"Ndan...," terdengar suara seseorang dari arah pintu tepat sesaat sebelum sosok perempuan itu mendekatiku, dan sosok itu langsung menghilang tanpa belas bagai di tiup angin yang begitu kencang. Huft... aku menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Terima kasih Tuhan, Engkau masih melindungi kami. Dengan perlahan aku mulai melepas mukena yang tadi masih kukenakan kemudian melipatnya dengan rapi, sama seperti ketika ibu itu meminjamkan mukenanya padaku. "Bi, ada apa?" tanya Hendra yang jauh lebih cepat dapat mengendalika perasaannya ketimbang aku. Ya, sepertinya Hendra pun kini telah terbiasa dengan makhluk-makhluk tak kasat mata yang sering kali muncul di hadapanki. Kadang aku merasa kasihan pada dia karena harus mengalami semuanya. Tapi bagaimana lagi, semu su

