Bruk... tiba-tiba aku mendengar suara benda jatuh dengan begitu kerasnya hingga membuatku yang sedang terlelap dalam buaian malam terbangun. Tanganku segera terarah ke samping tempat tidur untuk menyalakan lampu tidur dan memastikan benda apa yang terjatuh.
Begitu lampu menyala, aku langsung mengedarkan pandanganku ke berbagai arah, tapi sayang aku tak menemukan satu benda pun yang terjatuh. Semua terlihat baik-baik saja dan masih berada pada tempatnya.
"Mungkin aku salah dengar," gumamku sambil kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan bersiap kembali merajut mimpi yang tadi sempat terputus.
Bruk... lagi aku mendengar suara benda jatuh dengan begitu kerasnya. Dan kali ini aku sangat yakin jika aku tidak salah dengar karen suranya benar-benar begitu keras dan aku dalam keadaan sadar seratus persen.
"Ri... bangun Ri!" kataku sambil menggoyangkan tubuh Ria yang sedang terlelap dalam buaian Sang malam.
"Mmmhhh... apa Di?" tanya Ria yang masih memejamkan matanya dan terlihat begitu enggan untuk membuka mata walau hanya sedetik saja.
"Kamu dengar gak ada suara benda jatuh?" tanyaku sambil menajamkan pendengaranku untuk memastikan jika ada suara benda jatuh kembali.
"Gak dengar apa-apa, aku cuma dengar Song Jong Ki mengungkapkan perasaannya padaku di atas kapal pesiar," jawab Ria masih dengan mata terpejam dan sebuah senyuman tersungging dari bibirnya.
Tuhan... sejak kapan anak satu ini terkena demam drama Korea? Dan siapa tadi dia bilang, Song Jong Ki? Ah, seperti apa pula tampang aktor satu itu hingga membuat Ria memimpikan dirinya.
"Ri, bukalah matamu bentar, kita lihat apa yang jatuh!" pintaku sambil kembali menggoyangkan tubuh Ria.
Semenit du menit aku menunggu respon dari perempuan yang sejak beberapa jam tadi berbaring di sampingku, tapi tak ada respon sedikit pun, bahkan walau hanya sebuah erangan atau apapun namanya. Dia sepertinya telah kembali terlelap dalam tidurny dan bermimpi bertemu bersama Song Jong Ki.
Dengan jantung yang mulai berdegup aku memberanikan diri untuk beranjak dari tempat tidur. Kunyalakan lampu kamar hingga kamar yang tadi redup kini telah terang benderang dan aku dapat melihat keadaan di sekitarku dengan lebih jelas.
Kembali aku memgedarkan pandanganku ke sana-ke mari, tapi semuanya terlihat baik-baik saja san tak ada satu benda pun yang bergeser dari tempatnya atau bahkan terjatuh ke lantai.
Semua masih berada pada tempatnya, lalu tadi kenapa ada suara benda jatuh dengan begitu kerasnya?
Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan membukanya dengan sangat hati-hati. Kunyalakan lampu kamar mandi tapi lagi-lagi semuanya masih berada di tempatnya dan tidak ada satu pun benda yang jatuh.
Huft... aku hanya dapat menarik napas dalam sambil memutar otakku memikirkan benda apa yang sekiranya jika jatuh akan menimbukkan sura yang begitu kesarnya. Semakin aku berpikir, semakin aku tak dapat mencari tahu jawabannya. Akhirnya aku mematikan lampu kembali dan berjalan ke arah tempat tidur.
"Aaaggghhh...," teriakku saat aku merasakan ada sebuah tangan yang memegang kakiku dengan sangat erat.
Aku menghentakkan kakiku dengan sangat keras hingga aku merasa kakiku terlepas dari genggaman apapun itu. Kembali aku berlari ke arah saklar lampu dan menyalakan lampu kamar.
Aku berjalan ke arah di mana aku merasa kakiku di pegang oleh seseorang, tapi aku tak menemukan apapun di sana. Semuanya terlihat begitu normal dan baik-baik saja.
Mungkin tadi hanya perasaanku saja.
Aku berjalan ke arah tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman. Aku sengaja membiarkan lampu tetap menyala agar saat aku mendengar benda jatuh dapat langsung memastikannya tanpa harus berjalan terlebih dahulu untuk menyalakan lampu.
"Di... matiin lampunya silau," gumam Ria sambil menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Aku terdiam mendengar gumam temanku yang satu ini. Bagaimana bisa dia protes hanya karena lampu sedang saat aku membangunkannya dia bergeming dan tak meresponku.
"Di...," lagi aku mendengar suara rengekan Ria tapi tetap tak kuhiraukan.
Aku langsung menarik selimut hingga d**a dan mencoba memejamkan mataku dan menyusul Ria ke dalam indahnya mimpi. Jika Ria bermimpi bersama Song Jong Ki, biarkan aku bermimpi bersama pria yang berulang kali menyelamatkan nyawaku--Hendra.
Mataku baru saja akan terpejam saat tiba-tiba lampu kamar tiba-tiba mati. Sepertinya genset resort tidak berfungsi dan PLN sedang tidak bersahabat hingga memilih mematikan aliran listrik.
"Shit... kenapa pakai acara mati lampu segala sih?" umpatku kesal.
Kekesalanku tak begitu ku ambil pusing, aku langsung mencoba memejamkan mataku dam bersiap kembali merajut mimpi yang tadi terpotong karena suara benda jatuh.
"Tolong... tolong...," terdengar suara orang minta tolong dengan begitu kerasnya hingga membuatku kembali membuka mataku dan menajamkan pendengaranku.
"Tolong... tolong...," lagi suara itu terdengar dengan begitu jelasnya.
"Ri bangung, Ri!" kataku sambil mengguncangkan tubuh Ria dengan kuatnya.
"Apa sih Di, ganggu orang tidur," terdengar suara Ria dan perlahan tempat tidur bergerak, sepertinya kali ini Ria membuka matanya dan duduk di tempat tidur.
"Kamu dengar suara orang minta tolong gak?" tanyaku yang masih mencoba menajamkan telingaku.
Suasana malam dan di lengkapi dengan acara mati lampu membuatku tak dapat melibat ekspresi Ria serta mencari tahu asal suara minta tolong tadi. Tapi yang jelas aku sangat yakin jika saat ini Ria pun sedang memasang pendengarannya dengan tajam dan tak ingin melewatkan apapun.
"Tolong... tolong...," kembali suara minta tolong itu terdengar dengan begitu jelasnya. Dan kali ini seperti tak jauh dari kamar yang aku dan Ria tempati.
"Bener Di, tapi siapa?" tanya Ria dengan suara yanh terdengar begitu penasaran.
"Entahlah Ri," kataku sambil mengangkat bahuku walau Ria tidak dapat melihat ekspresi dan gerak tubuhku, tapi aku tetap melakukan itu sebagai sebuah kebiasaan.
"Liat yuk!" usul Ria yang suksea membuatku terperanjat mendengar ajakannya yang sungguh sangat aneh.
Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran temanku yang satu ini. Saat ini sedang mati lampu tapi dia mengajakku untuk melihat apa dan siapa yang tadir berteriak meminta tolong dengan bergitu keras.
"Gila kamu, mati lampu gini ngajak nyari tau siapa yang minta tolong," kataku yang benar-benar tak paham dengan jalan pikirannya.
"Ayolah, di luarkan terang bulan,"kata Ria.
Malam ini bulan memang sedang bersinar penuh hingga aku yakini keadaan di luar pasti jauh lebih terang daripada di dalam kamar. Tapi memastikan siapa yang meminta tolong sepertinya bukan ide yang baik.
Aku baru saja akan membuka mulutku saat aku merasakan tempat tidur bergerak yang menandakan Ria beranjak dari tempat tidur untuk mencari tahu siapa yang meminta tolong. Mau tidak mau akhirnya aku mengikuti Ria yang terdengar melangkahkan kaki ke arah pintu kamar.
"Aaaaggggghhh...," teriakku dan Ria saat membuka pintu dan begitu kagetnya kami saat melihat apa yang terjadi.