Aku... Bisa melihat hantu. Dan saat ini, dibelakangmu ada seorang gadis dengan wajah pucat memakai dress dengan mata sayu dan bibir yang menyunggingkan senyuman sinis. Dia... Menatapmu tajam seolah ingin memakanmu. Tidak. Dia sebenarnya menatapku. Apa kau ingin tau kenapa dia menatapku seperti itu?
Hal itu karna aku yang tidak mempedulilkannya. Aku kesal punya kemampuan seperti ini. Banyak makhluk tak kasat mata yang mengikutiku atau sekedar mendekatiku.
"Olive, dibelakang lo ada anak kecil." ujarku datar sambil membuka lembaran demi lembaran buku yang gue pegang.
Wajah Olive langsung tegang seketika. "Gue... Gue harus gimana Lov?"
Yauda sih diem aja, dia cuma lagi mainin rambut lo.
"Merinding sumpah."
Tangannya memegang tenguk yang tadi ditiup jahil oleh si 'gadis kecil' itu.
"Nyantai aja kali. Palingan nanti lo diikutin sampe rumah." ujarku santai.
Olive langsung menatapku berang."Jahat lo! Pokoknya nanti lo ikut gue pulang!"
Gue mendelik. "Ogah! Gue ada urusan tau!"
Tiba-tiba ada hawa dingin menyergap tubuhku.
"Lova... Jangan lupa sama janji lo..."
Itu roh Jimny. Dia... 'Orang' yang gue suka.
Sebenernya dia belum meninggal. Hanya saja tubuhnya terpisah dari jasadnya karena kecelakaan.
Jadi sekarang dia koma.
"Iya, Jim. Gue ga lupa kok." desis gue.
Tubuh Jimmy yang gabisa nyentuh apapun mencoba memeluk gue.
"Aaaah Lova gue pengen meluk elo seribu kali..."
Aku diam saja menanggapi perlakuan Jimmy. Toh dia gabisa peluk aku kan. Dia memang agak-agak rusuh. Dulu saat dia masih di tubuhnya, kami tidak pernah saling menyapa.
"Hah? Lo bilang apa sih?" tanya Olive.
'Gadis kecil' itu sekarang ngelus ngelus lengannya Olive, ngebuat Olive makin bergidik.
"Ah! Gue mau pulang aja. Sama lo serem!" ujar Olive sambil ngeloyor pergi dari perpustakaan.
Aku sama Olive itu udah sahabatan dari jaman SMP. Dan dia juga udah ngerti kalo gue bisa liat yang 'begituan'.
"Karna kalian kan Olive pergi..." ujar gue pelan sambil merapihkan buku-buku pelajaran.
Si gadis kecil itu hanya terkikik geli, dan Jimmy sendiri audah melayang layang ga jelas.
Keluar masuk ke langit-langit perpustakaan.
"Kak mau kemana?" tanya si gadis kecil itu sambil melayang di sebelahku.
"Ke rumah sakit. Mau jenguk Jimmy." ujarku pelan.
"Ih kakak! Kan janji mau beliin permen kapas buat aku?!" pekiknya.
Aku hanya diam berjalan tanpa mempedulikan Rossie. Dia anak tetanggaku yang meninggal karena memang tubuhnya sudah lemah. Tapi, isengnya luar biasa. Bikin emosi jiwa raga deh pokoknya. Makanya aku mau balas dendam sekarang. Aku mau cuekin dia abis-abisan. Hahaha.
"Lov... Di depan lo..." suara Jimmy membuat gue menoleh ke depan.
DUAKK. Sialan. Sejak kapan pintu perpus pindah kesini?
"Sukurin kak Lova! Lagian gamau beliin aku permen kapas sih!" ujar Rossie sambil tertawa cekikikan.
Aku mengelus jidat yang barusan nyium pintu dan menatap kesal ke arah Jimmy.
"Wow jangan tatap gue kaya gitu. Gue udah kasihtau elo kan barusan?" ujarnya.
Kemudian mereka berdua pergi menghilang di balik pintu.
Dasar hantu menyebalkan!
★
"Siang tante..." sapaku ketika masuk ke dalam ruangan rumah sakit.
Seorang ibu dengan rambut dicepol menyapaku dengan ramah.
"Eh, Lova... Datang lagi?" ujarnya sambil mengambil sebuket bunga yang aku beli untuk Jimmy.
Aku menatap tubuh Jimmy yang terbantu alat pernafasan.
"Jimmy belum ada tanda-tanda akan bangun, Lov... Tante sedih banget..."
Duh, hati gue rasanya teriris banget ngeliat wajah seorang ibu yang tertekan.
"Sabar aja tante, dia pasti bangun kok."
Aku melirik ke samping, dan mendapati Jimmy yang tengah menatap mamanya dengan kalut. Nih tante anaknya ada di sebelah aku. Kalo aku bilang gitu, mungkin tante akan bilang kalo aku gila?
Aku berjalan mendekati tubuh Jimmy dan duduk disebelahnya. Mama Jimmy keluar sebentar untuk makan siang.
"Jim. Lo sampe kapan mau gentayangan?" tanyaku pada Jimmy yang sedang bergelayutan di atas langit-langit, hanya dengan kepalanya yang terlihat disana.
"Gue... Pengen banget bisa balik ke tubuh gue." dia berdiri di hadapanku.
"Tapi... Gimana caranya?" tanyanya dengan wajah muram.
Oh ya ampun, jangan menatap gue seperti itu. Tiba-tiba pintu terbuka seketika. Aku menoleh dan mendapati sepasang kekasih. Jimmy, dia hanya menatap kedua orang itu datar.
"Wah. Maaf..." ujar si cewek.
Aku yang sedang duduk langsung berdiri. "Gapapa kok. Silahkan aja."
Akhirnya dia dan pacarnya-mungkin- berjalan mendekati ranjang Jimmy. Aku memandang Jimmy yang berada di sampingku. Tampangnya datar. Sama seperti saat dia berada di tubuhnya. Dia selalu menunjukkan wajah seperti itu jika bertemu denganku.
"Jimmy, cepet sembuh ya. Gue mau ngenalin pacar baru gue ke elo nih." ujar si cewek dengan terkekeh.
Ketika dia berkata seperti itu, Jimmy menghilang.
★
"Jimmy... Lo dimana?" ujarku pelan.
Biasanya kalau aku di kamar rawat Jimmy, dia tidak pernah meninggalkan kamar. Aku mendekat ke arah tubuh Jimmy dan memperhatikannya.
"Lova... Kamu udah makan siang belum?"
Suara tante yang baru masuk membuatku kaget dan menoleh.
Aku mengangguk. "Tante udah makan siangnya?"
Mama Jimmy duduk di sofa dan meletakkan bungkusan buah-buahan.
"Udah, Lova. Jimmy, belum bangun juga ya?" tanya tante.
Aku menggeleng.
"Udah satu bulan. Dokter bilang kalau keadaannya gini terus dia ga akan bisa diselamatkan..."
Astaga. Jangan sampai itu terjadi. Roh Jimny memang berada di sampingku selama sebulan ini. Jadi tidak mungkin tubuh Jimmy tiba-tiba bergerak dan bangun kan? Aku mengusap punggung tante yang bergetar.
"Mama...?"
Suara itu. Serentak aku dan tante langsung menoleh ke asal suara. Jimmy. Dia melihat kami dengan tatapan sayu.
"Jimmy... Kamu... Udah bangun nak?" tanya mama Jimmy seraya mendekati anaknya.
Jimmy hanya tersenyum lemah ke hadapan mamanya. Aku terharu. Akhirnya dia bangun juga.
"Lova... Kenapa lo ada disini?"
Deg.
Kenapa dia bilang seperti itu? Seakan dia tak pernah dekat denganku.
"Kamu bilang apa sih Jim? Dia kan temen sekolah kamu! Tiap hari selalu jenguk loh." ujar mamanya.
Aku hanya tersenyum miris. Apa yang terjadi sebenarnya?
Jimmy mengernyit bingung. "Iya ma, dia temen sekolahku. Tapi bukan temen deket. Kita cuma pernah sekelas pas kelas satu kemarin."
Deg.
Itu artinya?
"Maaf tante, saya pulang dulu."
★
Keesokan harinya di sekolah, Jimmy sudah masuk seperti biasanya. Dia terlihat baik-baik saja, bahkan seperti tidak terjadi apa-apa. Dan kita sama seperti sebelumnya, tidak saling mengenal.
"Itu si Jimmy kapan sembuhnya?" tanya Olive pas kita melewati kelasnya.
Dia sedang dikerubungi oleh anak-anak kelasnya.
Yeah, dia memang populer.
"Katanya sih kemarin." ujarku.
Aku tak pernah menceritakan tentang roh Jimmy yangbnerada si dekatku selama ini pada siapapun.
"Lov... Di samping gue ada siapa?" tanya Olive dengan nada yang mencekam.
"Apa-- Oh itu, biasa. Si anak kecil itu."
Aku melihat Rossie yang lagi niup-niup lengan kemudian tenguknya Olive.
"Kenapa sih tiap gue sama lo pasti aja digangguin mulu." ujarnya sambil menoleh ke kanan dan kiri.
Aku terkikik geli dan bersandar pada jendela kelas Jimmy yang terbuka.
Ya memang itulah Rossie.
Dia akan selalu mengganggu siapapun yang di dekatku.
Dia bilang biar aku ga punya temen.
Tapi kenyataannya Olive selalu dekat denganku.
"Sorry ya. Gue pikir dia demen sama lo deh." ujarku sambil tertawa.
"Amit-amit gue disukain sama setan!" ujarnya keras.
Saat itu wajah Rossie terlihat marah dan langsung menarik rambut Olive.
"Aw!" pekik Olive.
"Makanya kalo ngomong jangan aneh-aneh. Udah tau itu anak kecil." ujarku disela kikikanku.
Dengan kesal Olive berjalan ke arah kantin.
Aku ditinggal.
Ah, biasa digituin sama Olive.
"Rossie, kangan gangguin Olive mulu. Kasian tau." ujarku.
"Abisnya kak Olive lucu banget sih kak. Aku jadi pengen godain dia terus."
"Biar kakak ga punya temen juga. Haha."
Aku memutar mata kesal.
Dasar Rossie.
Aku hendak ke kantin menyusul Olive, tapi sialnya tertabrak seseorang.
Dan langsung jatuh terduduk. "Duh."
"Ups. Sorry. Gue ga sengaja."
Aku mendongak dan menatap matanya.
Mata Jimmy.
"Lova?" tanyanya agak ragu.
Aku hanya berdehem menyahuti perkataannya.
Aku berdiri dan berjalan menjauhinya.
"Ciee kak Lova diikutin sama Jimmy..." goda Rossie.
Dia tau kalau aku suka sama Jimmy. Aku berjalan cepat, berusaha menjauhi kontak dengan Jimmy. Entah kenapa aku kesal sekali karna dia tidak mengingatku. Tapi siapa sangka... Tanganku dicekal olehnya.
"Lo gapapa?" tanyanya.
Matanya menatapku khawatir. Aku menggangguk dan melepas cekalan tangannya. Aku kesal. Benci karna dia tak ingat dengan segala kenangan yang terjadi selama sebulan ini.
★
Sepulang sekolah aku menunggu hujan yang tak kunjung reda. Sialnya aku ga bawa payung. Dan Olive sudah pulang karna memang dia dijemput sama pacarnya. Mengenaskan sekali nasib jomblo satu ini. Aku menendang-nendang kerikil di sisi lorong kelas.
"Kak. Kok kak Jimmy sombong banget sama Rossie. Ga pernah nyapa."
Ya, kuakui memang saat Jimny menjadi roh dia dekat dengan Rossie. Bahkan selalu berkomplot untuk mengerjai orang. Aku melirik Rossie dengan sebal.
"Sama gue aja dia sombong. Apalagi elo, yang... tak terlihat." ujarku.
Rossie menarik rambutku.
"Ih! Jangan rese deh!!" pekikku.
Rossie malahan tertawa cekikikan.
"Lova? Lo ngomong sama siapa?"
Deg.
Itu kan Jimmy. Kok dia masih disini?
"Sama Rossie." ujarku cuek.
Kunaikkan sebelah alisku. Apa dia mengingatnya?
"Kak Jimmy sombong!!" teriak Rossie tepat disebelah Jimmy.
"Rossie?" tanyanya menyerit bingung.
Gue memutar mata kesal.
"Iya. Rossie. Hantu anak perempuan. Tuh di sebelah lo." ujarku sambil menunjuk sebelahnya.
Kulihat kerutan di dahinya semakin dalam.
"Lo ga inget?" tanyaku penuh harap.
"Inget apa?"
Mukanya tanpa dosa banget tau ga? Bikin kesel!
Aku mendengus kesal. "No. Lupakan."
Rossie berusaha memukul Jimmy tapi tak bisa. Jimmy melihatku dengan pandangan bingung.
"Kak Jimmy jahat banget sih! Kak Lova mau nangis tuh!" pekik Rossie.
"Rossie. Ayo kita pulang." ujarku dingin.
Rossie menatap kesal pada cowok itu.
Aku berjalan pelan menjauhi Jimmy.
"Lo bikin gue merinding tau." ujar Jimmy.
Setelah perkataannya gue langsung menoleh.
"Bukan gue yang bikin lo merinding. Tapi memang ada anak kecil yang kesal karna lo udah lupain dia."
Bukan hanya dia, aku juga kesal karna kau tak mengingatku Jimmy.
★
"Lova, lo diliatin noh." ujar Olive di sampingku.
"Sama siapa?"
Kegiatan makan mie ayamku tak terhenti.
"Jimmy."
Deg.
"Kak. Kak Jimmy kayanya mau makan kakak deh. Daritadi ngeliatinnya gitu banget." ujar Rossie.
Sembarangan si Rossie ini.
"Ada apaan dia ngeliatin gue?" tanyaku pada Olive.
Olive hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda tak mengerti.
Aku melirik ke arah Jimny dan memang benar, dia sedang menatapku sambil menyeruput es kelapanya.
Buru-buru aku menunduk dan segera menghabiskan makan siangku.
"Olive, gue duluan ya! Mau ke kamar mandi nih." ujarku.
Aku langaung berdiri dan ngacir keluar dari kantin.
"Kak. Kak Lova takut sama kak Jimmy?" tanya Rossie.
"Enggak. Ngapain gue takut sama dia." ujarku ketus.
"Kok kakak langsung kabur gitu dari kantin?" tanyanya lagi.
Aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
"Lova!"
Deg.
Itu suara Jimmy.
"Kak. Kak Jimmy ngikutin kakak tuh!" pekik Rossie.
"Rossie! Suruh Lova berhenti!"
Ap-apa dia bilang?
Aku langsung berhenti, begitupun Rossie.
"Lo... Lo bilang apa barusan?" ujarku.
"Rossie? Lo dimana?" tanyanya sambil melihat sekitar.
Apa dia udah inget?
"Aku disini tau kak!" ujar Rossie, berdiri di depan Jimmy.
"Dia di depan lo, Jim." ujarku datar.
"Hai, Rossie." sapa Jimmy ke arah depannya.
Rossie tersenyum sedikit dan melayang pergi. "Kak aku mau pergi dulu ya. Ada urusan."
Cih. Anak kecil punya urusan apa?
Aku menatap Jimmy yang berdiri tepat di depanku.
"Ada apaan?" tanyaku.
Jimmy melangkah maju ke depan, mendekatiku.
Tiba-tiba tangannya mengambil tanganku.
"Gue... Gue minta maaf." ujarnya pelan.
Aku langsung mendongak dan menatapnya.
"Lo... Inget?"
Tanpa aba-aba dia memelukku erat.
***
Sore itu aku sedang menunggu Jimmy yang tidak kunjung datang. Lebih tepatnya, roh Jimmy. Sudah dua minggu setelah tubuh Jimmy dan rohnya terpisah. Jimmy datang padaku, meminta bantuan. Tapi aku tak bisa membantu apapun. Ya jelas, aku hanya pernah bertemu dengan berbagai macam hantu. Tapi baru kali aku bertemu dengan roh yang terpisaj dari jasadnya. Aku pernah mendengar tentang Astral. Tubuh dan roh terpisah. Ah tapi aku tetap tak mengerti.
"Lo lagi ngapain Lov?"
Aku menoleh dan mendapati Jimmy tengah melayang-layang sambil menyembunyikan sesuatu di punggungnya.
"Lo sendiri ngapain melayang-layang ga jelas gitu? Lupa ya rasanya jadi manusia?" tanya gue.
Dia menembus tubuhku dan berdiri tepat di hadapanku.
Deg.
"Lov... Gue baru sadar kalo selama ini cuma lo yang bisa ngertiin gue..."
Nah kenapa anak ini tiba-tiba kaya gini?
"Jadi... Lo mau ga di sisi gue selamanya?"
Ini... Serius dia nanya?
"Lo... Selama ini cuma lo doang yang nemenin gue di saat sulit kaya gini. Lo juga tiap hari ngunjungin gue, hibur mama gue. Gue bener-bener bersyukur karna kenal sama lo."
Tak terasa gue menggigiti bibir bawahku.
Ketika aku akan menjawab pertanyaannya, dia menghentikanku.
"Jangan jawab sekarang, please. Saat gue udah kembali ke tubuh gue lo harus jawab pertanyaan gue. Oke?"
Gue mengangguk.
"Kalo lo nolak gue sekarang, mungkin gue bakalan langsung mati."
Sebelum pergi, dia mengeluarkan bunga mawar dan meletakkannya di meja belajarku.
***
Gue diam, mengingat percakapan saat itu.
"Jadi... Apa jawaban lo sekarang?" tanyanya.
"Kapan lo inget?" tanya gue tak percaya.
"Kemarin. Saat lo bilang tentang Rossie."
Benarkah dia mengingatnya?
Aku menangis dan langsung memeluknya.
"Akhirnya, cinta gue ga bertepuk sebelah tangan lagi." ujarku.
"Siapa yang bertepuk sebelah tangan?"
Tanya Jimmy sambil mendorong bahuku lembut.
Gue menunjuk diri sendiri. "Gue."
Kemudian aku menunjuk Jimmy. "Udah suka sama lo sejak pertama kali ketemu saat MOS dulu."
Jimmy hanya tertawa kemudian memelukku.
"Maaf. Seandainya gue sadar lebih awal. Pasti lo ga akan mederita kaya gini."
*** END ***