Jangan gerak-gerak dong. Gue kan jadi tambah pengen." ujar satunya lagi yang pake anting. Oh apaan sih omes banget! Astaga, Nevan tolong gue. Gue takut banget. Tak terasa air mata gue ngalir. Gue masih pengen kuliah, gamau mati disini. "Jangan nangis dong cantik. Kita kan ga macem-macem sama kamu. Cuma satu macem." ujar si botak sambil mengelus pipiku dengan telunjuknya. Ih jijik! Tiba-tiba aja pintu terbuka, dan muncul seseorang yang gue kenal. Nico. Nico? Dia ngapain disini? Dia mau nolong gue kan? "Heh Tony. Jangan sentuh cewek gue." Glek. Ternyata dia kenal. Dia pasti dalang dari semua ini. Sial. Mau dia apa sih? "Sayang, maafin aku ya. Mereka ga akan macem-macem kok." Aku hanya diam menatapnya dengan wajah datar. Anak ini maunya apa? Di lain sisi, tangan gue lagi berusaha ngambil handphone kecil murahan yang selalu gue bawa kemana-mana. Smartphone gue ada di tas. Dengan kecepatan tinggi gue mendial nomer Nevan. "Maafin aku ya syg. Aku kaya gini cuma mau ngebuat si Nevan keluar dari sarangnya." Ngomong apaan sih dia. Gue ga ngerti. Sekarang dia membuka sumpelan di mulutku. "TOLONG GUE NEVAN! DISINI ADA NICO YANG MAU PERKOSA GUE!!" aku berteriak ketika sumpelan itu terbuka. Nico langsung tertawa heboh. "Disini gada siapa-siapa sayang. Cuma gue dan elo. Serta mereka. Gada yang bjsa denger lo." "Brengsek." desisku. "Whoaa. Lo bisa juga ngomog kaya gitu? Lo kan anggun." ujarnya dengan tampang kaget. "Lo ga kenal gue, Nic." ujarku sambil membuang muka. Dia tertawa sinis. "Lo kenapa sih ngelakuin ini?" tanyaku. "Gue gabisa ngelepas elo. Dan sekarang lo nempel mulu sama Nevan. Gue udah sering ngasih peringatan ke Nevan buat jauhin lo." "Tapi dia ga pernah denger. Jadi jalan satu-satunya adalah ngemusnahin dia dari muka bumi ini." Uhh, dia lebay banget sih. "Lebay lo. Terserah gue dong mau pacaran sama siapa." ujarku. Kemudian dia tertawa lagi. "Gue udah tau kalo lo sama dia cuma boongan pacarannya." Gue melotot. Tau dari mana dia? Dia terlihat menyeringai. "Lo gatau kalo gue demen ke atao waktu makan siang?" Sial. Sial. Sial. Gue mendengus kesal. "Kalo lo apa-apain Nevan, lo bakalan berurusan sama gue." kataku dingin. "Oh yaa? Takuuut." ujarnya sok manis. Sumpah jijik banget gue. "Jadi lo udah mulai jatih cinta sama dia ya?" ujar Nico sambil mengelus pipiku. "Bukan urusan lo." Dan diapun tertawa lagi. Tiba-tiba pintu ngejeblak kebuka. Gue harep itu Nevan yang dateng. Tapi bukan. Polisi. Oh yeah, ini sih lebih bagus. Ini pasti papa yang nyuruh. Papa naro alat pelacak di kalungku. Jadi kalau aku hilang dia bisa langsung mencariku. Hebat kan papaku?  Hahaha. "Non gapapa?" tanya seorang polisi padaku. Aku mengangguk. Aku duduk sebentar, memperhatikan mereka yang sedang ditangkap. Mampus lo. Gue berdiri, tapi ternyata kaki gue lemes. Hampir aja gue jatoh kalo gada orang yang nangkep pinggang gue. "Nevan…?" ujarku. Dia memelukku erat. Kelewat erat malah. "Lo kenapa Van?" tanyaku. "Maaf gue telat." ujar Nevan pelan. Gue tesenyum, kemudian mengusap rambutnya yang lembut. "Gapapa Van. Bukan salah lo kali." ujarku sambil terkekeh. "Coba kalo tadi gue ikut lo piket. Ga bakalan gini jadinya." ujarnya sedih. Gue merenggangkan pelukannya, dan menangkup wajahnya. Dia terlihat sangat lesu. "Nevan. Dengerin gue. Lo ga salah apa-apa. Okey?" ujarku sambil menatapnya. Tapi dia malahan nunduk, gamau mandang gue. "Van… Look at me." Dia mendongak. "Sorry…" "Gapapa Nevan. Lo liat kan sekarang gue baik-baik aja?" ujarku sambil menepuk pipinya. Dia tertawa hambar, kemudian berjalan menjauhiku. Gue mengikutinya dari belakang. Dan sekarang gue tiba di taman. Gue masih ga kenal sama tempat ini. "Ini dimana si?" tanyaku pada Nevan. "Pabrik belakang sekolah yang udah ga kepake, Lin." ujarnya. Gue mengangguk mengerti. ★ Matahari sudah hampir tenggelam, menyisakan warna yang sangat cantik. Nevan duduk bersandar pada bangku taman, sedangkan gue berdiri di dekat dengan pagar yang ternyata gue bisa liat pemandangan keren dari sini. "Tempat ini keren ya Van!" ujarku sambil tertawa. Dia hanya bergumam. Keheningan meliputi kami berdua. "Van…" gue memanggilnya pelan. "Apa?" sambutnya. "Bisa ga kita batalin perjanjian tentang pacar boongan?" tanyaku. Kurasakan dia berjalan mendekatiku. "Kenapa?" ujarnya. "Gue capek Van boong terus sama anak-anak." kataku sambil merenggangkan otot. "Mendingan gue jomblo beneran daripada ngumpet di ketek lo." kataku sambil terkekeh. Gue ga denger dia menyambut perkataanku, jadi gue diem aja mandangin sunset. "Gue mau." JLEB. Dia beneran mau? Gue pikir… "Oh yaudah deh. Bagus kalo gitu." ujarku. Dooh, kenapa suara gue bergetar gini? "Berarti sekarang kita udah bukan pacar boongan lagi ya." ujar Nevan. Gue mengangguk. Entah kenapa gue ngerasa sedih banget karna dia bilang itu. Guepun berbalik, berniat mau pulang. Gue udah putus sama Nevan. Tiba-tiba Nevan meluk gue dari belakang. "Tapi gue maunya kita pacaran beneran." ujarnya lembut. Gue nangis. "Nevan elo jelek banget sih!" Dia tertawa, kemudian membalik tubuhku. Dia menatapku dalam, dan tersenyum. "Denger. Dari awal gue emang udah cinta sama lo. Tapi gue takut buat ngungkapin. Secara lo selalu nolak semua cowok." Gue melongo. "Dengan cara licik gue minta sama lo buat jadi pacar boongan gue. Itu semata-mata cuma buat ngedeketin lo." ujarnya lagi. "Tapi gue gatau berhasil apa engga ngedapetin hati lo." ujar dia sedih. Gue menghapus air mataku, dan memeluknya. "Lo udah berhasil. Bahkan walau lo ga minta pacaran boongan juga gue bakalan terima." Dia balas memelukku, dan mengecup puncak kepalaku. "I love you." ujarnya. "Love you too."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN