Senbazuru [1000 Paper Cranes]

2709 Kata
Dengan cekatan gue melipat kertas origami yang barusan dibeli di toko buku mall. Audy yang lagi ngedengerin lagu menatap gue dengan bingung. "Lo ngapain sih?" tanyanya sambil berjalan mendekatiku. Gue menoleh padanya dan tersenyum. "Mau bikin seribu bangau." Mata Audy yang bulat itu semakin membesar mendengar perkataanku. "Serius? Mangnya lo bisa? Lo kan pemales." Sialan. Dengan kekuatan gajah gue lempar dia dengan bantal. "Udah sana lo pergi. Ganggu aja!" ujarku dengan wajah sinis. "Yaelah rese banget lo. Orang nanya kok malah dijutekin." Kulihat bibir Audy cemberut imut. Aku berdiri dari dudukku dan mengambil satu tabung besar yang sudah terisi setengah oleh burung bangau kertasku. Lagi-lagi Audy melongo, membuat gue pengen nabok mukanya. "Gila. Lo udah bikin berapa banyak?" tanyanya. Kuletakkan tabung yang tingginya sampai dadaku itu di lantai dan berjalan menuju kalender harian yang kubuat khusus. "Udah ada sekitar 653." Setelah menghitung totalnya, gue duduk dan kembali melanjutkan pekerjaanku. "Hebat banget lo. Buat apa bikin ginian?" tanyanya antusias. Gue hanya tersenyum menatapnya. "Buat orang yang gue sayang." ★ "Daffa! Gue nebeng doong!" Daffa, tetangga depan rumah. Orangnya ganteng, pinter. Sayangnya... "Gak. Mendingan gue bonceng monyet daripada elo." Jutek. Daffa, sangat jutek. Super duper triple jutek, pada siapapun. Tapi cuma gue yang tau kalo dia punya hati yang hangat, bertolak belakang dengan omongannya. Gue menghentakkan kaki kesal ketika Daffa dengan motor mio kesayangannya meninggalkanku di depan rumah. "Kenapa lo dek?" Dengan cepat gue muter kepala, melihat kak Irish lagi duduk ganteng di motornya. Gue langsung berlari dan duduk di jok motornya, seraya menepuk pundaknya. "Berangkat kak!" "Lo pikir gue abang ojek?" ujarnya sinis. Kenapa di sekitar gue orangnya sinis semua? Nasib... Gue hanya tertawa mendengar perkataannya. Kak Irish, satu sekolah denganku. Dia kelas 12. Gue sendiri masih kelas 10. Sesampainya di parkiran sekolah, gue langsung lompat. "Makasi kakak gue yang gantengnya selangit!" ujarku sambil mengecup kilat pipinya. "Jangan lari-lari dek! Nanti jatoh!" teriaknya. Yah, kadang dia suka jutek. Tapi aslinya overprotective. Gue melambaikan tangan dan tersenyum. "Ga bakalan jatoh ka--" Ternyata dewi fortuna tidak berpihak padaku. Belum aku menyelesaikan perkataanku, aku sudah terjerembab masuk ke dalam got. "Kak Irish......" lirihku sambil menahan tangis. Kak Irish yang baru selesai memarkirkan motornya langsung berlari menghampiriku. "Tuh kan gue bilang juga apa. Ceroboh sih lo dek." Gue cuma cemberut dan pasrah ketika dia memarahiku. Memang, gue ini ceroboh banget. ★ "Irlia, coba ikut ibu sebentar ke kantor." Gue yang lagi duduk menunduk mencatat ringkasan dari Bu Nana langsung mendongak. Tanpa babibu lagi gue langsung ngikutin Bu Nana ke kantor guru. "Hari ini ibu ada rapat, jadi tolong ibu buat salinin ringkasan dan soal ini ya di papan tulis?" Bu Nana mengeluarkan beberapa buku yang lumayan tebal menurutku. Aku mengangguk. "Iya Bu." Kemudian Bu Nana membuka satu persatu halaman yang sudah ditandai olehnya. "Yang ini, terus yang ini. Oh ya ini juga penting..." Dan blablabla. Banyak bangeeet sumpaaah. Gue harus nyatet dua kali dong. Nasib jadi sekretaris kelas. "Yauda ini aja. Kamu bisa kembali ke kelas." Gue sudah memeluk buku tebel itu, namun langkah gue terhenti ketika mendengar suara Bu Nana. Membuatku harus berbalik menatapnya. "Oh ya. Hampir lupa. Ibu juga gabisa masuk beberapa hari ke depan. Ibu sangat bergantung padamu, Irlia." Duh, jadi terharu kan gue. "Iya bu. Serahkan pada saya. Saya akan menjalankannya dengan sebaik-baiknya." Akhirnya gue berjalan menuju kelas dengan membawa beberapa tumpuk buku yang cukup berat. Untungnya untungnya, gue ga perlu naik tangga karna kelas 10 itu di lantai dasar, sama kaya ruang guru. Tiba-tiba aja berat buku yang gue bawa berkurang, menjadi lebih ringan. Eh? "Lo tuh udah boncel, segala gaya bawa buku berat. Nanti lo makin kecil terus ilang." Daffa. Yah, walaupun omongannya itu bikin esmosi jiwa raga tapi hatinya baik. Gue udah bilang kan sebelumnya? "Makasi Daff. Tadi pagi jahat lo, ninggalin gue." ujarku, berusaha mengikuti langkah kakinya yang besar. "Hem." dia hanya berdehem menjawab perkataanku. "Ntar pulang gue nebeng yah!" ujarku. "Gak." Yaelah. Pelitnya kan... Gue merengut kesal, dan tiba-tiba aja udah nyungsep di lantai. "Kak Irish... Huee." Kenapa gue nyebut Kak Irish? Kebiasan dari kecil sih... Daffa langsung jongkok dan memeriksa bagian tubuhku yang mungkin terluka. "Ada yang luka ga?" tanyanya sambil melihat-lihat. Gue menggeleng dan berusaha bangkit. Namun Daffa tetap berjongkok dan seperti melakukan sesuatu. "Daffa? Lo ngapain?" tanyaku bingung. "Lo balita yang terperangkap di dalam tubuh gadis ye? Ngiket sepatu aja gak becus." Sialan. Masa sih? Gue melirik, melihat apa bener tali sepatu gue lepas? Apa Daffa lagi ngiket tali sepatu gue? Akhirnya gue menunduk dan tak sengaja kepalaku membentur kepala Daffa. DUGH. "Duh..." ringisku sambil mengelus kepalaku. Daffa berdecak kesal. "Lo tuh ya, kerjaannya ngerepotin orang mulu." Gue cemberut. Dan saat itu Daffa sudah bangun dari posisi jongkoknya. Ternyata tali sepatuku sudah diikat olehnya. "Besok-besok minta Kak Irish buat ngiket tali sepatu lo. Bisa-bisa lo nyungsep di jalan." Setelah berkata itu, Daffa jalan mendahuluiku. Aku mengikutinya dan tersenyum kecil. ★ Pelajaran olahraga. Sembari nunggu giliran main basket, gue lipet-lipet kertas origami yang sengaja gue bawa. "Masih belum nyerah?" tanya Audy. Gue menggeleng dan sedikit meliriknya. "Udah sampe 715 dong..." Audy melotot melihatku. "Gila cepet banget lo ngerjainnya." Gue hanya terkekeh mendengarnya. Pokoknya saat waktu senggang gue selalu menyempatkan diri buat bikin bangau kertas ini. "IRLIA! AWAS!!" teriakan seseorang membuat gue mendongak. Bola basket dengan kecepatan tinggi melayang ke arahku. Tanpa bergerak, gue cuma nutup mata. Pasrah kalo tu bola bakalan kena muka gue. Tapi kok gue tunggu gada yang terjadi? Perlahan gue membuka mata, dan Daffa ternyata sudah berdiri di depan gue dengan berkacak pinggang. "Eh?" Daffa ngejitak kepala gue. "Bukannya "Eh"! Harusnya lo menghindar!" Gue meringis sakit, dan cemberut. "Gue kan ga sempet Daff..." Daffa hanya mendengus kesal dan kembali ke lapangan membawa bola basket di lekukan lengannya. "Daffa perhatian ya sama lo." ujar Audy. Gue melirik dia sebentar dan begidik. "Engga. Dia emang orangnya gitu kok. Baik sama siapa juga." Tiba-tiba aja Audy megang kening gue. Dengan sigap gue langsung menepis tangannya. "Apaan sih lo." ujarku. Audy menyerit bingung. "Gue pikir lo sakit." Sekarang gue yang menyerit bingung. "Lo sadar apa engga sih? Daffa itu juteknya amit-amit!" Gue ngangguk. "Omongan dia emang nyelekit, tapi dia baik banget kok aslinya." "Iya. Cuma ke elo doang." Masa sih? ★ "Deek! Bukain pintunya!!" teriakan kak Irish mengganggu aktivitas melipatku. "Lo aja kak! Gue lagi sibuk nih!" Males ah. Lagian mama papa kemana sih? Lagi pacaran kayanya nih. Suara bel rumah tetdengar lagi "Dek!" Aaaargh. Okey! Gue buka pintu kamar dan langsung menuruni tangga dua langkah. "Dek! Jangan lompatin dua tangga! Jatoh nanti!" Ish, kak Irish tuh tau aja deh gue lagi turun dua langkah. "Engga kok ka--!" Gedebug. Dugh. "Kak Irish......" ringisku. Kan bener, gue nyungsep lagi. Astaga, kenapa gue hobi banget nyungsep? Suara derap langkah kaki kak Irish langsung terdengar, bersamaan dengan terbukanya pintu depan. Ya ampun itu tamu sampe buka pintu sendiri? Malu gue, gagal jadi tuan rumah yang baik dan benar. Hiks. "Pasti lo nyungsep lagi ya." Gue menoleh. Itu Daffa. Ngapain dia disini? Gue cemberut ketika mendengar perkataannya. "Kak Irish..." Akhirnya yang gue panggil dateng juga. "Ya ampun dek. Kan udah gue kasihtau tadi. Lo sih ngeyel banget." Kok pada marahin gue? Mana gada yang bantu gue berdiri. Gue ngelirik Daffa, ternyata dia bawa sesuatu di tangannya. Kak Irish dengan baik hati membantu gue buat berdiri. "Apaan tuh Daff?" tanya kak Irish. Daffa melirik bawaannya sebentar, kemudian menatap kami. "Mama bikin brownies. Dia inget lo sama Irlia doyan banget sama brownies, jadi gue disuruh ngasih deh." "Nih." ujarnya sambil menyerahkan satu kotak tupperware. "Serius?! Waah! Tante emang the best lah!" teriak kak Irish dan langsung ngacir ke ruang keluarga. Gue ngelirik Daffa, ternyata dia lagi merhatiin gue. "Ap-apa?" tanya gue gugup. Jujur nih, gue mau jujur... Daffa mendekatkan wajahnya pada wajahku. Kedua tangannya menjulur ke arahku. Gue gugup banget deket dia... Aku diam di tempat, tak bisa bergerak. Tak lama kemudian dia menjauhkan dirinya dan mmandangku sambil berkacak pinggang. "Bagus. Pas buat lo." ujar Daffa sambil tersenyum. Gue menyerit bingung. "Apanya yang pa--" Ucapan gue terpotong ketika merasakan ada sesuatu di leher gue. Eh? Sejak kapan gue pake kalung? Gue menoleh ke samping, pas banget ada kaca. Gue mendekat, dan ternyata ada kalung silver berbentuk panda. Manis banget. Apa tadi Daffa masangin gue kalung? Baru aja gue mau bilang terima kasih, dia udah berjalan menjauhi gue. Dia mengangkat sebelah tangannya. "Happy birthday." Ya ampun, gue aja lupa. Gimana dia bisa inget? Tak kusangka ternyata wajahku terasa panas, menjalar hingga ke telingaku. Daffa. Orang yang kusuka, dari dulu. ★ "Study tour!!" Gue teriak kegirangan sama si Audy. Kalian benar, hari ini sekolah gue mau study tour. Yang deket ajalah, ke dufan. Kalian udah pernah ke dufan belum? Udah kan, hahaha. Dulu pas gue SMP tiap taun kita ke dufan. Walaupun gue ga naikin semua wahana disana, tapi gue cukup menikmatinya. Gue udah duduk anteng di bus, ketika saja ada keributan terjadi dari arah depan. Gue melongo dan memicingkan mata. "Ada apaan sih?" tanyaku pada Audy. Audy yang baru datang langsung menunjukku. "KAK IRISH! IRLIA DISINI NIH!" Mampus. Ada kak Irish. Mau tau kenapa gue ketakutan kaya gini? "Dek! Kan udah gue bilang tungguin gue. Lo harus bareng sama gue." Tuh. Liat. Tiap study tour kak Irish selalu ngintilin gue. Kan risih. Eh tapi kalo gada kak Irish juga gue yang rempong. "Kakak... Gue kan udah gede. Bisa jaga diri sendiri." ujae gue melas. Kak Irish udah berdiri di dekat kursiku. Dia menggeleng. "Ntar kalo lo ilang kaya taun kemarin, ditampol gue sama mama papa." Gue berdecak kesal. Taun lalu, saat kelas 9 gue sempet ilang. Saat itu karna gue nyari burung bangau pertama yang gue buat. Entah kemana burung banga itu, ilang. Padahal udah gue kasih nama dan tanda tangan. Secara gitu buatan pertama gue. Hahaha. Untungnya pas itu si Daffa nemuin gue yang lagi nangis di pojokan deket rumah hantu. "Kak, gue udah gede kok. Bisa jaga di--" Pletak. Kampret. Sakit. Ada yang jitak kepala gue ga pake perasaan. "Kak, Irlia biar gue yang tanggung jawab. Ntar gue sms-in elo tiap dua jam sekali deh." Tangannya Daffa masih bertengger di kepala gue. Yang tadi ngomong itu Daffa, sang pelaku yang menjitak kepala gue tanpa ampun. "Setengah jam sekali." kata kak Irish. "Satu jam sekali." kata Daffa. "Fine!" akhirnya kak Irish ngalah. "Oke. Lo harus sama gue selama study tour ini." kata Daffa. Duh duh seneng. Tapi kan... "Gue bisa sendiri Daff!" erangku kesal. "Susah ya direbutin dua cowok cakep..." ujar Audy sambil geleng-geleng kepala dan ngeloyor pergi setelah naro tas di sebelah gue. Daritadi dia cuma jadi penonton. Gue duduk di kursi panjang paling belakang, deket jendela. Tempat ter-pewe. Gue liat Daffa menggelengkan kepalanya dan menggeser tas Audy yang diletakkan di sebelahku. "Itu kan tempat Audy..." ujarku merengut kesal. Gue suka, dia di sebelah gue. Kalo jadi pacar sih oke. Tapi kalo buat jagain gue biar.ga nyungsep atau ilang, gue mana mauu!! Gue menoleh ke kak Irish. "Apa dek?" tanyanya singkat. "Kak bilangin sama Daffa. Gue bisa sendiri." Kak Irish menatap gue dengan satu alis terangkat dan berjalan mendekati Daffa. "Daff, gue titip adek gue. Sesuatu terjadi sama dia, maka hidup lo ga tenang." Setelah berkata itu, mereka ber-high-five-ria. Kak Irish pergi meninggalkan bus gue sambil bersenandung. "Duduk." ucapan Daffa mengembalikan gue ke alam nyata. Dengan menghentakkan kaki, gue duduk di sebelahnya. ★ "Kak Irish..." lirihku ketika nyungsep di aspal dufan. Gue baru turun dari wahana halilintar, tentu bareng sama Daffa. Daffa membantu gue berdiri, dan mendudukkan gue di salah satu bangku taman. "Daff, Audy kemana?" tanya gue. Daffa yang lagi jongkok liatin kaki gue langsung menggeleng. "Gada daritadi." "Iya. Kemana?" tanya gue lagi. "Tadi sama Ronni." Audy itu baru pacaran sama si Ronni. Kalo gue, kapan punya pacar? Sebenernya, kapan orang di depan gue ini nembak? Hahaha. KePEDEan. "Tunggu sini bentar. Gue mau beli minum. Lo mau ga?" tanyanya dengan wajah datar. Gue mengangguk, kemudian menggeleng. Daffa berdecak kesal. "Punya mulut tuh dipake." Ish, dasar Daffa. Gue mengangguk. "Iya, gue tunggu lo disini." Kemudian menggeleng. "Engga, gue gamau minum." Daffa mengangguk dan kemudian pergi meninggalkanku. Akhirnya gue sendirian juga. Haha. Gue melongo ke kakiku, dan untungnya ga berdarah. Kalo dipikir-pikir, Daffa perhatian banget sama gue. Oh ya. Dengan cepat gue membuka isi tas dab mengeluarkan kotak kecil, tempat dimana gue menaruh kertas origami dan burung bangau kertas kalo pas gue di luar rumah. Gue ambil kertas warna biru metalik dan mulai melipat. Jadi. Kemudian gue melanjutkannya. Jadi. Semakin terhanyut sama lipatan kertas, gue ga sadar kalo ternyata salah satu burung bangau udah terbang entah kemana. Gue berdiri, berjalan, celingukan kesana kemari. Nyari tu burung kertas. Dan pandangan gue tertumbu pada kertas berwarna biru diantara kerumunan orang. "Permisi... Permisi..." ujarku perlahan untuk membelah lautan manusia. Dengan susah payah akhirnya gue bisa berjongkok dan mengambil burung kertas itu. Tapi bodohnya adalah gue terdorong seseorang dan akhirnya jatuh terjerembab. "Kak Irish..." ringisku ketika aku merasakan kakiku perih. Aku menunduk dan melihat kakiku berdarah. "Kak Irish... Sakit..." Gue berusaha buat berdiri, tapi gabisa. Terlalu ramai. Bukannya sukses berdiri, punggung tangan gue keinjek. "Aduh! Sakit!" teriakku kesal. Kak Irish mana... Daffa juga mana... Akhirnya aku menangis. Ya ampun, gue tuh bocah banget ya. Udah sering jatoh, cengeng pula... Jadi inget kata-kata Daffa kan... "Daffa..." Itu adalah kata yang berbeda selama gue hidup. Biasanya selalu ada kak Irish yang nemenin gue. Tapi sekarang kak Irish gatau kemana. Dan yang bersama gue seharian ini adalah Daffa. Tiba-tiba aja kerumunan agak renggang, dan gue menyadari bahwa ada lengan yang menlingkari pinggangku. Aku menoleh. Ternyata Daffa menggendongku, menjauhiku dari kerumunan orang-orang. Gue peluk lehernya dan gue tenggelemin wajah gue di dadanya. "Tadi gue bilang apa? Lo budeg ya?" ujar Daffa. Gue menggeleng, dan menangis. "Lo kenapa pergi? Gara-gara bangau kertas itu?" tanyanya. Gue mengangguk dalam pelukannya. Sampai di tempat sepi, Daffa menurunkan gue. Kemudian dia berjongkok dan melihat luka di kakiku. "Tuh liat, berdarah kan..." ujarnya. Gue liat dia ngebuka tasnya dan ngeluarin suatu tempat pensil yang cukup besar. "Apaan itu Daff?" tanya gue sambil menghapus air mata. "Betadine dan kawan-kawan." Dengan perlahan dia mnegobati lukaku. Gue hanya bisa diem menatapnya. Dia memeriksa bagian tubuh gue kaya sikut, dengkul, tangan, bahkan wajah gue. "Mana lagi yang luka?" Gue menggeleng. Akhirnya dia memasukkan peralatannya ke dalam tas dan menatap gue. "Tadi gue bilang apa?" Gue menunduk. "Tunggu disana." "Terus lo kemana?" tanyanya. Gue melirik dia bentar, kemudian menunduk lagi. "Nyari burung kertas gue..." Dia menghela napas. "Udahlah lupain tu burung kertas. Buat apa sih lo bikin kaya gituan?" tanyanya, menatapku dengan tajam. "Kan kalo dapet 1000 bisa kabulin permohonan..." ujarku pelan. "Lo percaya?" Gue mengangguk, kemudian menggeleng. "Udah deh. Pokoknya gue gamau lo bikin kaya gituan lagi." Gue terdiam. "Ga guna juga tau bikin kaya gituan. Kalo lo mau harapan lo terkabul, lo harus usaha." Mata gue mulai berkaca-kaca. "Tapi gue bikin itu demi elo..." Sekarang dia yang diam. "Burung kertas gue udah sampe 999, dan gue pengen ngasih itu semua buat lo..." Gue menatapnya. Sekarang air mata gue udah mengalir. "Kok buat gue?" tanyanya lembut sambil mengusap air mataku dengan ibu jarinya. "Gue pengen lo liat gue sebagai orang yang bekerja keras. Gue gamau lo liat gue sebagau bocah..." ujar gue sambil menunduk. Daffa tertawa kecil, membuatku cemberut. Kemudian yang kulihat adalah dia mengeluarkan sesuatu kotak kecil dari tasnya. Dan menyerahkan itu ke gue. "Buka deh." Kutatap dia dengan bingung, tapi tetap gue buka juga tu kotak. "Ini...?" Mata gue melebar tak percaya. Ini bangau kertas buatan gue yang pertama. Ada nama dan tanda tangan gue. Gue menatap Daffa tak percaya. "Gimana bisa...?" Daffa mengedikkan bahunya dan mengacak rambutku. "Udah pas 1000 kan? Jadi permohonan lo apa?" tanyanya. Gue meliriknya sebentar, kemudian menunduk. Wajahku terasa panas. "Kayanya gue tau." ujar Daffa. Gue mendongak menatapnya. Dia tersenyum. Sumpaaaah manis bangeeeet. "Lo mau jadi pacar gue?" tanya Daffa. Gue terdiam. Duh. Beneran? Daffa kembali mengacak rambut gue. "Itu kan yang lo pengen bilang?" Dan diapun tertawa terbahak. Ih, dia kok malahan gitu sih? Akhirnya gue berdiri dan hendak pergi. Tapi tangan gue dicekal sama dia. Dia meluk gue dari samping, dan berbisik. "Jadi pacar gue ya? Please." Tanpa menatapnya, gue bertanya. "Kenapa?" "Karna gue suka sama lo. Gue pengen ngelindungin lo. Gue pengen jadi orang yang lo sebut saat lo terjatuh." Dia terkekeh pelan dan memutarku agar menatapnya. "Gimana?" tanyanya. Tanpa bisa dicegah gue memeluk dia erat dan mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN