Kritis

1024 Kata

"Ri... Ria...," panggil Hendra yang sudah berdiri di sampingnya dan mengguncang tubuhnya. Aku yang dari tadi terbaring di atas tempat tidur langsung bangun walau dengan sangat hati-hati karena khawatir jika jarum infus yang terpasang di tanganku akan membengkok atau terjadi hal yang tak di inginkan. Setelah dapat bangun dengan sempurna, aku segera berjalan ke arah tempat tidur Ria sambil membawa serta selang infus. Sungguh ini sangat menyusahkan dan menghalangi gerakku yang terbiasa begitu lincah dan cepat. Beberapa kali aku memanggil nama Ria dan mengguncang tubuhnya, berharap jika dia akan membuka matanya dan berhenti meringia kesakitan. Tapi seberapa keras usahaku, dia tak kunjung membua matanya. Bibirnya terus saja meringis kesakitan seolah-olah dia sedang di siksa oleh ses

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN