First Snow

2379 Kata
Jika kau melewati jembatan biru di dekat lembah dan bertemu dengan lawan jenis saat terdapat kunang-kunang berterbangan, maka kau akan terikat benang takdir dengannya. ---------- Saat ini aku sedang berdiri di ujung jembatan biru, menunggu Karin. Dan saat itu aku bertemu dengannya. Haruki, berdiri di ujung jembatan yang lain. Mengenakan jaket dan membawa satu kantong plastik. Aku menatapnya, menunggu dia untuk mendongak. Saat mendongak, mataku dan matanya saling bersitatap. Kemudian dia melengos pergi tanpa menyapaku. Kemudian setelah dia pergi aku baru sadar banyak kunang-kunang yang bertebaran. Deg. Aku teringat mitos yang sudah berkembang lama di desa ini. Apa mitos itu benar? ★ Musim gugur. Saat dimana dedaunan berwarna sangat cantik. Aku sedang duduk bersantai di rerumputan dekat lapangan, melihat anak laki-laki yang sedang bermain bola. "Akiko!" Seseorang menepuk pundakku, dan aku melihat Karin sudah duduk manis di sebelahku. Aku memasang wajah cemberut. "Kamu jangan marah dong…" ujar Karin. "Bagaimana tidak marah, aku menunggumu hampir satu jam. Dan kau akhirnya tak datang. Menyebalkan." ujarku sambil manyun. Karin tertawa dan menepuk-nepuk pundakku. "Kau memang orang yang setia ya!" Aku memukul tangannya dan tertawa. Karin, sahabatku. Tiba-tiba saja ada bola yang nyasar dan mengenai wajahku. Tanpa bisa dicegah aku langsung terjerembab jatuh ke tanah. "Akiko!" pekik Karin sambil membantuku untuk duduk kembali. Aku memegang hidungku. Sepertinya ada sesuatu yang basah… "Kamu mimisan!!" Aku segera menutup hidungku dengab kedua telapak tanganku, dan berjalan menjauh dari lapangan. "Akiko? Kamu tidak apa kan? Maaf! Kami tak sengaja." Aku kenal dengannya. Ketua kelas kami, dia yang tadi menendang bola dan akhirnya mengenai wajahku. Aku hanya mengangguk saat dia berbungkuk. Aku mengikuti bungkukannya dan berlari menuju ruang kesehatan. Di ruang kesehatan, aku celingak celinguk mencari keberadaan Minami-sensei. Sayangnya ruangan kosong. Akhirnya aku masuk dan mulai mencari kapas. Kututup hidungku dengan kedua kapas itu dan berbaring di ranjang. Tiba-tiba gorden tersibak. Dan menunjukkan seseorang selain diriku di dalam ruangan ini. "Kamu kenapa?" tanyanya. Aku menggeleng. "Kena bola." Sedetik kemudian dia duduk di tepi ranjangku. "Sakit?" tanyanya. Aku yang berbaring hanya bisa mengangguk sambil memegang kapas yang menyumpal hidungku. Tiba-tiba saja dia menepuk punggung tanganku dan mengusapnya dengan ibu jarinya. "Kalau aku sakit, okaa-san selalu mengelus punggung tanganku seperti ini." Kurasakan ada perasaan aneh yang hinggap di hatiku. Apa ini? "Semoga cepet sembuh ya, Akiko." ujarnya pelan kemudian menghilang di balik pintu kesehatan. Haruki. ★ Sore harinya, aku sedang sibuk memasukkan bola basket di ruang olahraga belakang gedung sekolah. Hari ini aku dan beberapa anak lainnya bertugas untuk merapihkannya. Tapi entahlah, aku tak menemukan siapapun disini. Dengan susah payah aku merapihkan ruangan peralatan olahraga yang berantakan. Ceklek. Eh? Itu suara apa? Dengan cepat aku berjalan menuju pintu ruangan. Entah kenapa aku curiga itu suara pintu yang dikunci. Saat aku akan membukanya… Pintu itu terkunci. Bagus sekali! Aku langsung menggedor pintu dan berteriak meminta bantuan. "Hei! Ada orang di luar? Tolong! Disini ada orang yang terkunci!" Aku masih menggedor pintu itu, berusaha membuat suara berisik agar ada orang yang datang. Tapi ternyata usahaku sia-sia. Satu jam berlalu dan aku sudah mulai kedinginan. Aku lupa membawa jaketku. Ah, sungguh menyebalkan. Aku meringkuk duduk di atas matras yang terdapat selimut tebal yang menutupinya. Selimut? Lumayan untuk menghangatkan. Pikirku. Tanpa pikir panjang aku langsung menarik selimut itu, dan ternyata ada seseorang yang meringkuk di bawah selimut. "Kyaaa!!!" aku berteriak kaget dan menjauh. Perlahan orang itu bangun dan terduduk. Dia mengucek matanya. "Apa ada sih?" "Eh? Haruki?" tanyaku sambil menunjuknya. "Kenapa Akiko?" tanyanya balik. "Kamu ngapain disini?" tanyaku. "Kamu sendiri ngapain disini?" Sejenak, kami sama-sama terdiam. Kalau kami sama-sama bertanya, takkan ada yang menjawab. "Aku tertidur disini." "Aku terkunci disini." Aku dan dia berkata bersamaan, kemudian tawa kami meledak. "Tunggu. Kamu terkunci? Itu artinya…" ujar Haruki menatapku tak percaya. Aku mengangguk, kemudian menunjuknya. "Kamu…" lalu menunjuk diriku sendiri. "Aku…" "Terkunci bersama disini." "Wow. Hebat." ujarnya dengan wajah terkejut. Aku berdiri menatapnya sambil bersidekap. "Gimana caranya kita keluar dari sini ya?" tanyaku. Dia terlihat berpikir sebentar, kemudian matanya berputar mencari sesuatu. "Ada jendela tuh disana. Tapi bisa ga ya?" Haruki berjalan mendekati jendela itu dan melompat-lompat. Tapi tak sampai. "Tidak sampai." ujarnya lesu. Dia aja yang tinggi tidak sampai, apalagi aku? Aku berputar mencari pijakan untuk berdiri. Dan dipojokan terlihat beberapa balok yang bertumpukan. "Haruki. Coba pakai ini." ujarku sambil berusaha mengangkat balok-balok itu. Tanpa kuminta, dia langsung membantuku membawa balok yang ukurannta lumayan besar itu. "Aku bisa mencapainya." ujarnya ketika berdiri di atas tumpukan balok. Dia melompat sedikit dan langsung berada di jendela. Kemudian dia melirikku. "Tapi… Kamu bisa tidak?" "Bisa!" ujarku. Aku berjalan mendekati tumpukan balok itu dan melompat. Tapi bukannya aku sukses mencapai jendela, aku malah terjatuh. "Aw…" ringisku ketika merasakan perih di pergelangan kakiku. Dengan cepat Haruki turun dari jendela dan menghampiriku. "Mana yang sakit?" tanyanya. Aku memegang pergelangan kakiku sambil meringis. Tekanan tangan Haruki di pergelangan kakiku membuatku teriak, hampir menangis. "Haruki! Sakit…!" Air mataku sudah mengalir sekarang. Sungguh, rasanya menyakitkan. "Maaf…" ujarnya pelan, kemudian berdiri. Dia merobek ujung pakaian olahraganya dan langsung mengikatnya di pergelangan kakiku. "Jadi gimana aku bisa keluar dari sini?" lirihku. Kami sudah duduk bersebelahan di matras, dalam diam. "Hatchi!" malam ini sunggih dingin. Astaga. Sekarang jam berapa? Aku melirik jam tangan, jarum panjang sudah berada di angka 5. Orangtuaku pasti mencariku. Tiba-tiba ada sesuatu hangat melingkari pundakku. Aku menoleh ke belakang, dan melihat Haruki memelukku dengan selimut yang tadi dia gunakan untuk tidur. "Aku tak mau kamu sakit." ujarnya pelan. Aku hanya mengangguk dan berdiam diri. Merasakan kehangatan yang diberikan olehnya. ★ Aku mengucek mata ketika terbangun. Eh? Aku dimana? Pandanganku aneh ketika melihat tumpukan bola basket yang rapi. Ini kan ruang penyimpanan olahraga? Berarti… Aku merasakan sesuatu yang berat melingkar di perutku. Saat aku menoleh… Ternyata Haruki! Dia memelukku sambil tertidur. Astaga. Astaga. Kami tertidur disini? Aku melirik jam tangan, dan mendapati ternyata sudah pukul 7 malam. Aku mengguncang tubuh Haruki agar dia bangun. Tapi nihil. "Haruki… Bangun…" ujarku agak keras. Dia menggeliat sebentar, kemudian membuka matanya. Dia terlihat sangat mengantuk. "Kaki kamu masih sakit?" tanyanya. Aku menggeleng. "Sepertinya sudah enakan." Aku berdiri, kemudian terjatuh. "Masih sakit ternyata." ujarnya. Dia kemudian berdiri dan merenggangkan ototnya. Sesaat kemudian dia berdiri di atas tumpukan balok yang kami susun, dan berjongkok. "Kamu ngapain?" tanyaku. "Kamu naik ya. Nanti kamu duluan yang lompat." ujarnya pelan. "Hah? Yang bener aja!" pekikku. Aku naik di pundaknya? Ya ampun. Aku tak pernah membayangkannya. "Sudah! Lakukan saja!" ujarnya setengah berteriak. Akhirnya aku menurut dan mulai naik ke atas pundaknya. "Udah nyaman belum?" tanyanya. "Udah." Beberapa detik setelah aku mengatakan itu, dia mulai berdiri. Pandanganku menjadi lebih tinggi. Waah, ini bener-bener pengalaman pertama! "Hei. Jangan bengong terus. Ayo cepat capai jendelanya!" ujarnya. Dengan kikuk aku mencoba menggapai jendela itu. Percobaan pertama, gagal. "Ayo coba lagi!" ujar Haruki sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Mendekati jendela. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya aku sampai, dan langsung duduk di jendela. Menghadap Haruki. "Jadi aku harus bagaimana?" tanyaku. Jujur saja, aku takut melompat turun. "Kamu bisa turun kan?" tanyanya. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Sudah, tak apa. Lompatlah. Aku akan menyusulmu." kata Haruki. Dengan keberanian yang setengah setengah, aku melompat. Dan sial, ternyata kakiku belum sepenuhnya sembuh. Menyebabkan lukaku terasa semakin sakit. Aku meringia kesakitan. "Kamu tak apa? Apa kakimu sakit lagi?" Haruki yang sudah berada di jendela menatapku khawatir. "Aku tak apa." Saat Haruki sudah sampai di tanah, dia langsung membuka balutan kain di pergelangan kakiku. "Tak apa bagaimana? Kau tak lihat sudah biru seperti ini?" bentaknya. Astaga. Baru pertama kali aku dibentak olehnya. Aku diam saja, tak menanggapi bentakannya. Dia membuka jaketnya dan melampirkannya di pundakku. "Pakai." Aku hanya mengangguk tanpa berbicara apapun. Tiba-tiba dia berjongkok di depanku. "Kamu ngapain?" tanyaku. "Ayo naik. Aku akan mengantarmu sampai rumah." "Tapi… Aku berat…" ujarku takut-takut. "Tidak! Ayo cepat." Akhirnya aku naik ke punggungnya, dan dia mulai berjalan. "Kita ambil tas dulu?" ujarku. Dia nengangguk dan berjalan menuju kelas kami. Dalam perjalanan kami hanya diam, tak saling berbicara. Aroma parfumnya yang samar tercium. Membuatku tenang dan memeluk lehernya dengan erat. "Aku berat ya?" tanyaku. Dia hanya menggeleng dan diam. Ketika sampai di kelas, dia mendudukkanku sebentar dan langsung mengambil tasku dan miliknya. Dia memakaikan tasku padaku dan memakai tasnya sendiri di depannya. "Ayo naik." ujarnya sambil membelakangiku. "Duh. Ini kan bawa tas juga? Tambah berat loh…" "Tak apa. Apa kamu mau aku tinggal disini? Kau tau kan di toilet anak per--" "Iya iya. Cukup. Aku ngerti. Aku naik sekarang." Dengan cemberut aku naik lagi dalam gendongannya. Kami berjalan lagi dalam diam. Sesekali ujung rambutnya mengenai pipiku, membuatku geli. Akhirnya aku menyentuh rambutnya dan mengikatnya dengan karet rambutku. "Hei. Rambut aku diapain?" tanyanya sambil berusaha menoleh ke arahku. Aku menggeleng dan tertawa kecil. Akhirnya dia diam, dan kami sudah sampai di jembatan biru. Sama seperti malam itu, kunang-kunang banyak berterbangan. "Kunang-kunangnya banyak ya…" ujarku pelan sambil berusaha mengambil satu kunang-kunang. Haruki hanya mengangguk. "Kau percaya pada mitos itu?" tanyanya tiba-tiba. Aku diam sebentar, kemudian menyahuti  pertanyaannya. "Aku tak tau…" "Lalu… Bagaimana menurutmu kalau kita benar-benar terikat oleh takdir?" Aku tak menjawab, hanya mengeratkan pelukanku pada lehernya. ★ "Kakimu masih sakit ya?" tanya Haruki saat aku berjalan merambat di tembok sekolah. Aku hanya mengangguk dan terkekeh. "Ga terlalu sakit kaya kemarin kok…" Tiba-tiba saja dia sudah mengambil lenganku dan meletakannya di pundaknya. "Eh?" aku kaget ketika dia seperti itu. "Aku akan membantumu sampai kelas." Aku mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih." Kami berjalan perlahan, membelah lautan siswa yang hilir mudik di koridor sekolah. "Nanti kamu pulang sama siapa?" Aku menoleh, dan ternyata wajah kami menjadi terlalu dekat. Aku melihat dengan jelas. Mata hitamnya, sungguh indah. Dengan cepat kualihkan pandanganku ke arah lain. "Sendiri. Seperti biasa." "Aku antar. Aku bawa sepeda hari ini." ujarnya. "Wah. Beneran?" ujarku senang. Dia mengangguk dan tersenyum. "Sudah sampai. Sampai ketemu nanti ya, sepulang sekolah." ujarnya ketika sampai di bangkuku. Kemudian setelah aku duduk, dia ngeloyor pergi ke mejanya sendiri. Haruki baik banget ya… "Haruki baik banget ya…" Eh? Apa barusan aku menyuarakan pikiranku? Terdengar kikikan dari sebelah. Ternyata Karin. "Apa?" ujarku dengan kesal. "Aduh, ada yang malu-malu…" Aku hanya tertawa dan melemparnya dengan kertas. Sepulang sekolah, aku menunggu Haruki di taman dekat parkiran sepeda. Cukup dingin hari ini. Sepertinya musim gugur akan berakhir. Aku merapatkan jaket yang kukenakan dan mengusap tanganku. Sesekali meniupnya agar terasa hangat. "Haruki kemana ya… Lama banget…" Hampir lima belas menit aku menunggunya disini, dan tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Akhirnya ku berdiri dan mencoba untuk berjalan pulang. Tapi sial, keseimbanganku belum bagus dan menyebabkan aku terjatuh. Menggoreskan luka di kakiku. "Sakit…" lirihku sambil memegang dengkulku yang berdarah. "Akiko! Kamu ngapain?" Akhirnya dia datang juga. "Kamu… Lama banget. Tadinya aku mau pulang duluan. Tapi aku jatuh." ujarku sambil cemberut. "Maaf tadi aku dipanggil ketua klub." Aku mengangguk mengiyakan, dan dengan bantuannya aku duduk di pinggir kursi yang tadi kududuki. Dia membersihkan lukaku dengan air mineral miliknya, dan lagi-lagi dia membebat lukaku. Kali ini dengan saputangannya. "Eh? Apa tak apa memakai saputangan kamu?" Dia menggeeng. "Tak apa. Asal jangan kau hilangkan ya. Ini saputangan kesayanganku." Aku mengangguk dan tersenyum. Haruki memang benar-benar baik. ★ Beberapa hari kemudian sejak kejadian itu, lukaku sudah membaik. Dan sekarang aku sudah bisa berjalan bebas kemanapun tanpa harus mendapatkan bantuan dari Haruki maupun Karin. Aku bersenandung dengan senang sambil menatap jalanan yang lenggang. Hari ini hari minggu, dan aku ingin memasak kue. Sebenarnya besok kami akan ada kelas memasak. Dan rencananya… Aku akan meyatakan perasaanku pada Haruki. Kau tak sadar? Aku… Aku sudah menyukainya. Mungkin terkesan terlalu cepat. Tapi hatiku selalu berdetak lebih cepat saat bertemu dengannya, bertatapan dengannya. Apalagi saat dia selalu membantuku, bahkan saat aku tak memintanya. Dan yang membuat aku semakin melayang adalah sikapnya kepadaku berbeda dengan gadis lain. Aku boleh bangga kan? Aku boleh punya harapan kalau dia menyukaiku juga kan? Aku hanya tersenyum membayangkan jika dia menerima pernyataanku. Aku mengeluarkan saputangan milik Haruki, yang rencananya akan aku berikan saat aku menyatakan perasaanku besok. Waah, aku sudah sangat bersemangat membayangkannya. Tiba-tiba saja angin besar menerjangku, dan menyebabkan saputangan itu terhempas, terjatuh ke sungai. Dengan segera aku berlari dari jembatan biru itu, turun ke dalam sungai. "Kemana? Kemana dia?" ujarku sambil berjalan di dalam sungai. Untungnya aliran sungai tak terlalu deras. Tapi cukup dalam juga. "Mana sih…" Aku tak bisa bohong kalau bibirku bergetar. Kedinginan. Oh tentu saja, musim dingin akan tiba. Aku tetap mencari, sampai akhirnya aku berada di bagian dalam sungai. Yang ternyata dalamnya sampai dadaku. "Akiko! Kamu ngapain?" Aku menoleh ke sala suara, dan mendapati Haruki menatapku dengan horor. Dia segera turun dari jembatan dan menghampiriku. Aku iam tak bergeming dan tetap mencari saputangan miliknya. Itu saputangan kesayangannya. "Akiko!!" Kini Haruji sudah ikut masuk ke dalam sungai, dan berusaha mencapaiku. "Kamu ngapain? Udara dingin banget! Kamu bisa sakit!" Dia sudah menggenggam tangaku, tapi aku tak bergeming. Tetap menyibakkan air. Dingin, dingin sekali. Sepertinya bibirku sudah membiru. "Akiko! Kamu nyari apa?!" bentaknya. Akhirnya aku menatap Haruki. "Saputangan… Aku kehilangan saputangan kamu…" ujarku pilu. Hampir menangis. Haruki terlihat sangat marah. Dia marah padaku kan? Ya jelas, aku menghilangkan saputangannya. "Maafkan aku. Aku benar-benar tak sengaja." ujarku sambil menggigil kedinginan. Haruki terlihat sangat kesal. "Lupakan saputangan bodoh itu! Ayo kembali!" Dengan kasar dia menarikku ke daratan, menjauhi sungai. Aku gemetar dengan hebat, ingin menangis tapi tak bisa. "Aku minta maaf, Haruki. Aku janji akan mengembalikannya padamu…" ujarku pelan. Haruki menatapku tajam. "Sudah kubilang lupakan saputangan bodoh itu." "Tapi, dia kan saputanan kesayanganmu… Aku yakin kau akan sedih kalau aku menghilangkannya…" Dia menggeleng, kemudian memelukku erat. "Aku lebih takut jika kehilanganmu…" ujarnya sambil mengeratkan pelukannya padaku. Eh? "Masih belum sadar juga?" ujarnya di samping telingaku. "Apanya?" ujarku, menyerit bingung. "Aku menyukaimu, Akiko." Deg. "Jadi, jangan coba untuk mencari saputangan bodoh itu lagi, oke?" Aku mengangguk dan menatap matanya dalam. Kemudian dia mendaratkan ciuman lembutnya padaku. Tak terasa, ternyata salju pertama menghampiri kami yang basah kuyup ini. Membuatku tersenyum saat mengingat mitos lainnya. Kemudian aku membalas perkataannya. "Aku juga menyukaimu." --------- Jika kau berciuman di bawah jembatan biru saat salju pertama turun, maka cintamu akan bertahan selamanya… ----------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN