Nama gue Bulan. Gue lahir di malam bulan purnama. Dan dia, Bintang. Lahir di hari dan jam yang sama denganku. Ini kebetulan? Mungkin saja. Kamu pikir aku dan Bintang saling berantem atau dekat? Tidak keduanya. Karna kami tak bisa berdekatan. Setiap kali ada aku, Bintang akan terkena sial. Begitupun aku. Jadi, kita sudah tak pernah terlihat bersama.
Walau kenyataannya aku dan dia adalah tetangga.
────────
"Lan! Dicariin Bintang tuh!"
Aku yang sedang menyeruput teh manis langsung mendongak. Mendapati Pilly yang berlari ngos-ngosan.
"Ngapain Bintang nyari gue? Pengen ketiban pot lagi?" tanyaku.
Kemarin sore, aku berpapasan dengan Bintang di depan gedung sekolah. Dan sialnya, pot tanaman kesayangan Kepala Sekolah kami jatuh begitu saja. Untungnya Bintang ga kena. Mana ada Bintang Kejatohan Pot. Yang ada Bintang Jatoh dari langit. Eh? Mikirin apa gue barusan? Ngaco dah.
"Tau tuh." sambut Pilly sambil menenguk teh manisku.
Gue berpikir sejenak.
"Ly, nih kasihin kunci rumah dia. Gue lupa lagi kalo Tante Sani nitip."
Aku mengeluarkan kunci dengan gantungan kucing. Tadi pagi Tante Sani menitipkan kunci rumah karna malam ini dia dan Om Reyhan mau ke Malang. Oh ya Tante Sani dan Om Reyhan itu orangtua Bintang.
"Lo aja gih yang ngasih. Capek gue." ujar Pilly.
Gue manikkan sebelah alis.
"Ada bencana nanti. Kaya gatau aja lo." ujarku cuek.
Udah jadi rahasia umum kalau aku dan Bintang berdekatan bakalan ada kejadian ekstrim.
"Ck. Iya." ujarnya sambil berdiri dan kemudian dia duduk lagi.
"Tuh Bintangnya dateng."
Sesaat namanya disebut aku langsung berbalik dan melotot.
"BINTANG!!" teriak gue.
Saat dia sadar siapa yang manggil namanya, dia langsung diam dan waspada. Ya, beginilah kalau kita bertemu. Untungnya kantin ini ada dua pintu masuk yang berlawanan arah. Aku segera berdiri saat dia sudah menoleh ke arahku. 'Diem disitu.' ujarku tanpa suara sambil menunjuknya. Aku yakin banget Bintang sudah mengerti bahasa tubuhku. Langsung saja aku berlari ke arah pintu satunya dan berbalik menghadapnya.
"KUNCI RUMAH DARI TANTE SANI!" teriakku sambil melemparkan kunci.
"THANKS YA!" sambutnya seraya menangkap kunci itu.
Gue mengangguk. Dugh. Satu bola basket nyasar, kena dinding koridor. See? Gada hal bagus kalo gue ketemu Bintang. Untungnya refleks gue bagus, kalo engga bakalan kena bola basket tuh.
"LO GAPAPA?" tanyanya dari jauh.
Gue memberikan sinyal OK padanya sambil berlari menjauhi kantin. Kenapa kita tak bisa berdekatan?
★
Gue mengetuk-ngetukkan jari di meja belajar kamarku, menunggu Bintang pulang. Menunggu? Kesannya aku dan dia dekat ya? Kamar kami saling berhadapan, jaraknya cukup dekat untuk melompat. Apalagi Bintang punya kaki yang panjang gitu. Sebenarnya, hubungan kami dulu sangat dekat. Dan saat itu juga kami tidak pernah ada yang namanya 'kesialan ketika mata saling bertemu.'
Tapi hal itu berubah sejak aku dan Bintang bertemu dengan seorang nenek-yang menurut temen sekelas adalah seorang penyihir. Kami tidak percaya sama sekali. Tapi saat pulang sekolah kami berpapasan dengan nenek itu. Dia berkata. 'Kesialan akan terlepas saat kejujuran terkuak.'
Maksudnya apa?! Gue ga pernah bohong nek! Dan keesokan harinya, kami mendapatkan berbagai masalah jika saling bertatapan. Tapi kan, tidak mungkin jika berbicara dengan mata yang tidak saling bertatapan. Kepalaku terkulai lemas mengingat kejadian kelas tiga SMP itu. Sudah dua tahun, dan kami belum bisa menemukan nenek itu.
Sialan. Ini yang namanya kutukan? Lucu sekali. Smartphone yang bergetar membuatku kaget dan langsung menggeser layar. Ada line dari Bintang.
Bintang: B, udah tidur?
Kayanya dia baru pulang deh. Terdengar dari suara pintu kamarnya yang berdecit. Aku melirik jam, sudah jam sembilan ternyata.
Bulan: Belom. Lo baru balik?
Aku berdiri dan langsung menghempaskan tubuh di ranjang. Gabisa bohong, gue kangen banget bercanda bareng Bintang.
Bintang: Abis makan malem tadi. Lo udah makan belom?
Bintang perhatian? Iya. Dia memang seperti itu dari dulu. Dan itu… Yang buat gue suka sama dia. Mungkin gue cocok jadi artis karna selama bertahun-tahun tidak ada yang sadar akan perasaan gue ke Bintang. Hebat bukan?
Bulan: Udah. Tante sma Om balik kapan?
Bintang: Entahlah. Besok gue sarapan di rumah lo ya.
Bulan: Iya, mama udah kasihtau gue. Besok gue line pas udah berangkat sekolah.
Bintang: Oke. Thanks ya.
Sudah menjadi hal biasa Bintang sarapan di rumah gue. Apalagi kalk gada Tante Sani sama Om Rayhan. Orangtua kami dekat.
Bintang: Night. Sweet dreams.
★
Pagi harinya, aku bangun tepat pukul lima pagi dan langsung mandi. Membutuhkan waktu setengah jam untuk mandi dan bersiap-siap. Dengan cepat gue menuruni tangga dua langkah-dua langkah.
"Mama!! Masak apa? Wanginya enak!" ujarku sambil mendekat ke arah mama.
Mama menoleh dan tersenyum. "Nasi goreng, buat kalian."
Aku mengangguk dan langsung duduk di bangku.
"Bintang udah bangun belum?"
Pertanyaan mama membuatku teehenti dari meneguk s**u dan langsung mengecek line.
Bulan: B, udah bangun belom lo?
Aku mengungunyah roti bakar dan langsung menghabisi segelas s**u.
"Ma aku nasi gorengnya dikit aja ya. Agak kenyang nih makan roti sama minum susu."
Lo bilang gue rakus? Bodo amat. Nasi goreng buatan mama itu super super enak. Gue ga boleh melewatkannya. Akhirnya nasgor mama dateng juga. Suapan pertama, nikmat. Kedua, makin nikmat. Ga sadar udah abis. Si smartphone bergetar dan gue langsung geser layarnya.
Bintang: Gue udah siap. Lo belum berangkat ya?
Duh. Dia pasti nungguin deh.
"Ma! Aku berangkat ya!!" teriakku sambil berlari.
"Hati-hati sayang!"
Setelah menutup pintu, gue segera berteriak layaknya tarzanwati.
"B! BURUAN! NANTI TELAT!"
Tak lama kemudian punggungnga terlihat. Dia berjalan mundur. Gue hanya terkikik geli ngeliat tingkahnya dia.
"YAUDA BURUAN PERGI SONO!" teriaknya.
Setengah berlari, gue pun segera menghentikan taksi dan duduk manis di dalamnya.
★
"Gue ga ngerti sama kalian." ujar Pilly sambil bersandar pada bangku.
Gue menoleh dan menatapnya bingung.
"Kalian siapa?" tayaku sambil menyerit.
Pilly menghela napas dan duduk tegap. "Elo dan Bintang."
Dengan kesal aku memutar mata. "Ga ngerti kenapa? Lo kan udah gue ceritain kisahnya."
"Kalian ga pernah nyoba nyari nenek itu?" tanyanya.
Gue mikir dan mentotolkan jari telunjuk di dagu. "Pernah. Sering malah."
Gue mengudek-ngudek tas dan mengeluarkan selembaran kertas.
"Nih buktinya. Bahkan gue sama dia udah bikin sketsa tentang nenek itu. Rencananya mau gue pajang besok."
"Buset niat banget !" ujarnya.
Gue menghela napas. "Yaiyalah. Gue gamau kena sial mulu sepanjang hidup."
Pilly meletakkan kertas itu dan menghadapku.
"Kenapa salah satu diantara kalian ga pindah kota atau sekolah?"
Gue… Gamau itu terjadi. Sebagai jawabannya, gue hanya diam tak menanggapi pertanyaan Pilly.
Tuk.
Tiba-tiba ada sesuatu yang terkena kepalaku dan terjatuh ke lantai.
"Apaan tuh?" tanya Pilly.
Kupanjangkan tangan, dan meraba-raba bawah meja.
"Roti keju." ujarku sambil membolak balikkan sebungkus roti itu.
"Dari siapa?" tanga Pilly lagi.
Tiba-tiba smartphone bergetar dan aku segera menggeser layarnya.
Bintang: Dimakan ya. Gue tau lo belom ke kantin.
Gue hanya tersenyum. Bintang terkadang suka kelebihan pengetahuannya tentang gue.
Bulan: Thanks ya.
Dengan cepat gue meletakkan alat komunikasi itu ke meja dan mengambil roti itu.
"Ini dari Bintang." ujarku kalem.
Saat aku membuka bungkusnya, Pilly mentoel-toel pundakku.
"Apaan sih?" ujarku galak.
Wajah Pilly memperlihatkan kejahilannya. "Gue curiga ada sesuatu diantara kalian…"
Gue menaikkan sebelah alis. "Ya emang ada. Ga liat kita punya kemampuan buat saling bikin sial dalam sekali tatap?"
Pilly berdecak kesal.
"Serah dah!"
Lah. Kenapa dia ngambek begitu?
★
Gue ngantuk. Tapi gabisa tidur. Tadi sepulang sekolah gue sama Bintang udah nebar selembaran itu. Berharap bakalan ada seseorang yang mengenali nenek itu. Gue berputar ke kanan, kemudian kiri, kanan, kiri lagi, dan akhirnya…
BRUKK.
Dengan cantiknya gue terjun bebas ke lantai.
"Bete. Kenapa juga harus nyusruk gini." bisikku pada diri sendiri.
Dengan tergopoh-gopoh gue ngambil si smartphone dan langsung menggeser layarnya.
Bintang: Nyungsep ya? :p
Sialan. Dia pasti denger suara gue jatoh.
Bulan: Iya. Kenapa? Mau ikutan nyungsep?
Emang kadang keterlaluan deh si Bintang ini.
Bintang: Temenin gue di balkon yuk.
Gue menyerit dan melirik jam dinding.
Bulan: Ga nyadar sekarang udah jam satu malem?
Bintang: Pleaseee :(
Bulan: Traktir gue es krim.
Bintang: Hih. Udah ah. Ga jadi. Males.
Gue terkekeh. Dasar B.
Bulan: Yauda. Keluar gih.
Gue denger suara derak jendela dan lompatan.
Bulan: Balik badan ya. Gue mau ke balkon sekarang.
Bintang: Oke. Udah nih.
Dengan gesit gue lompat dari jendela, sama kaya yang dilakukan Bintang tadi.
Gue males buka pintu. Beneran deh. Hahaha.
"Mau ngapain sih B?" tanya gue sambil menghadap langit.
Bintang sudah berbaring di lantai kayu balkon, udah kaya kepompong. Badannya dibungkus sama selimut.
"Gue bete aja, gabisa tidur." ujarnya.
Kita sehati ya… Cie.
"Sama, gue juga. Elo sih nularin ke gue." ujarku sambil lirik-lirik ke arah Bintang.
Bintang hanya terkekeh pelan mendengar perkataanku.
"B, kira-kira selembaran itu bisa fungsi ga ya?" tanyanya putus asa.
"Kita cuma bisa pasrah B. Kalo emang ga ketemu sama tu nenek, kita mungkin harus jauh sejauh-jauhnya…" ujarku pelan.
Aku masih menatap Bintang yang terdiam. Bintang hanya terkekeh dan berguling ke samping. Tak disangka dia tengkurap dan mata kami saling bertemu. Oh, Sial. Dengan kecepatan penuh gue memalingkan wajah. Tiba-tiba ada tokai burung nemplok di tangan gue.
"Aaaa!Ada tokai!"
Ini beneran nyebelin. Gue berdiri, masuk ke dalam kamar dan langsung cuci tangan pake sabun.
"Kampret! Sejak kapan ada tokek nempel di kaki gue?"
Wakakak. Parah banget Bintang ketemplokan tokek.
Tuh kan, kita emang gabisa bersama.
Sedih ga sih?
★
"Kita… Dijebak."
Kami berkata berbarengan sambil memandang takjub salah satu stand yang berada di depan kami.
Love Line.
Itu nama stand-nya. Kami sedang berada di Festival sekolah saudara Pilly, dan dia memberikan tiket padaku dan Bintang. Kenapa? Dia pengen kencan sama Andre, sahabat Bintang. Makanya nyeret kita kesini. Gue kembali menatap Stand itu. Apa-apaan ini?!
Pilly!! Dia nipu gue!
Harusnya gue sadar kalo dia mau ngacir sama si Andre. Mangnya dia ga kasian kalo gue selalu kena sial kalo lagi bareng Bintang?!
"Jadi…" ujar kami berbarengan sambil bertatapan.
Sial! Gue dan dia serempak memalingkan wajah, dan tiba-tiba handphone gue jatoh, terus keinjek sama orang jalan. Ah kampret! Sial kan gue!
"B! Hape gue keinjek!" ujarku sambil berjongkok dan mengambilnya.
"Ini… Jam tangan gue mati."
Perkataannya yang memelas kontan membuat gue ngakak.
"Jangan ketawa deh B! Lo sial, gue kena sial. Dan sekarang kita harus gimana?"
Bintang menarik tangan kanannya, yang langsung membuatku tertarik dan menubruk tubuhnya.
"Ati-ati dong, B. Lo kan ga sendiri." ujarku.
Kami diborgol. Oleh Pilly. Entah kapan. Gue juga ga ngerti gimana cara dia bisa ngebuat kita keborgol gini.
"B. Lo percaya sama gue ga?" tanya Bintang.
Gue menyerit, tapi tak berani menatapnya. "Kenapa emang?"
"Lo tau ga ini borgol dari mana?" tanyanya.
"Dari mana?" tanyaku, tambah bingung.
Aku masih memunggungi Bintang, jadi posisi kita ga saling berhadapan.
"Dari Stand Love Line. Baru dikasih kuncinya kalo kita berhasil nyelesein misi yang dikasih sama mereka."
Gue cengo'. Apa dia bilang?
"Jadi maksud lo… Kita harus masuk ke dalem?" tanyaku horor.
"Iya. Tapi gue pengen lo nutup mata lo." tanyanya.
Gue menyerit bingung. "Buat apa lagi?"
"Biar gue ga sial lah, toil!" ujarnya rese.
Pengen gue jitak aja deh kepalanya.
"Gamau. Ntar lo macem-macem sama gue gimana?" ujar gue.
Bintang berdecak kesal. "Lo kenal gue dari kapan sih B?"
Oh ya, panggilan gue dan dia sama-sama 'B'. Entah sejak kapan sudah seperti itu.
"Gamau pokoknya. Lo yang harus ditutup matanya." ujarku kesal.
Ada keheningan janggal yang terjadi setelah gue berkata demikian. Tiba-tiba Bintang berdiri, ngebuat gue ikut berdiri.
"Fine. Gue yang tutup mata. Jangan sampe gagal ya." ujar Bintang.
Gue memberikan dua jempol untuknya.
"Ga perlu ngasih jempol." ujarnya ketus.
Wakakak. Akhirnya Bintang yang nutup matanya deh.
★
Tantangan Pertama: Menyuapi dengan mata tertutup.
Ah, ini sih udah gue lakuin sekarang.
"B, lo nyuapin gue ya." ujarku sambil menyuruhnya duduk dan memberikan garpu padanya.
"Nyuapin apaan?" tanyanya.
Aku nenggerakkan tangannya ke arah mangkuk mie ramen yang banyak itu.
"Mie ramen. Tiupin dulu ya nanti baru kasih ke gue." ujarku.
Bintang mengangguk dan mulai memutar garpunya.
"Nih." sodor Bintang setelah mendinginkan mie-nya.
Saat gue akan menyantapnya, Bintang malahan sok-sokan tau. Jadi aja tu garpu nyasar di pipi gue.
"B! Jangan gerakin kemana mana. Gua aja yang maju." pekik gue sambil mengelap noda di pipi.
Err, dasar Bintang. Setelah beberapa kali tu mie nyasar di idung, dagu, akhirnya bisa juga ngabisin mie itu. Kami berjalan menuju mini-games selanjutnya.
Tantangan Kedua: Mencari kata 'Free' dalam balon dengan memecahkannya bersama-sama tanpa benda tajam.
Wuapah?
"Kenapa diem aja sih B? Udah nyampe di tantangan kedua belom?" tanya Bintang.
Gue mendongak dan mendapati Bintang sedang menoleh ke kanan dan kiri.
"Udah sampe. Kita harus mecahin balon tanpa beda tajam."
Bintang manggut-manggut dengerin penjelasan gue.
"Yauda dudukin aja si, susah banget." ujarnya.
Saat gue melirik pemain yang lain, mereka saling berpelukan untuk memecahkan balon.
Ih, gue kan mau juga. Eh? Haha.
Akhirnya gue milih dua balon yang lumayang besar.
Balonnga di cat sih, jafi ga keliatan mana yang ada isinya. Pinter banget dah panitianya.
Gue mulai menduduki balon, tapi ga pecah. Padahan Bintang udah mecahin dua balon.
"B, gue gabisa." ujarku lemas.
Tiba-tiba gue mendongak dan mendapayi seorang panitia permainan.
"Sorry nih. Tapi kalian harus mecahinnya bersama-sama." ucapnya
Gue menyerit bingung. "Lah ini kita udah bareng-bareng kan?"
Si panitia itu menggeleng dan menunjuk salah satu pasangan yang lagi pelukan buat mecahin balon. "Kaya gitu yang diasebut bareng-bareng."
Oh…
"Kaya gimana B?" tanya Bintang.
Setelah penjelasan sedikit dari panitia itu, gue segera menghadap Bintang.
"Peluk." ujarku pelan.
"Hah?" tanyanya bego.
Wajh gue merona, dan orang-orang pada merhatiin gue.
"Pelukan, Bintang. Buat pecahin balonnya." ujarku.
Astaga gue gatau gimana merahnya muka gue sekarang.
Untung aja mata Bintang ditutup, kalo enggak gue bakalan kena olok sama dia.
"Yauda, sini." ujar Bintang sambil merentangkan tangannya.
Seandainya gue bisa tatap mata dia… Gue berjalan mendekat dan meletakan balon yang daritadi gabisa gue pecahin. Kemudian tangan gue melingkar di pinggang Bintang.
"Udah pas belom?" tanyanya.
Gue mengangguk saat dia nelingkarkan tangannya di pundakku.
Deg. Deg. Deg.
Semoga Bintang ga ngerasain detak jantung gue.
Deg. Deg. Deg.
Eh? Itu suara jantung gue apa Bintang?
Gue mendongak dan mendapati wajahnya yang bersemu merah.
"Udah pecah kan?" tanyanya gugup.
Dengan cepat gue melepaskan diri dan melihat kertas yang terjatuh ke lantai.
'Free'
"Dapet nih B!" ujarku senang.
Setelah tantangan itu, kami berlanjut ke tantangan selanjutnya.
Tantangan Ketiga: Saling menatap tanpa mengedip selama tiga puluh detik, sambil berkata I Love You dua puluh lima kali.
Astaga! Gue matung saat baca tantangannya. Kita mana bisa saling tatap?
"Kita bisa ke tantangan selanjutnya ga?" tanyaku pada panitia.
Dia menggeleng. "Ini tantangan terakhir."
Gue menggigit bibir bawah.
Gimana dong?
"Tantangannya apa sih?" tanya Bintang penasaran.
Gue diem.
"Saling menatap tanpa mengedip selama tiga puluh detik, sambil berkata I Love You dua puluh lima kali." ujar panitia.
Bintang kicep.
"Bisa ganti game ga?" tanya Bintang.
Si Panitia menggeleng. "Sorry, gabisa."
"Sebagai gantinya, lo mau berapa?" ujar Bintang.
Eh? Dia mau nyogok bukan? Dasar kucrut satu ini. Panitia menghela napas berat dan menunjuk satu tempat yang ditutupi oleh kain hitam. Dengan lemas akhirnya aku menarik tangan Bintang dan berjalan menuju kain hitam misterius itu. Gue curiga. Jangan-jangan di dalemnya ada sesuatu? Tiba-tiba Bintang menggenggam tanganku dengan lembut. Dengan cepat gue menoleh.
"Gapapa. Semua bakalan baik-baik aja." ujar Bintang.
Gue nengangguk mantap. Ini… Pertama kalinya gue digandeng Bintang. Saat gue membuka tirai itu, langkah gue terhenti.
"Kenapa berenti B?" tanya Bintang.
"Itu… Ada… Nenek itu B…" ujarku.
Aku menunjuk seorang nenek yang sedang melambai ke arah kami.
"Dimana? Buru samperin!" ujar Bintang gemas.
"Dia ada di tempat tantangan selanjutnya." ujarku pelan.
Akhirnya gue berjalan mendekati nenek itu dan kamipun duduk.
Nenek itu berada diantara kami berdua.
"Nek? Tolong hapus kutukannya." ujarku.
Nenek itu hanya tersenyum. "Cuma kalian yang tau cara menghancurkan kutukan itu."
Gue mengerang sebal. Bintang sudah membuka matanya. Siap-siap untuk ketiban sial.
"Nek. Jangan bercanda deh. Masa iya kita bakalan kena sial mulu?" ujar Bintang ketus.
Gue menunduk, sebagai ganti Bintang menutup matanya.
"B, pokoknya sekali kita bertatapan langsung ucapin I Love You itu secepatnya ya." ujar Bintang santai.
Uhh, menurut lo mungkin itu gampang. Tapi gue… Susah banget B.
Gue mulai mendongak dan menatap Bintang. Mata Bintang. Mata hitam yang sangat gue kangenin itu, akhirnya bisa gue liat juga.
"I Love You." ujar Bintang.
Gue diem.
"I Love You." ujarku.
Akhirnya aku mengucapkan kata itu.
Ini cuma games, okey.
Dan gue mengikuti langkah selanjutnya. Kami saling berkata tanpa jeda, sebanyak dua puluh lima kali. Berbarengan. Saling menatap satu sama lain.
"I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You."
Dalam hati gue bersyukur karna ikut game ini. Akhirnya gue bisa ngungkapin apa yang gue rasa.
"I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You. I Love You."
Berakhir. Tantangan terakhir kami sudah selesai.
"I Love You…" ujarku pelan sambil menunduk.
Bintang meremas tanganku yang dingin.
"Kenapa gada kejadian apa-apa?" ujar Bintang, melihat nenek itu.
Nenek itu tersenyum mencurigakan. "Kesialan akan terlepas saat kejujuran terkuak."
Nenek itu akhirnya keluar dengan senyuman yang terukir si wajahnya. Gue tersentak dan mendongak. Ah… Jadi maksudnya kejujuran itu… Gue ngungkapin apa yang gue rasa? Tapi… Gue melirik Bintang. Apa Bintang ngerasa apa yang gue rasa?
"Jadi… Maksud dari perkataan itu… Tiga kata itu?" tanya Bintang.
Gue mengangguk kikuk. "Mungkin."
Tak berapa lama kemudian, panitia datang dan melepas borgol kami. Aku berjalan beriringan dengan Bintang, tanpa ada satu kata yang terlintas. Sampai akhirnya Bintang mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku.
"Sorry, gue ga jujur dari awal." ujarnya.
Deg. Jadi maksudnya? Gue menatap dia dengan takjub. Bintang terlihat gugup, dia mengusap tenguknya.
"Jadi… Tantangan terakhir itu adalah isi hati gue." ujarnya sambil menatapku.
Aku… Aku tak tau lagi harus gimana.
Aku memeluk tubuhnya dan menangis. "Gue juga… Sorry karna ga jujur."
*** END ***