Belatung, itu yang ada di dalam pikiranku saat selesai menekankan kapas panas ke luka Ria. Tapi sayang ternyata aku salah. Di luka itu tak ada makhluk kecil berwarna putih yang menjijikan dan selalu mampu membuatku mual serta mengeluarkan isi perutku. Meski tak ada makhluk menjijikan itu, tetap saja aku, Hendra dan rekannya tak dapat mengalihkan pandangan kami dari luka yang telah menghitam itu. Apakah luka itu baik-baik saja dan hanya karena darah beku saja makanya lukanya menghitam? Aku sebenarnya berharap seperti itu, tapi sayang sekali harapan tidak seindah kenyataan. Warna hitam itu bukan karena darah membeku, tapi karena ada makhluk kecil penghisap darah sedang makan di luka yang Ria alami, lintah. Ya, makhluk itu kini telah berwarna hitam yang menurutku sudah tak sewaja

