Resort

1002 Kata
"Kamu tukar tiket kita ya?" tuduhku pada Ria. "Tukar tiket? Enggaklah, lagian buat apa tukar tiket?" jawab Ria mengelak. "Biar aku berada di tempat yang sama dengan Hendra," jawabku sambil sedikit mengulum senyum. Walau kesal, tapi sungguh aku senang dalam berlibur ke sini. Di sini pujaan hatiku berada, dan setidaknya aku bisa dekat dengannya walau aku sendiri tak tahu dia berada di mana sekarang. "Halah, tadi saja di ajak ke sini gak mau, sekarang udah di sini malah senyam senyum," kata Ria sambil sedikit menyenggol lenganku pelan. "Biarin, ya sudah kita cari penginapan yang nyaman," kataku sambil melangkahkan kaki menyursuri dermaga yang begitu indah. Kami terus berjalan menapaki pinggiran pantai di mana banyak resort, penginapan, dan juga hotel berdiri. Pulau ini memang merupakan destinasi wisata yang baru dan bisa di bilang alamnya masih begitu asri dan perawan. Tapi hal itu tidak lantas membuat fasilitas penginapan dan hotel serta kawan-kawannya tertinggal dari tempat wisata lainnya yang ada di Indonesia. Dari tempat kami berdiri, kami dapat melihat sebuah resort di atas laut yang begitu indah hingga dapat menjanjikan pengunjungnya merasakan suasana di Maldives sana. Sebuah tempat yang pastikan akan sangat pas untuk pasangan yang baru menikah. Andai aku dan Hendra bisa bulan madu di sini. Ups ... entah bagaimana pikiran yang sedikit romantis itu masuk ke dalam pikiranku. Bulan madu, sesuatu yang bahkan belum ada dalam agenda kami walau pengajuan nikah telah di urus dan sudah acc. Yang artinya, secara kedinasan aku memang telah menjadi istri dari Hendra, tapi secara negara dan agama kami belum nikah. Ribet, ya nikah dengan seorang abdi negara memang tak semudah dalam bayangan orang. Kami bukan hanya menikah secara negara dan agama, tapi kami juga menikah secara dinas. Dan menikah dinas itu tidak semudah membalikkan telapak tangan atau semudah mengurus surat-suarat di KUA yang seminggu atau dua minggu saja selesai. Ada serangkaian berkas-berkas dan menghadap sana-sinu hanya untuk dapat menikah bersama pasangan yang bertitel abdi negara. "Apa kamu memikirkan hal yang sama dengan yang aku pikirkan?" tanya Ria membuyarkan semua lamunanku tentang bulan madu bersama calon imamku yang sekarang entah berada di bagian pulau mana. "Ya, sepertinya kita sama," jawabku sambil melirik ke arah Ria yang sedang berbinar menatap resort di atas laut yang memang telah menarik perhatian kami. Kami berjalan menyusuri pasir putih untuk sampai di resort. Sebenarnya ada sebuah jalan beraspal yang dapat kami lalui untuk sampai ke sana, tapi melalui jalan pantai terasa begitu menyenangkan daripada melalui jalab beraspal itu. Dengan berjalan di pantai, sesaat kami dapat menikmati aroma air laut yang asin dan angin yang berhembus dengan begitu perlahan membelai rambut kami yang tergerai. Selain itu, kami juga bisa membuka alas kaki kami untuk membiarkan kaki telanjang kami bersentuhan dengan pasir putih yang begitu bersih dan tanpa sampah. "Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis saat aku dan Ria telah sampai di loby resort. "Ada kamar kosong tidak Mbak?" tanyaku. "Ada dua kamar VIP, dan satu kamar kelas dua. Mbak mau pilih yang mana?" tanya resepsionis lagi. Aku sedikit bengong mendengar jawaban dari resepsionis. Awalnya aku mengira akan banyak kamar yang kosong mengingat Pulau Y adalah destinasi wisata yang baru, tapi ternyata aku salah. Dan ya, kesalahan itu terlihat dari jumlah kamar yang tersisa di sini. "VIP saja satu," jawab Ria tanpa menunggu persetujuanku. Aku sendiri memang tidak keberatan jika harus sekamar dengannya, setidaknya ada teman bercerita sebelum tidur. Lagi pula kami sama-sama perempuan yang tidak akan jadi masalah jika tidur sekamar. "Baik Mbak, atas nama siapa?" tanya resepsionis lagi. "Ria Heriawan," jawab Ria lagi, "Tak apa kan Di pakai namaku?" "Gak apa Ri, sama saja mau pakai namaku atau namamu juga, yang penting bisa tidur," kataku sambil tersenyum. "Baik Mbak, ini kuncinya," kata resepsionis sambil menyerahkan sebuah kunci bernomor lima pada Ria, "Mas Imam, tolong antar Mbak-mbak ini ke kamarnya." Kami membalikkan badan dan melihat seorang pria bertubuh tinggi dengan perawakan tegak dan berkukit kecoklatan. Sekilas aku merasa pernah bertemu dengan pria itu, tapi sayang, aku sungguh tak dapat mengingat di mana aku bertemu dengan pria yang sepertinya bernama Imam dan akan mengantarkan kami ke kamar yang telah kami pesan. "Mari Mbak saya antar," kata pria itu dengan begitu sopan. Sekilas, ya sekilas dia menatap ke arahku seolah memastikan siapa diriku. Dan aku dapat melihat raut keterkejutan yang terpancar di wajahnya, tapi dia dapat dengan segera mengendalikan keterkejutannya tersebut. Pak Imam berjalan di depan kami untuk menunjukkan kamar yang akan aku dan Ria tempati. Antara loby resort dengan kamar-kamar yang ada di atas laut itu di hubungkan dengan jalan yang terbuat dari kayu yang di tata dengan begitu rapi hingga menimbulkan kesan artistik. "Kita pernah bertemu sebelumnya ya Pak?" tanyaku yang penasaran dengan Pak Imam. "Mbak pernah ke sini sebelumnya?" "Tidak, ini pertama kali saya ke sini." "Kalau begitu kita pernah bertemu karena saya tidak pernah meninggalkan pulau ini." "Oh ... mungkin saya salag melihat orang pak." Bibirku memang berbicara seolah aku salah mengenali orang, tapi entah kenapa pikiranku mengatakan hal yang lain. Aku masih memiliki keyakinan jika aku pernah bertemu dengan Pak Imam, tapi aku tak dapat mengingat di mana bertemu dengannya dan kapan. Tapi ya sudah, mungkin aku memang salah mengenali orang. Dan jika benar pernah bertemu pun, aku yakin nanti pasti akan mengingat di mana dan kapan kami bertemu. "Ini kamarnya Mbak," kata Pak Imam saat kami sampai di sebuah kamar yang di pintunya tertulis angka lima. "Terima kasih Pak, ini untuk Bapak," kata Ria sambil memberikan selembar uang dua puluh ribu kepada Pak Imam. Sepeninggal Pak Imam, kami langsung masuk kamar dan langsung terperangah dengan keadaan kamar ini. Semua ornamen di dalam kamar ini terbuat dari kayu dengan ukiran yang begitu indah dan penataannya benar-benar luar biasa. "Wow ... amazing," kata Ria takjub. Aku menyimpan tasku ke dalam lemari dan mulai berjalan ke arah jendela yang langsung menghadap ke laut. Perlahan aku membuka jendela dan angin langsung menyapaku dengan begitu lembut. "Indah," gumamku saat menatap ke arah laut biru yang begitu indah di mana di salah satu pantainya terlihat hamparan pasir putih dan barisan pohon yang tinggi menjulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN