Berbekal teropong di tangan, gue memata-matai seorang cowok bernama Steve.
Dia, orang yang pernah nolong gue dari para preman yang malak gue di depan stasiun tempo hari.
Gue liat dia lagi pelukan sama seorang cewek yang berumur 20 tahunan, padahal kita masih kelas satu SMA.
Kemudian si mbak-mbak itu ngasih beberapa ratus ribu ke Steve.
Selang setengah jam kemudian, Steve ketemu lagi sama seorang wanita. Orang kantoran nih.
Satu jam berlalu sejak dia berganti pasangan.
"Gue udah capek. Lo bisa pulang sekarang." ujar Steve sedingin es.
Si cewek yang lagi ketawa-tawa langsung saja berdiri dan nampar muka Steve.
"Dasar cowok gak tau di untung!"
Sialan. Gue kesel banget nih. Pahlawan gue ditampar.
Dengan kemarahan yang sampai di ubun-ubum, gue berdiri dari tempat persembunyian gue dan lanngsung berjalan mendekati gadis itu.
"Jangan main asal tampar ya lo!" kataku kesal setelah menampar pipinya.
Dia menatapku tak percaya, kemudian pandangannya kembali ke Steve.
"Gue ga akan mau pake jasa lo lagi." tunjuknya.
Sebelum dia benar-bener pergi, gue berteriak. "Jangan pernah deketin Steve lagi!!"
Dan gue melet. Gue tersenyum puas karena udah ngebela Steve.
Tapi sepersekian detik kemudian, dia menjitak gue.
"Lo ngikutin gue lagi?" tanyanya.
Gue hanya nyengir tak berdosa.
"Abisnya. Kapan sih elo mau jadi pacar gue?" ujarku kesal sambil menghentakkan kaki.
"Berani bayar gue berapa?" tanyanya.
Hmm, dia ini kerjanya pacar sewaan. Beda ya sama cowok-cowok yang ada di club.
Steve itu biasanya cuma nemenin jalan-jalan, itu juga cuma siang hari.
"Gue bayar pake cintaaaa..." ujarku dengan mata genit.
Steve mendecakkan lidahnya dan bersidekap "Ga butuh."
Kemudian dia mulai berjalan, dan aku mengikutinya dari belakang.
"Lo kenapa sih Steve mau jadi pacar sewaan?" ujarku sambil menatapnya dari samping.
Dia melirikku sebentar, tapi pandangannya ke depan lagi.
"Biar gue dapet duit banyak. Kan bisa beli apa aja." ujarnya.
"Tapi apa lo gamau bahagia sama orang yang lo sayang?" tanyaku bingung.
Dia tersenyum miring. "Gada tuh kata cinta atau sayang dalam kamus gue."
Gue bergidik ngeri.
Ga mungkin kan dia ga mengenal cinta? Kalo engga, mana mungkin dia bisa gede kaya gini.
"Mama lo kan ngebesarin lo pake cinta." ujarku.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, dan dia menatapku.
"Kenapa sih lo ngikutin gue terus?" tanyanya tajam.
Dia berjalan perlahan mendekatiku, membuatku mundur.
"Gue kan suka sama lo." ujarku pede.
"Lo tetep suka kalo gue ngelakuin ini?"
Gue terjebak. Kedua lengannya berada diantara gue. Di belakang gue tembok. Oh my.
"Lo- Mau apa?" ujar gue gugup.
Sialan. Gue ga pernah sedeket ini sama cowok.
Pandanganku selanjutnya adalah mata hitamnya yang kelam, berada sangat dekat denganku.
Hidungnya menyentuh hidungku dan bibirnya... terasa lembut saat menempel di permukaan bibirku.
"Jangan pernah suka sama gue." desisnya, kemudian pergi meninggalkan gue yang udah terjatuh ke tanah.
Gue memegang bibir yang tadi dikecupnya, masih dengan shock.
Ciuman pertama gue.
★
"Lin! Ya ampun lo numpahin saos banyak banget!" pekik Lona sambil mengguncang-guncang tubuhku.
Gue mengerjap sekali dan menunduk.
Ini namanya saos pake mie ayam. Bukan mie ayam pake saos.
Azzz. Gue jadi ga napsu makan kan.
Akhirnya gue bangkit dari duduk, dan Lona langsung mendongak.
"Lo mau kemana deh?"
"Ketemu sama Steve!" ujarku sambil tertawa lebar.
Kemudian kakiku melangkah cepat ke kelas Steve.
Kelas dia tepat di sebelah kelasku. Asyik kan? Haha.
Ketika sampai di kelasnya, gue langsung mengintip lewat jendela. Terlihat bangku dimana Steve duduk sudah penuh oleh gerombolan anak perempuan.
Gila emang, dia populer banget loh. Ganteng sih.
Ketika dia melihat ke arahku, aku langsung melambai padanya dan tersenyum.
Tapi apa yang dilakukannya? Malahan buang muka.
Sialan emang.
Dengan bersungut-sungut gue berjalan ke habitat asal.
Sesampainya di kelas, gue langsung duduk dan menjatuhkan kepala ke meja.
Aaaa bete.
"Heh. Bangun lo. Katanya mau ketemu sama Steve?"
Suara Lona membuat gue bangun.
"Mana mana?" ujarku dengan mata berbinar.
Dengan kejam Lona menjitak kepalaku. "Jangan kecentilan! Steve mana mau ngelirik lo kalo lo kaya gitu!" ujarnya kesal.
Gue cemberut. "Gue kan cinta sama dia. Ya harua gue perjuangin dong."
Lona hanya geleng-geleng kepala sambil memijit pelipisnya.
Lebay ah dia.
Lagian apa salahnya gue perjuangin orang yang gue suka?
★
Lagi-lagi gue dalam posisi begini. Teropong di tangan kanan dan snack di tangan kiri.
Kurang kerjaan apalagi coba gue?
Pulang sekolah bukannya pulang ngerjain PR malahan jadi stalker.
Wakakak.
Gue masukin kacang atom yang menemani pengintaian gue.
Biasa, gue lagi buntutin Steve. Apa ada yang nanya kenapa gue begitu terobsesi padanya? Padalah dia udah nyuri my first kiss.
Ah bodo amat, kalo cinta mah ya cinta aja.
Gue langsung memasang teropong ketoka ada cewek cakep menghampiri Steve.
Mereka cipika cipiki kemudian jalan bergandengan tangan.
Cih. Harusnya gue tuh yang digandeng sama Steve.
Dengan perlahan gue keluar dari tempat persembunyian dan mulai berjalan mengikuti mereka.
Menurut gue mereka cocok. Steve ganteng, si cewek cantik.
Di sekitar, orang-orang memperhatikan gue dari atas sampe bawah.
Apa terlalu mencolok? Yaiyalah odong.
Gue pake kacamata item, topi kupluk dan jas papa.
Hahahaha.
Sekarang mereka masuk ke dalam toko boneka. Gue nunggu di luar, dan mereka keluar dengan membawa boneka unyu berbentuk beruang.
Astaga, gue mau...
Gue ga merhatiin jalan, sehingga ada om-om yang nyenggol gue.
Keseimbangan gue memang kurang bagus, ditambah badan gue yang kecil imut-imut.
Terhuyunglah gue. Kalo ada gue ga diselametin mungkin gue udah ketabrak sama truk kontainer itu tuh.
Gue mendongak, penasaran dengan orang yang menolong.
"Steve?"
Seriusan ini Steve yang nolong gue? Waaaa!! Rekoor!
"Kalo jalan ati-ati. Jangan ceroboh." ujarnya dingin.
Gue hanya terkekeh dan berdiri.
"Gue gapapa kok. Tuh temen kencan lo nungguin." ujarku sambil menunjuk cewek cantik itu.
Steve menatap gue bentar, kemudian tatapannya mengarah ke cewek itu lagi.
