Kata-kata dari suara yang entah siapa itu masih saja bermain dengan indah di dalam otakku hingga membuatku semakin pusing tujuh keliling. Bukan hanya pusing, tapi juga kehilangan napsu makan untuk menyantap nasi udum yang sebenarnya tadi terasa begitu menggoda untuk dicicipi tapi sekarang benar-benar membuatku tak selera sama sekali.
Huft ... akhirnya aku hanya mampu menarik napas dalam untuk menghilangkan semua pemikiran yang ada di otakku. Dengan lemas aku mencoba memasukkan nasi uduk yang ada di hadapanku ke dalam mulut untuk mengisi perut yang sedari tadi sudah bernyanyi dengan begitu merdunya.
"Jadi, kita nyusul Hendra apa lanjut ke pulau Z?" tanya Ria di tengah-temgah sarapan yang begitu kupaksakan.
"Hhhmmm ... entahlah," jawabku mencoba acuh dengan apa yang ditanyakan oleh Ria.
Aku memang merindukan Hendra, ingin menghabiskan waktu bersama Hendra. Tapi dia sendiri ke sana bukan untuk senang-senang, tapi untuk bekerja. Selain itu, pulau itu pasti sekarang kurang aman untuk berlibur, dan niat aku dan Ria adalah ingin berlibur menghilangkan semua penat. Jadi pulau Z menjadi satu pilihan yanh sepertinya akan jauh lebih aman.
"Beberapa orang yang menuju Pulau Y meninggal," kata-kata dari orang yang aku temui saat mencari Ria tadi kembali terngiang di telingaku.
Kata-kata itu membuatku semakin bingung dengan pilihan mana yang harus aku ambil. Karena aku sendiri sesungguhnya sangat takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Hendra.
"Bengong lagi, jadi kita mau ke mana?" tanya Ria membuayarkan semua lamunanku.
"Terserah kamu saja Ri," jawabku sambil menyendok nasi uduk dan kembali melahapnya.
Ya, pilihan itu akan lebih baik diserahkan pada Ria. Dia tidak terkontaminasi dengan hal-hal aneh yang tadi menimpaku. Sesuatu yang bahkan baru kali ini saja aku alami.
Waktu yang hilang ... lagi-lagi kata-kata itu terngiang-ngiang di telingaku. Aku penasaran dengan hal itu, tapi aku sendiri tak tahu ke mana harus mencari tahu menganai semua itu. Aku hanya bisa pasrah lada keadaan yang sangat di luar nalar.
"Kita ke Pulau Z saja ya, katanya pantainya jauh lebih indah dari Pulau Y," kata Ria setelah terdiam beberapa saat dan memikirkan semuanya.
See, pada akhirnya Ria memilih untuk berlibur ke Pulau Z. Mungkin itu memang pilihan terbaik yang bisa di ambil. Suatu tempat yang indah,menenangkan, dan juga aman tentram serta sentosa--ups kenapa pikiranku jadi ngelantur. Ah sudahlah, aku pusing dengan semua keadaan ini.
"Bagaimana?" tanya Ria saat aku tak menanggapi perkataannya sedikitpun.
"Hhhhmmm ... terserah kamu saja Ri, aku tak masalah jika kita ke Pulau Z pun," jawabku yang baru saja menyelesaikan sarapanku dan meneguk segelas air teh yang disediakan oleh ibu penjaga warung.
"Makannya gak habis, Di?" tanya Ria sambil menatap sisa nasi uduk di atas piring yang ada di hadapanku.
"Aku kenyang," jawabku sekenanya.
"Kamu hanya makan sedikit bagaimana bisa kenyang?" tanya Ria lagi.
Ya, aku hanya menghabiskan sekitar seperempat dari nasi uduk pesananku. Aku tak menghabiskannya bukan karena nasi uduknya tidak enak atau perutku sudah kenyang, tapi karena pikiran yang berkecamuk di dalam otakku. Pikiran yang mampu melenyapka semua selera makanku hanya dalam beberapa menit saja.
"Aku sudah sarapan bersama Hendra sebelum dia berangkat tadi," jawabku berbohong.
Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibit Ria, dia hanya mengerutkan keningnya tanda tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. Dia memang bukan sahabatku, tapi setidaknya aku cukup tahu kebiasaan Ria saat dia sedang tak mempercayai perkataan seseorang.
"Tak usah mengerutkan kening gitu, jelek tahu," kataku sambil sedikit terkekeh--berusaha mencairkan suasana yang sempat tegang karena sikapki sendir.
"Biarin, daripada kamu yang sudah seperti Ayam stres cuma gara-gara di tinggal tugas pacar," kata Ria sambil sedikit memajukan bibirnya ke depan.
"Calon suami Ri, bukan pacar!" kataku sambil menekan setiap kata yang aku ucapkan.
"Ya deh ya, calon Ibu Bhayangkari," kata Ria yang kini mulai terkekeh karena melihat ekspresiku.
Akhirnya, sebuah candaan ringan antara aku dan Ria mampu mencairkan suasana dan melemaskan saraf-saraf di kepalaku hingga aku tak terpikir dengan apa yang dikatakan oleh suara yang tak diketahui siapa pemiliknya. Aku kini kembali mulau tersenyum dan tertawa lagi dengan riang gembira tanpa beban yang membuatku sesak.
Pembicaraan di antara kami terus berlanjut hingga menarik perhatian seorang pengunjung yang baru saja memasuki warung di mana aku dan Ria makan. Tatapan tajamnya tak lepas dariku walau hanya sedetikpun hingga membuatku merasa ketakutan.
"Ada apa?" tanya Ria saar menyadari beberapa kali aku memalingkan wajahku atau menggeser posisi dudukku untuk menghindari tatapan pria itu.
"Arah jam 3, pria berbaju hitam ketat," kataku tanpa memberi tahukan apa yang pria itu lakukan hingga membuatku tak nyaman.
Perlahan Ria memalingkan wajahnya ke arah yang aku tunjukkan tanpa membuat orang itu curiga. Sesaat Ria menatap pria itu, dia seolah sedang menilai penampilan dan juga sifat dari orang yang sedari tadi memerhatikanku.
"Nyeremin," kata Ria singkat.
"Bu ...," kataku memanggil ibu penjaga warung.
Walau hanya satu kata, tapi aku memahami maksud dari perkataan Ria karena bukan hanya dia saja yang merasa jika tatapan itu menyeramkan. Aku pun merasakan hal yang sama dan ingin segera berlalu dari tempat ini--menepi di mana saja sambil menunggu kapal yang akan membawa kami ke Pulau Z berangkat.
"Ya Nduk," kata Ibu penjaga warung setelah berada di samping kami.
"Semuanya berapa?" tanyaku sopan.
"Tiga puluh ribu," jawabnya singkat.
"Tambah minuman dua Bu," kata Ria sambil mengambil dua botol air ber-isotonik.
"Empat puluh tiga ribu, Nduk," jawab Ibu penjaga warung lagi.
Tanpa banyak kata aku langsung mengrluarkan selembar uang lima puluh ribu dan menyerahkan kepada Ibu penjaga warung. "Kembaliannya ambil saja Bu," kataku sambil melangkahkan kakiku keluar dari warung.
Tak ada satu kata pun yang terlontar dari bibir kami berdua. Kami terus dan terus berjalan menjauh dari warung itu. Sesekali aku mrlihat ke arah pria itu yang masih dapat aku lihat dengan ekor mataku, dia masih memerhatikan kami berdua yang meninggalkan warung dengan tergesa.
"Gila, dia nyeremin banget," kata Ria setelah kami berada sekitar sepulug meter dari warung itu.
"Apa yang kamu lihat?" tanyaku penasaran dengan pendapat Ria.
"Tatapannya tajam dan sedikit berbau ancaman," jawab Ria singkat.
Ya, itulah yang membuatku ketakutan, terlebih dia menatap ke arahku seolah mengancamku untuk tidak melakukan sesuatu. Tapi apa yang akan aku lakukan? Aku hanya akan berlibur bersama Ria.