Angin berhembus dengan begitu perlahan menerbangkan beberapa helai rambutku. Beberapa kali aku membetulkannya agar rambutku tidak menghalangi pandanganku dari Birunya laut yang beratapkan langit yang sama Birunya. Kuhirup udara beraroma khas lautan yang begitu menenangkan hati dan jiwaku.
Ya, saat ini aku sedang berada di atas kapal yang akan membawaku ke Pulau Z, tempat di mana aku dan Ria akan berlibur selama seminggu untuk menghempaskan semua penat yang memenuhi pemikiran kami.
"Hhhhmmm ... aromanya khas ya Di?" tanya Ria yang sedang berdiri di sampingku sambil merentangkan tangannya dan menghirup udara dalam-dalam.
"Ya, suatu aroma yang dapat memabukkanku setiap kali aku menghirupnya," kataku sambil terus menatap ke arah laut lepas yang begitu indah.
Tak ada jawaban dari Ria walau hanya sepatah kata pun, mungkin dia sedang menikmati indahnya pemandangan dari atas kapal. Tapi teranyata aku salah, ketika aku mentapa ke arahnya, dia tengah menatapku dengan tatapan yang begitu tajam dan menyelidiki.
"Ada apa? Ada yang salah denganku?" tanyaku sambil memerhatikan penampilanku dan kurasa masih serapi saat aku melepas kepergian Hendra sejam lalu.
Lagi tak ada jawaban dari Ria, dia hanya menatapku yang kemudian diikuti dengan tawanya yang begitu renyah. Entah apa yang dia teetawakan karena aku sendiri merasa tak ada sesuatu yang aneh dari diriku.
"Yakin aroma laut lebih memabukkan daripada ciuman Hendra?" tanya Ria di tengah-tengah tawanya.
Mendengar pertanyaan Ria sontak saja membuat pipiku merah merona bagai mengenakan blush on. Aku tak pernah menyangka sama sekali jika Ria akan berkata seperti itu, sesuatu yang bisa dikatakan cukup tabu dibicarakan dengan orang lain--sekalipun kepada keluarga.
"Merahkan?" goda Ria sambil terus tertawa.
"Aroma laut dan ciuman Hendra itu berbeda kali Ri, jangan di samain dong. Lagian kamu bagaimana bisa berpikir jika aku dan Hendra sudah berciuman?" kataku sambil berusaha mengelak dari ulah jail Ria.
"Kita itu bukan anak kecil Di, jadi sepertinya hal itu bukan sesuatu yang aneh. Terlebih kamu sempat menginap di rumah Hendra."
"Saat aku menginap di sana aku masih hubungan sama Wilman ya, itu kan saat kita masih KKN dulu."
Seketika raut wajahku berubah sedih hanya karena satu kata, KKN. Bagaimanapun aku memang belum bisa melupakan kejadian yang telah merenggut seorang sahabat yang telah menemani perjalananku selama sebulan di sana. Sahabat yang walau baru dikenal saat itu tapi telah begitu peduli padaku.
Evi, sampai kapanpun akan menjadi sebuah nama yang akan selalu aku kenang. Dia memang telah tiada karena kejadian mengenaskan di tempat KKN dulu, tapi naman dan kenangannya akan selalu hidup di dalam lubuk hatiku yang terdalam.
Tanpa kata aku langsung melangkahkan kakiku menjauh dari pagar yang ada di dek kapal. Aku ingin menepi sejenak dan membiarkan diriku larut dalam sebuah kenangan yang begitu menyakitkan.
Tanpa terasa perlahan mutiara-mutiara bening dan hangat mulai membasahi pipiku. Berulang kali aku menghapusnya, tapi butiran bening itu tak mau berhenti mengalir hingga membentuk dua buah sungai di pipi kiri dan kananku. Aku memang selalu menangis ketika mengingat kejadian itu--mengingat Evi.
"Kita sama-sama kehilangan dia, Di," kata Ria yang kini sudah berada di sampingku.
"Rasanya sangat menyakitkan ketika mengingat semua itu, Ri. Bagaimana dia ...," kataku tanpa mampu menyelesaikan kata-kataku, dan kenangan itu kembali dengan begitu jelasnya hingga membuatku semakin terisak.
"Sudah Di, biarkan dia tenang di alam sana. Kalay kamu terus menangis, dia tak akan tenang. Ini sudah setahun berlalu, Di," kata Ria sambil merangkulku dan mencoba menguatkanku dari semuanya.
Setahun--bukan waktu yang singkat, tapi aku masih belum bisa melupakan semuanya. Senyumnya, tawanya, kesetia kawanannya, dan semua tentang dia. Ingin sekali saja aku bertemu dengannya kembali dan melihat senyum yang begitu indah dan tenang itu.
Vi ... sekali saja kamu perlihatkan dirimu padaku, aku merindukanmu.
"Sudah Di jangan nangis lagi!" kata Ria sambil mengelus punggungku dengan sangat perlahan.
Huft ... aku mencoba menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan sangat perlahan. Kuusapkan kedua telapak tanganku pada pipi yang telah basah oleh air mata yang aku teteskan karena rasa kehilangan yang begitu mendalam.
Benar kata Ria, aku tak boleh terus bersedih karen hal itu akan membuat Evi tak tenang di sana. Aku tak ingin membuatnya menderita walau hanya sedetik. Aku ingin dia bahagia dan selalu tersenyum meski aku sudah tak dapat melihatnya lagi.
"Nanti kita di sana mau ngapain saja, Di?" tanya Ria yang berusaha mengalihkan pembicaraan dan pemikiranku.
"Hhhmmm ... paling juga renang, nyelam, dan tentu saja berjemur," kataku yang mencoba menghilangkan semua rasa sedihku.
"Renang? Gak takut hitam apa? Inget bentar lagi kamu nikah, masa di pelaminan kulitmu hitam?" kata Ria sambil sedikit tersenyum dan sepertinya membayangkan bagaimana jadinya kalau kukitku berubah jadi sawo matang.
Menikah, sepertinya kata itu terasa semakin menjauh dariku. Bukan karena aku tak yakib dengan keseriysan Hendra atau sudah tak sayang padanya, tapi tugasnyalah yang membuat hari bahagia itu semakin menjauh dari hidupku dan dirinya.
"Siapapun yang pergi ke pulau itu, dia akan pulang nama dan jasadnya tak akan pernah diketemukan," lagi aku mendengar sebuah suara yang aku sendiri tak tahu suara siapa itu.
"Siapa itu?" tanyaku sambil mulai melangkahkan kakiku mencari arah suara itu berasal.
Aku memutuskan mencari si empunya suara itu untuk menanyakan semuanya. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada Hendra--aku tak ingin kehilangan lagi hanya karena sesuatu yang tak berguna.
"Kamu siapa?" tanyaku sambil berjalan ke sana-ke mari, tapi suara itu telah menghilang dan meninggalkan banyak tanya dalam benakku.
"Ada apa sih Di?" tanya Ria yang mulai keheranan dengan sikapku.
"Kamu dengar suara tadi?"
"Suara apa? Aku gak denger apa-apa."
"Itu Ri suara yang bilang jika siapapun yang pergi ke Pulau Y tidak akan selamat dan jasadnya tak akan ditemukan."
"Gak mungkin gitu, Di. Ingat, Pulau Y adalah salah satu objek wisata yang banyak di kunjungi wisatawan termasuk turis asing, dan selama ini tidak dikabarkan jika para wisatawan itu tewas. Yang tewas itu baru kenarin saja."
Benar kata Ria, Pulau Y adalah salah satu destinasi wisata yang di gandrungi oleh para wisatawan. Dan sebelumnya tidak ada berita kematian dari tempat itu, kecuali kasus kematian seorang perempuan yang membuat Hendra harus berangkat ke sana. Jadi tidak mungkin tempat itu berbahaya.
Tapi kenapa suara itu bilang siapa yang ke sana tidak akan pulang kembali?
Aaaggghh ... hal itu benar-benar membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Suara musterius dan kenyataan di lapangan sangat bertolak belakang.
"Di, sudah sampai ayo turun!" ajak Ria membuyarkan semua pemikiranku.
Gegas aku mengambil barang-barangku dan berjalan beriringan menapaki sebuah dermaga kecil yang begitu bersih dan indah. Dermaga ini tidak terbuat dari tembok, melainkan dari kayi, tapi ini justru membuatnya semakin indah.
"Selamat datang di Pulau Y, semoga wisatanya menyenangkan," terdengar suara seorang pria yang aku perkirakan dia adalah seorang pemandu wisata yang akan memandu beberpa turis asing.
"Pulau Y, bagaimana kita bisa berada di sini Ri? Bukankah tiket kita ke Pulau Z?" tanyaku sambil menatap Ria kebingungan.