Secret

2009 Kata
"Rida! Buruan ish! Lama banget!" teriakan Lana membuatku semakin terburu-buru memasukkan diktat kuliah dan peralatan lainnya. "Bentar sih Lan! Ga bakalan kabur juga tu rumah!" teriakku kesal. Ya, hari ini aku akan menginap di rumah Lana. Biasalah, cewek. "Buruan buruan buruan. Nanti Andri keburu kabur!" Aku berjalan dengan terburu-buru. Akibatnya, jidatku mencium lantai dingin. Asem. Kaki siapa ini? Aku menoleh dan mendapati Arvel dengan senyum iblisnya. "Arvel! Bisa ga sih sehari ga usilin gue?!" teriakku. Dia menggeleng. "Gabisa. Kegiatan rutin sih." Aku menggeram kesal. "Kampret! Jauh-jauh lo sono!!" Arvel, rival sejati sejak pertama kami kenalan di kampus. Dan sudah tiga tahun sejak perkenalan kami. "Diapain lagi sama si Arvel?" tanya Lana sambil membantuku untuk berdiri. "Biasa. Dia lagi latihan nyengkat kaki orang." ujarku sambil membereskan bukuku yang berserakan. Tiba-tiba saja lagunya Taylor Swift terdengar di seantero kelas. Dengan tergesa Lana mengangkatnya. Setelah beberapa saat Lana sibuk di telpon, dia menatapku dengan tatapan yang--uhh, menyebalkan. Aku merengut kesal. "Maaf Rida..." ujarnya sambil memegang tanganku. "Kenapa lagi sih?" tanyaku kesal. Rida hanya terkekeh. Yaudahlah, udah biasa juga kalo Lana punya acara lain. "Yauda sana pergi. Nanti adek lo nungguin." Lana selalu menemanin adeknya kemanapun. Mamanya sudah tidak ada. Segera kudial nomer yang sudah sangat kuhapal. "Sayang. Balik lagi dong. Lana ngebatalin janjinya." ujarku memelas. Diujung sana, suara tawa seorang cowok membahana. "Ish. Udah ah jangan ketawa mulu. Buruan jemput aku." kataku sambil menghentakkan kaki. Setelahnya, aku menutup ponsel dan duduk di meja kelas. Menunggu dia menjemputku. Atau lebih tepatnya, kembali ke kelas. "Lagian sih kamu aku ajak pulang bareng gamau." ujar cowok itu saat tiba di pintu. Aku cemberut sambil menggoyang-goyangkan kaki. "Aku kan mana tau sayang. Dianya aja yang hobi batalin janji." ujarku membela diri. Dia menghampiriku dan berdiri di depanku. Tangannya yng besar mengusap keningku. "Jidat kamu sakit ya sayang?" tanyanya perhatian. Aku mengangguk. "Sakit tau. Kamu mah jahat banget sih." Dia mendekatiku dan mengecup keningku. "Maaf ya? Udah ga sakit kan?" Aku terkekeh dan merentangka kedua tanganku. Dia hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian setengah berjongkok sambil memunggungiku. Dengan kecepatan kilat aku naik ke gendongannya, dan memeluk lehernya dengan erat. ★ Saat aku membuka mata di pagi, dialah yang pertama kulihat. Arvel. Musuhku. Pacarku. Suamiku. Tiga tahun yang lalu, aku dan Arvel dipertemukan saat penerimaan mahasiswa baru. Saat dia akan menaiki tangga, aku tersandung dan akhirnya menabrak dia. Sejak saat itu kami selalu berantem. Pertemuan mengejutkan selanjutnya adalah saat makan malam keluarga. Kami dipertemukan. Lebih tepatnya dijodohkan. Akhirnya kami menikah, dan hubungan kami sama sekali belum diketahui oleh anak-anak. "Sayang bangun." ujarku sambil mengecup keningnya lembut. Dia bergumam tak jelas dan malah mengeratkan pelukannya padaku. "Ngantuk sayang." Aku menepuk-nepuk pelan pipinya. "Kita masuk jam tujuh loh." Tak perlu repot membuka mata, dia memonyongkan bibirnya. "Morning kiss." ujarnya pelan. Aku mengerut kesal kemudian menciumnya kilat. "Bangun ah sayang. Aku gamau telat lagi. Nanti Pak Dony nyuruh aku joged india gimana?" Pak Dony itu suka aneh kalo ngasih hukuman. Ada aja di pikirannya. "Yauda joged aja di depanku sekarang." Aku menggeram kesal dan menindihinya. "Arvel banguuun!! Aku gamau telaaat!!" Dia terlonjak kaget, langsung terduduk dan hampir membuatku terjatuh dari tempat tidur kalau saja Arvel tidak sigap menangkapku. "Arvel ish!" ujarku sambil memeluk lengannya. "Sayang. Bukan gitu caranya bangunin suami." ujarnya lembut. Aku menaikkan sebelah alis. "Te...rus gimana?" "Kaya gini." ujarnya, disusul dengan ciuman singkat. "Terus gini." dilanjutnya dengan melumat bibirku singkat. "Te..." dia akan melanjutkan aksinya. Aku langsung menutup bibirku. "STOP! MANDI SEKARANG ATAU NANTI MALEM KAMU TIDUR DI SOFA?!" teriakku. Dia terkekeh kemudian mengecup keningku lembut. "Iya sayang." Kasur bergerak ketika dia bangkit. Saat sampai di pintu kamar mandi, di menoleh. "Mau mandi bareng?" Aku langsung melemparnya dengan bantal. ★ "Kenapa sih lo Lan? Galau abis." ujarku sambil metoel-toel pipinya yang tembem. Dia cemberut. "Gue sebel sama Andri. Masa dia ninggalin gue demi ketemu sama cewek lain." Kasian. Temen gue patah hati. Gue menepuk-nepuk pundaknya, sok dramatis. "Sabar. Nanti juga bakalan ada cowok yang kaya gitu ke elo. Ninggalin cewek lain demi ketemuan sama lo." Aku berniat menghiburnya, tapi dia malahan menangis. "Eeeeh Lanaa! Kenapa nangis?!" ujarku panik. Tiba-tiba ada yang menarik rambutku keras. "Aaaargh! Siapa sih?!" teriakku kesal. Pasti si Arvel rese. Saat aku menoleh, benar. Ternyata Arvel sedang menarik-narik rambutku. "Kenapa?" tanyanya tanpa suara. Bukannya menjawab aku malahan mendorongnya untuk menjauh. "Aku laper..." ujar Arvel, masih dengan bahasa mulutnya. Dengan wajah memelas dia mengelus perutnya yang datar. Aku memelototinya, menyuruhnya untuk pergi. Benar sekali, aku dan Arvel merahasiakan hubungan kami. Awalnya kami merahasiakan hubungan ini karrna aku dan dia sama-sama punya gebetan. Tapi kita malahan begini. Gabisa kalo ga deketan. Wakakak. Aku dan Lana sedang berada di taman kampus. Saat aku sedang berinteraksi dengan Arvel, tiba-tiba saja Lana menoleh. "Lo mau ngapain lagi Arvel?" tanya Lana dengan jutek. Arvel terkekeh sebentar dan menarik rambutku keras. Membuatku teriak kesakitan. "Arvel! Apa-apaan sih lo! Pergi gak?!" teriakku kesal sambil berusaha menjauhkan tangannya dari rambutku. "Apaan sih. Suka-suka gue dong." ujarnya sambil memainkan rambutku. Aku diam saja tak memperdulikannya. Kami tidak terlalu sulit untuk berakting berantem seperti ini. Memang dari awal pertemuan selalu seperti ini. Tiba-tiba saja ada yang datang menghampiriku. "Da, nanti pulang bareng yuk." ujar Felix. Perkenalkan. Dia DULU gebetan aku. Tapi sekarang udah biasa aja, walau dia masih sering ngejar aku. Aku melirik Arvel yang sedang bersiul. Kemudian pandanganku kembali ke Felix. "Sorry gabisa. Gue udah ada janji." ujarku. "Sama siapa?" tanyanya lagi. Nah ini yang bikin gue risih. Kepo-nya si Felix ini berlebihan. Gue menaikkan sebelah alis. "Harus gue kasihtau?" Dia tersenyum miring dan mengangguk.Saat aku akan menjawab, tiba-tiba saja lengan Arvel sudah melingkar manis di pundakku. "Sorry, dia ada janji sama gue." ujarnya. Gue menatap Arvel tak percaya. Apalagi Lana. Mulutnya setengah terbuka. Sedangkan Felix mendengus kesal. "Siapa bilang gue ada janji sama lo?" ujarku galak. Sebenernya seneng sih gue, diselamatkan sama Arvel. Tanpa berkata apa-apa, Arvel menarikku menjauh dari Lana dan Felix. ★ "Sayang, kamu tuh jangan suka nyari gara-gara deh." ujarku kesal saat di meja makan. Arvel yang sedang melahap makanannya langsung mendongak menatapku. "Aku nyari gara-gara? Felix tuh yang aneh-aneh." Kuputar kedua bola mataku. "Dia kan emang gitu sayang." "Iya. Tapi kamu kan sekarang istri aku. Dia ganjen bangt sih." ujar Arvel sambil memasukkan sesendok penuh nasi. "Dia kan gatau sayang." kataku membela Felix. "Oh jadi kamu belain dia nih? Demen ya digodain gitu sama dia?" Aku menghela napas berat. Jadi ga napsu makan deh kalo gini mah. Piring nasi yang masih setengah itu kudorong menjauh dariku. "Kok ga dimakan sayang?" tanya Arvel bingung. Aku menggeleng sambil cemberut. "Ga enak. Pahit." Arvel melongo tak percaya. "Apa?" tanyaku bingung. "Lidah kamu eror ya? Ini kan ayam kecap. Manis sayang." Kutatap nasi dengan ayam kecap yang sangat kusukai itu. "Makan sayang." ujar Arvel lagi. Aku menggeleng sambil cemberut. Kugelenggkan kepalaku ke kanan dan kiri. "Gamau. Aku mau tidur. Gendong dong sayang." Arvel menyerit bingung. Kenapa sih dia? "Sayang... Ngantuk. Pengen tidur..." ujarku memelas. Arvel semakin memperdalam kerutan di dahinya. "Ah. Yaudah deh kalo gamau gendong. Aku mau tidur sendiri. Kamu tidur di sofa." Dengan langkah besar aku menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar kami.  Meninggalkan Arvel di ruang makan sendirian. Tengah malam, aku terbangun. Tiba-tiba saja perutku terasa lapar. Aku mengguncang tubuh suamiku. "Sayang, aku laper." Dia menggeliat sebentar, tapi tak bangun. "Sayang!!" akhirnya aku pukul kepalanya dengan bantal. "Apa sayang..." jawabnya setengah mengantuk. "Aku laper! Mau bubur ayam!"setelah aku mengucapkan keinginanku, mata Arvel melotot tak percaya. "Tengah malem gini sayang?" Aku mengangguk tanpa dosa. "Beliin ya...?" Arvel berdecak kesal. "Besok pagi aja ya? Tengah malem mana ada tukang bubur." Aku cemberut. Tanpa pikit panjang, aku turun dari ranjang dan mengambil sweater. Arvel mengikutiku dari belakang. "Eh? Kamu mau kemana?" "Nyari bubur ayam. " Dengan santai aku membuka pintu, namun ditahan oleh Arvel. "Oke. Aku beliin. Kamu disini aja ya." Mendengar perkataan Arvel, mataku berbinar-binar dan aku langsung duduk diam di ranjang. ★ Keesokan paginya, perutku terasa sangat mual. Sesaat setelah aku bangun tidur, kakiku langsung berlari menuju kamar mandi. Menyebabkan Arvel yang tengah terlelap lansung terbangun dan mengikuti langkahku. "Kamu sakit sayang?" tanyanya sambil mengelus-ngelus punggungku. Aku muntah. Tapi tak ada yang keluar. Kepalaku terasa sangat pusing. "Kayanya aku masuk angin deh." ujarku sambil mengelap mulutku yang basah oleh air keran. "Yauda kamu ga usah kuliah dulu ya?" ujarnya. Aku menggeleng. "Kan ada quiz sayang. Aku gamau ga masuk." Akhirnya dengan berat hati Arvel mengizinkanku masuk kelas. Saat di kampus, kami duduk berjauhan seperti biasanya. Aku duduk dengan Lana. "Da, lo kenapa deh? Kok pucet banget?" tanya Lana. Aku menggeleng lemah. Selama quiz dan perkuliahan, aku sama sekali tidak fokus. Setengah jam terakhir aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Akhirnya aku tertidur. "Da, bangun. Udah beres kuliahnya." ujar Lana. Aku mengucek mataku, masih setengah mengantuk. "Arvel mana?" "Arvel?" tanya Lana. Aku mengangguk. "Ngapain nanyain dia?" ujar Lana sambil menyerit. Oh ya ampun, gue lupa. Lana kan gatau. "Eror nih otak gue." ujarku sambil menggeleng. "Lo balik gih. Khawatir gue. Muka lo tambah pucet gitu." Aku mengangguk dan langsung menelpon Arvel. "Sayang, aku ga enak badan banget. Pengen pulang." ujarku. Setelah mendapat jawaban dari Arvel, aku langsung menutup sambungan dan membereskan peralatanku. "Lo udah punya pacar?" selidik Lana. Aku menggeleng. "Trus tadi siapa?" "Suami." jawabku singkat. Ah, bodo amat Lana kaget. Kepala gue udah pusing banget. "Suami?!" pekik Lana kaget. Namun sebelum aku menjawab, kakiku sudah tidak dapat menahan berat tubuhku. Aku limbung, hampir saja aku terjatuh ke lantai. Tapi tiba-tiba tangan seseorang memelukku dari belakang. "Udah kubilang kan tadi pagi ga usah masuk kuliah." tegur Arvel. Aku terkekeh dan langsung melingkarkan lenganku di lehernya. "SUAMI LO ARVEL?!" Sumpah suara Lana berisik banget. Aku sudah di gendongan Arvel ala bridal style. "Iya. Dia istri gue Lan. Makasi ya udah jagain dia." Beberapa saat kemudian, aku sudah tertidur di gendongan Arvel. ★ Keesokan harinya, saat di kampus aku benar-benar tidak enak badan. Tapi aku tidak mau bolos kuliah. Akhirnya Arvel mengizinkanku kuliah, walau hanya setengah hari. "Seriusan lo udah nikah sama Arvel?" tanya Lana. Gue hanya bisa ngangguk. "Kapan? Kenapa ga cerita? Jahat ih!" ujar Lana. Aku hanya terkekeh pelan. Lagi, perutku terasa mual. Aku sermgera berlari ke toilet dan muntah disana. Lana nenghampiriku. "Lo kenapa?" Gue menggeleng. "Masuk angin." "Masa sih sampe segitunya? Gue panggilin Arvel ya?" Gue menggeleng lagi. "Jangan. Gue gamau bikin dia repot." "Tapi kan dia suami lo. Emang harus lo bikin repot!" teriak Lana. Aku hanya tertawa mendengarnya. Setelah aku membersihkan diri, kita keluar dari toilet. Tak sengaja aku menabrak seseorang dan langsung limbung. Seketika semuanya gelap. ★ "Arvel..." lirihku. Aku benar-benar merasa tak enak badan, dan ingin ada Arvel di sampingku. Tapi dia kemana? "Kok lo nyariin Arvel sih?" tanya Felix. Oh, ternyata ada dia. Gue menggeleng. Tiba-tiba saja suster kampus menghampiriku. "Rida udah berapa lama muntah-muntah kaya gini?" tanyanya. Aku menyerit bingung, kemudian menatap Lana. "Sekitar seminggu bu." Dia berpikir sebentar. "Tiap pagi?" Aku mengangguk. Dan dia memberika beberapa pertanyaan yang kangsung kusetujui. Pertanyaan terakhir membuatku tersentak. "Udah telat berapa lama?" Eh? Telat? Telat haid maksudnya? "Sekitar... Satu bulan..." ujarku ragu sambil mengingat terakhir kali mendapatkan datang bulan. "Coba kamu test pake ini." Suster itu memberikan selembar kertas kecil, yang kutau ini adalah test kehamilan. "Ga mungkin kan lo hamil?" tanya Felix tak percaya. "Buruan di test. Gue hubungin Arvel dulu." ujar Lana. Felix langsung menatap Lana tajam. "Arvel yang ngelakuinnya?" Kami hanya diam. Aku berjalan ke kamar mandi dan Lana menghubungi Arvel. "Rida! Bilang kalo itu bohong!" gedor Felix di pintu kamar mandi. Tak lama kemudian saat dalam kamar mandi aku mendengar pintu terbuka. Aku keluar dari kamar mandi setelah hasilnya keluar, dan langsung memeluk Arvel. "Kenapa sayang?" tanyanya. "Aku hamil..." ujar Rida dengan mata berkaca-kaca. Arvel terlihat sangat senang. Felix sudah ancang-ancang mau menonjok Arvel. "Lo ngelakuin hal itu sama Rida?!" Arvek hanya mengangguk. "Gila lo! Lo pikir lo siapa berani ngelakuin itu sama Rida?!" ujar Felix. "Gue suaminya. Salah?" Dan saat itu juga Felix pergi meninggalkan kami di ruang kesehatan. "Selamat ya kalian berdua." ujar Lana. Aku mengangguk dan tersenyum. "Ini serius??" tanya Arvel. Aku mengangguk. "Makasi sayang." ujar Arvel sambil mengecup keningku dengan sayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN