Aku melihatnya lagi. Lelaki itu, diantara hujan rintik yang membasahi bumi. Dia berdiri di tengah taman, menatap langit. Dengan pandangan kosong. Karena diamnya itulah selalu sukses membuatku penasaran.
"Lista? Kenapa?" tegur Anne ketika aku hanya terdiam menatap taman.
Kueratkan genggamanku pada gagang payung dan menggeleng.
"Anne, lo duluan aja ya. Gue mau mampir ke supermarket dulu." ujarku sambil tersenyum.
Anne mengangguk. "Oke. Hati-hati ya. Gue denger sekarang lagi banyak maniak."
Kuanggukkan kepalaku mantap, dan melambaikan tangan ketika kami sudah berjauhan. Sekarang aku kembali menatap lelaki itu. Aku tak mengenalnya. Tapi aku sering melihatnya semenjak musim hujan awal bulan lalu. Itu artinya aku sudah memperhatikannya selama satu bulan. Ketika sampai di dekatnya, aku menjulurkan payung di kepalanya.
"Lo selalu natap langit pas ujan. Ga takut sakit?" ujarku sambil tersenyum.
Dia menoleh. Pertama kalinya aku bersitatap dengannya. Matanya yang tajam dan hitam seperti menusuk ke dalam hatiku.
"Lo siapa?" tanyanya.
Aku tersenyum lembut dan mengulurkan tangan. "Carlista. Panggil aja Lista."
Tanpa menjabat tangaku, dia mengalihkan pandangannya kembali ke langit.
"Lo suka ujan, Lista?" tanyanya.
Karna tak mendapat sambutan tangannya, aku menarik kembali tanganku.
"Emm, gue suka. Apalagi bau khas ujan. Terus pas tetesan air hujan ke tangan lo, rasanya gimana gitu. Seneng."
Kulihat matanya memperhatikanku intens, membuatku malu sendiri.
"Lo suka ujan?" sambungku.
Dia menggeleng. "Gue benci hujan."
"Kenapa?"
Astaga, kenapa aku tanya hal itu? Itu kan hal pribadi.
"Orangtua gue meninggal saat ujan deras."
Deg.
Aku salah tanya.
"Sorry. Gue ga maksud--"
"Nope. It's okay."
Dia tersenyum. Gila ganteng banget.
Gue mengerjap sekali dan baru sadar kalau sudah jam enam sore.
"Umm, gue harus pulang. Lo ga pulang?"
Dia terlihat berpikir sebentar. "Rumah lo ke arah mana?"
"Kesana." ujarku sambil menunjuk sebelah kanan.
Dia mengangguk dan mengambil alih payungku.
"Eh?"
"Gue mau ke arah sana. Sekalian aja." ujarnya pelan.
Pada akhirnya, dia mengantarku tepat sampai depan rumahku.
Selama perjalanan kami hanya diam.
Ya tentu saja, kita baru sama-sama mengenal. Mana mungkin jadi akrab.
"Umm, mau masuk?" tanyaku berbasa basi ketika sampai di gerbang rumah.
Dia menggeleng.
"Emm, makasi… Umm…"
Waduh, aku gatau nama dia. Haha. So funny.
"Anthony. Nama gue Anthony."
Aku mengangguk. "Makasi Anthony karna udah nganter gue sampe sini."
Aku memberikan payung yang tadi kami pakai bersama. "Nih. Pake. Sampai ketemu lagi!"
Dengan langkah besar aku masuk ke dalam rumah, dan mengintip di jendela. Lelaki itu terlihat tersenyum dan melambaikan tangannya, seakan melihatku. Padahal aku tahu kalau kaca rumahku tidak akan terlihat dari luar. Aku tersenyum dan melambaikan tangan dari balik jendela.
Anthony.
★
Hujan lagi. Suasana Bogor saat hujan memang paling enak.Tapi sayangnya aku ga bawa payung. Inget kemarin aku minjemin payung ke Anthony? Hh, kapan ketemu dia lagi ya?
"Ga bawa payung?" tanya Anne.
Aku menggeleng lemah.
"Sayang banget nih, gue bawa payung yang kecil. Coba kalo kemarin lo ga bawa payungnya…"
Aku hanya terkekeh mendengar penjelasannya.
Kudorong tubuh mungil Anne yang sudah membuka payung. "Sana pulang…"
Anne mengangguk, saat dia mau pergi dia berbalik lagi. "Beneran gapapa nih gue tinggal?"
"Gapapa ish!" ujarku sambil mendorongnya untuk pergi.
"Iya iya gue pulang. Susah ya jadi orang baik!" ujarnya merengut kesal.
Anne itu lucu. Suka ngambek ga jelas. Aku terkikik geli melihat dia berjalan mendekati gerbang sekolah. Mataku terkunci pada seseorang yang berdiri di depan gerbang sekolah. Astaga. Itu Anthony bukan? Aku berlari kecil nenerobos hujan, dan terengah ketika sampai di depannya.
"Lo ngapain disini?" tanyaku.
Dia menoleh dan tersenyum ketika melihatku.
"Ngembaliin payung." ujarnya sambil menyerahkan payungku.
Ya ampun dia kesini cuma mau balikin payung?
Kubuka payungku dam mengajaknya untuk pulang bersama.
"Mau ke suatu tempat gak?" tanyanya.
Aku menoleh dan menatapnya bingung. "Kemana? Ujan loh."
"Tinggal jawab aja. Mau apa engga?" ujarnya.
Tanpa ragu aku menganggukkan kepala. "Iya. Gue ikut!"
Untuk anak-anak, jangan ditiru ya. Jangan pernah mengikuti orang yang belum kamu kenal.
Hati-hati nanti ada penculikan. Hoho.
"Ini dimana deh?"
Aku menyerit bingung ketika langkahku memasuki suatu hutan.
"Lo gada niat jahat kan sama gue?" tanyaku menyelidik.
Sedetik kemudian dia tertawa karna ucapanku.
"Tampang gue kaya orang jahat emangnya?" katanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Kukerucutkan bibirku. "Ya kan gue harus hati-hati sama orang asing."
"Kalo lo ga percaya sama gue ngapain ikut kesini?" ujarnya sambil menaikkan sebelah alis.
Bener juga sih, ngapain juga aku ikut kalo ga percaya sama dia? Huh. Udah sebulan ini dia selalu menghantui pikiranku. "Kenapa sih lo selalu berdiri di tengah ujan sambil natap langit?" tanyaku.
Dia berhenti, kemudian menatapku. "Karna gue harap saat hujan turun, gue bisa liat bayangan orangtua gue di langit. Terkadang gue juga berharap diambil sama Tuhan saat hujan turun."
Astaga. "Ga boleh bilang gitu. Semua udah direncanain. Pasti ada alasan si balik kejadian meninggalnya orangtua lo." ujarku.
Dia menatap gue lama, kemudian menatap gundukan tanah yang masih baru. "Gue berharap bisa menemukan alasan itu."
Kuikuti arah pandangannya. Disana terdapat batu nisan.
Aku mengerjap kaget. Apakah?
"Hai ma, pa. Aku bawa temen kesini. Namanya Lista. Cantik kan?"
Cuaca dingin, tapi aku merasakan wajahku panas. Anthony menatapku dengan senyum mengembang di wajahnya. Aku mengalihkan pandangan ke atas gundukan tanah dan ikut berjongkok.
"Sore tante, om. Saya Lista. Senang bertemu dengan om dan tante." ucapanku sangat kecil, kalah oleh suara gemerisik air hujan.
Setelah memperkenalkan diri secara singkat, Anthony bercerita panjang lebar tentang kehidupannya setelah ditinggalkan oleh mereka. Anthony berdiri, kemudian aku mengikutinya. Jalanan cukup becek. Untungnya disini beraspal. Kami semakin mendaki, tak tau sampai dimana.
"Kita mau kemana sih?" ujarku kesal.
Hujan sudah berhenti sekarang.
"Kita udah sampai." ujarnya sambil berbalik dan menghadapku.
Aku berjalan meghampirinya yang tersenyum lebar.
"Ada ap-- Woow! Keren banget!"
Aku melongo tak percaya menatap pemandangan indah yang terpancar di hadapanku. Kami, di atas bukit. Pelangi indah tercetak jelas di angkasa. Sungguh, pemandangan yang sangat menakjubkan.
"Cool. Lo tau tempat ini dari siapa?"
"Dari nyokap. Dia suka banget kesini."
Aku hanya mengangguk dan menatap pelangi yang sangat cantik itu.
★
Kali ini ujan ga turun. Entah kenapa aku kangen sama wangi hujan. Lebih tepatnya aku kangen dengan siapa aku bertemu saat hujan. Ya, Anthony. Aku selalu bertemu dengannya saat hujan. Disini, di taman ini. Pertama kalinya aku melihatnya. Dia sedang berdiri menatap langit dengan pandangan kosong.
Terkadang aku takut dia akan pingsan karna kedinginan. Tapi hal itu tidak pernah terjadi, padahal dia selalu berdiri di bawah hujan hampir setiap hari. Aku duduk di taman, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku. Tiba-tiba saja aku merasa ada seseorang yang duduk di sebelahku. Kubuka mataku perlahan dan mendapati Anthony duduk menatapku dalam.
"Ikut gue yuk." ujarnya.
"Kemana lagi?"
Ini kedua kalinya dia ngajak aku buat pergi.
"Udah, ikut aja…" ujarnya sambil tersenyum samar.
Dia menarikku berjalan menuju sekumpulan orang-orang.
Kayanya tempat ini…
"Sejauh Mana Kau Mengenal Kotamu?"
Aku membaca spanduk besar yang terpampang di sana.
Ini kam Quiz yang tadi pagi sempat diomongin mama di rumah.
"Jangan bilang lo mau ikut?" tanyaku tak percaya.
"Ih pinter! Gue pengen ikut. Karena peraturannya berpasangan, jadi gue ngajak lo." ujarnya sambil nyengir.
Dasar. Main asal narik orang buat melakukan hal yang dia inginkan.
"Idih. Kalo gue gamau gimana?" ujarku.
Kulihat wajah dia cemberut. Duh duh kasian.
"Fine. Gue ikut." ujarku sambil menulis identitas di formulir tersebut.
Anthony dengan wajah berbinar ikut mengisi formulir itu juga. Setelah kami mengisi formulir, kami mendapatkan nametag serta kartu yang berisi kotak-kotak di dalamnya.
"Baiklah para peserta sekalian. Kalian sudah mendapatkan kartu dan nametag bukan?" ujar seorang panitia yang memakai jas. Rapi sekali dia.
Aku melihat kartu yang tergantung di leherku dan nametag.
"Tugas kalian disini adalah menyelesaikan misi. Tiap kali kalian menyelesaikan misi, kotak itu akan mendapatkan cap dari si pemberi misi. Mengerti?"
Aku dan Anthony mengangguk. Ketika bel berbunyi, aku dan dia langsung berlari mencari post pertama. Disana sudah banyak yang mengantri ternyata.
"Rame banget ya yang ikut." ujarku.
Dia mengangguk semangat. "Hadiahnya lumayan loh."
"Apa tuh?"
"Berlibur ke Lombok, satu minggu. Biaya tansportasi dan penginapan ditanggung oleh pemerintah."
Waw! Asik banget. Pantesan aja ramenya beneran.
"Hadiah kedua apa?"
Anthony mengedikkan bahunya sekilas dan nyengir kuda.
Hahaha dia ngincer liburan ke Lombok. Okelah, aku juga harus semangat.
★
Aku melirik jam tangan yang melingkar manis di tanganku. Sudah pukul tujuh malam dan belum ada yang berhasil menyelesaikan misi. Aku juga sudah memberitahu mama bahwa aku nengikuti acara ini. Aku dan Anthony sendiri sudah mendapatkan cap sebanyak delapan. Lumayan deh, yang penting kita berdua sudah berusaha.
"Kalian diminta untuk mencari ukiran bunga teratai seperti ini." ujar si pemberi misi sambil memberikan kami contoh ukiran bunga teratai.
Kami mendongak untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
"Kalian bisa mencarinya di sebelah sana."
Aku segera melihat arah tunjuknya. Ternyata ke arah hutan kota.
Astaga. Sudah larut seperti ini dan kami harua mencari ukiran di dalam sana?
"Lo ga takut kan ke dalam sana?" tanya Anthony.
Aku menoleh dan menggeleng. "Kagak lah. Ngapain juga takut."
Dia terkekeh geli dan masuk ke dalam. Dengan perlahan aku mengikutinya dari belakang.
"Hei, jangan cepet-cepet sih…" ujarku perlahan.
Akhirnya dia melambatkan langkahnya dan berputar ke arahku. Dengan perlahan dia mengambil tanganku dan kemudian tersenyum.
"Bilang dong kalo takut." ujarnya dengan senyum jahil.
Dia ganteng banget aaa!!
Kami berjalan masuk ke dalam hutan kota itu, sekaligus melihat kanan kiri. Seketika aku melihat sesuatu yang mengkilap di atas pohon.
"Anthony! Tuh liat! Ada di atas pohon!" pekikku.
Dia menoleh dan langsung berjalan mendekati pohon itu. Aku menjauh saat dia mengambil ukiran bunga teratai itu. Sesaat aku melihat langit. Bulan purnama malam ini benar-benar bercahaya. Sangat cantik. Tanpa sadar kakiku melangkah ke depan, seperti ingin mendekap bulan. Aku benar-benar tak sadar akan apa yang kulakukan. Ketika sadar aku sudah melayang di udara dan suara lantang Anthony yang memanggil namaku berkali-kali.
★
Aku mengerjapkan mataku, menyadari kalau aku dalam pelukan Anthony. Apa yang terjadi?! Dengan panik aku bangun dari posisiku dan langsung terduduk. Ini dimana? Kutelusuri sekelilingku, hanya ada pohon dan jurang yang cukup terjal. Aku menatap langit. Bulan.
Tersentak, aku sadar apa yang terjadi. Aku jatuh dari jurang, dan Anthony menangkapku. Astaga. Jadi dia ikut terjatuh bersamaku? Aku menatap jam tangan, ternyata sudah jam delapan malam. Aku pasti dicari oleh kedua orangtuaku. Dengan panik aku mendekati Anthony yang belum sadarkan diri.
Kuguncang tubuhnya. "Anthony. Bangun."
Berkali-kali aku mengguncang tubuhnya, tapi dia tidak menjawab panggilanku. Bangun saja tidak, apalagi menjawab. Aku takut Anthony meninggal. Oh Tuhan, jangan biarkan dia pergi.
"Anthon! Bangun!" teriakku di sela tangisanku.
Benar, aku takut sekali jika aku tak sempat untuk menyampaikan perasaanku.
Kupeluk tubuhnya yang tak bergerak. "Bangun… Anthony…"
Di pangkuanku, aku terus memeluknya. Berharap dia akan terbangun.
"Lista…"
Kulonggarkan pelukanku dan menatap wajahnya.
"Lo baik-baik aja kan?" tanyaku khawatir.
Dia menggeleng. "Kayanya kaki gue luka deh."
Perlahan aku meletakkan kepalanya di tanah dan memeriksa kakinya. Ternyata benar, kakinya terluka. Cukup banyak darah yang keluar. Tanpa pikir panjang aku merobek ujung bajuku dan mengikatnya di luka Anthony. Kembali kutatap Anthony yang terluka. Dia sudah bersandar pada jurang itu.
"Tadi lo kenapa sih? Gue panggil diem aja." ujarnya kesal.
Aku yang sudah duduk di sebelahnya hanya bisa menunduk. "Gatau… Cahaya bulan kaya ngehipnotis gue…"
Bener banget. Aku juga ga ngerti kenapa bisa gitu. Ada keheningan janggal yang terjadi diantara kita.
"Tadi gue mimpi ketemu mama papa…" ujarnya pelan.
Aku menoleh, menatapnya yang memandang langit.
"Gue bilang mau ikut mereka. Tapi mereka ga ngebolehin gue." dia tersenyum kecut.
"Mereka bilang, disini masih ada orang yang nunggu gue. Dan mereka nunjuk belakang gue." kulihat ada senyum yang tersungging di wajahnya.
"Dan ketika gue nengok… Disana ada elo. Elo yang nangis minta gue buat balik."
Deg.
Benarkah?
Dia mengelus pipiku dengan punggung tangannya. Tubuhku terasa seperti tersengat listrik.
"Karna lo… Gue balik kesini." dia tersenyum sangat manis. "Dan akhirnya gue sadar… Rencana Tuhan dibalik kematian orangtua gue…"
Aku menatapnya dengan gugup. "Apa?"
"Biar gue ketemu lo. Biar gue tau kalo gue ga sendirian di dunia ini."
Pandanganku memburam.
Memang, dia yang bersedih atas kematian orangtuanya. Berdiri di bawah hujan. Membuatku tertarik dan memberanikan diri untuk menyapanya.
Tak terasa air mataku sudah meleleh. Kemudian dia memelukku erat, seakan tak mau kehilanganku.
"Jadi, mulai sekarang. Tetaplah disisi gue."
Aku membalas pelukannya dan mengangguk pasti. Dibalik kesedihan pasti ada kebahagiaan. Karna semua sudah ada yang mengaturnya. Jadi tenanglah, semua akan baik-baik saja.
*** END ***