"Sorry. Gue gabisa lanjutin. Nih gue kembaliin."
Dengan santainya Steve memberikan uang yang udah di kasih sama cewek itu.
Loh?
"Dasar gatau diri!" teriak cewek itu lebay dan lari dalam keadaan menangis.
Oh, drama...
Menyedihkan sekali.
Gue menatap Steve dengan alis terangkat setengah, tapi dia ga menanggapinya.
Steve berjalan mendahuluiku, dan aku berjalan di belakangnya.
★
"Steve! Gue mau es krim!" ujar gue sambil menunjuk babang es krim.
Dia melirik gue bentar kemudian melengos.
Menyebalkan.
Akhirnya gue tarik jaket dia agar mengikuti kemana langkah gue.
"Bang! Dua ya! Strawberry sama coklat!" ujarku.
Steve menaikkan sebelah alisnya. "Lo makan es krim dua? Gila rakus banget."
Gue tertawa dan menggeleng. "Engga. Yang coklat buat elo. Gue tau lo suka coklat."
Mata Steve membulat kemudian dia mengusap hidungnya. "Tau darimana lo gue suka coklat?"
Gue berpikir bentar kemudian tersenyum. "Kalo lagi istirahat lo suka makan coklat tuh di kelas."
Lagi-lagi matanya membulat.
"Lo kenapa sih? Mata lo kelilipan?" ujar gue sambil mengambil es krim dan memberikan uangnya.
Dia menggeleng dan mengambil es krin coklat miliknya.
Gue mengangguk. "Dimakan tuh es krimnya. Enak loh!" ujarku sambil tertawa.
Kemudian kami berjalan perlahan tanpa ada pembicaraan.
Duh sumpah canggung banget loh.
Saat tiba di taman, gue langsung duduk dan menikmati es krim kesukaanku.
"Lo ga marah sama gue?" tanyanya.
Gue menoleh dan mendapatinya sedang memandang langit senja.
"Marah kenapa?" tanyaku bingung.
"Soal... Ciuman itu." ujarnya ragu.
Tik. Tok.
Ya ampuuun masalah itu?
Awalnya sih gue marah, tapi gapapa deh. Lagipula dia kan orang yang gue suka. Ga rugi juga dicium sama dia.
Gue menggeleng. "Gak. Ngapain gue marah?"
Dia menaikkan sebelah alisnya, menatapku bingung.
"Kok lo ga marah sih? Biasanya cewek yang gue cium kaya gitu selalu marah loh."
Apa dia bilang?
"Berarti selama ini lo udah sering ciuman?" ujarku tak percaya.
"Iyalah. Heboh banget sih lo." ujarnya santai sambil menjilat jarinya yang terkena es krim
Entah sejak kapan es krim miliknya habis.
Tiba-tiba aja dia tersentak kaget dan menatap gue horor.
"Jangan-jangan..." ujarnya terbata.
"Apa?" tanya gue bingung.
"Jangan bilang itu first kiss lo?"
Seketika wajah gue memerah, dan gue mengangguk.
"Sial. Sorry banget. Sumpah gue gatau." ujarnya sambil menangkup kedua tangannya di depan d**a.
Gue tertawa dan mengibaskan kedua tanganku.
Es krim milikku juga udah abis loh. Haha.
"Gapapa. Ga masalah." ujar gue sambil tertawa.
Steve kaget dan memandang gue bingung. "Kenapa? Kok lo ga marah?"
Gue tersenyum. "Karna gue suka sama lo. Gue ga keberatan ngasih first kiss gue ke elo."
Dan setelah itu, kami sama-sama terdiam.
Sunset di taman yang indah semakin tetasa indah dengan kehadiran Steve di samping gue.
★
Dengan terburu gue memasukkan buku pelajaran hari ini.
Gue kena hukum Miss Risty karna ga ngerjain PR.
Ah, menyebalkan. Gue jadi telat kan nguntit si Steve.
Oh ya, sekarang Steve udah ga begitu jutek kaya dulu.
Sekarang Steve udah mau negur gue pas lagi papasan. Apa itu artinya gue punya kesempatan buat jadi pacarnya?
Kyaaa~ Mikirinnya aja udah bikin seneng gini.
Dan sekarang gue udah sampe di taman biasa. Tempat Steve janjian sama 'pacar'nya.
Tapi kayanya gue telat deh. Buktinya aja udah pada ngilang.
Gue menghembuskan napas berat, merasa kesal karena ketinggalan.
Dengan gontai gue berjalan tanpa arah.
Seketika pandangan gue tertuju sama geeombolan orang yang lagi mengeroyok seseorang.
Dengan tergesa gue menuju gerombolan itu.
Astaga, itu Steve!
Dia dipukulin sama lima orang pria berbadan besar.
"Tolong! Ada yang ngeroyok orang disini!!" teriakku kencang.
Tapi nihil, karena gang ini memang sepi. Jarang ada yang lewat.
Gue melihat sekeliling dan melihat ada cewek cantik berbaju kantoran, tangannya dicekal sama seorang pria.
"Steve! Jangan sakiti dia!" ujar si cewek itu.
Gue curiga ni cewek emen kencan Steve.
Akhirnya gue menerobos kerumunan itu dan langsung membentangkan tangan di depan Steve.
Orang-orang yang tadinya mukulin Steve langsung berhenti ketika ngeliat gue berdiri di depan Steve.
"Please! Jangan sakitin dia! Mungkin dia memang salah. Tapi please, jangan pukulin dia lagi." ujar gue.
"Caroline?" ujar Steve pelan.
Gue menoleh padanya. "Serahin ke gue."
"Heh bocah. Jangan ikut campur ya! Dia udah berani-beraninya main belakang sama nyonya kita!"
Astaga, Steve.
Gue melotot kaget, tapi kemudian gue langsung sadar.
"Kalo kalian gamau pergi, gue bisa laporin ini ke pihak yang berwajib. Asal lo tau, gue punya banyak kenalan di bidang hukum." desis gue.
Gue ga bohong.
Papa gue seorang hakim. Mama gue bekerja sebagai pengacara. Dan sodara gue? Banyak yang jadi polisi, dengan jabatan yang ga main-main.
Setelah perdebatan dan membuat keaepakatan bahwa Steve ga akan mengulanginya lagi, akhirnya mereka pergi.
Gue menoleh dan langsung berjongkok.
"Lo gapapa?" tanyaku.
Wajah Steve banyak darah, dan ujung bibirnya udah sobek.
Gue mengeluarkan saputangan dan langsung mengelap darahnya.
"Kenapa? Lo ga takut? Lo kan cewek." ujarnya parau.
Gue hanya tersenyum dan menggeleng. "Gue ga akan bisa tenang kalo ngebiarin lo dipukulin."
Steve menandang gue takjub dan dia langsung meluk gue erat.
Seketika tubuh gue menegang.
"Steve?" ujarku ragu.
"Gue harap masih ada ruang di hati lo buat gue."
Deg.
Apa artinya?
"Maksud lo?" ujarku tak percaya.
Dia terkekeh pelan kemudian menatap gue. "Gue pengen nerima pernyataan cinta lo. Masih berlaku gak?"
"Gue butuh bayar lo gak?" tanyaku.
Dia tertawa dan mengacak rambut gue gemas.
"Gue udah ga peduli soal itu. Gue cuma pengen punya pasangan yang bener-bener cinta sama gue."
Gue mengerjap.
"Hei? Gimana? Masih ada ruang?" tanyanya sambil mencubit pipi gue.
Dengan mata berbinar, gue tersenyum dan mengangguk.
"Selalu! Hati gue selalu menerima lo kapanpun lo mau dateng!"
Dengan erat gue memeluknya, dan dia mengelus rambut gue dengan lembut.
Beginilah akhir perjuangan cinta dan awal kisah cinta gue.
Bagaimana kisah cinta lo?