Say It With Flower

2419 Kata
Aku sedang duduk makan bekal bersama dengan Ayane dan Chika. Meja kami berdempetan satu sama lain, agar memudahkan dalam mengobrol. "Kau tau tidak, Kurosaki sensei akan menikah bulan depan!" pekik Ayane. (sensei: sebutan untuk guru) Aku mendongak untuk melihat ekspresi yang ditunjukkan Ayane. "Apa kau pernah melihat calonnya, Keiko?" tanya Chika. Aku menggeleng dan tetap melanjutkan makan siangku. "Cantik sekali loh. Kurosaki sensei sangat beruntung bisa memilikinya!" ujar Ayane. Ya ampun, sahabat-sahabatku ini paling suka bergosip ria tentang guru sekolah kami. "Keiko-chan~ Aku minta telur dadarmu!" Itu, suara Kiyoshi. Dia adalah teman masa kecilku. Kami dekat, tapi itu dulu. Sekarang kami agak canggung. Entah kenapa. "Ini. Buatmu." ujarku sambil menyodorkan telur dadarku dan langsung dilahap oleh Kiyoshi. "Manis! Aku paling suka telur dadar buatanmu!" ujarnya sambil mengacak rambutku dan ngeloyor pergi. Aku memperhatikannya sampai dia hilang dari pandangan. Beberapa detik setelahnya, aku menyadari Ayane dan Chika yang memperhatikanku. Aku menaikkan sebelah alis. "Apa?" Ayane menghela napas berat, sedangkan Chika menggeleng-gelengkan kepalanya. "Belum mengutarakan perasaanmu?" tanya Chika. Aku yang sedang mengunyah sosis langsung tersedak. "Ini, minum. Minum. Ya ampun Keiko…" ujar Ayane sambil memberikanku air mineral dan mengelus punggungku lembut. "Tidak ada bahasan lain?" tanyaku sambil cemberut. Chika terkekeh dan memasukkan tempura kesukaannya ke dalam mulut. "Tidak. Itu adalah bahasan yang penting saat ini. Betul kan, Ayane?" tanya Chika sambil menyenggol lengan Ayane. Ayane mengangguk setuju dan tertawa lebar. "Sampai kapan sih kau akan memendam perasaanmu itu?" Ucapan Ayane membuatku tertegun. Aku memang sudah menyukai Kiyoshi sejak masih SD. Saat kelulusan, dia memberikanku bunga tulip berwarna kuning. Dan sejak saat itu pula aku menyukai tulip. Aku mendesah, dan menarik bibirku ke atas. Membentuk sebuah senyuman. "Belum waktunya." ★ Sepulang sekolah, hujan turun dengan deras. Dan sialnya aku lupa untuk membawa payung. Padahal Okaa-san memperingatiku untuk membawa payung. (Okaa-san: Ibu) Sial bener. "Keiko, mau bareng sama aku gak?" tanya Ayane sambil membuka payungnya. Aku menggeleng lemah. "Gak usah. Nanti kamu kebasahan. Bahaya kalo kamu sampai sakit." Ayane itu punya fisik yang lemah. Sedikit kena hujan aja bisa langsung sakit. Dia mengangguk. "Maaf ya. Kamu hati-hati ya di sekolah." Apaan lagi ini Ayane. Aku menyerit bingung, menunggu dia menyelesaikan perkataannya. "Aku dengar, kalau sepulang sekolah dan saat itu sedang hujan deras…" Oh tidak, saat ini sedang hujan deras. "Dari arah toilet akan terdengar suara orang menangis…" ujar Ayane. Aku yang mendengarnya langsung bergidik ngeri. "Jangan ngomong yang aneh-aneh, Ayane!" pekikku sambil menutupi kedua telingaku. Ayane tertawa melihat reaksiku. "Kau lucu sekali, Keiko. Tenanglah, lagipula saat ini kau kan tidak sendirian." Aku menghela napas lega. Kemudian Ayane pergi meninggalkanku sendirian. Sekarang aku sendirian disini!! Apa hantu itu akan datang? Ya Tuhan, hujan masih deras sekali. Aku tak mungkin menerobosnya. Aku berdiri bersandar pada dinding, menunggu hujan reda dan memasang earphone di telingaku. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara aneh dari earphone yang sedang kupakai. Aku melepasnya "Suara apa ini…" Aku bergumam sendiri, dan tak lama kemudian suara itu terdengar kembali. Ternyata itu bukan dari playlist yang kudengar. Tapi suaranya berasal dari… Toilet. Aku menelan ludah dengan gugup. Cerita Ayane barusan langaung menyergap pikiranku. Sebenarnya aku orang yang penakut, tapi rasa penasaranku lebih besar. Dengan perlahan kulanglahkan kakiku ke arah toilet dan memasang telinga baik-baik. Suara isakan tangis itu benar berasal dari toilet laki-laki. Kutolehkan kepalaku ke kanan dan kiri. Memastikan tak ada orang yang akan menganggapku maniak karena berada di depan toilet laki-laki. Aku mengetuk pintu toilet itu dengan perlahan. "Hei…? Siapa di dalam?" Hening. Hanya ada suara tangisan. Aku mulai merasakan bulu kudukku meremang, dan kuputuskan untuk berbalik menuju pintu utama. Tapi ternyata tangisan itu semakin jelas dan kurasa aku mengenal suara itu. "Kiyoshi-kun??!" teriakku sambil menggedor toilet laki-laki. Itu suara Kiyoshi. Dia menangis? Kenapa? "Kiyoshi-kun, kau kenapa?" Aku khawatir, tentu saja. Karena tak ada jawaban apa-apa, aku langsung menerobos masuk ke dalam toilet laki-laki. Dan benar, itu Kiyoshi. Dia sedang menangis di depan westafel, meratapi psp milikya. Aku menghampirinya. "Kamu kenapa?" tanyaku. Dia menoleh dengan wajah memelas. "Psp-ku kecebur…" Aku ingin tertawa. Kiyoshi menangis karna ini? Hahahahaha. Tapi mati-matian aku menahannya. "Sudahlah jangan menangis. Kan bisa diperbaiki." ujarku sambil menepuk pundaknya. Dia menatapku lama, kemudian memelukku. "Eh? Kenapa meluk aku?" tanyaku. "Aku butuh asupan energi." ujarnya. Atoma parfum yang biasa digunakan Kiyoshi masuk ke dalam indra penciumanku. Menimbulkan rasa nyaman. Lengannya yang kokoh memelukku dengan erat. Tak lama kemudian dia melepaskan pelukannya. "Done!" Dan saat itu juga aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Karna baru kusadari ternyata aku menahan napas saat dia memelukku. Dia tersenyum lembut padaku, dan aku membalasnya. Tadi dia menangis, sekarang tersenyum. Anak aneh. ★ "Bagaimana kita bisa pulang?" gumamku sambil melihat jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tanganku. Kulirik laki-laki yang sedaritadi hanya diam menatap hujan. Aneh. Biasanya aku dan Kiyoshi tidak sediam ini. "Kamu kenapa?" tanyaku pada Kiyoshi. Dia melirikku sebentar, kemudian kembali menatap hujan. "Ada seorang gadis yang menyatakan cintanya padaku…" lirihnya. Aku terdiam di tempat. "Dia anak kelas sebelah…" Dia menghela napas, kemudian melanjutkan ceritanya. "Dia baru menyatakannya tadi siang…" Aku menelan ludah dengan gugup. "Lalu?" akhirnya aku bersuara juga. Dia menghela napas dan menatapku dalam. "Apa yang harus kulakukan?" Kenapa kau bertanya padaku, Kiyoshi… Aku mengedikkan kedua bahuku. "Menurutmu gadis itu bagaimana?" Dia terdiam sebentar, kemudian menatapku lagi. "Dia cukup cantik, baik, dan dia pintar." Ugh. Ada rasa sakit tergores di hatiku. "Kalau kamu menganggapnya seperti itu, kenapa tidak kamu terima saja?" Lidahku terasa kelu. Salah. Aku salah, tak seharusnya aku berkata seperti itu. Kenapa hati dan otakku tak bisa bekerja sama? Aku ingin sekali berkata JANGAN TERIMA DIA! Tapi sampai akhir pembicaraan aku tak bisa mengatakannya. Kenapa seperti ini? "Menurutmu seperti itu?" tanyanya lagi. Aku tertawa hambar. "Tentu. Lagipula itu urusanmu kalau kau mau menerimanya atau tidak." Terlihat kekecewaan di matanya. "Begitu ya…" Aku mengangguk, dan menunduk. Diaaam, sampai tak terasa air mataku terjatuh. Dengan kasar aku mengelap air mataku dan tersenyum pada Kiyoshi. "Aku duluan ya. Okaa-san pasti khawatir kalau aku tidak pulang tepat waktu." Tanpa mempedulikan jawabannya, aku berlari menerobos hujan. Sayup-sayup aku mendengar panggilannya, tapi tak kupedulikan. Hujan, hal indah namun terasa menyakitkan saat ini. Satu hal yang kusyukuri tentang hujan hari ini. Air hujan yang mengguyur bumi ini menyamarkan air mataku. ★ Keesokan harinya, aku harus masuk sekolah dalam keadaan yang buruk. Pilek dan kepalaku terasa sangat berat. Tapi aku harus tetap masuk sekolah. "Keiko! Kamu sudah ngerjain tugas matematika belum?" Aku mengangguk dan mengeluarkan buku latihanku. Chika langsung duduk dan merampas bukuku. Dengan kecepatan kilat dia menyalin tugas itu. "Kamu sakit?" tanya Ayane sambil menepuk pundakku. Aku menggeleng. "Sedikit flu." "Pulang aja ya?" Punggung tangan Ayane yang dingin menyentuh keningku. Aku menggeleng. "Keiko-chan, kita perlu bicara." Aku hanya diam dan tidak menanggapi perkataan orang itu. Chika menyenggolku, dan berbicara tanpa suara. "Itu Kiyoshi, Keiko!" Akhirnya aku menoleh ke Kiyoshi. "Ada apa?" Dia terlihat uring-uringan. "Tentang kemarin…" Saat itu memory otakku memproses kejadian kemarin. Membuatku mual dan memutar mata. "Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan." ujarku sambil tersenyum. "Tapi-" Sebelum dia melanjutkan omongannya, aku memotongnya. "Ingat. Itu urusanmu. Bukan urusanku." Ayane dan Chika menatapku dan Kiyoshi bergantian dengan wajah cemas. Saat pelajaran aku hanya bisa tidur dan tidur. Tanpa memperhatikan guru. Bel istirahat berdenting dan itu artinya aku harus mengumpulkan berkas latihan ke ruang guru. Hari ini aku yang piket untuk membantu guru dengan pekerjaannya. Kubawa tumpukan buku sebanyak 32 buku yang lumayan berat. Yeah, anak lelaki disini tidak ada yang mau membantuku. "Butuh batuan?" Saat aku mendengar suara itu, aku kangsung menggeleng keras. "Tidak, aku bisa sendiri." Kemudian aku berjalan melewati Kiyoshi yang terdiam menatapku. Aku berjalan tanpa bisa melihat depan. Dan saat itu aku sama sekali tak tau jika tangga sudah di depanku. Tanpa bisa dicegah, aku tergelincir ke dasar tangga. Menyebabkan bunyi gedebug yang keras. Buku-buku yang kubawa langsung berantakan, dan kepalaku pusing tiada tara. "Kamu baik-baik aja?" Kiyoshi. Dia menghampiriku yang tengah meringis kesakitan. "Sakit…" ujarku sambil memegang pergelangan kakiku. Tanpa kusadar, Kiyoshi sudah menggendongku. "Kiyoshi-kun! Aku gapapa!" pekikku. Dia tetap membawaku menaiki tangga, menjauhi Ayane dan Chika yang sudah panik. Mereka mulai membereskan buku yang kubawa. "Diamlah. Aku tau kamu sakit. Jangan sok kuat." ujar Kiyoshi. "Aku gak sakit. Beneran." ujarku. Kiyoshi tetap menggendongku, dan sekarang menatapku. "Aku mengenalmu lebih dari siapapun. Jangan coba untuk berbohong padaku." Lenganku semakin erat memeluk lehernya, dan aku tersenyum kecil sambil menunduk. Membuatku lupa akan kekecewaan dan kesedihan yang sempat aku rasakan. ★ Musim semi tiba. Dan sekarang aku beserta teman sekelas sedang berada di Hitachi Seaside Park. Kelas seni saat ini mengharuskan kami untuk melukis pemandangan alam. Yah, kuakui disini sangat cantik. Padang bunga yang sangat indah. Dan aku bisa melihat bunga kesukaanku, tulip. Yang hari ini bermekaran dengan sempurna. Membuat langkahku berjalan menaiki bukit dan duduk disana. Ayana dan Chika entah kemana. Mereka bilang mau pisah dariku. Huh. Dasar. Aku memandang langit biru yang indah dan menutup mata. Merasakan semilir angin yang melambai di wajahku. Saat aku membuka mata, hamparan bunga tulip berwarna kuning dan laut pasifik terlihat jelas olehku. Pemandangan yang menakjubkan. Mataku menemukan sesosok yang menginspirasikanku untuk melukis. Dia, dengan hamparan bunga tulip dan langit biru. Sungguh, perpaduan yang indah. Dengan cekatan tanganku menari di atas kertas lukis, dan membuat sketsa. Kemudian dilanjutkan sampai aku selesai dan membuatku tersenyum puas. "Hei! Sendirian aja!" Sapaan seseorang membuatku kaget. Kiyoshi, sudah duduk di sampingku. Sudah berapa lama dia disitu? Apa dia nelihat hasil karyaku? Dengan terburu-buru aku tutup bukuku dan tersenyum padanya. "Kamu udah selesai ngelukisnya?" tanyaku. Dia mengangguk dan berbaring di sebelahku. "Kamu udah ngelukisnya?" Aku mengangguk dan memandang lurus ke depan. "Dulu, aku pernah punya keinginan untuk berdiri di taman tulip yang luaaaas sekali. Dan sekarang sudah tercapai." Dan aku juga bermimpi untuk mendapatkanmu… Begitu banyak harapan yang ingin kulukis bersama dengannya, namun takdir tak pernah mengizinkanku. Kiyoshi… Andai kau tau perasaanku. Aku menatapnya yang sedang menikmati cuaca dengan menutup matanya. Aku tersenyum. Berada di sisinya saat ini benar-benar membuatku bersyukur. "Keren ya. Bunga tulipnya banyak." ujarku. Aku tersenyum memandang hamparan bunga tulip. "Bunga tulip kuning… Memiliki makna suatu harapan tentang cinta. Atau cinta tak berbalas. Kau tau tidak?" Deg. Benarkah? Aku menggeleng. "Aku tak tau." "Payah ah kamu. Masa gatau." ujarnya sambil terkekeh. Aku memukul lengannya keras. Dia hanya tertawa menanggapi pukulanku. "Aku pernah memberikan satu bunga tulip kuning kepada seorang anak perempuan. Tapi ternyata dia tidak menyadarinya maksudnya." Aku tersentak akan perkataannya. Dulu dia pernah memberikanku setangkai bunga tulip. Tapi, apa benar dia membicarakanku? Oh ayolah, perempuan di sekelilingnya bukan hanya aku. Bahkan dia baru mendapatkan pernyataan cinta bukan? Aku menghela napas. "Kalau dia tidak mengerti, seharusnya kau menjelaskannya kan?" Dia hanya tersenyum kecil dan berbaring menghadapku. "Apa kau lupa? Kau pura-pura tak mengerti atau kau memang sedang mengujiku?" Aku melongo. Maksudnya apa? Terkadang, dalam keadaan tertentu aku bisa sangat sulit untuk mencerna sesuatu. Dia teruduk, kemudian menggenggam tanganku dengan lembut. "Keiko-chan, jika kau ingin tau… Perasaanku tak pernah berubah sejak saat itu. Bahkan berkembang dengan sangat subur." Dia tersenyum sangat manis, kemudian pergi meninggalkanku dengan wajah merona. Apa aku salah jika merasa senang saat ini? ★ Aku sedang menunggu Ayane dan Chika di stasiun. Kami berencana untuk pergi shopping. Namun betapa kagetnya aku ketika melihat seseorang yang sangat kukenal berjalan menghampiriku. "Udah lama?" tanyanya. Aku melongo seperti orang bodoh. "Hei? Kamu udah lama nunggu?" ujarnya lagi sambil mencubit lembut pipiku. Aku mengerjapkan mataku dan tersadar. "Kiyoshi-kun? Kamu ngapain disini?" Akhirnya setelah terdiam beberapa lama aku bisa mengeluarkan suara juga. "Aku kan ingin pergi denganmu." "Loh? Aku kan janjian dengan Ayane dan Chika?" Dia tertawa kecil. "Yuk, pergi." ujarnya sambil berjalan menjauhiku. "Hei! Kiyoshi-kun! Ayane dan Chika mana?" teriakku sambil berlari mengejarnya. Dia menoleh sebentar padaku, kemudian tersenyum. "Aku yang meminta mereka untuk tidak datang." Ih… Maksudnya apa coba… Aku hanya menunduk dan tersenyum kecil. "Jadi kita mau kemana?" tanyaku. "Kau akan tau nanti." dia hanya tersenyum dan memberikan isyarat padaku untuk mengikutinya. Aku berjalan mengikutinya, menuju arah taman. Sesampainya disana, berjejer pohon sakura yang berwarna merah muda. "Cantik." ujarku sambil menatap bunga sakura. Kiyoshi berjalan mendekatiku dan tersenyum. "Mana yang kau suka, bunga sakura atau tulip?" Aku menoleh dan melihatnya duduk di bangku taman. Di tengah-tengah taman ini terdapat danau yang luas. Aku menatapnya lama, kemudian mengalihkan pandanganku ke danau. "Kurasa… Aku lebih menyukai bunga tulip." Karna itu adalah bunga yang kau berikan padaku… "Khususnya bunga tulip berwana kuning." Aku tersenyum dan duduk di sampingnya. Kami duduk berdampingan tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut kami. ★ Setelah sekian lama saling diam, Kiyoshi berdiri dan mengajakku untuk mengikutinya. Lagi, aku seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Dia berjalan ke arah hutan kecil, dan terus masuk ke dalamnya. Aku berjalan mendekat, dan memegang ujung jaketnya. "Kita mau kemana?" Dia hanya menoleh sebentar padaku, kemudian tersenyum lembut. Aku menyerit bingung. "Kita mau kemana Kiyoshi-kun?" tanyaku. Aku menarik-narik jaketnya. Kenapa dia tidak berbicara apapun padaku? Dengan lembut dia mengambil tanganku dan menggenggamnya. "Percaya padaku." Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. "Kamu bisa tutup matamu?" tanyanya. Aku menyerit bingung. "Untuk apa?" "Nurut aja ya?" Aku berdecak kesal, tapi akhirnya aku menutup mataku dan tetap berjalan mengikutinya dalam bimbingannya. "Kamu tunggu sini ya? Jangan buka mata sebelum aku minta." Kemudian yang kurasakan adalah tangan Kiyoshi merenggang dan melepaskan genggamannya. "Kiyoshi-kun! Kamu mau kemana?" ujarku sambil memegang sesuatu yang kuyakin adalah batang pohon. Mataku sudah ditutupi oleh saputangan, entah sejak kapan. "Kamu boleh buka matamu." ujarnya pelan. Saat kubuka mata, di depanku terdampar taman bunga tulip berbagai warna. Aku tercengang. Indah sekali. Kiyoshi berada di ujung hamparan bunga tulip tersebut, memegang bunga tulip berwana merah merona. "Kiyoshi-kun? Ini semua buat apa?" tanyaku kaget. Dia tersenyum. "Buat kamu." Aku berjalan mendekatinya, melewati bunga tulip berwarna kuning. "Pertama kali aku memberikan tulip kuning kepada seorang gadis, dan aku berharap dia menyadari bahwa aku berharap memiliki cinta darinya…" ujarnya. Aku terdiam sambil terus berjalan mendekatinya. "Tulip putih itu… Melambangkan permintaan maafku atas perlakuanku selama ini. Atas segala kesalahanku yang telah membiarkanmu terombang-ambing akan perasaanmu." Kurasakan pandanganku mulai memburam. Aku menatap Kiyoshi dengan mata berair. "Dan tulip berwarna ungu ini… Kau begitu mewah di hatiku. Kau begitu berharga, begitu istimewa." Sekarang aku sudah berada tepat dihadapannya, dan dia menyerahkan tulip merah merona itu padaku. "Jadi, maukah kau menerimaku? Aku menyukaimu. Sejak dulu, sampai sekarang." Aku menangis. Tangisan bahagia. Apa aku bermimpi? Akhirnya aku mengambil bunga tulip merah itu dan mengangguk. "Aku juga menyukaimu, sejak dulu…" Kiyoshi memelukku dan mengecup kepalaku dengab lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN