Dengan terburu-buru Hendra segera beranjak dari duduknya dan meninggalkanku sendiri. Ada sedikit rasa kecewa di dalam hatiku, tapi bagaimana lagi, semua sudah menjadi resiko yang harus aku tanggung karena berani berpacaran dengan seorang Abdi Negara sepertinya. Kusandarkan kepalaku pada sandaran kursi dan menatap langit-langit kamar yang di cat putih. Sepertinya di rumah sakit ini hanya satu bagian saja yang menunjukkan jika ini adalah sebuah rumah sakit, ya itu langit-langitnya yang berwarna putih. Aku terus saja memandang ke sana-ke mari menghilangkan kekecewaan yang ada di dalam hatiku sambil sesekali memandang Ria yang masih terlelap tidur. Hingga akhirnya mataku tertuju pada pintu toilet yang sedari tadi masih tertutup rapat sejak Abi masuk ke dalamnya. Kenapa Abi belu

